Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
131. Tertangkap


__ADS_3

Jika Bunga sedang berjuang dengan misinya, namun tidak dengan Daffa yang terlihat lebih akrab dengan tuan Darwish. Daffa benar-benar ingin menghabiskan masa cutinya dengan sang ayah yang belum mengetahui kebenaran status hubungan mereka.


Saat ini, tuan Darwish mengundang Daffa ke rumahnya. Pria ini memang tinggal sendirian dan tidak ingin menikah lagi semenjak dirinya kehilangan istrinya, Cyra. Ia memilih untuk tetap setia dengan cinta pertamanya itu.


Mengetahui Darwish adalah seorang Badan Intelijen Amerika, Daffa juga memberitahukan pekerjaannya sebagai marsekal muda angkatan udara. Merasa sama-sama bagian dari abdi negara, keduanya terlihat kompak karena banyak kesamaan yang mereka miliki diantaranya olahraga berkuda da, polo air dan memancing.


"Tuan. Aku besok mau kembali ke Indonesia karena masa cutiku telah berakhir. Terimakasih sudah menerimaku di rumahmu hingga aku bisa bebas dari biaya hidup selama berada di sini," kelakar Daffa.


"Aku tidak peduli dengan itu, nak. Aku merasa terhibur bahkan tidak menganggap kamu adalah orang asing apa lagi tamu di keluarga ini. Bahkan kedua orangtuaku sangat senang melihatmu. Bukankah kamu tahu akan hal itu?" tanya tuan Darwish terlihat muram mendengar Daffa akan kembali ke Indonesia.


Darwish yang diam-diam melakukan tes DNA pada Daffa ini masih butuh waktu dua hari lagi untuk melihat hasil tes DNA Daffa keluar. Namun itu tidak masalah baginya karena dia sudah mengetahui kesatuan Daffa mengabdi. Tes DNA juga dilakukan karena desakan orangtuanya yang merasa kemiripan Daffa dengan dirinya bukan suatu kebetulan. Tuan Darwish mengingat lagi saat-saat ia berkunjung ke rumah orangtuanya bersama Daffa.


"Jika kami meninggal ada perusahaan kami yang akan kami wariskan kepada cucu kami Daffa," ucap tuan Marvell saat Daffa berkunjung ke kediaman mereka di California Amerika beberapa hari yang lalu.


"Aku merasa juga begitu daddy jika Daffa adalah putraku. Mungkin saja Cyra menukar bayi kami saat ia melahirkan Daffa untuk melindungi putraku dari Murrad. Jika dibiarkan hidup, bukan tidak mungkin seluruh tubuh putraku akan ia perdagangkan oleh bajingan itu dan aku memaklumi sikap nekat Cyra," ucap tuan Darwish menimpali perkataan ayahnya saat itu.


Darwish yang sedang mengenang obrolannya dengan ayahnya di tegur oleh Daffa melihat ayahnya terus saja melamun saat ia pamit.


"Tuan ..! apakah anda baik-baik saja?" tegur Daffa.


"A...iya Daffa. Maaf aku jadi melamun. Oh iya, apakah orangtuamu masih hidup? boleh aku berkenalan dengan mereka?" tanya tuan Darwis yang ingin memastikan bagaimana Daffa bisa berada di tangan nyonya Nayla.


"Ayahku sudah meninggal saat usiaku tujuh tahun dan saat ini aku hanya tinggal bersama ibuku," tutur Daffa.


"Aku turut berdukacita untuk ayahmu, Daffa. Nanti aku ingin berkunjung ke negaramu dan berkenalan dengan keluargamu terutama ibumu," ucap Darwish.


"Apakah tuan ingin mendaftarkan diri menjadi ayah sambungku?" seloroh Daffa.


"Apakah ibumu sangat cantik?" timpal tuan Darwish dengan candaan.


"Usianya 48 tahun. Di usianya saat ini ibuku masih terlihat cantik dan muda. Ok. Kalau berminat aku akan mengenalkan kalian berdua," imbuh Daffa sambil terkekeh.


Keduanya terkekeh lalu melanjutkan acara memancing mereka sore itu karena keduanya sepakat ingin membuat ikan bakar dari hasil tangkapan mereka di atas kapal pesiar itu.


...----------------...


Bunga terbangun dengan kedua tangannya di borgol namun pakaiannya masih dalam keadaan komplit karena mantel panjang serta hijabnya masih membungkus tubuh dan kepalanya. Apa lagi sepatu boot yang sampai selutut masih membalut kaki jenjangnya.


