
Tiba di Wina Austria, rombongan keluarga itu langsung menuju unit apartemen yang mereka sudah sewa. Amran yang berubah pikiran, ingin menyewa villa di dekat danau.
Danau Hallstatt, sebagai tempat tujuan mereka karena di sana mereka butuh ketenangan untuk memikirkan misi yang akan mereka lakukan tiga hari lagi.
Kebetulan Nabilla sudah membawa bekal makanan dari Jakarta. Jadi, mereka tidak perlu keluar apartemen lagi untuk mampir ke restoran untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai lapar. Mereka cukup menghangatkan lagi masakan yang dibawa oleh Nabilla.
Para ibu muda ini melayani suami mereka di meja makan. Sementara Nabilla melayani tiga pria sekaligus yaitu ayah, suaminya dan kakek Abdullah. Mereka lalu duduk bersama, membaca doa dan menikmati makanan mereka. Usai makan malam, Amran menyampaikan keinginannya pada keluarganya.
"Malam ini kita beristirahat dulu di apartemen ini. Besok kita akan pindah tempat tinggal yang lebih nyaman," ucap Amran.
"Kita mau pindah lagi ke mana kak? di sini juga sudah bagus kok. Bisa melihat pemandangan kota Wina Austria dimalam hari," ucap Lea.
"Tidak Lea. Kita butuh pelatihan dan ketenangan. Apartemen tidak cocok untuk kita. Tapi kita tidak akan meninggalkan apartemen ini karena kita masih membutuhkan tempat ini untuk tempat peristirahatan kita. Untuk tempat selanjutnya akan menjadi sebuah kejutan untuk kalian besok," ucap Amran.
Nabilla tidak memperhatikan Amran sedang bicara dengan adik iparnya. Ia fokus membahas rencana selanjutnya pada para pria tampan di depannya. Ayahnya dan kakek Abdullah ikut menyimak penjelasan Nabilla.
"Tugas kakek dan Nadine mengawasi komputer sambil melihat pergerakan visual kami saat beroperasi melalui laptop ini. Kalian berdua mengawasi wilayah Barat dan selatan di sekolah itu. Sedangkan ayah dan Celia akan mengawasi wilayah timur dan Utara.
"Lalu apa tugasku, Nabilla?" tanya Wira tidak sabaran.
"Mas Wira dan Lira masuk ke dalam sana sebagai orangtua siswa yang akan mendaftarkan anaknya sekolah di situ, sambil melihat keadaan sekitarnya. Minta mereka untuk melihat fasilitas apa saja yang ada di sekolah itu. Saat masuk nanti, buang senjata model lebah ini di kolam ikan yang ada di taman sekolah!" titah Nabilla disetujui oleh pasangan ini.
"Apa tugas aku mbak?" tanya Devan.
"Tugas kalian berdua menawarkan beberapa buku pelajaran yang akan digunakan sekolah itu sesuai kurikulum yang berlaku saat ini. Buku itu adalah panduan peretasan tingkat dua saja, tapi di dalam isinya sudah dimodifikasi panduannya mencapai level 5. Taktik metode ini hanya untuk mengecoh guru ahli IT untuk melakukan kesalahan hingga komputer mereka terserang virus. Itu hasil rancanganku.
Bukunya sudah aku siapkan. Jika mereka setuju, mintalah pembayaran awal 75 persen. Karena tawaran dalam jumlah besar akan meyakinkan mereka bahwa buku panduan IT dalam peretasan baru dipublikasikan perdana di sekolah mereka. Mereka pasti akan mempertimbangkannya untuk membeli buku itu," ujar Nabilla.
__ADS_1
"Apa tugasku?" tanya Arland.
"Sebagai mafia yang selalu bersentuhan dengan senjata, tawarkan senjata untuk pelatihan sekolah itu khusus untuk kalangan pemuda usia 17 tahun. Senjata itu tidak menggunakan peluru tajam tapi menggunakan peluru karet jadi aman dipakai untuk latihan," ucap Nabilla yang sudah menyiapkan barangnya.
"Lalu apa tugas kalian berdua sebagai suami istri?" tanya Arland.
"Menawarkan saham terbesar pada sekolah itu untuk menjatuhkan saham-saham kecil yang syok berkuasa di sekolah itu yang menghancurkan tujuan mulia yang awal pendidikan itu dibentuk untuk mencerdaskan para siswa sebagai penerus bangsa. Aku ingin mengembalikan tujuan pendidikan untuk membentuk kecerdasan mereka yang diimbangi dengan IQ dan EQ, tentunya para pendidiknya yang menjadi target utama dalam misi ini," ucap Nabilla.
"Jadi maksud kamu bahwa sekolah itu tidak boleh membiarkan kepentingan stakeholder yang didalamnya ada campur tangan mafia?" cecar Reno.
"Betul sekali. Karena jiwa anak-anak itu masih suci jadi harus di isi otak dan jiwa mereka dengan hal-hal yang bermanfaat yang bisa membuat mereka lebih hebat daripada diri mereka sendiri.
