Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
288. Petualangan Ke Pulau Kirrin


__ADS_3

Kejeniusan bayi kembar tiga milik princess Tamara dan El-Rummi menjadi buah bibir istana. Raja Farouk dan ratu Hanifa begitu bangga melihat cucu mereka yang belum bisa bicara itu, bisa melakukan komunikasi dengan ponsel karena lebih mudah digunakan.


Yang membuat mereka aneh adalah ketiganya bisa mengetahui abjad huruf latin, arab dan Rusia yang cukup susah untuk dicerna anak seumuran mereka. Dan tidak ada yang mengajari mereka karena selama ini mereka hanya senang nonton saja.


Mengetahui ketiga cucu spesialnya ini menggunakan ponsel sebagai alat komunikasi, Raja Farouk membeli tiga unit ponsel untuk ketiga cucunya yang merupakan keluaran terbaru. Melihat ketiga cucunya tumbuh jenius, Raja Farouk tidak rela jika ketiganya kembali ke Indonesia. Jadilah El mengalah dan tinggal di Bahrain bersama keluarga kecilnya di istana kerajaan Bahrain.


Malam itu, setelah menidurkan ketiga buah hati mereka, kini El yang sudah lama berpisah dengan istrinya karena misi mereka, mulai menunggu sang bidadari keluar dari balik pintu kamar ganti.


Tubuh Tamara yang terlihat semok usai melahirkan ketiga bayinya nampak terlihat sangat seksi membuat El tidak tahan untuk mengeksplorasi berbagai posisi bercinta mereka yang sebentar lagi akan siap bertempur.


Tubuh atletisnya El yang kini nampak polos menyambut sang istri yang langsung berciuman satu sama lain. Saling menautkan lidah mereka sambil sesekali menghisap.


Tubuh Tamara dibalik oleh El sambil mendorong tubuh itu merapat ke di dinding kaca. Sambil mengisap leher jenjang itu penuh birahi dengan kedua tangan meremas kuat dua bukit istrinya yang tampak penuh di telapak tangannya.


"Oh baby. I Miss you..!" pekik Tamara saat tubuhnya kembali di dorong ketempat tidur untuk dilahap bagian bawah yang sudah tampak basah ingin dimanjakan dengan lidah kasar sang suami.


Keduanya sudah nampak tenggelam menikmati sesi percintaan mereka melewati malam untuk memberikan sentuhan masing-masing sebelum akhirnya melakukan penyatuan tubuh mereka.


...----------------...


Satu bulan lagi sebelum adanya pemilu, kini delapan orang cucu Amran saat ini sedang berlibur ke Itali. Mereka yang masih penasaran dengan pulau Kirrin milik tuan Luciano yang diwariskan oleh kakeknya.


Mengapa dinamakan pulau Kirrin karena tuan Luciano adalah penggemar serial petualangan lima sekawan karena kemiripan pulau Kirrin di lima sekawan dengan pulau miliknya sama. Itulah sebabnya Luciano ingin mengganti nama pulau pemberian kakeknya itu dengan nama pulau Kirrin.


Saat ini, para cucu Indonesia sudah berkumpul di kediaman Tuan Luciano. Nyonya Rosela begitu semangat menyambut kedatangan kedatangan para cucunya itu.


"Opa. Kami sudah boleh melakukan petualangan di pulau Kirrin bukan. Kami ingin berkemah di mercusuar itu...!" tunjuk Ghazali.


"Boleh. Tapi, kalian berdelapan harus kompak melakukan aktivitas bersamaan. Di sini ya lebih tua Raffa dan Raffi karena usia mereka sudah 18 tahun.

__ADS_1


Itu berarti, kalian harus mendengarkan apa yang akan ditetapkan mereka sebagai aturan dalam petualangannya," ucap Tuan Luciano yang paham betul si kembar memiliki kekuatan yang selalu mengabaikan larangan orang dewasa.


"Baik opa Luciano. Demi tujuan kami, kali ini aku tidak akan melanggar," ucap si kembar.


"Oma sudah menyiapkan perbekalan kalian untuk berkemah ke sana. Nanti kalau kurang, biar pelayan Ebes yang akan mengantarkan ke mercusuar," ucap nyonya Rosela begitu semangat mendukung petualangan para cucunya ini.


"Oma kami memang yang terbaik. Kami sayang sama oma," puji Ghaida setinggi langit pada nyonya Rosella yang begitu bahagia mendengarnya.


"Terimakasih bidadariku. Semoga Allah merahmatimu, sayang," ucap nyonya Rosella seraya menyuapi kue buatannya ke mulut Ghaida.


"Aamiin."


