Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
82. Koper Yang Sama


__ADS_3

Stok ASI milik Nabilla untuk ketiga bayinya sudah mulai menipis. Nabilla juga merasa tubuhnya panas dingin karena ASI tidak tersalurkan. Kebetulan ia membawa pompa ASI, jadi baru bisa memompa ASI miliknya berbotol-botol untuk ia kirimkan langsung ke villa tentunya dengan pesawat jet tempur dengan kecepatan waktu tempuh 5 jam. Itu juga ijin presiden. Yang bertugas mengambil Botol ASI dalam kemasan steril adalah Arland dan Nadin dengan helikopter di bandara Halim.


Mereka memang belum diijinkan pulang oleh Nabilla karena situasi mereka juga pasti terancam karena musuh sedang mengintai. Lagian mereka masih dalam suasana bulan madu.


"Baby. Apakah kamu yakin tetap mau ikut denganku ke Jakarta?" tanya Arland saat Nadin masih memaksa untuk ikut.


"Ke manapun kamu pergi, aku harus ikut," ucap Nadin.


"Kita hanya sampai bandara Halim saja. Tidak bisa ke mana-mana setelah ambil ASI untuk baby kembar tiga," ucap Arland.


"Sebentar atau lama, aku tetap ingin bersamamu," rengek Nadin.


Dokter Mariska melihat Nadin merasa curiga. Sikap Nadin mengingatkan dirinya saat hamil Devan. Tidak ingin ditinggal sedikitpun oleh suaminya.


"Apakah gadis ini sedang hamil?" tanya dokter Mariska lirih. Ia akhirnya memutuskan untuk memeriksa keadaan Nadin. Namun saja terhalang oleh kedatangan helikopter untuk menjemput Nadin dan Arland. Terpaksa dokter Mariska mengurungkan niatnya untuk memeriksa keadaan gadis itu.


Ia kembali menemui cucunya baby Cintami yang digendong Lea, menantunya.


"Bunda. Mereka sama sekali tidak rewel ditinggal ibunya. Bukankah bayi sulit move on jika kelamaan ditinggal sama sang ibu?" tanya Lea sambil mencium sang ponakan.


"Allah sedang melindungi mereka dan menguatkan hati mereka karena ibunya sedang menjalankan misi kemanusiaan," ucap tuan Rusli membuat Lea mengerutkan keningnya.


"Emang kak Nabilla mau melakukan apa di sana, ayah?" tanya Lea bingung.


"Kakakmu itu ahli meretas, jadi ia ingin mengungkapkan kejahatan para mafia di sana.


"Tapi ini sudah tiga hari ayah. Apakah belum tuntas juga? kasihan baby kembar tiga. Tapi Lea senang melihat mereka bertiga tetap bisa tersenyum kecuali baby Adam yang mau senyum hanya pada kak Amran saja," ucap Lea gemas.


"Memang Amran dulu juga begitu sangat datar wajahnya seperti papamu. Dia mau tersenyum saat sudah digendong papa kamu, Lea," ucap ummi Ambar mengenang kebersamaannya dengan mantan suami.


"Kamu masih ingat aja, sayang?" tanya tuan Recky yang sudah berada dibalik punggung Ambar.


Melihat ada rayuan maut tuan Recky, membuat dokter Mariska mengajak Lea dan suaminya meninggalkan kedua makhluk itu. Ummi Ambar yang ingin ikut pergi dicekal tangannya oleh tuan Recky.

__ADS_1


"Jangan pergi Ambar! apakah kamu tidak bisa lagi membuka hatimu untukku, Ambar? Aku mohon tolong beri aku kesempatan sekali lagi Ambar. Aku ingin menebus kesalahanku padamu!" pinta tuan Reky makin mengeratkan genggamannya ditangan Ambar dengan wajah sendu.


"Tidak akan pernah! Hatiku sudah mati. Bahkan tidak sedikitpun terbesit namamu di benakku. Bagaimana kamu memperlakukan aku saat itu yang sedang cinta-cintanya sama kamu, namun apa yang kamu berikan padaku, apakah aku kurang memohon kepada mu memberiku kesempatan untuk bisa menjadi istri seperti yang kamu inginkan? masih ingat itukan, tuan Recky? sampai aku berlutut di hadapanmu, memeluk satu kakimu di hadapan pengadilan agama memohon untuk tidak menceraikan aku, apa yang kamu katakan saat itu?


"Ambar. Hatiku hanya untuk Arumi. Aku tidak bisa mencintaimu walau sudah aku paksa untuk bersama denganmu dan di saat itu, kamu menghempaskan tubuhku dengan kakimu tepat di depan Arumi dan itu sangat membuat harga diriku terluka.


Kadang cinta yang aku punya untukmu sangat besar, Recky tapi, harga diriku mampu menepis semua perasaan itu hingga rasa cinta itu mati secara permanen. Tidak ada yang tersisa karena aku mampu membunuh perasaan cinta itu dengan kebencian. Jadi, jangan buang-buang waktumu yang ingin merayu aku lagi untuk kembali kepadamu. Cih..! sudah punya cucu baru ngomong cinta. Tidak tahu malu!" umpat Ambar membuat Reky melonggarkan pegangan tangannya dipergelangan tangan mantan istrinya itu dengan bibir terkunci. Hatinya sangat sakit saat ini mendengar penolakan Ambar padanya.


