Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
112. Tidak Rela


__ADS_3

Sebelum helikopter itu terhempas diatas lautan luas itu, co-pilot berhasil menarik tuas itu agar kembali naik untuk mencari tempat yang aman untuk mendaratkan helikopter itu di daratan terdekat.


Ketiganya bernafas lega sambil menghembuskan nafas mereka dengan ucapan kalimat hamdalah. Setelah melihat tempat yang cocok untuk mendarat, co-pilot menurunkan helikopter mereka secara perlahan hingga mendarat sempurna di atas pasir pantai itu.


Mereka tidak langsung turun dari helikopter karena hujan terlalu deras. Co-pilot Bimo mematikan mesin helikopter dan memutuskan untuk menunggu di dalam helikopter sambil beristirahat supaya bisa meregangkan otot-otot yang sempat tegang saat helikopter mereka sempat lost control dengan menara ATC.


Daffa segera melihat keadaan Bunga yang nampak memejamkan matanya sambil terus berzikir. Daffa menarik sudut bibirnya menatap wajah cantik Bunga yang masih dalam mode tenang. Biasanya setiap perempuan akan ketakutan setengah mati dan berusaha mencari seseorang agar ia bisa menjadikan orang itu sebagai tempat untuk melindungi dirinya.


Namun beda dengan Bunga yang terlihat pasrah jika maut datang menyapa dirinya. Daffa tidak tahu, dengan siapa ia sedang berhadapan saat ini. Agen satu FBI yang terlatih namun tidak ingin memperlihatkan kebolehannya di depan orang banyak demi menjaga identitasnya.


"Kamu tidak apa nona?" tanya Daffa cemas, membuat kelopak mata indah itu terbuka perlahan memberikan senyum tipis pada sang Arjuna.


"Senyumnya saja sudah membuat darahku berdesir, apa lagi melihatnya tertawa. Rasanya ingin aku kantongin nih cewek," batin Daffa gemas.


"Aku belum matikan?" tanya Bunga dengan tatapan nanar.


Daffa mengulum senyumnya mendengar pertanyaan konyol Bunga yang terdengar menggelitik.


"Yang jelas aku dan kapten Bimo adalah manusia belum berubah wujud malaikat," canda Daffa.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan meminta keluargaku menjemput kita di sini. Aku tidak mungkin menginap dengan kalian berdua didalam helikopter ini kan?" ucap Bunga membuat Daffa seketika ngakak.


"Dengar nona! bagaimana mungkin kamu bisa menghubungi keluargamu sementara kita tidak tahu saat ini di mana rimba kita berada dan tidak terdapat sinyal di sini," ucap Dafa.


"Tenang saja ya! insya Allah kita akan ditemukan. Jangan mudah menyerah, jika kita bisa melihat hal lainnya yang mungkin memberikan kita peluang besar dan tidak bisa terjangkau oleh alam pikiran manusia," ucap Bunga terdengar ambigu bagi Daffa dan Bimo.


Keduanya menatap wajah cantik Bunga dengan pandangan rumit. Mereka tidak mengerti isi kepala dari gadis muda yang dipikiran mereka masih usia sekolah atau mahasiswa tingkat pertama.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" bentak Bunga terdengar kesal.

__ADS_1


"Nona. Peluang besar seperti apa saat kita berada di tengah badai seperti ini?" tanya Bimo ikut setress mendengar ocehan tidak jelas Bunga.


"Teknologi tercanggih dalam hidup ini adalah milik penguasa alam semesta ini. Jika kita mengandalkan Allah sebagai kekuatan, apapun bahayanya, insyallah kita bisa lalui dengan mudah. Tidak ada yang sulit bagi Allah untuk menyelamatkan hamba-Nya saat manusia dihadapkan pada ambang kematiannya sekalipun jika belum ajalnya.


Cukup pusatkan pikiran kita pada Allah, maka Allah akan mengerahkan tentara bersayapnya yaitu para malaikatnya untuk menyampaikan sinyal permintaan tolong pada manusia lainnya untuk menemukan kita," ucap Bunga penuh semangat.


Bimo dan Daffa saling menatap sambil mengangkat kedua bahu mereka dengan rasa tidak masuk akal mendengar saran Bunga. Menyadari dirinya diremehkan oleh kedua pria dewasa ini yang terpaut dengan usianya yaitu 4 tahun lebih tua darinya membuat Bunga merasa kesal.


"Kalau dalam keadaan kesulitan seperti ini, mikirin kekuatan Allah jangan pakai logika bakalan nggak nyampe ilmu kalian," sergah Bunga.


"Lalu pakai apa, nona? kalau ilmu kami saja terbatas alias cetek. Emang kamu bisa melakukannya?" ledek Daffa.