Bunga mendelikkan matanya dan melihat sekitarnya kamar yang ia tempati. Kamar mewah itu di hiasi ornamen khas timur tengah namun ada sentuhan maskulin yang mewakili kamar seorang pria.


Bunga yang sudah terlatih untuk mengatasi setiap kesulitan jika ia berada dalam tawanan musuh berusaha melepaskan dirinya dari borgol yang berupa ikatan tali tis itu. Ia membuka tali sepatu boot sebagai fantasi itu untuk di jadikan alat pembukanya.

__ADS_1


Bunga memasukkan ujung tali sepatu dicela ikatan tali tis pergelangan tangannya. Ujung tali tis yang satu diikat di bahu kursi sementara ujung lainnya di gigit. Ia kemudian melakukan gerakan gesekan atau gergaji untuk melepaskan ikatan tali tis itu hingga terlepas.


Ia mengambil ponselnya yang ada dalam sepatu boot miliknya dan mulai melihat titik keberadaannya saat ini yang berada di salah satu pulau terpencil yang sulit sekali mendapatkan signal telepon atau ponsel.


Agar bisa keluar dari kamar itu, Bunga meretas seluruh CCTV di dalam gedung atau rumah itu untuk mengetahui seberapa banyak anggota musuh yang ada di dalam dan di luar sana. Rupanya tidak banyak penjaga di dalam gedung itu membuat Bunga bisa melancarkan aksinya. Bunga mencari akal agar memancing para penjaga itu masuk ke dalam kamar itu. Ia menyediakan lebah buatan untuk menjatuhkan musuh tanpa perlawanan.


Bunga menjatuhkan apa saja yang ada di dalam kamar itu untuk memancing penjaga di depan pintu sana. Empat orang menjaga membuka pintu kamar itu dengan cepat melihat apa yang terjadi dengan Bunga.


"Rupanya si cantik sudah bangun," seringai nakal seorang penjaga sambil bertatapan dengan ketiga temannya yang ikut terpesona dengan kecantikan Bunga.


"Apakah dia simpanan tuan Alinskie yang baru? tumben dapat gadis berhijab. Biasanya dapat gadis cantik yang montok dengan dada besar," ucap yang satunya lalu ketiganya terkekeh.


"Dasar bajingan mesum!" serang Bunga dengan tendangan dan pukulan.


Gadis ini memutar tubuhnya dengan melompat salto ke belakang saat kedua tangannya di pegang oleh kedua penjahat. Bunga menendang kedua kaki dari belakang hingga penjahat itu jatuh dengan bokong mendarat duluan ke lantai.


Mendengar perkelahian di dalam sana, datang lima orang lagi ikut menyerang Bunga. Serangan Bunga yang bertubi-tubi kepada keempat kawan mereka membuat kelima penjaga yang baru masuk itu terkesima. Empat lawan satu wanita cukup membuat mereka takjub.


"Hebat juga gadis ini. Ternyata ia bukan wanita sembarangan," puji salah satu senior dari anak buahnya Alinskie.


Bunga membalut kedua tangannya dengan syal miliknya model pasmina untuk menyerang musuh. Ia masih melindungi tangan mulusnya untuk meninju wajah para musuh.


Senjata lebahnya mulai terbang menyerang musuh dengan cairan untuk melumpuhkan lawan dan membuat suara lawan hilang dan tangan mereka lumpuh. Dengan begitu para penjaga itu tidak bisa mengatakan apapun pada anggota mereka apa lagi memegang pena untuk menulis.


Bunga keluar dengan leluasa saat musuh sibuk mengibas senjata lebah yang menyerang wajah mereka. Dalam sepuluh menit musuh itu sudah terkapar dengan tubuh lemah tak berdaya. Dan Bunga memanggil lagi lebahnya untuk masuk ke dalam kantong mantelnya usai tugas lebah itu selesai.


"Terimakasih lebah-lebah manisku. Sekarang tugas kalian menyerang orang-orang yang di depan sana tapi sisakan satu orang untukku..!" titah Bunga pada lebah penurutnya itu.


Para penjaga yang melihat Bunga bebas berkeliaran di gedung itu kaget dan memerintahkan yang lainnya untuk menyerang Bunga.


"Tutup semua akses pintu keluar agar gadis itu tidak bisa kabur!" titah diantara mereka dengan alat penghubung.


Mereka ingin sekali menembak Bunga namun sudah diwanti-wanti oleh Alinskie agar tidak melukai wanitanya.


"Jangan menembak atau melukai gadis itu atau kita akan dihukum oleh tuan Alinskie!" ucap bos dari para penjaga itu.


