
Nabilla dan Amran sudah berada di dalam kamar mereka tepat di depan kamar yang sedang ditempati oleh ketiga orang yang menjadi target utama mereka saat ini. Adapun Axton berada di sebelah kamar Nabilla dan saling terus berkomunikasi.
Nabilla menyalakan ponselnya untuk melihat apa yang dilakukan oleh ketiga orang target di dalam sana melalui alat penyadap yang berupa kamera yang di tempelkan di tas milik gadis penyamar tadi yang diletakkan di atas nakas mengarah ke arah ketiga target.
Nabilla tidak mempedulikan adegan syur yang ada di dalam sana. Tapi dia sedang melihat dua koper yang harus mereka ambil secara bersamaan. Terserah koper mana yang ada benda berharga yang mereka cari.
"Tidak usah menikmati permainan orang baby! ini bukan live streaming untuk menghiburmu," sindir Nabilla pada Amran yang terpaku pada adegan itu.
"Kan sambil menyelam minum air Baby," canda Amran membuat mata indah Nabilla mendelik.
"Kalau begitu lupakan hadiahmu yang aku janjikan!" ancam Nabilla membuat Amran gelagapan.
"Maaf sayang! jangan seperti itu aku hanya bercanda," tegas Amran yang tidak lagi melihat adegan mesum itu dan beralih menatap wajah cantik istrinya yang sudah membuka masker.
Nabilla terlihat gelisah karena tidak kuat lagi untuk menunggu ketiga target itu menyelesaikan urusan ranjang mereka di dalam sana.
"Apa yang harus aku lakukan? ini sudah terlalu lama sementara waktuku terlalu berharga," lirih Nabilla yang cukup kesulitan untuk bertindak karena ada Amran bersamanya.
Jika di mana-mana pria selalu mengatakan perempuan adalah makhluk yang menyebalkan di muka bumi ini walaupun memberikan mereka kenikmatan tapi kalau sudah melakukan urusan penting dan genting perempuan menjadi faktor penghalang.
Dan kini terbalik dengan pemikiran Nabilla yang merasa suaminya menjadi penghalang untuk dirinya bisa bereksplorasi. " Apakah aku harus memberitahukan suamiku, untuk aksiku selanjutnya?" batin Nabilla menimang-nimang saat ini dan Amran bisa menangkap kecemasan istrinya.
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan sayang?" tanya Amran menebak pikiran wanitanya.
"Aku harus melakukan penyamaran lagi baby. Kamu ingin membantuku?" tanya Nabilla.
"Katakan saja sayang! aku akan mendukungmu!" ucap Amran.
"Aku ingin masuk ke dalam sana...-"
"Apaaa ....? kamu ingin bergabung dalam permainan....-"
"Diam. .! jangan di lanjutkan ucapanmu, mas! bisakah kamu mau mendengarkan penjelasan aku dulu untuk mengambil barang itu tanpa ada perang?" potong Nabilla
"Baiklah. Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Amran.
"Aku ingin melakukan penyamaran dan masuk ke dalam sana untuk melumpuhkan mereka dengan senjata ringan tapi tidak untuk mematikan mereka," jelas Nabilla.
"Apakah tidak berisiko Baby?"
"Resiko pasti ada mas. Tapi, kalau permainannya dilakukannya secara cantik, maka resiko itu sangat minim. Bisakah mas hanya melihatku saja dan mengikuti aturan mainku kali ini? tugas mas dan agen satu untuk menyelamatkan barang ini atas perintahku selanjutnya setelah aku berhasil masuk ke dalam sana," tutur Nabilla.
__ADS_1
"Ok lakukan secepatnya, baby! aku ingin pulang melihat ketiga bayiku," ucap Amran yang sudah kangen dengan ketiga bayinya.
"Aku akan melakukan apapun dan tolong jangan banyak protes dan tunggu saja permainanku selanjutnya! bagaimana?" tanya Nabilla.
