
Usai bercengkrama dengan kelurga besarnya, El pamit untuk istirahat. Lagi pula mereka baru saja menunaikan sholat dhuhur berjamaah di kediaman ayahnya Amran.
"Mommy. El mau istirahat dulu!" pamit El dan diangguki oleh Nabilla yang begitu bahagia bisa berkumpul lagi dengan putra bungsunya itu.
"Apa kamu baik-baik saja sayang?" tanya Nabilla melihat wajah putranya nampak kusut.
"Iya mommy," ucap El yang merasa sangat merindukan Tamara.
El masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya. Walaupun kebersamaan mereka begitu singkat namun begitu berkesan di hati El. Ia belum pernah merasakan kerinduan yang begitu mendalam pada seorang wanita.
Karena tidak kuat menahan rindu, El menghubungi ponsel Tamara yang sama sekali tidak aktif. Baru mau menghubungi salah satu bodyguard Tamara tiba-tiba saja ada telepon masuk ke ponselnya dari panglima kerajaan yaitu tuan Yusuf. Takut itu sangat penting, El segera menggeser tombol hijau itu. Keduanya saling mengucapkan salam.
"Maaf tuan El-Rummi. Raja Farouk ingin meminta tolong kepada anda," ucap panglima Yusuf langsung ke inti permasalahannya.
"Ada apa?" gugup El merasa ada yang tidak beres.
"Princess Tamara di culik setelah mobilnya di ledakkan," ucap panglima Yusuf.
"Apaaa....?" sentak El terlihat kalut. Panglima Yusuf menceritakan kronologi peristiwa itu sebenarnya membuat El sangat syok.
"Tolong katakan kepada yang mulia raja Farouk...! Aku bersumpah akan menemukan putrinya asalkan yang mulia raja Farouk mau menikahkan putrinya, princess Tamara denganku," tegas El begitu pamrih karena dia tidak ingin gadis itu jatuh ditangan pria yang salah.
"Sebentar...! Aku harus bicarakan ini pada yang mulia," ucap panglima Yusuf.
Setelah menyampaikan syarat yang diajukan oleh El rummi pada raja Farouk yang hanya bisa mengangguk pasrah. Dia hanya ingin putrinya ditemukan tanpa terluka.
"Aku setuju. Asalkan pemuda itu menemukan putriku. Aku hanya memilikinya. Jangan sampai ada yang menyakitinya," ucap pria paruh baya itu dengan air mata yang luruh sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Siap yang mulia..!"
Panglima Yusuf menyampaikan lagi pada El rummi jika persyaratan yang diajukan pria itu diterima dengan baik oleh raja Farouk. El-Rummi tersenyum bahagia. Iapun sangat semangat untuk mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk menemukan bidadarinya itu.
__ADS_1
El-Rummi beranjak dari kamarnya menuju kamar kedua orangtuanya. Kebetulan sang mommy sedang bercumbu mesra dengan sang Daddy di kamar itu. Ciuman keduanya harus terlepas mendengar ketukan dari luar. Amran mengenakan lagi pakaiannya begitu juga dengan Nabilla.
Beberapa menit kemudian Amran sudah membukakan pintu kamarnya begitu mengetahui ada putranya El-Rummi.
"El. Ada apa nak?" tanya Amran melebarkan pintu kamarnya.
"Daddy. Aku ingin minta tolong pada daddy dan mommy. Ini sangat penting," ucap El.
"Katakan saja sayang! apa yang bisa kami bantu?" tanya Nabilla begitu putranya sudah duduk di sofa yang ada di kamar mereka.
"Mommy. Sebenarnya tugasku sebagai pengawal rahasia prince Tamara belum selesai. Hanya saja saat ini aku baru mengetahui jika dia diculik kemarin siang saat aku pulang ke Indonesia," ucap El terlihat sendu.
"Dari mana kamu mengetahuinya jika dia di culik?" selidik Nabilla.
"Panglima kerajaannya baru saja menghubungi aku. Aku mohon mommy! Tolong El untuk menyelamatkan gadis itu," pinta El setengah memelas pada ibunya.
"Apakah kamu mencintainya sayang?" tanya Amran melihat gelagat putranya yang sedang jatuh cinta. El mengangguk sambil menahan air matanya.
"Baiklah. Ceritakan kronologinya bagaimana gadis itu diculik dan di mana lokasi mobilnya meledak?" tanya Nabilla yang langsung membuka laptop miliknya yang bisa melihat kejadian itu melalui rekaman satelit walaupun tanpa ada CCTV di sekitar lokasi ledakan itu terjadi.
"Bukankah jet pribadi itu milik kerajaan Saudi?" gumam Nabilla.
"Itu bukan milik kerajaan Saudi tapi lebih tepatnya itu milik keluarga kerajaan. Tapi, siapa yang tega melakukan penculikan itu? Bukankah katamu keluarga itu akan meminang princess Tamara?" tanya Amran.
"Benar juga. Kalau mau menikah dengan Tamara, kenapa harus menculiknya segala," timpal El.
