
Beberapa orang yang berhasil melepaskan paralayang mereka dari sangkutan motornya, kini siap mengejar rombongan cicit kakek Salim yang terus melaju mencari tempat yang bisa mereka jadikan untuk menjebak musuh yang terus mengejar dan menembaki mereka entah alasan apa.
Karena sudah mengetahui seluk beluk tempat itu melalui peta satelit, mudah bagi mereka membuat perangkap untuk musuh.
"Ayo...! kita ke bawah sana Cinta!" titah Bunga kepada kembarnya itu. Saat melihat ada tebing yang sangat curam di bawah sana, Bunga berteriak pada Cinta.
"Cintaaaa ... tiarap!" pinta Bunga lebih dulu menjatuhkan tubuhnya dengan posisi tiarap sebelum menyentuh ke pinggir jurang itu.
Dua motor musuh yang ingin menerjang Cinta dan Bunga langsung melayang di udara di sambut tembakan dari kedua gadis itu yang kompak membalikan tubuh mereka sambil menembak tangki kedua motor cross jenis ski sebelum terjun bebas ke dalam jurang sana dengan bodi motor yang seketika meledak membakar tubuh ke empat pengendaranya.
Tengkuk kedua gadis itu yang tadi sempat terangkat untuk menembak motor musuh langsung terkulai ke belakang menghempas salju dengan tarikan nafas lega.
"Huff...! untung kita selalu dalam keadaan siap membawa perlengkapan senjata, kalau tidak kita bisa mati disini seperti orang bodoh," gerutu Bunga.
"Ayo kita bantu yang lain!" ucap Daffa yang sudah menjatuhkan musuh-musuhnya.
Kini giliran Arsen dan El yang sedang mencari tempat yang cukup datar untuk menjebak musuh yang datang dari empat arah berlawanan yang siap menabrak mereka yang berdiri di tegah padang salju itu.
Sebelumnya mereka sudah membuat lubang dengan cara mengikis pinggirnya dengan sejenis laser untuk mengikis es dengan diameter yang cukup lebar untuk menjebak musuh. Jika keempat motor itu menerjang mereka maka bisa dipastikan, keempat motor musuh itu langsung masuk ke dalam lubang yang mereka buat.
Senjata milik penjahat sudah habis pelurunya di buang oleh penjahat. Satu-satunya jalan untuk menjatuhkan Arsen dan El adalah menabrak kedua pria tampan itu.
"Mau lari ke mana kalian brengsek!" teriak salah satu dari mereka pada Arsen dan El yang sengaja ketakutan menghadapi keempat musuh itu.
"Tangkap mereka...!" teriak yang lainnya. Keempat motor itu melaju dengan cepat ke arah Arsen dan El secara bersamaan.
Di saat yang sama Nada yang sudah siap di atas puncak dengan tali yang diatur membetuk simpul untuk menangkap tubuh Arsen dan El siap melempar tali itu masuk ke pinggang kedua pria itu lalu menarik tubuh keduanya saat keempat motor itu belum menyentuh tubuh keduanya.
Nada menarik tubuh Arsen dan El terlebih dahulu keluar dari lingkaran jebakan yang sudah mereka buat. Keempat motor itu langsung masuk ke dalam lubang es yang sudah menipis daya tahannya karena tidak kuat menampung beban motor dan musuh itu di lingkaran jebakan yang di buat Arsen dan El.
"Ahhhhkkkkkk....!" pekik mereka bersamaan karena terkubur dalam salju.
Tidak lama terdengar ledakan yang cukup dahsyat dari dalam lubang itu. El, Nada dan Arsen segera melanjutkan lagi perjalanan mereka dengan menggunakan ski.
Sementara keempat saudaranya yang lainnya yaitu Bunga, Cinta, Adam dan Daffa melemparkan jaring laba-laba yang cukup panjang mengikat kedua ujung jaring itu yang biasa dipakai untuk menjebak binatang buas seperti harimau atau singa yang ada di hutan. Mereka mengikat setiap ujungnya pada kedua sisi pohon cemara dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Keempatnya berdiri menunggu enam motor musuh yang sedang sedang mengejar mereka dari atas sana siap menangkap mereka.
__ADS_1
"Ayo... kita lanjutkan lagi perjalanannya!" pekik Adam yang langsung meluncur ke bawah bukit diikuti yang lainnya dengan ski.
Saat mereka menjauh, ke-enam motor musuh sudah terkepung dalam jebakan jaringan yang langsung melilit motor dan pengendaranya. Para penjahat terkepung dan tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuh mereka terlilit oleh jaring-jaring itu.
Rombongan cicit itu sudah berhenti istirahat sejenak setelah memastikan tidak ada musuh lagi yang akan meneror mereka.
"Aku mau minum dulu...!" ucap Bunga dengan nafas tersengal sambil mengeluarkan minuman soft drink dari ransel miliknya. Yang lainpun ikut menikmati minuman segar itu. Adam mengeluarkan teropongnya untuk melihat villa kakek dari atas puncak bukit itu.
