Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
135. Dipertemukan


__ADS_3

"Pegang tanganku baby!" pinta Daffa saat Bunga tersedot arus air bawah laut.


"Aku tidak bisa mencapai tanganmu. Pergilah...!" usir Bunga bicara dalam hati sambil melambaikan tangannya agar Daffa tidak mendekatinya.


"Tidak...aku tidak akan meninggalkanmu. Cobalah sekali lagi! Kamu harus berusaha atau kita akan mati bersama!" pinta Daffa sambil mendekati Bunga.


"Pergi dari sini Daffa...! selamat tinggal sayang..! aku mencintaimu...!" pekik Bunga saat putaran arus laut itu menyedot tubuhnya lebih dalam membuat Daffa berteriak histeris.


"Bungaaaaa.....!" jerit Daffa sambil terduduk di tempat tidurnya dengan nafas tersengal.


"Ya Allah. Semoga ini hanya mimpi. Tapi itu terasa sangat nyata," lirih Daffa.


Ia melihat jam dindingnya pukul dua pagi. Daffa ingin memastikan sendiri keadaan Bunga saat ini. Tapi menghubungi Bunga di pukul 2 pagi terlihat tidak etis baginya.


Daffa memutuskan untuk sholat tahajjud memohon pertolongan Allah untuk melindungi kekasihnya di manapun gadis itu berada karena semenjak tiba di Jakarta, Daffa belum sempat menghubungi kekasihnya itu karena ia baru masuk lagi kerja setelah cuti satu bulan lebih untuk memulihkan pergelangan tangannya.


Di kediaman Amran, Nabilla mendapatkan informasi dari Mr. M yang mengabarkan putrinya Bunga tenggelam di laut lepas membuat Nabilla terlihat syok. Ia segera membangunkan Amran yang terlihat sangat pulas.


"Mas..mas..mas..!" panggil Nabilla sambil mengguncang bahu suaminya yang memunggunginya.


"Hmm!" gumam Amran dengan mata masih terpejam. Ia membalikkan tubuhnya menghadap istrinya sambil memeluk lagi Nabilla.


"Mas. Putri kita Bunga tenggelam," ucap Nabilla sambil menangis. Amran mengerjapkan matanya sambil mengusap matanya yang masih berat namun hatinya terasa nyeri mendengar kabar dari istrinya.


"Kamu bilang apa, baby?" tanya Amran memastikan lagi ucapan istrinya.


"Bunga tenggelam terbawa arus laut saat menangkap musuh," ucap Nabilla lebih kencang agar Amran segera sadar dari alam mimpinya.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun!" pekik Amran segera turun dari tempat tidur untuk menghubungi Arland.


"Mas mau ngapain?" tanya Nabilla yang belum selesai ceritanya.


"Aku mau mencari putriku. Aku mau ke Turki. Aku tidak bisa duduk diam dan menunggu di sini seperti orang bodoh," gugup Amran sambil menekan nomor kontak Arland.


"Mas. Jangan libatkan semua orang! cukup kita saja. Ingat mas, jika rahasia Bunga terbongkar sebagai agen FBI, nyawa putri kita akan melayang. Aku mohon rahasiakan ini dari semua orang walaupun kelurga kita sudah tahu siapa putri kita tapi jangan sampai mereka tahu Bunga gagal dalam misinya," pinta Nabilla sambil memohon.

__ADS_1


Amran meremas rambutnya dengan gusar. Ia menghubungi sendiri co-pilot helikopter untuk menjemput dirinya dan Nabilla di kediamannya.


"Berkemaslah..! kita berangkat sekarang!" titah Amran pada Nabilla yang hanya bisa menangis.


Nabilla menyiapkan koper dan membawa baju mereka seadanya. Saat ini Cintami dan Adam memang masih menjalani misi mereka hingga yang tersisa di rumah yaitu Denada dan El Rumi.


"Tidak usah bangunin si kembar dan mengabarkan Arsen! Anggap saja saat ini kita sedang liburan ke Istanbul Turki," pinta Amran.


Beruntunglah saat ini Nyonya Ambar berada di Aceh karena kerabatnya ada yang menikah membuat Amran tidak kuatir meninggalkan ibunya yang pasti cemas jika mendengar kabar cucunya.


"Apakah aku boleh kabari ayah untuk menjaga si kembar?" ijin Nabilla.


"Iya. Cukup kabari ayah saja," ucap Amran. Baru saja keduanya masuk ke mobil, mobil Daffa mendekati mobil mereka. Amran harus keluar lagi menemui Daffa dengan wajah kesal.


"Ngapain bocah ini datang jam 3 pagi?" gerutu Amran kesal.


Perasaan Daffa langsung tidak enak melihat camernya terlihat rapi walaupun mengenakan celana jins dan kaos berkerah lengan panjang. Walaupun usianya memasuki 47 tahun namun Amran masih terlihat gagah seakan menolak tua apalagi Nabilla yang terlihat masih tetap sama.


