
Adanya drone milik delapan sekawan itu terlihat juga oleh radar milik penjahat di bawah sana. Mereka melihat ke arah CCTV yang mengarah ke laut.
"Mengapa speed boat itu berhenti di tempat kita?" tanya bos penjahat yaitu tuan Alejandro.
"Mereka adalah cucu dari tuan Luciano yang saat ini sedang berlibur dan menempati mercusuar," ucap Marcell.
"Singkirkan mereka dari sini...! Sebelum mereka mengetahui aktivitas kita," titah tuan Alejandro.
"Inikan pulau milik tuan Luciano bos. Jika kita menyingkirkan cucunya maka itu akan berakibat tidak baik bagi pergerakan kita," protes Marcell.
"Bagaimana kalau mereka mengetahui tempat ini? Kita bisa berada di dalam masalah. Bisa-bisa proyek besar kita ini diketahui oleh negara," omel tuan Alejandro.
"Mereka tidak akan bisa mengetahuinya karena keberadaan kita berada di ruang bawah tanah. Di atasnya ada danau yang melindungi permukaan alat pemancar raksasa yang kita bangun," ucap Marcell.
"Apakah kamu lupa siapa itu tuan Luciano? Pengusaha terbesar di industri teknologi canggih yang mampu meretas apa saja yang berhubungan dengan kegiatan ilegal di negara ini bahkan dunia. Dasar bodoh...!" bentak tuan Alejandro membuat anak buahnya terdiam.
"Apa yang harus kita lakukan tuan? Jika menghentikan permainan anak-anak itu, justru akan memancing kecurigaan mereka," ucap yang lainnya.
"Baiklah. Kita tetap mengawasi mereka. Jika terjadi sesuatu yang mengancam keberadaan kita, maka bunuh mereka..!" titah tuan Alejandro.
"Itu lebih beresiko akan ketahuan tuan," tutur yang lainnya.
"Kalau begitu, kepala kalian akan saya tembak jika proyek besar aku ini gagal," ucap Alejandro.
"Ba...baik tuan. Lebih baik mencegah mereka," ucap Marcell yang tidak ingin berdebat lagi dengan tuannya Alejandro.
Sementara di atas speed boat milik cucu Amran, masih terjadi perdebatan. Raffi kekeh untuk tidak melakukan penelusuran lebih jauh ke arah danau itu namun dibantah oleh Al-Ghazali.
"Mereka punya aktifitas di bawah danau itu. Walaupun tidak tertangkap layar namun aku yakin mereka memiliki kegiatan yang sudah melawan hukum," ucap Ghazali.
"Kalau begitu, kita serahkan urusan mereka pada opa Luciano. Jangan bertindak nekat. Kita tidak punya senjata untuk melawan mereka," bantah Raffi.
"Mereka itu sangat licik. Jika kita memberitahukan opa Luciano, yang ada tempat ini terlihat seperti hutan belantara dan semuanya terlihat sempurna seperti pulau tak berpenghuni sebelumnya," ucap Ghazali.
__ADS_1
"Mari kita berpikir bersama untuk menentukan tindakan apa yang harus kita lakukan untuk mengungkap kegiatan ilegal mereka tanpa di ketahui orang luar termasuk opa Luciano," ucap Hanan.
"Lebih baik kita bergerak jangan pada siang hari, itu lebih berbahaya. Kita bisa melakukannya di malam hari untuk mengetahui aktivitas mereka yang mungkin bisa keluar dari markas mereka pada malam hari agar tidak dicurigai oleh orang lain," ucap Raffa memberi pendapatnya.
"Lebih baik kita melakukan penyelidikan di sore hari. Kalau malam hari lebih beresiko karena kita tidak tahu Medan di sini," balas Ghaida.
"Bagaimana kalau mereka mengetahui keberadaan kita? Bagaimana kalau kita tertangkap?" cecar Audrey.
"Kalian tidak usah takut seperti itu! Aku akan melindungi kalian semua. Pergerakan kita tidak akan terlihat oleh mereka sekalipun kita berjalan di depan mereka. Percayalah kepadaku," ucap Ghaida yang bisa menghalangi penglihatan musuh dengan kekuatan yang ia miliki.
Gadis ini memang memiliki kekuatan lebih daripada saudara kembarnya Ghazali.