Beberapa menit kemudian, sore itu mereka sudah berangkat ke pulau Kirrin dengan Van. Karena tuan Luciano dan nyonya Rosella tidak diperkenankan untuk ikut oleh cucunya karena usia mereka, jadilah manusia senja ini hanya bisa mengantarkan kedelapan bocah itu di pelabuhan saja.


Kalau sampai di sana, jangan keluar malam-malam. Tetap waspada karena area sekitarnya tidak dilengkapi CCTV," ucap tuan Luciano.


"Iya Opa. Kami akan memperhatikan itu," ucap Raffa yang sudah mempersiapkan pengamanan lainnya.


"Bye...opa, Oma...!" mereka melambaikan tangan ke arah pelabuhan setelah speed boat menjauh tempat itu. Perjalanan di tempuh selama satu jam.


"Hati-hati...! Kabari Oma kalau sudah tiba. Nanti ada apa-apa langsung telepon Oma biar dikirim helikopter untuk menjemput kalian," ucap nyonya Rosella.


"Hmm!"


Perjalanan menuju pulau Kirrin makin mendebarkan. Ini untuk pertama kalinya mereka dilepas sendirian untuk mencari kesenangan di alam bebas.


Walaupun Raffa dan Raffi adalah calon agen rahasia FBI yang sudah terlatih kemampuan mereka menghadapi musuh, namun kekuatiran manusia senja ini masih melekat di hati mereka.


Tiba di pulau Kirrin, ke delapan cucu Amran ini siap memasuki mercusuar yang sudah tak terpakai namun di rawat dengan baik oleh tuan Luciano karena dianggap salah satu warisan negara.

__ADS_1


"Wow..! Ini sangat keren...!" puji Dinar begitu tiba di atas puncak mercusuar.


"Sekarang kita atur tempat tidur untuk kita. Anak perempuan di sini hanya tiga orang yaitu Dinar, Audrey dan Ghaida, tidur sebelah kanan dan anak laki-laki tidur sebelah kiri," ucap Raffi yang mengatur tempat tidur mereka dengan memberikan alas tidur berupa kasur busa untuk menjaga kehangatan di tempat yang dingin itu.


"Ok. Kami mau siapkan cemilan untuk kita. Pastikan jaringan wifi di sini kuat. Kita bisa nonton film melalui in fokus,"ucap Hanin.


"Filmnya jangan yang seram-seram ya kak! Ghaida takut," ucap Ghaida.


"Masa gadis pemberani takut sama film hantu?" goda Raffi.


"Mending lawan sepuluh penjahat deh daripada lihat hantu," timpal Ghaida karena usianya masih kecil.


Dinar dan Audrey menyimpan makanan mereka dengan baik. Mereka juga membawa kompor listrik dan juga microwave untuk memasak dan menghangatkan makanan yang sudah di masak oleh nyonya Rosella untuk makan malam mereka.


Malam tiba, Hanan menyalakan mesin penghangat ruangan. Dinar dan Audrey sibuk menyiapkan makan malam. Raffi memutar film komedi agar mereka tidak merasa kesepian.


"Ayo. Kita makan malam dulu. Nanti aku buatkan pop corn untuk temanin nonton film action," ucap Audrey.


Makan malam itu penuh dengan kehangatan. Mereka saling bercanda satu sama lain. Sementara itu mereka tidak tahu saat mereka tiba di pulau itu sudah ada yang mengintai kedatangan mereka.


Inilah menjadi petualangan seru kedelapan cucu Amran yaitu memiliki kejeniusan tingkat tinggi. Sehebat apapun para penjahat akan mereka basmi ke akar-akarnya.


Usai makan malam ditutupi dengan makan salad dan puding coklat. Audrey membuat popcorn yang banyak untuk menemani mereka menonton. Semuanya saling duduk berdempetan agar tetap terasa hangat. Raffi memastikan lagi pintu utama merkusuar sudah terkunci aman.


"Ghazali. Sekarang beri pengamanan di luar sana agar speedboat kita aman dari pencuri...!" titah Raffa yang memperhatikan alat transportasi mereka itu dari atas mercusuar.


"Sudah aku amankan setelah kita turun dari speed boat kak. Ayo kita mulai nonton...!" pinta Ghaida.


"Ok. Kita nonton," ucap Ghazali. Tidak lama terdengar suara petir menggelegar membuat mereka tersentak kaget. Raffi lupa kalau mereka berada di puncak mercusuar.

__ADS_1


"Sepertinya, sebentar lagi akan turun hujan. Ayo, kita nikmati filmnya saja," ucap Ghazali sambil rebahan di tempat tidurnya sambil menarik selimut.


__ADS_2