"Hmm!"
"I love you, baby!"
"l love you more, my heart!" balas Amran.
Nabilla melepaskan hijabnya. Ia mengambil rambut palsu pendek menjuntai sebatas leher dengan poni dan berdandan cukup menor. Mengenakan mantel bulu untuk menutupi leher jenjangnya. Ia juga tetap mengenakan kacamata hitamnya. Kali ini Nabilla tidak mengenakan masker agar terlihat seperti perempuan berkelas dan terlihat binal.
Jantung Amran mau terlepas saat ini melihat perubahan penampilan drastis istrinya. Ingin mencegah tapi misi ini akan berlarut-larut penyelesaiannya. Jalan satu-satunya mengijinkan Nabilla beraksi secara profesional. Nabilla membawa apa saja yang ia butuhkan selain senjata dalam penyamarannya. Nabilla mengalihkan CCTV koridor hotel di lantai itu, ke arah yang berlawanan agar tidak terlihat aksinya.
"Aku masuk dulu mas ke sana. Axton akan ke kamar ini untuk bergabung denganmu agar bisa menolongku secara bersamaan. Tolong jangan libatkan perasaan saat ini dalam mengembangkan misi! mas mengerti?" tegas Nabilla agar suaminya tidak cemburu pada Axton.
"Baiklah. Lakukan dengan cepat! aku sudah tidak sabar," ucap Amran yang ikut tergiur melihat wajah cantik Nabilla dengan dandanan yang menyolok.
"Segera hubby!" Nabilla mengecup bibir suaminya lalu keluar menemui target yang ada di depan kamar mereka.
Nabilla memencet bel kamar lalu menunggu target untuk membukanya. Tidak lama keluar seorang pria tampan dengan piyama tidur.
"Selamat malam, tuan!" sapa Nabilla sambil mencopot kaca matanya dan tersenyum manis pada sang pria yang langsung meneguk liurnya terpana melihat kecantikan Nabilla yang dianggapnya seperti bidadari.
"Boleh bergabung tuan dengan partner ranjang anda di dalam sana?" tawar Nabilla dan tentu saja membuat jantung pria ini bergetar menatap wajah Nabilla tak berkedip.
Sepertinya pria itu terhipnotis dengan kecantikan Nabilla yang hanya mengangguk sambil melebarkan pintu untuk mempersilahkan Nabilla masuk.
"Terimakasih Tuan!" Nabilla melangkahkan kakinya dan meletakkan tas kecilnya.
Si wanita yang merupakan agen utama seketika terkesiap dan langsung mengambil sikap siaga namun tubuhnya dalam keadaan polos, begitu pula pria yang telah membawa koper yang berisi benda milik Amerika yang asli.
Nabilla tersenyum pada keduanya dengan senyuman nakal untuk meyakinkan keduanya kalau dirinya adalah perempuan malam.
"Siapa kamu?" tanya agen rahasia itu pada Nabilla dengan intonasi menyelidik. Sementara Nabilla yang hendak membuka mantelnya namun tidak sepenuhnya berniat untuk membuka.
"Tenanglah Gwen! Dia adalah gadis panggilan untuk menambah hot permainan kita malam ini," ucap Pedro pada Gwen yang merupakan gadis bes**s.
"Kalau begitu, cepat buka mantelmu dan segera bergabung dengan kami!" titah Tuan Javier yang sudah tidak sabar ingin melihat kemolekan tubuh Nabilla di balik mantel panjang Nabilla.
"Sabar baby! dan perhatikan tubuhku saat aku membuka mantel ini karena aku hanya mengenakan lengerie! apakah kamu ingin melihatnya sayang?" goda Nabilla dengan senyum menggoda membuat sang pria ingin mendekatinya.
__ADS_1
"Cepatlah nona! aku bukan orang yang sabar!" desak Javier yang ingin meraih pinggang Nabilla namun Nabilla segera berkelit.
