Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
90. Pengorbanan Nabilla Dan Amran


__ADS_3

Pengakuan Nabilla yang tidak mengetahui apapun tentang penangkapan Kenzie dan Gavin, membuat para pria yang berada di ruang keluarga itu menarik nafas lega.


Namun akal sehat mereka masih memikirkan bagaimana mungkin kedua buronan itu bisa kompak lumpuh, apa lagi penyamaran mereka terkuak dengan wajah palsu yang ditemukan kulit wajah yang terkelupas seperti lilin manekin dekat dengan tubuh mereka ditemukan di lokasi kejadian. Ini yang menjadi pertanyaan yang masih berkecamuk di pikiran mereka.


"Hanya orang yang mempunyai keahlian khusus mampu membuka kedok mereka dan itu hanya bisa dilakukan oleh Nabilla," batin Wira dengan instingnya sebagai bagian dari mafia.


"Aku tahu itu adalah perbuatanmu, Nabilla. Walaupun ayahmu menutupi perbuatanmu, tapi cerita Amran bahwa kamu adalah agen rahasia, itu yang menguatkan kecurigaan ku," batin Reno.


Setelah membahas penangkapan kedua buronan itu di bandara, para pria tampan itu yang merupakan calon ayah muda, memutuskan kembali pulang ke rumah masing-masing termasuk Devan yang pulang bersama dengan tuan Rusli setelah makan malam bersama di kediaman Tuan Abdullah.


Amran melepaskan pakaian yang ada ditubuh istrinya. Menggantikannya dengan dress longgar berbahan katun khusus untuk ibu hamil. Sekarang giliran Amran mencari tahu cara Nabilla membuat kedua buronan itu lumpuh.


"Sayang. Bagaimana bisa kamu membuat mereka lumpuh? sementara setiap melewati pemeriksaan, dilarang untuk membawa barang yang tajam termasuk jarum suntik," tanya Amran yang sedang mengelus perut besar Nabilla sambil memiringkan tubuhnya memyampingi istrinya.


"Aku menggunakan jarum suntik insulin khusus untuk penderita diabetes dan alasan kesehatan tidak dilarang oleh pihak bandara bagi penumpangnya yang menderita penyakit diabetes," jawab Nabilla.


"Sebegitu detailnya kamu memikirkan itu, baby? tanya Amran.


"Kami sudah dilatih mengusai hampir semua ilmu. Meneliti setiap senyawa kimia yang membawa kebaikan maupun sebagai senjata ampuh untuk membasmi kejahatan. Jadi, apapun ilmu itu selama membawa kemaslahatan umat, tidak masalah digunakan jika itu dibutuhkan," ucap Nabilla.


"Bagaimana kamu bisa mencerna semua ilmu itu sayang, bukankah itu cukup sulit?"


"Perlunya latihan dalam menguasai ilmu yang kita sudah pelajari dengan banyak melakukan eksperimen. Walaupun dari seratus kali gagal dalam mencoba namun akan dibuktikan keampuhannya di angka seratus itu. Yang penting kita sebagai manusia yang diberi akal oleh Allah agar jangan mudah menyerah untuk mencoba sesuatu di dunia ini.


Jika itu gagal bukan berarti kamu tidak punya talenta tapi kamu dipaksa untuk mencoba. Yang penting yakinkan dalam diri kita dengan prinsip, jika orang lain menganggapmu tidak bisa, itu biasa. Namun jika dirimu sendiri yang mengatakan kamu tidak bisa, itu binasa," ucap Nabilla mengakhiri perbincangan mereka sambil memejamkan matanya.


Amran tersenyum melihat wajah cantik istrinya nampak tenang dengan suara dengkuran halus yang mulai terdengar.


"Jika orang lain melihat tampang lugumu seperti ini, mana mungkin orang akan percaya bahwa kelembutan dan keanggunan dalam dirimu menyimpan harta yang sangat berharga yang tidak setiap wanita cantik miliki, Nabilla. Jika waktu akan berulang, rasanya aku ingin mengenalmu kembali dari awal kita bertemu.