"Paman mau ke mana?" tanya Daffa.


"Malam-malam begini? memangnya kenapa?" cecar Daffa.


"Bunga sedang mengalami kecelakaan. Dan saat ini nasibnya belum jelas," ucap Amran.


"Maksudnya apa paman?" tanya Daffa yang tidak puas dengan jawaban Amran yang setengah hati.


Nabilla turun dari mobilnya lalu meminta Daffa untuk ikut dengan mereka." Biarkan dia ikut mas! Mungkin adanya Daffa akan berguna di sana," ucap Nabilla.


"Baiklah. Kamu boleh ikut kami dan jangan banyak tanya karena saat ini kami tidak ingin menjawab rasa penasaranmu," ucap Amran masuk lagi ke mobilnya.


"Baik paman." Daffa duduk bersama sopir dan mobil mewah itu meluncur ke arah landasan pacu di dalam wilayah mansion.


Beberapa menit kemudian, ketiganya sudah berada di dalam helikopter menuju bandara, di mana pesawat jet pribadi milik Amran sudah menunggu.


Di dalam pesawat, Daffa memilih berzikir karena pertanyaannya akan membuat camernya kesal. Begitu pula dengan Nabilla dan Amran yang sedang melafazkan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk memenangkan hati mereka dan memohon pertolongan Allah untuk keselamatan putri mereka.

__ADS_1


Walaupun Bunga selalu bersikap ceroboh dalam misinya, namun gadis itu selalu saja beruntung bisa selamat dari maut. Lain halnya dengan dua saudara kembarnya yang selalu hati-hati menghadapi hingga misi mereka berhasil.


Tapi tidak dengan Bunga yang ingin cepat menangkap musuh karena ia bukan wanita sabar. Sikapnya ini tidak jauh beda dengan sang ayah yang tidak bisa melepaskan musuhnya bebas di luar sana.


Keesokan harinya, pasangan suami istri ini bersama dengan Daffa berkordinasi dengan angkatan laut Istanbul Turki. Kali ini Nabilla dan Amran langsung menghubungi Segaf atas rekomendasi Mr. M. Keduanya saling membuat janji temu. Segaf menceritakan tentang Bunga yang menginap di rumah keluarganya. Nabilla langsung mendatangi kediaman Segaf.


Segaf memberitahukan ibunya dan juga kakek uyutnya Salim." Bunda, kakek! kedua orangtuanya Hilda mau ke sini. Saat ini Hilda dalam masalah jadi kedua orangtuanya ingin tahu keadaan Hilda," ucap Segaf.


"Emang apa yang terjadi dengan Hilda, Segaf?" syok kakek Salim.


"Itu...-" ucapan Segaf terpotong saat mendengar deru mobil tamu yang pastinya itu adalah Nabilla, Amran dan Daffa.


"Sebentar kakek, bunda. Itu pasti orangtuanya Hilda," ucap Segaf yang langsung ke luar menemui tamunya.


"Assalamualaikum..!" sapa Amran dan Nabilla pada Segaf kompak.


"Waalaikumuslam..!" Segaf menjawab salam pasangan itu seraya bersalaman pada Amran dan Daffa.


"Silahkan masuk tuan, nyonya...!" tawar Segaf yang membawa tamunya ke ruang keluarga di mana Ibu dan kakeknya sedang menunggu.


Kakek Salim yang punya firasat akan kedatangan cucunya itu sudah terharu lebih dulu melihat Nabilla dengan pakaian syar'i lengkap dengan cadarnya seperti putrinya Hilda.


Kaki Nabilla terasa lemas melihat wajah kakek persis seperti pamannya Amir. Belum lagi Nabilla membuka suara, ia dihadapkan dengan foto ayah dan ibunya di mana wajah sang ibu persis dengan dirinya.


"Apa ini..? mengapa foto kedua orangtuaku ada di rumah ini?" tanya Nabilla menatap secara bergantian antara foto pernikahan kedua orangtuanya dan kakeknya Salim. Foto Hilda yang tidak memakai cadar hanya jilbab saja.


Amran dan Daffa pun sama terkejutnya melihat wajah tuan Rusli bersama dengan seorang wanita yang sangat mirip dengan Nabilla.


"Apakah kakek adalah...?" Nabilla tidak bisa meneruskan kata-katanya karena sangat syok saat ini. Seumur hidupnya baru kali ini ia dipertemukan dengan keluarga ibunya dari pihak kakek. Nabilla langsung pingsan dan Amran sigap menangkap tubuh istrinya. Amran segera mengangkat tubuh Nabilla dan dibaringkan ke sofa. Amran membuka cadar Nabilla dan kali ini kakek yang terlihat syok.


"Cucuku..! apakah dia cucuku ..?" pekik kakek Salim histeris.


.....


Vote dan likenya cinta please!"

__ADS_1


__ADS_2