Rupanya pintu tertutup itu tidak bisa menghentikan Bunga yang bisa membukanya dengan mudah hanya dengan menempelkan alat pembuka kunci ciptaan Nabilla. Kunci-kunci pintu yang hanya menggunakan kode sandi dan cap jempol tidak berarti apapun bagi Bunga.


Bunga menarik satu orang pria untuk menanyakan di mana mereka menyekap orang-orang yang akan menjadi korbannya Murrad saat berhasil mengunci kembali pintu-pintu itu untuk mengurung penjahat dengan mengganti kode sandi pada pintu itu secara otomatis. Bunga hanya ingin membebaskan para tawanan itu sebelum Murrad mengambil organ tubuh tawanan itu.


Bunga berhasil membekuk satu penjaga itu dan mulai menginterogasinya.

__ADS_1


"Beritahu aku di mana kalian menyekap para tawanan itu atau aku akan membuat keluargamu hancur!" ancam Bunga namun tidak di gubris oleh pria itu.


"Siapa kau berani memerintahkanku, jala**ng!" pekik pria yang bernama Hansen itu.


"Apakah dua anakmu yang bernama Jeremia dan Blink ikut mati bersamamu saat ini?" ancam Bunga dengan pistol milik Hansen yang sudah ia rebut.


Deggggg...


"Bagaimana kamu bisa tahu tentang kelurgaku?" sentak Hansen.


"Aku tidak menyuruhmu untuk bertanya. Lakukan perintahku atau dua anakmu akan menjadi korban sama seperti tuan Ben dan putranya yang telah menjual organ orang-orang yang tidak berdosa itu.


Apakah layak kedua anakmu makan dari hasil penjualan organ manusia? bayangkan kalau itu adalah dua anakmu yang akan di jual organnya," ucap Bunga mempermainkan emosi Hansen yang terlihat pucat saat Bunga menyebut nama kedua anaknya yang akan menjadi korban berikutnya.


"Tolong jangan lakukan itu pada keluargaku! aku akan menunjukkan tempat para tawanan itu," ucap Hansen.


"Apakah mereka ada di gedung ini?" tanya Bunga dengan tetap mengarah pistolnya ke kepala Hansen.


"Iya. Mereka ada di dalam gedung ini di ruang bawah tanah," ucap Hansen gugup.


"Jika kamu berani menipuku, aku tidak akan segan meminta anak buahku untuk membunuh kedua anakmu," ancam Bunga.


"Demi anakku aku tidak berani membohongi anda, nona. Aku akan membawamu ke ruang bawah tanah. Tapi aku tidak menjamin keselamatanmu di bawah sana," ucap Hansen tanpa ada kebohongan di dalamnya.


"Itu bukan urusanmu. Aku hanya ingin melihat para tawanan itu," jelas Bunga.


Hansen menarik tuas yang ada di samping lemari besi hingga lemari itu bergerak menggeser memutar seperti jarum jam hingga terbukalah ruang bawah tanah di mana lantai keramik tergeser satu sama lain. Belum saja mereka turun ke tangga itu sudah tercium bau anyir darah manusia.


Mata Bunga melotot saat melihat kumpulan buaya buas sebagai penjaga para tawanan yang ingin kabur di bawah sana. Baru saja dia turun ke bawah beberapa langkah, namun pintu masuk itu mulai bergerak menutup untuk menyatukan kembali lantai itu.


Bunga yang punya seribu cara untuk bisa lolos, menembak jangkar kecil yang langsung memutari tiang-tiang di atas langit-langit yang menyerupai besi penyangga pembuangan limbah, sebelum gerbang persembunyian itu tertutup, tubuh Bunga sudah di tarik ke atas oleh tali pegas yang menggulung tubuhnya agar terbebas dari kurungan dibawah sana.


Baru saja ia melompat turun dari atas langit-langit itu, di bawah sana sudah berdiri Alinskie yang menatapnya dengan garang, namun penuh dengan rasa kagum pada kehebatan Bunga.


"Selamat datang sayang...! Ternyata kamu bukan wanita biasa. Kau mendekati ibuku karena punya misi tertentu. Apakah kamu masih ingin mengambil tawananku? siapa kau sebenarnya, cantik?" tanya Alinskie sambil mendekati Bunga yang terus mundur menghindari Alinskie.


"Sialll.....!" Maki Bunga.


......


Vote dan likenya say, please!

__ADS_1


Makasih ya untuk doanya para readers tercinta. Maaf baru bisa update karena semalam masih terpengaruh obat bius jadi sangat pusing untuk lanjut update.


__ADS_2