Mengawali semuanya dengan kesan terindah, layaknya orang jatuh cinta diawali dengan sikap yang manis bukan sikap yang kasar yang selalu aku pertunjukan kepadamu dulu. Terimakasih sayang telah memilih setia untuk mencintai pria berengsek sepertiku. Aku tidak bisa bayangkan jika Wira atau Reno yang akan memenangkan hatimu dan kamu menjadi milik salah satu dari mereka, mungkin aku akan membunuh mereka untuk mendapatkan kamu kembali," gumam Amran lirih.


Pria tampan ini ikut memejamkan matanya menyusul ke dalam mimpi sang istri.


...----------------...

__ADS_1


Menjelang persalinan para ratu di keluarga kakek Abdullah yang telah diprediksi dokter jika kelimanya akan melahirkan dalam waktu yang berdekatan. Jadilah, kelimanya memutuskan untuk menginap dirumah sakit sebelum terjadinya kontraksi agar lebih mudah dikontrol oleh dokter spesialis kandungan karena saat ini sedang memasuki waktu penghujan yang di prediksi oleh BMKG jika Jakarta akan mengalami kelumpuhan kota karena banjir akan melanda kota Jakarta.


Hanya saja kendala utama yang dihadapi oleh Nabilla saat ini adalah ketiga bayinya yang sudah pintar ngoceh ini tidak ingin ditinggalkan sama ibu mereka. Ketiganya kompak menyalahkan calon adik bayi mereka.


"Mommy mau ke mana?" selidik Adam saat ibunya siap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.


"Mau ke rumah sakit, baby karena mommy mau kasih Dede bayi buat kalian bertiga," ujar Nabilla sambil menenangkan ketiga bayinya.


"Kami ikut ya mommy?" pinta Bunga.


"Boleh ikut, tapi setelah dedenya sudah lahir, ya sayang."


"Emang kami nggak boleh ikut mommy sebelum dedenya lahir?" protes Cinta.


"Kenapa anak-anak mommy mendadak jadi cerewet banget?" tanya Nabilla sambil mengelus pipi ketiganya.


"Masalahnya kami tidak tahu mommy kapan pulang. Adam mau lihat wajah mommy sebelum Adam tidur dan setelah Adam bangun tidur," ujar Adam.


"Aku juga..!


"Aku juga ..!" kompak dua gadis imut Amran itu.


"Lahir di sini saja mommy. Lagian di luar sedang hujan deras!" pinta Bunga mulai merengek karena gadis ini sangat takut dengan petir.


"Ya sudah kalau nggak boleh mommy ke rumah sakit. Kita bobo yuk!" ajak Nabilla karena ketiganya kompak tidak mau tidur padahal sudah pukul sepuluh malam.


"Ade bayi merepotkan sekali!" omel Bunga.


"Mereka kompak menjauhkan mommy dari kita," ucap Adam yang mengobrol diantara mereka bertiga.


Nabilla memperhatikan wajah ketiga bayinya memiliki kejeniusan yang sama dengannya. Usia satu tahun setengah mengucapkan setiap kalimat tidak cadel dan kosa kata yang digunakan cukup kritis. Ketiganya sudah memiliki kemampuan khusus dan Nabilla mengikuti setiap perkembangan mereka.


Nabilla memang tidak pernah bicara dengan ketiga anaknya dengan suara dibuat cadel mengikuti bayi seusia ketiga anaknya saat ini karena itu adalah kebiasaan buruk orangtua yang membentuk kosa kata tidak jelas hingga kebiasaan itu dibawa sampai usia mereka lima sampai enam tahun.


Bersyukurlah, Nabilla menerapkan kedisiplinan pada ketiga bayinya dengan hukuman-hukuman ringan agar mereka tahu letak kesalahannya mereka untuk diperbaiki selanjutnya. Amran begitu senang cara istrinya mendidik ketiga anaknya dengan didikan dasar adalah agama dalam membentuk karakter mereka berakhlakul kharimah atau berakhlak mulia.