"Baiklah. Kalau begitu kita jangan berkeliaran di sini agar tidak menimbulkan kecurigaan para penjahat yang ada di balik bukit sana. Biar mereka mengira kita sedang berwisata di tempat ini," ucap Dinar.
"Benar katamu, Dinar. Sebaiknya kita berkeliling pulau Kirrin ini," ucap Hanan.
Speed boat milik mereka kembali melaju meninggalkan tempat di mana baru terjadi kegiatan ilegal semalam. Mereka menikmati makanan lain yang mereka bawa untuk menemani kegiatan santai mereka sambil membaca buku. Masing-masing diantara mereka memang hobi membaca buku dan buku yang bermuatan ilmu bukan novel atau buku cerita lainnya.
"Ok. Yang penting besok kita kembali lagi ke sini," ucap Ghaida tidak sabaran.
"Kamu ini masih kecil, tapi rasa penasaranmu begitu besar. Bagaimana nanti kalau kamu sudah besar Ghaida, orang bisa-bisa merasa tidak nyaman ada di dekatmu," ucap Dinar.
"Aku dilatih untuk belajar mengenali sesuatu saat masih dalam kandungan karena mommy dan Daddy selalu saja melacak keberadaan penjahat dengan laptop mereka.
Mungkin itu yang membuat kami berdua sudah terlatih untuk mencium sesuatu yang tidak beres jika ada kejahatan terjadi di sekitar kami," ucap Ghazali yang sudah banyak mendengar dongeng ibunya setiap kali mengantar mereka tidur.
Sekitar tiga jam mereka berkeliling di pulau itu dan sudah mendapatkan beberapa ekor ikan dan lobster yang mereka pancing yang akan menjadi makan siang mereka.
"Kita akan buat ikan bakar dan lobster panggang," ucap Audrey saat sudah mencapai dermaga kecil di depan mercusuar.
"Baiklah. Kita bisa memasak ikan itu dengan berbagai macam rasa seperti diajarkan mama," ucap Audrey.
"Iya. Biar sebagiannya kita bisa simpan untuk makan malam," ucap Dinar.
__ADS_1
Aku sudah lapar lagi. Mau buat spaghettinya. Masih ada toping daging sapi yang sudah disiapkan Oma Rosella. Cukup dipanaskan saja," ucap Hanin.
"Buat untuk semuanya, jangan untuk kamu saja!" titah Hanan.
"Ok."
Tiba di atas mercusuar, ketiga gadis itu sibuk memasak untuk makan siang mereka. Dinar mengeluarkan bahan masakan yang ada di kulkas.
Sementara Ghazali yang masih penasaran dengan kegiatan penjahat berusaha untuk mendapatkan laporan kegiatan mafia itu di ponsel pintarnya.
"Jika mereka membangun proyek besar di area pulau ini, berarti mereka juga memasang CCTV," ucap Ghazali untuk mencari titik tepat di atas danau itu yang disinyalir tempat kediaman para penjahat beraktivitas.
Tidak lama kemudian, dengan kejeniusannya mengolah data untuk bisa meretas cctv yang sulit di retas oleh siapapun untuk menemukan tempat itu, akhirnya bisa dibocorkan oleh Ghazali.
Sementara di bawah danau itu, seorang ahli IT yang melindungi jaringan komputer mafia di tempat itu tiba-tiba terhenyak karena situs mereka bisa di retas oleh seseorang.
"Bossss....!" pekik Oswald.
"Ada apa Oswald?" tanya Alejandro panik.
"Jaringan situs kita berhasil diretas seseorang," ucap Oswald pucat.
"Bagaimana mungkin bisa bocor? Bukankah selama ini otoritas negara ini tidak mampu menembus situs kita? Cari tahu, siapa yang berani meretas situs kita...!" titah tuan Alejandro ketakutan.
"Apakah jangan-jangan kerjaan bocah dari cucu tuan Luciano. Konon katanya, cucu kembarnya itu sangat jenius," ucap Marcell.
"Apaaa .....?" sentak Alejandro yang sangat mengetahui Luciano dan putranya Ghaishan terkenal jenius di negara itu apalagi keduanya adalah sama-sama berkerja di NASA.
"Kalau begitu, bunuh mereka semua malam ini...!" titah Alejandro yang tidak ingin kerja kerasnya selama 5 tahun ini hancur begitu saja.
"Baik bos."
"Buat seperti kecelakaan!" lanjut tuan Alejandro.
__ADS_1