"Villa kakek uyut sudah dekat. Ayo kita ke sana..!" ucap Adam.
Nada mengeluarkan ponselnya untuk mendeteksi lagi kedatangan musuh. Saat dirasanya sudah aman, mereka melanjutkan lagi perjalanan menuju ke villa mewah yang terlihat indah dari atas bukit salju itu.
"Apakah kita harus menceritakan kejadian ini pada mommy dan daddy?" tanya Nada.
"Liburan kita akan kacau kalau libatkan lagi kedua orangtua kita, Nada. Kalau kita bisa atasi sendiri, sebaiknya jangan melibatkan mommy. Ia sedang bernostalgia dengan kakek Salim. Jangan menganggu kesenangannya," timpal Bunga.
"Baiklah. Aku akan mencari tahu siapa dalang dari semua ini? dan mengapa kita tiba-tiba di serang oleh orang yang tidak di kenal," ucap El yang merupakan ahli IT sama seperti ibunya Nabila.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju villa. Kini mereka meluncur beriringan tidak saling menjauhkan diri satu sama lain. Tiga wanita lebih dulu meluncur baru diikuti keempat laki-laki di belakang mereka.
Di villa, mereka di sambut oleh pelayan. Semuanya mengenakan kacamata yang bisa menembus tubuh manusia seperti alat untuk mendeteksi benda-benda berbahaya atau senjata tajam yang mungkin saja digunakan oleh penjahat yang saat ini mungkin saja mereka sedang menyamar menjadi pelayannya kakek Salim karena setiap pelayan mengenakan mantel tebal untuk melayani keluarganya kakek Salim.
Dirasanya sudah aman, mereka baru mencopot lagi kacamatanya yang sejenis alat untuk mendeteksi benda-benda berbahaya seperti yang terdapat di bandara saat memasuki tempat boarding tiket.
"Selamat datang tuan-tuan dan nona-nona!" sapa para pelayan itu ramah.
"Assalamualaikum...!" ucap rombongan tamu itu kompak disambut lagi pelayan itu dengan salam." Waalaikumuslam..!" ucap mereka serentak.
Ketiga pelayan dan dua penjaga keamanan memberikan hormat mereka lalu mengantar rombongan itu ke kamar mereka masing-masing.
"Siapa diantara kalian yang pasangan pengantin baru?" tanya Zahra.
"Saya dan adik saya Bunga," ucap Cinta.
"Ini suami saya namanya Daffa dan itu kak Arsen, suaminya Cinta," ucap Bunga memperkenalkan Daffa dan Arsen pada pelayan.
__ADS_1
"Berarti yang lainnya masih lajang?" tanya pelayan Zahra yang usianya tidak jauh dari Nabilla.
"Iya," ucap Nada santun.
"Mari ikut kami melihat kamar kalian. Koper-koper kalian sudah berada di kamar kalian masing-masing. Mungkin kalian mau istirahat atau bersih-bersih dulu di kamar mandi sambil menunggu makan siangnya matang," ucap Zahra sebagai kepala pelayan di villa itu.
"Oh iya. Di ujung sana villa milik siapa ya?" tanya Nada.
"Itu milik sahabatnya kakek Salim," ucap Zahra.
"Oh..!" mereka mengangguk-angguk paham sambil berlalu menuju kamar mereka.
Setiap kamar memiliki panorama keindahan alam di sekitarnya membuat rombongan itu berdecak kagum.
Daffa melihat istrinya yang sudah menanggalkan mantelnya dan kini hanya mengenakan bikini seksi.
Seperti harimau lapar, Daffa langsung merangkul tubuh indah istrinya dan mendaratkan ciumannya bertubi-tubi.
Begitu pula yang dilakukan oleh Arsen yang belum puas menghajar istrinya semalam saat menginap di rumah kakek Salim.
Dalam sekejap kedua kamar itu sudah memperdengarkan suara orkestra yang membuat hasrat orang yang mendengarnya ikut ho*ny. Beruntunglah setiap kamar memasang kedap suara sehingga tidak ada yang mendengar suara-suara gairah birahi di dalam sana.
Adam dan El tidur berdua dan Nada tidur sendiri. Mereka sudah menyelesaikan mandinya. Nada membuka emailnya untuk melihat perkembangan perusahaan parfum dan kosmetik miliknya yang ada di Jakarta. Sementara El dan Adam mencari tahu musuh-musuh yang tadi menyerang mereka.
"Di pegunungan sini ada pipa gas yang yang saat ini sedang dibangun oleh perusahaan King Morano. Apakah ada kaitannya dengan mereka?" tanya El pada kakaknya Adam.
"Apakah mereka mengira kita ini mata-mata yang sedang melacak keberadaan pemasangan pipa-pipa ilegal itu?" tebak Adam.
Tok ...tok...!
Adam membuka pintu." Permisi Tuan Adam. Makan siangnya sudah siap dan saudara anda sedang menunggu tuan Adam dan tuan El," ucap Elif putri dari Zahra.
"Baik. Terimakasih kami akan segera turun," ucap Adam.
.....
__ADS_1
Vote dan likenya cinta, please!