__ADS_1


Dua jam kemudian, Amran mendapatkan kabar jika Nadin sudah melahirkan bayi pertamanya berjenis kelamin laki-laki. Dan saat ini Celia yang merasa kontraksi. Mendengar Nadin sudah melahirkan, Nabilla merasa tiba-tiba mulas.


"Mas. Perutku mulai terasa sakit," desis Nabilla sambil memperhatikan ketiga bayinya yang sudah terlelap.


"Baik sayang. Ayo kita berangkat!" Amran menuntun tangan istrinya menuju ke lantai bawah melalui pintu lift yang sengaja di buat kakek Abdullah saat mengetahui Nabilla hamil anak keduanya.


Saat ini sedang masuk musim penghujan. Otomatis sebagian kota jalanan kota Jakarta terendam banjir. Sang sopir mulai bingung mencari jalan alternatif untuk membawa ibu hamil ini ke rumah sakit. Nabilla menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya.


Amran terlihat gelisah karena hujan makin deras mengguyur bumi. Saat ini mereka sedang dihadang banjir walaupun jalanan ibu kota tampak lengang karena sudah pukul 12 malam.


"Mas. Aku sudah nggak kuat. Anaknya sudah ngajakin," keluh Nabilla membuat Amran panik.


Amran melihat ke sekelilingnya dan posisi mobil mereka juga sebenarnya sudah dekat dengan rumah sakit dokter Mariska. Tapi mobil mereka sudah kerendam banjir dan tidak bisa melawan arus. Jika dipaksakan, mobil mereka akan hanyut dan mati mesinnya.


"Sayang. Apakah kamu bisa bertahan jika aku menggendong kamu jalan kaki dari sini menuju rumah sakit?" tawar Amran.


"Tidak apa mas. Yang penting selamatkan anak kita," ujar Nabilla sambil menahan sakit.


Baru saja bicara begitu, tiba-tiba lampu jalanan mati karena genangan air sudah mencapai pinggang orang dewasa. Nabilla dan Amran langsung syok.


"Sayang. Kita akan menerobos hujan dan banjir karena kita tidak membawa mantel dan tidak bisa membawa payung karena anginnya sangat kencang. Apakah kamu kuat menahan hawa dingin?" tanya Amran terdengar sedih.


"Tidak apa, mas. Demi anak-anak kita. Ayo gendong aku!" support Nabilla pada suaminya membuat Amran menangis.


"Maafkan aku baby. Ini di luar dugaanku," ucap Amran.


"Pak..! Tolong sinari kami dengan senter ponsel," ucap Amran pada sopirnya. Amran yang sudah memasukkan ponselnya ke dalam plastik bening agar tidak tekena hujan.


"Baik Tuan." Sopir ikut membantu mengantar Nabilla dan Amran ke rumah sakit dengan jarak tempuh satu kilometer lagi menuju rumah sakit tersebut. Jika ada rumah sakit terdekat dengan mereka, mungkin mereka akan melahirkan di mana saja. Namun tidak ada lagi rumah sakit di sekitar jalan itu.


Jadilah ketiganya menerobos banjir ditengah hujan deras melanda kota Jakarta. Sepanjang jalan Amran melantunkan ayat suci Alquran yaitu surah Al Mulk dan Arrahman untuk menenangkan istri dan anaknya di dalam sana. Nabilla menangis haru karena suaminya rela menggendongnya berjalan kaki ditengah banjir yang sudah merendam dada Amran. Sementara Nabilla terus berselawat lirih.


...Sesungguhnya doa itu diam diantara langit dan bumi, tidak akan naik ke atas hingga engkau berselawat kepada nabimu sallahu alaihi wassalam...


(H.R. Tarmizi)

__ADS_1


..,....


vote dan like nya cinta please!


__ADS_2