Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
92. Tidak Akan Pernah Luluh


__ADS_3

Menjadi orangtua harus mempersiapkan diri untuk membagi waktu entah itu pekerjaan maupun untuk keluarga. Kehadiran buah hati ditengah mereka merupakan anugerah terindah yang harus dinikmati setiap saat. Seperti halnya Lira yang saat ini merawat putrinya dan juga putra sambungnya Arsen.


Nama dari putri Wira dan Lira adalah Kirana Aurora Zaneva. Sementara nama dari putranya Reno dan Celia adalah Farrel Rama Zalkisty.


Di istana mewah itu, sudah terdengar tangisan kedua bayi ini membuat suasana hangat tercipta keakraban di dalamnya. Celia dan adiknya Lira saling bahu membahu untuk merawat anak mereka masing-masing. Kadang keduanya saling menitipkan anak mereka ketika sedang ada urusan di luar rumah.


Terutama saat ini, Lira di minta nyonya Arumi untuk bertemu dengannya di sebuah restoran. Lira tidak mungkin membawa bayinya keluar rumah karena sudah diwanti-wanti oleh Wira untuk tidak membawa bayi mereka keluar rumah kecuali dengannya. Terpaksalah Lira menitip bayinya pada kakaknya Celia.


"Kamu mau ke mana Lira?" tanya Celia saat melihat adiknya itu sudah berpenampilan rapi.


"Mau bertemu dengan papa. Aku ingin menanyakan papa untuk bisa masuk ke bagian lawyer yang mungkin papa kenal kantor firma hukum yang memiliki reputasi baik," ucap Lira memberi alasan.


"Oh begitu. Baiklah. Kamu bisa tinggalkan Kirana denganku. Aku sudah biasa merawat anak kembar kak Nabilla jadi merawat dua anak yang menggemaskan ini tidak sulit bagiku," senyum Celia mengembang sempurna saat mengambil baby Kirana dari buaian ibunya.


"Mama pergi dulu ya sayang. Tolong jangan rewel. Jangan nyusahin Tante Celia. Mama akan segera kembali," bisik Lira mengecup pipi gembul putrinya yang sudah berusia tiga bulan.


Lira mengecup pipi Celia lalu berlalu pergi sambil menenteng tas tangannya. Walaupun ia harus membohongi kakaknya untuk bertemu sang ibu namun ia tidak bisa menepis kerinduannya pada sang ibu. Lira membawa mobilnya sendiri. Mobil Eropa yang sangat mewah keluaran terbaru.


Mereka janji temu di restoran favorit ibunya. Walaupun bukan restoran mewah, namun bagi ibunya tempat itu dulu merupakan tempat penuh kenangan untuk keluarga kecilnya. Sedari tadi wanita paruh baya itu menelisik setiap pengunjung restoran yang masuk silih berganti, namun batang hidung putri sulungnya itu belum terlihat juga. Duduknya sudah mulai gelisah karena sedari tadi ia belum memesan apapun karena masih menunggu Lira.


"Apakah Lira jadi menemuiku di sini?" kesal Arumi lalu berjalan keluar restoran sambil menghubungi Lira dengan ponselnya. Baru saja tiba di depan restoran, sebuah mobil mewah warna silver melintas di depannya dan Lira membuka kaca jendela sambil membunyikan klakson mobilnya menegur sang ibu.


Arumi terhenyak hingga ponsel yang ia pegang hampir jatuh dari genggamannya saat melihat mobil mewah itu di kendarai oleh putrinya. Nyonya Arumi tahu betul mahalnya mobil itu karena selama tinggal di Belanda yang merupakan daratan Eropa, ia bisa pergi ke negara Eropa manapun hanya dengan menggunakan kereta cepat seperti Perancis, Itali atau Jerman baginya sangat mudah mengetahui mobil mewah keluaran terbaru milik Eropa.


"Astaga Lira!" Senyum penuh bangga yang dirasakan Arumi saat ini.

__ADS_1


Lira menghampirinya usai memarkirkan mobilnya itu. Penampilan Lira jangan di tanya. Sangat berkelas namun tidak glamor. Mengenakan pakaian mewah, tas sepatu dengan perhiasan yang menempel di tubuhnya yang terlihat hanya cincin dan gelang berlian di tambah jam tangan mewah karena Lira mengenakan hijab jadi tidak terlihat anting dan kalung berlian yang dikenakan putrinya Arumi itu.


"Mamaaaa ..!" pekik Lira meraih tangan ibunya mengecup lalu mencium kedua pipi Arumi begitu pula Arumi yang juga sangat rindu pada putrinya.


"Wah...! putriku tambah cantik dan kinclong!" puji Arumi saat merenggangkan pelukannya pada Lira.


"Mama juga. Pulang dari Belanda makin Cantik," puji Lira mengukir senyum di bibirnya.


"Lira. Kita pindah restoran aja yuk yang pastinya langganan suami kamu," rengek Arumi.


"Baik mama. Ayo kita ke restoran lain!" Ajak Lira sambil memeluk lengan ibunya menuju mobilnya.