"Lepaskan piyamamu karena aku ingin melihat senjata pemuasmu!" titah Nabilla untuk memperlancar tujuannya, menunggu musuhnya dalam keadaan tidak siap dengan tubuh polos mereka jika ingin mengejar atau melawannya.
Nabilla mengambil parfum dari kantong mantelnya yang merupakan senjata pemugkasnya lalu menyemprotkan ke arah Javier, Pedro dan Gwen agar membuat mata ketiga targetnya perih, kabur dan mengantuk.
"Aiss....! wanita sialan!" maki Pedro yang baru menyadari Nabilla adalah musuh.
"Dasar jal**Ng..!" maki Gwen yang tidak kuat menahan matanya yang terasa sangat perih.
"Kau yang jal**g, berengsek!" Umpat Nabilla sambil berjalan menuju koper yang tergeletak di sudut kamar itu.
Tanpa membuang waktu, Nabilla membawa kedua koper itu dan melangkah keluar dengan anggun. Sementara musuhnya sudah terlelap dengan senjata buatannya.
Amran langsung membuka pintu kamarnya untuk Nabilla. Axton terkesiap melihat wajah cantik Nabilla. Namun Amran segera menutup wajahnya Axton dengan mantelnya.
"Wajah istriku bukan milikmu bodoh!" bentak Amran.
Nabilla memastikan dulu koper mana yang asli. Ia memberikan koper yang palsu pada Axton dan yang asli ia yang akan membawanya sendiri.
"Cepatlah pergi dari sini! karena obat itu hanya bereaksi setengah jam!" titah Nabilla seraya memberikan koper yang berisi benda palsu untuk Axton bawa.
Tanpa disadari oleh Axton kalau koper itu benda palsu yang langsung dibawa oleh laki-laki itu dan keluar dari kamar Nabilla.
"Aku pulang duluan, Nabilla," ucap Axton sambil memanggil helikopter untuk menjemputnya di atap hotel itu.
Sementara Nabilla harus mencopot rambut palsunya dan mengenakan lagi hijab segiempat miliknya. Mengenakan masker dan kaca mata coklat.
"Ayo hubby! kita segera meninggalkan hotel ini menuju bandara," ucap Nabilla mengeluarkan benda berharga milik Amerika itu lalu di masukkan kedalam koper miliknya.
Dalam beberapa jam kemudian, keduanya sudah berada di dalam pesawat air force one di mana tuan presiden yang menjemput sendiri Nabilla dan Amran di negara Makau. Nabilla mengeluarkan benda berharga itu untuk diserahkan kepada tuan presiden.
"Ini bendanya, tuan presiden. Kami telah menyelesaikan misi kami. Kami ingin segera pulang untuk menemui ketiga bayi kami karena kami sudah sangat merindukan mereka," ucap Nabilla seraya menyerahkan benda berharga itu ke tangan presiden.
"Terimakasih atas kerja keras kalian. Untuk itu Aku yang akan mengantar kalian sendiri langsung ke Jakarta dengan pesawat ini," ucap tuan presiden membuat Nabilla dan Amran terhenyak saling menatap penuh rasa bangga.
"Terimakasih tuan presiden!" ucap Nabilla yang sudah mengenakan lagi pakaian syar'i miliknya.
Sementara itu Axton yang merupakan agen satu sedang membuka koper itu dan memeriksa benda berharga milik negaranya untuk memastikan keasliannya dan ternyata palsu.
"Cih...! dia selalu sulit di prediksi," umpat Axton penuh rasa bangga pada wanita impiannya itu dengan tersenyum puas karena bisa melihat kecantikan Nabilla malam ini.
__ADS_1
........
Terimakasih untuk beberapa readers tercinta yang telah mendoakan putra saya. Alhamdullilah operasinya berjalan lancar. Insya Allah hari ini pulang dan insya Allah author update 3 episode hari ini. Semoga sehat selalu untuk kalian semua. love you!