"Apakah seperti ini rasa sakitnya saat aku menolak Ambar dulu?" batin Recky..


Sementara saat ini, Nabilla, Amran dan Axton sudah bergerak memantau area sekitar Kasino yang ada di Macau. Nabilla meminta ijin suaminya untuk melakukan penyamaran dengan menanggalkan pakaian syar'i miliknya. kini ia berpakaian biasa yaitu mengenakan stelan blazer dan celana kulot lalu membungkus tubuhnya dengan mantel panjang hingga mata mata kaki. Mengenakan sepatu boot yang tinggi sampai betis. Nabilla juga mengenakan jilbab segi empat dan memakai masker serta kaca mata berwarna coklat untuk menutupi mata indahnya. Sementara Amran bergaya layaknya seorang mafia Turki sambil merengkuh pinggang istrinya memasuki Kasino.


Identitas mereka semua dipalsukan, asli tapi palsu. Itulah bagian kerjaan Nabilla yang merubah identitas mereka berasal dari Istambul Turki.


"Tidak usah main judi ataupun minum alkohol walaupun saat ini kita sedang dalam penyamaran!" ucap Nabilla pada suaminya sambil melihat jam tangannya yang bisa menunjukkan titik keberadaan benda berharga milik Amerika.


"Apakah mereka sudah di sini?" tanya Amran dengan bahasa Indonesia seperti biasa.


Sementara Axton yang juga mengenakan jam yang sama dengan Nabilla duduk di depan bartender sambil meneguk wiski. Tidak lama datang seorang wanita penghibur dengan berpakaian minim dan itulah agen perantara bukan agen sebenarnya. Axton menanyakan Nabilla apakah ia harus mendekati gadis itu atau ada perintah lain.


"Apakah aku harus menggoda gadis itu?" tanya Axton melalui ponselnya.


"Bukan dia target kita. Karena dia yang membawa duplikat untuk mengecoh pembeli yang lain yang mengincar barang yang sama.


"Berarti ada lagi?" tanya Axton.


"Tunggu saja saat pria yang membawa benda itu ikut bersama wanita yang lain. Kamu bisa mengetahuinya melalui jam tangan itu!" pinta Nabilla.


Benar saja, seorang wanita cantik yang merupakan agen utama yang akan mengambil barang itu. Transaksi sudah diproses oleh negaranya dan gadis itu akan mengambil di kamar hotel.


"Targetmu sudah beranjak pergi. Ikuti mereka. Kami akan ikut bergerak ke hotel yang mereka tuju," ucap Nabilla yang mengajak Amran keluar dari kasino itu.


Nabilla pura-pura menabrak wanita itu agar si pria pembawa koper ikut menatap dirinya.

__ADS_1


"Oh sorry!" ucap Nabilla sambil membuka kacamatanya dan memperlihatkan matanya yang indah pada pemilik koper yang membawa barang itu.


Sang pria begitu terpesona melihat mata indah milik Nabilla. Begitu pula dengan wanita yang merupakan agen utama terpesona dengan ketampanan Amran.


"Baby! kamu tidak apa, sayang?" tanya Amran yang ikut bersandiwara.


"Tidak apa sayang. Aku hanya sedikit pusing," ucap Nabilla sambil memegang kepalanya.


Agen utama segera meninggalkan tempat itu karena harus fokus pada tujuan utamanya." Bagaimana sayang? apakah pria itu membawa barangnya?" tanya Amran begitu target utama mereka sudah memasuki mobil.


"Benar hubby. Itu kopernya," ucap Nabilla setelah mendeteksi sendiri benda curian itu.


"Apakah mereka nanti bercinta dulu sebelum menyerahkan koper itu?" tanya Amran tidak sabaran.


"Biasanya seperti itu. Karena mereka selalu merayakan keberhasilan mereka dengan cara itu," imbuh Nabilla.


"Mengapa kamu tadi harus menabraknya?" tanya Amran.


"Menempelkan penyadap di tas milik gadis itu," ucap Nabilla.


"Astaga. Kamu ini ada-ada saja," ucap Amran mengikuti mobil yang membawa pasangan itu menuju hotel.


Setibanya di hotel, Axton yang lebih dulu membooking hotel yang sama dengan target. Di saat ia berjalan masuk ke lift, ternyata ada dua orang pria yang mendampingi gadis itu membuat Axton dilanda kebingungan.


"Siapa yang akan membawa koper itu nanti? apakah gadis ini atau pria yang ikut bersama mereka? apakah mereka akan bercinta bertiga?" batin Axton sedikit melonggarkan dasinya saat kotak itu sudah membawa mereka ke lantai yang dituju oleh target.


Tidak lama, Nabilla dan Amran tiba di hotel yang sama. Ia membuka ponselnya melihat ada pesan masuk dari Axton.


"Sekarang ada dua koper yang dibawa oleh dua orang pria yang mendampingi gadis itu. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Axton.


"Serahkan mereka padaku Axton! tunggu perintah aku selanjutnya!" pinta Nabilla.


Vote dan like nya Cinta, please!

__ADS_1


__ADS_2