
Bunga tersenyum bahkan lekukan bibir itu mengembang sempurna hingga memperlihatkan barusan mutiara putih tersusun rapi diikuti kekehan kecil hingga terlihat mempesona dan itu berhasil memporak-porandakan hati tuan Zidan yang sempat mematung menikmati mata tajamnya mengagumi sosok cantik yang menghisap habis kharismatik dan jiwa mafianya.
"Mengapa dia mampu menyentuh keangkuhanku?" batin Zidan yang tidak bisa menganggap remeh seorang Bunga menjadi pionnya.
"Maafkan saya tuan..! beberapa hari ini, saya baru khitbah pangeran hatiku dan ini bukti dari keseriusannya mengikatku menjadi miliknya." Bunga memperlihatkan cincin dijari manisnya yang sebenarnya adalah cincin yang bernilai teknologi untuk tujuan misi yang hanya dirancang oleh ibunya Nabilla hanya disamakan seperti cincin tunangan dan Bunga memanfaatkan itu untuk menolak pinangan Zidan yang serius dengannya.
"Mungkin bulan depan aku akan menikah dengannya," ujar Bunga sambil membayangi sosok tampan Daffa yang sempat membuatnya menggigil karena sentuhan bibir Daffa seakan masih terasa di pangkal leher jenjangnya.
"Bukankah semua orang punya kesempatan jika, belum terjadinya ijab qobul?" tanya Zidan mematik rasa untuk memiliki Bunga.
"Sayangnya aku orang yang selalu konsisten dengan pilihanku karena tidak akan mudah berpaling karena priaku mampu membeli semua perasaanku agar hatiku tidak terbagi pada orang lain sesempurna anda tuan," tolak Bunga dengan elegan.
"Aku termasuk orang yang tidak mudah menyerah pada sesuatu yang sudah membuat aku jatuh cinta pada pada pandangan pertama. Aku jamin, hatimu akan berpaling darinya," jelas Zidan kekeh dengan pendiriannya.
"Terimakasih tuan Zidan. Aku sangat tersanjung. Semoga Allah menguatkan hatiku untuk selalu setia pada satu pria," tegas Bunga.
"Kita lihat saja nanti nona. Aku harap anda tidak keberatan mendampingi aku setelah sampai di tujuan karena saya butuh sekertaris dadakan dalam perjalanan Bisnisku ini," pinta Zidane agar ia bisa mendapatkan Bunganya namun tidak dengan Bunga jika tawaran Zidane adalah suatu peluang besar untuk memuluskan misinya.
Dalam waktu beberapa jam perjalanan itu, akhirnya tiba di Qatar. Zidane turun ditemani oleh Bunga membuat tiga orang temannya iri karena bisa mendapatkan kesempatan berdua dengan Zidan. Ketika masuk ke dalam mobil jemputan, Zidan meminta Bunga untuk mengenakan cadar agar kecantikannya tidak begitu terekspos saat berada di perusahaannya.
"Aisyah. Tolong pakai pakaian syar'i dan cadarnya. Aku sudah memesan abaya ini untukmu. Aku akan tenang jika rekan bisnisku tidak menggodamu," ucap Zidan.
"Baik Tuan."
Bunga mengambil pakaian itu dan langsung mengenakannya tanpa membuka seragam pramugarinya. Bunga tetap waspada dan memanfaatkan situasi untuk mendapatkan peluang bisa melancarkan misinya sekecil apapun peluang itu.
Setibanya di perusahaan milik relasi bisnisnya Zidan, keduanya turun dari mobil di sambut oleh asisten pribadinya tuan Emir Moeis. Dari sinilah, Bunga mengetahui bisnis apa saja yang digeluti oleh Zidane.
Saat keduanya terlibat obrolan, dan kebetulan sekali Zidan menitipkan ponselnya pada Bunga.
"Aisyah. Tolong pegang ponselku dan jawab saja telepon yang masuk dan katakan urusanku pada mereka. Dan aku tidak ingin di ganggu, apakah kamu paham Aisya?" tutur Zidan.
__ADS_1
"Baik Tuan."
Aisyah dibawa ke ruangan terpisah agar tidak ikut mendengarkan percakapan Zidan dan tuan Emir.
"Alhamdulillah. Pekerjaanku lebih mudah saat ini," lirih Bunga kegirangan.
Ia mengambil ponselnya untuk mematikan CCTV diruangan itu agar gerak-geriknya tidak di awasi. Ia menyalakan alat penghubungnya dengan Mr. M.
"Aku sudah berada di tempat aman dan saat ini sedang menjalani misi. Tolong awasi lantai di gedung perusahaan ini agar aku tidak ketahuan!" pinta Bunga yang siap membuka kode ponsel milik Zidane. Polanya cukup mudah bagi Bunga untuk membuka ponsel pria itu.