Nabilla nampak berpikir keras untuk mencaritahu motif penculikan itu yang melibatkan orang dalam kerajaan yang sangat berpengaruh di dunia.
"El. Apa status pangeran yang hendak dijodohkan dengan Tamara?" tanya Nabilla untuk merunut penculikan ini bisa terjadi.
"Tamara akan dijadikan istri ke tiga oleh salah satu pangeran Saudi. Kedua istri dari pangeran Ammar tidak memiliki anak laki-laki kecuali yang dianggap cacat tidak layak mendapatkan tahta," imbuh El.
__ADS_1
"Berarti penculikan ini terjadi dilakukan oleh salah satu istrinya pangeran Ammar. Entah cemburu atau ada hal lain yang sedang ia pertahankan dan tidak bisa membujuk suaminya yang ingin menikah lagi dengan princess Tamara. Untuk menghentikan pernikahan itu, ia nekat menculik Tamara," papar Nabilla dengan pengamatannya sebagai wanita yang tidak ingin dimadu.
"Apakah kita harus menyelidiki kedua istrinya itu, mommy?" tanya El-Rummi.
"Selidiki keduanya sambil bertindak untuk mencari keberadaan Tamara. Jika putri Tamara di bunuh, maka ini akan menjadi isu internasional yang akan menjatuhkan dua kerajaan sekaligus. Siapkan dirimu, nanti malam kita akan berangkat ke Saudi," ucap Nabilla..
"Alhamdulillah. Terimakasih mommy, Daddy..!" El memeluk kedua orangtuanya yang selalu mendukungnya. Dan selalu ada untuknya.
"Setelah menemukan Tamara kita langsung umroh. Tapi, sebelumnya kalian harus menikahkan kalian terlebih dahulu karena lima hari lagi kita akan menjalani ibadah puasa ramadhan," timpal Amran.
Sementara itu, princess Tamara yang sudah berada di kota Riyadh, kini sedang disekap di ruang bawah tanah. Ruangan pengap dengan pencahayaan yang sangat temaram dari lampu tidur hanya untuk menyinari tempat itu saja. Ada juga sofa lusuh dengan satu bantal menjadi tempat tidurnya Tamara.
Tamara melihat di sekelilingnya dengan hawa takut menyergap jiwanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini karena tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali hati dan jiwanya hanya tertuju kepada Allah. Kini yang tersisa ditubuhnya hanyalah pakaian yang ia pakai dari kemarin dan juga perhiasan yang masih menempel di tubuhnya.
Hanya satu yang bisa ia jadikan pedoman saat ini adalah jam tangan yang cukup besar pemberian El yang dipakainya. Ia membuka jam tangan itu untuk melihat waktu saat ini. Rupanya jam ini mengeluarkan cahaya jika diputar di permukaannya.
"Alhamdulillah. Jam yang dibelikan El ini ada manfaatnya juga. Aku harus bisa menggunakan jam ini untuk mengetahui hari tanggal dan jam ini fungsinya untuk apa saja," gumam Tamara sedikit terhibur dengan jam pemberian El.
Jika gadis ini memutar sekali lagi jam itu maka, akan terhubung langsung ke ponsel El, karena jam itu sudah tertanam cip oleh El untuk mengetahui keberadaan Tamara jika gadis ini menghilang.
Sekedar diketahui, jam yang dibelikan El pada Tamara adalah jam rancangannya sendiri yang sengaja ia titipkan di toko itu. El harus bekerjasama dengan pemilik toko itu demi memudahkan misinya melindungi Tamara.
Dengan cara itu El bisa mendapatkan juga empati Tamara dan gadis itu tidak curiga padanya jika dirinya sedang diawasi oleh agen rahasia FBI itu.
Tamara mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat isya. Ia bermunajat kepada Allah dan memohon taubat atas dosa-dosanya yang telah membuat orangtuanya susah menjaganya.
"Ya Allah. Ampunilah aku karena kufur nikmat kepadaMu. Jika aku menurut pada ayahku untuk di jaga oleh El-Rummi, mungkin penculikan ini tidak akan terjadi," ucap Tamara sambil menangis sendirian.
Usai mengaji beberapa ayat Alqur'an yang sudah dihafalkannya dari semenjak usia 5 tahun, Tamara kembali mengambil jam tangannya untuk ia kenakan.
Merasa penasaran dengan cahaya di jam itu yang mungkin bisa lebih terang sinarnya, Tamara memutar lagi permukaan jam tangannya. Sedetik kemudian cahaya dari jam itu makin berkilau dan tepat di saat yang sama, El menerima sinyal dari ponselnya tentang keberadaan Tamara.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya aku bisa menemukannya," pekik El yang saat ini sedang berada di dalam pesawat bersama kedua orangtuanya dan Ghaishan, Daffa dan juga Bunga. Mereka saat ini sedang terbang menuju Riyadh.
Say, kita chating bareng di chating aku. Tekan saja chat di layar judul novelnya. Kita bisa ngobrol bareng ya. Nama chating my dream. Ayo Monggo di tunggu..!"