Tentunya guru-guru agama yang dianut mereka yang perlu dilibatkan agar mengisi kekosongan jiwa mereka dengan mengenal Tuhan pencipta mereka terserah agama apapun itu yang dianut anak-anak itu," ucap Nabilla.
"Pendidikan itu harus melekat dengan imaginasi, pentingnya menyelaraskan nalar emosi, berpikir kritis, keberanian, pendidikan nonkoformis dalam membentuk kesadaran masyarakat saat anak-anak itu siap terjun dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara," lanjut Nabilla.
"Sementara dalam agama kita, dalam surah Lukman yang berpesan kepada anaknya, wahai anakku, ambillah harta dunia sekedar keperluanmu saja dan nafkahkan sebagiannya untuk bekal akhiratmu kelak," lanjut kakek Abdullah mengutip salah satu ayat dalam surah Lukman.
"Terus kapan kita mulai menjemput putranya mbak Tiar?" tanya Wira.
"Setelah kita sebarkan senjata ke dua yaitu kunang-kunang yang akan mendeteksi wajah dan data dari putranya mbak Tiar itu. Jadi masing-masing dari kita mengenakan jas maupun blazer yang kancingnya sudah dipasangi kamera pengintai. Aku sendiri yang akan melemparkan senjata itu di taman sekolah dimana dipenuhi tanaman yang rimbun. Senjata berupa kunang-kunang itu akan bekerja di malam hari," ucap Nabilla.
"Baiklah. Sekarang kita istirahat agar bisa melakukan pelatihan besok!" pinta Reno yang terlihat sangat lelah diantara mereka.
"Yang habis begadang ketahuan banget deh," ledek Devan membuat semuanya terkekeh.
Semuanya kembali ke kamar mereka masing-masing. Apartemen itu cukup besar yang memiliki 6 kamar tidur cukup untuk keluarga itu.
__ADS_1
Keesokan harinya mereka berangkat ke Danau Hallstatt karena sudah menyewa salah satu villa di sana. Mereka membawa mobil Van yang dirancang khusus untuk liburan dan sekaligus untuk melakukan pengintaian di sekolah yang akan mereka tuju tidak jauh dari lokasi mereka tempati.
Ada juga tiga mobil mewah dengan jenis yang berbeda ikut dalam rombongan itu. Ketiga mobil itu dibawa oleh asistennya Wira, Reno dan tuan Rusli yang baru tiba di Austria karena menumpang pesawat komersial.
Perjalanan itu sangat berkesan untuk rombongan dua mobil itu. Ternyata para pria muda itu, lebih tenang melakukan perjalanan mereka karena ada Istri-istri yang mendampingi mereka.
Saat memasuki wilayah di mana sekolah itu akan mereka selidiki membuat mereka kagum dengan bangunan gaya Eropa itu namun kesan mistis masih bisa mereka rasakan dari pantulan kemewahan bangunan itu.
"Kenapa aku ko merasa merinding ya?" ucap Celia yang selalu memiliki instingnya kuat seakan mengetahui sekolah itu memiliki suatu misteri yang sengaja ditutupi.
"Sayang. Jangan terlalu melibatkan perasaanmu. Yang ada misi kita akan gagal kalau kamu mengedepankan perasaan takut," timpal Reno.
Mata Nabilla melebar saat melihat pergerakan tuan Dito berada di wilayah yang sama dengan mereka. Namun ia tidak berani menyampaikan kepada yang lainnya kecuali suaminya sendiri.
"Mas...! Sepertinya kita sedang masuk ke kandang macan," bisik Nabilla seraya menyerahkan ponselnya pada Amran.
"Apa..? Dito...?" gumam Amran cemas.
"Biarkan itu menjadi urusanku, sayang! Kamu fokus menyelamatkan sekolah itu dan temukan bukti kejahatan sekolah itu yang bekerjasama dengan para mafia. Aku akan mengecoh Dito dan komplotannya agar mereka tidak ikut campur urusan kamu untuk membebaskan sekolah itu dari tindakan keji mereka.
Hubungi otoritas negara ini untuk membekuk para mafia pendidikan. Mintalah bantuan tuan presiden Amerika jika kesulitan membawa kasus ini ke hukum yang berlaku di negara ini," nasehat Amran memberikan solusi untuk mereka.
Nabilla tersenyum mendengar penjelasan suaminya." Strategi penyerangan kita lebih menantang kali ini. Terimakasih suamiku, aku bisa lebih mudah mengatasi bandit-bandit keparat itu," imbuh Nabilla menyeringai licik.
"Itulah gunanya punya suami Mafia. Jika sudah berurusan perang sesama mafia, akulah juaranya," ujar Amran kembali dengan keangkuhannya.
"Good job hubby! stay careful! Take care of yourself and don't get hurt!" pesan Nabilla untuk suaminya.
__ADS_1
........
vote dan like nya cinta please!