Bunga memindahkan semua log panggilan masuk keluar dan data informasi yang tersimpan di email milik Zidane. Dua cukup mengcopynya dan tidak mengeceknya satu persatu.
Begitu juga dengan laptop milik Zidane tidak luput dari sasaran perhatiannya. Sekarang terakhir yang dilakukan Bunga merekam surat obligasi yang ada di tas kerjanya Zidan. Dalam waktu setengah jam, ia sudah menyelesaikan misinya dan sekarang waktunya untuk pulang kembali ke Amerika.
Bunga mengembalikan lagi posisi rekaman CCTV. Ia duduk manis sambil memainkan ponselnya. Sekitar satu jam kemudian, tuan Zidan sudah menemui Bunga.
"Ayo kita ke hotel..!" titah tuan Zidan.
"Apakah kita akan menginap?" tanya Bunga menatap wajah Zidan yang terlihat santai namun tidak dengan Bunga yang ingin menyelesaikan misinya dan pulang.
"Tidak. Hanya saja saya pikir langsung balik ke Perancis begitu bisnis anda selesai," ucap Bunga.
"Nanti malam kita akan ke Swiss karena besok saya mau ke Bank dunia itu," ujar Zidane.
"Apakah kehadiran aku tidak menganggu?" Bunga sepertinya enggan melanjutkan perjalanannya bersama Zidane karena ia merasa Zidane ingin mengikatnya agar selalu bersama.
"Kehadiranmu sangat penting untukku. Karena kamu membawa keuntungan untukku. Baru saja saya memenangkan tender dan sekarang saya harus ke bank dunia untuk melakukan transaksi," ucap Zidane.
"Apakah ada bisnis lainnya selain bisnis beberapa perusahaan besar yang anda miliki?" santai Bunga seakan pertanyaannya itu biasa.
"Sepertinya anda begitu memahami dunia bisnis. Apakah anda ingin bekerja denganku atau mungkin keluargamu seorang pebisnis?" Tanya Zidane.
__ADS_1
"Tidak. Itu hanya rasa penasaranku saja. Mungkin saja aku orang yang beruntung bisa mengetahui apa saja yang menjadikan anda terlihat sangat kaya hingga berurusan dengan bank dunia," tutur Bunga.
"Itu hanya pertanyaan seorang analisis keuangan yang ingin membekukan rekening saya atas perintah bosnya, apakah nona Aisyah adalah bagian dari mereka?" selidik Tuan Zidan pada Bunga.
Deggggg....
"Bagaimana mungkin tuan menuduh saya sekejam itu. Apakah tuan sedang melakukan kesalahan hingga begitu takut tertangkap oleh badan intelijen Amerika?" sarkas Bunga.
"Siapa kamu, Aisyah? mengapa kamu harus menyebutkan badan intelijen Amerika?" tangan Bunga di pelintir ke belakang oleh tuan Zidan membuat Bunga berusaha menutupi penyamarannya sekuat mungkin.
"Aku hanya menebak saja, tidak bermaksud menuduh tuan. Kenapa tuan begitu emosi?" tenang Bunga, namun Zidane sudah mengeluarkan pistolnya dan Bunga tidak lagi ingin berpura.
Tangan Bunga dengan cepat menarik laras pistol milik Zidane yang berisi peluru membuat Zidane terbelalak. Ia tidak menyangka bakal Bunga begitu cekatan menjatuhkan Larasnya.
Perkelahianpun tidak dapat dihindari. Pukulan dan tendangan dari Zidan pada Bunga ditangkis dengan baik. Liukan tubuh Bunga mengindari tendangan Zidan dan Bunga dengan cepat menendang ulu hati Zidan memukul kedua kuping Zidane dengan tangannya secara bersamaan membuat kuping Zidane terasa penging.
Kesempatan itu digunakan Bunga untuk kabur dari secepatnya dari gedung perusahaan itu. Bunga keluar dari ruang tunggu seperti biasa lalu menghubungi Mr. M untuk mengirim helikopter.
"Siapkan saya helikopter, sekarang! saya sedang menuju atap!" Pinta Bunga langsung masuk ke lift menuju atap.
"Sepuluh menit lagi helikopter akan menjemputmu," sahut Mr. M.
"Ok. Saya tunggu!"
Setibanya di atas atap, Bunga bernafas lega saat melihat helikopter yang sudah datang menjemputnya. Namun sayang, helikopter yang dikira milik Amerika ternyata adalah milik Zidane yang langsung menghujamkan Bunga dengan tembakan.
"Sial....!" geram Bunga menghindari tembakan dari dari atas helikopter.
Tidak lama kemudian, Zidane dan anak buahnya sudah berada di atas atap di mana Bunga masih berusaha menghindar dari tembakan beruntun dari arah helikopter.
"Tangkap gadis itu, cepatt ...!" teriak Zidane.
__ADS_1
.....
Maaf say.. baru bisa up karena saya lagi berada di Bandung karena ada acara perpisahan sekolah anakku...!