"Gunakan alam batinmu, di mana setiap kebenaran berasal dariNya karena suara Allah menjangkau pikiranmu untuk memilih jawaban. Hanya suara hati, manusia yang berpikir akan menemukan kebenaran dengan keputusannya yang tepat yang penting pakai ilmu yakin. Maka itu akan terbukti," sahut Bunga tegas.


Setelah bicara seperti itu, Bunga mengeluarkan ponsel ciptaan ibunya yang mampu menjangkau pelosok manapun karena terhubung langsung satelit bumi jauh di angkasa sana milik Amerika karena pengaruh Nabilla di negara adikuasa itu masih eksis sampai saat ini.


Bunga langsung menghubungi ibunya karena ibunya yang lebih cepat menyelesaikan masalahnya walaupun secara teknis, ayahnya yang akan turun tangan.


"Sayang. Kamu di mana? katanya kamu mau menyusul ke sini dengan helikopter tapi kenapa belum tiba juga?" keluh Nabilla.


"Mommy. Helikopternya bermasalah karena cuaca ekstrem. Posisi kapalnya di mana? tolong jemput kami?" rengek Bunga.


"Tunggu sayang! Jangan matikan ponsel kamu biar kami bisa menangkap sinyal GPS ponsel kamu, sayang," ucap Nabilla penuh kesabaran.


"Baik mommy. Cepat jemput Bunga! Bunga takut," ucap Bunga dalam bahasa Turki sambil mewek.


"Cih...! rupanya anak mami juga," batin Daffa menertawakan Bunga walaupun ia tidak mengerti bahasa yang digunakan Bunga.


"Bagaimana ponselmu bisa melakukan panggilan sementara milik kami tidak bisa, nona?" tanya kapten Bimo heran.

__ADS_1


"Makannya pakai ilmu batin karena teknologi Allah lebih canggih daripada akal kalian itu," sarkas Bunga acuh.


"Apa yang kamu katakan kepada keluargamu, nona?" tanya Daffa.


"Kapal pesiar keluargaku akan menjemput kita ke sini. Apakah kalian mau ikut?" tanya Bunga.


"Terimakasih untuk tawarannya nona. Kami tidak mungkin meninggalkan helikopter ini. Kalau bisa, tolong kirim pesan ke menara ATC untuk mengirim teknisi helikopter lain agar mereka bisa membantu kami di sini," ucap kapten pilot Bimo.


"Tanpa kalian mintapun, Daddy aku sudah melakukannya. Baiklah. Tunggu saja di sini! Aku akan meminta keluargaku mengirimkan kalian makanan," ucap Bunga.


Daffa terlihat diam tanpa ingin bicara apapun pada Bunga. Rasanya ia sangat kesal dengan Bunga yang bisa menghubungi keluarganya padahal ia tidak siap untuk berpisah dengan gadis ini secepatnya. Bunga menatap wajah Daffa yang saat ini sedang menatapnya. Sementara Bimo yang mengetahui jika rekannya itu sedang naksir Bunga pura-pura fokus pada ponselnya.


"Apakah kamu baik-baik saja, marsekal Mohammad Daffa Nugraha Bramantyo?" tanya Bunga membuat Daffa tersentak karena Bunga bisa mengetahui nama lengkapnya padahal di seragamnya hanya tertulis nama singkatnya Daffa.


"Apakah kita bisa bertemu lagi setelah ini, nona?" tanya Daffa langsung to the point.


"Namaku Cantika Bunga Nor Azlin. Panggil saja aku Bunga! aku akan segera menghubungimu setelah pulang dari liburan," ucap Bunga.


"Bunga....-" ucapan Daffa melayang di udara saat mendengar bunyi suara kapal.


Bunga keluar dari helikopter itu karena hujan sudah reda walaupun masih ada rintik hujan. Ia memberikan kode Morse dengan senter ponselnya ke arah kapal.


Daffa turun dari helikopternya menemani Bunga yang sedang menunggu ayahnya menjemput dengan speed boat.


"Aku pamit ya! terimakasih banyak sudah mengantar aku. Maafkan aku karena tadi tidak tepat waktu menaiki helikopter sehingga terjebak di cuaca buruk," ucap Bunga.


Daffa tidak bisa bicara apapun dan langsung memeluk Bunga yang langsung syok. Bunga berusaha berontak namun Daffa makin mengeratkan pelukannya. Ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Daffa. Hati keduanya tiba-tiba merasakan kesedihan mendalam seakan tidak akan bertemu lagi.


"Tolong lepaskan aku Daffa! Di kapal itu ada banyak saudaraku dan paman-pamanku. Semuanya berjiwa mafia. Jaga sikapmu jika kamu ingin mengenal lebih dekat denganku. Walaupun keluarga besar kami mafia, namun kami tetap menjunjung tinggi moral daripada cinta," tegas Bunga menyadarkan Daffa agar menghargainya.

__ADS_1


.......


vote dan like nya cinta please!"


__ADS_2