Arumi masuk ke mobil itu sambil membayangkan jika ia bisa memiliki mobil ini dan membawanya menemui teman-teman sosialitanya.


"Mama menginap di mana?" tanya Arumi saat mereka sudah tiba di restoran yang di maksud.


"Di rumah teman. Papamu tidak memberikan aku apapun bagaimana aku mau menetap lama di Indonesia Lira? Oh ya, bagaimana kalau kamu belikan apartemen mewah untuk mama agar mama bisa menetap di Jakarta lagi dan tidak usah kembali ke Eropa. Tidak enak menumpang di rumah kakak walaupun mereka sangat baik padaku," pinta Arumi.


"Untuk beli apartemen mewah, pastinya aku tidak bisa mama karena Lira belum bekerja. Kalau menyewanya untuk mama, Lira harus minta ijin pada kak Wira dulu. Tapi, jangan yang mewah ya, mam? Bagaimana?" tawar Lira.


Wajah Arumi terlihat sangat kesal mendapati jawaban putrinya." Apakah suamimu itu sangat pelit hingga kamu begitu takut untuk menghamburkan uangnya terhadap ibu mertuanya sendiri? Pasti kamu mendapatkan black card darinya, bukan?" tanya Arumi seraya menarik tas milik putrinya yang ada di atas meja itu sambil membuka dompet milik Lira dan benar dugaannya putrinya memiliki black card.


"Mama. Jangan begitu mama! malu sama orang!" ucap Lira sambil memohon.


"Lira. Lihatlah ini. Kartu ini bisa beli apa saja termasuk apartemen mewah. Habis makan siang kita lihat apartemen mewah ya! Cukup bayar pakai ini saja dan uang suamimu tak akan berkurang dan tak akan membuat ia miskin," ucap Arumi dengan berbinar sambil memegang kartu ajaib itu.

__ADS_1


"Maaf mama! Kembalikan kartu itu dan aku tidak akan memenuhi permintaan mama sekalipun suamiku mengijinkannya. Aku tidak mau merendahkan harga diriku demi mama kecuali hal yang sangat genting," ucap Lira.


"Lira....! Mama sudah melahirkan dan membesarkan kamu dengan susah payah, apakah tidak bisa membuat mama senang sedikit dari harta yang kamu miliki?" bentak Arumi.


"Aku ingin sekali melakukan itu untuk mama tapi tunggu Lira bekerja dulu mama. Gaji Lira semuanya akan lira berikan untuk mama. Lira akan belikan rumah untuk mama. Jangan apartemen mewah," ucap Lira.


"Gajimu tidak cukup untuk untuk menyenangkan mama Lira," bantah Arumi.


"Lebih dari cukup mama, jika mama menerimanya penuh syukur dan tidak berfoya-foya. Masalahnya yang membuat mama masih merasa kurang adalah gengsi mama yang terlalu tinggi karena mama masih mau berbangga diri pada teman-teman mama yang tidak jelas itu .


Seharusnya Mama berubah makin berkurang usia dengan bertobat dan lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh rasa syukur. Dan mirisnya lagi mama tidak sedikitpun menanyakan kabar kedua cucu mama sejak kita bertemu sampai saat ini. Lira sangat kecewa sama mama. Maaf mama! Lira mau pulang. Kasihan bayiku," ucap Lira mengambil tas dari tangan ibunya dan pergi ke kasir untuk membayar makan siang mereka.


"Lira. Beginikah cara kamu bakti kepada orangtua, hah?" bentak Arumi berang.


"Lira sudah menunjukkan bakti Lira pada mama hanya saja ekpektasi mama begitu tinggi padaku dengan cara memeras Lira. Itu yang tidak bisa Lira penuhi. Semua ada aturannya mama. Menjadi istri seorang suami kaya tidak mendidik Lira untuk memanfaatkan kebaikan suami walaupun itu hak Lira," ucap Lira lalu mengeluarkan ATM miliknya.


"Ini ATM pribadi Lira. Uangnya tidak banyak tapi cukup memenuhi kebutuhan mama. bijaklah memakainya karena Lira akan transfer uang untuk kebutuhan mama setiap bulan tidak lebih dari sepuluh juta.


Ada rumah kontrakan yang sudah Lira sewa untuk mama di komplek perumahan cukup bergengsi. Kalau mau Lira akan antar mama besok ke sana. Kalau mau lihat sendiri, Lira akan mengirim alamatnya," santun Lira lalu pamit pulang pada ibunya yang terlihat sangat kesal dengan putrinya yang tidak bisa memenuhi angannya.


Tanpa Lira mengetahui, percakapannya dengan sang ibu sudah didengar semuanya oleh Wira dari alat penyadap yang di pasang di jam tangannya Lira. Wira begitu kagum dengan istrinya yang sangat amanah walaupun saat ini Lira sudah membohonginya karena mau pamit ketemuan dengan ayah mertuanya malah ibu mertuanya. Sebenarnya Wira hanya kontrol istrinya jikalau Lira berpapasan lagi dengan Darren.


......


Vote and likenya cinta please!

__ADS_1


__ADS_2