
Akhir-akhir ini keadaaan kesehatan kakek Abdullah sudah tidak lagi bisa bertahan karena usianya yang sudah cukup tua. Begitu juga dengan nenek Anisa yang kompak sakit bareng sang suami. Sepertinya keduanya menginginkan cinta mereka tetap terjaga sehidup semati.
Keduanya memang tidak ingin dirawat di rumah sakit lagi. Mereka mau di rawat di rumah saja. Pagi itu, kakek ingin bicara pada Nabila dan Amran.
Nabilla yang baru saja menyuapi sarapan pagi keduanya walaupun itu hanya sedikit. Sementara Amran membaca Alquran untuk kakek dan neneknya. Pasangan ini sudah melihat tanda-tanda kehidupan kakek dan nenek akan berakhir. Kakek Abdullah meminta keduanya untuk mendekatinya. Keduanya duduk di samping kakek yang terlihat sangat lemah. Satu tangannya kakek masih kuat menggenggam tangan istrinya yang tidur disampingnya.
Nabilla hanya bisa berurai air mata melihat besarnya cinta pasangan senja ini.
"Nabilla, Amran. Kakek tidak punya banyak waktu yang lama lagi untuk menemani kalian. Jika kakek sudah tiada tolong simpan kunci ini. Ini adalah kunci gudang bawah tanah di mana senjata kimia itu disimpan di markasnya Amran yang dulu biasa kakek jadikan untuk menyimpan senjata," ucap kakek Abdullah lalu memberikan kotak kecil yang berisi kunci gudang dan sekaligus memberitahukan kode berangkas itu pada Amran.
"Jadi, selama ini kakek menyimpannya di markas? memang ada ruang bawah tanah di markas kakek? Dibagian mananya kakek? jalan untuk ke ruang bawah tanah?" tanya Amran penasaran.
Kakek sepertinya sudah tidak bisa menjawab pertanyaan Amran . Nafasnya mulai tersendat dengan pandangan mulai kabur. Nabilla meminta suaminya untuk mentalkin kuping kakek agar Amran menuntunnya membaca kalimat tahlil. Amran paham dengan permintaan istrinya.
Amran mengulangi bacaan kalimat tahlil dan kakek mengikuti dengan fasih hingga ketiga kalinya kakek mengucapkan kalimat itu dalam satu tarikan nafasnya dan menghembuskan nafas terakhirnya. Begitu juga nenek Anisa yang langsung di tuntun Nabilla saat mengetahui suaminya telah meninggal dunia.
Keduanya meninggal dalam waktu bersamaan saling menggenggam tangan mereka. Nabilla tidak kuat menahan tangisnya. Ia menangis membayangkan kembali bagaimana kakek dan nenek Anisa sangat menyayanginya saat baru pertama kali dia datang ke rumah ini sebagai cucu menantu.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun. Selamat jalan kakek, nenek. Semoga Allah memuliakan kalian di sisiNya," doa tulus Nabilla.
Saat mendengar tangis Nabilla, Ummi Ambar beserta cucu dan cicit yang lain ikut masuk ke dalam kamarnya kakek Abdullah baru diikuti oleh cucu menantu yang lain. Tidak lama kemudian datang tuan Recky mendekati jasad ayah dan ibunya.
"Mommy, Dady. Maafkan Recky...!" ucap tuan Recky menangis seperti anak kecil di samping ibunya.
Cucunya Adam mendekati kakeknya dan membisikkan sesuatu kepada kakeknya." Kakek. Laki-laki itu tidak boleh nangis kata daddy" ucap Adam.
__ADS_1
"Menangisi kepergian orang yang paling kita sayang, itu boleh sayang," ucap tuan Recky lalu menggendong cucunya.
Arland, Wira dan Reno langsung bertindak untuk mengurus prosesi pemakaman keduanya.
"Baiklah. Kita urus pemakaman kakek dan nenek di pemakaman keluarga di puncak Bogor," ucap Arland.
Yang paling merasa kehilangan keduanya adalah ummi Ambar dan Nabilla. Wajah keduanya terlihat syok hingga tidak bisa melakukan apapun. Amran harus menggendong istrinya membawa ke kamar mereka. El dan Nada menjaga ibu mereka.
Sementara dibawah sana para pelayat sudah berdatangan dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Para pelayan sibuk menyambut para pelayat. Tuan Rusli, dokter Mariska dan tuan Reky menerima pelayat yang berasal dari kalangan pejabat. Begitu pula Wira dan Devan yang melayani pelayat dari kalangan pengusaha.
Wartawan sibuk meliputi prosesi pemakaman nenek Anisa dan kakek Abdullah. Tuan Recky turun tangan menjawab pertanyaan wartawan karena dia adalah putra tunggal dari kedua orangtuanya.
Arland tetap memberikan komando pada anak buahnya agar tetap menjaga keluarga besar itu agar mereka tidak boleh lengah pada hal sekecil apapun karena bisa jadi penjahat memanfaatkan momen duka itu. Apa lagi Nabilla saat ini tidak ingin diganggu kecuali anak-anak dan suaminya.
Dalam beberapa jam kemudian, semua pihak keluarga besar sudah ikut rombongan mobil jenasah menuju pemakaman keluarga. Kebaikan tuan Abdullah dan nenek Anisa seumur hidup mereka terlihat jelas saat orang-orang yang mengenal keduanya mengantar keduanya di pemakaman.
Saat jenasah diturunkan di liang lahat yang disambut dibawahnya adalah tuan Recky dan Amran. Ayah dan anak ini melakukannya dengan baik. Amran menahan air matanya. Ia sangat bersyukur sikap tegas kakeknya yang dulu memintanya untuk mencari seorang istri yang Sholehah agar jalan hidupnya akan lebih baik dan kini terbukti. Bukan hanya Sholehah tapi Nabilla adalah seorang istri yang memiliki paket komplit melebihi ekspektasinya.
"Nasehatmu tidak pernah salah kakek karena engkau lebih dulu hidup dariku dan engkau lebih banyak melihat bagaimana orang hidup itu bukan mengikuti hawa nafsunya, tapi orang hidup itu harus punya tujuan akhir dan untuk mencapai itu semua, orang harus menjalani hidupnya harus bahagia dengan membina rumah tangganya yang samawa, jika memiliki seorang istri yang berilmu," batin Amran mengingat sekelumit nasehat kakek Abdullah yang masih terngiang-ngiang di benaknya saat ini.
Beberapa menit kemudian, prosesi pemakaman berakhir dan keluarga besar itu kembali ke kediaman kakek Abdullah untuk makan bersama.
"Sayang. Kamu makan dulu ya!" pinta Amran saat melihat Nabilla masih duduk termenung sambil memegang foto kakek Abdullah dan nenek Anisa saat foto bersamanya di pernikahannya dengan Amran.
"Aku kangen mereka, mas ..!" ucap Nabilla sambil berurai air mata.
__ADS_1
"Mas juga kangen mereka baby. Tapi hidup harus terus berjalan. Kita harus lebih kuat dari anggota keluarga lainnya. Boleh kok bersedih tapi tetap harus makan. Kasihan anak-anak kalau kamu nanti jatuh sakit," bujuk Amran memegang sendok yang berisi makanan untuk menyuapi Nabilla.
Nabilla harus mengunyah makanannya sambil menangis. Amran membiarkan istrinya menikmati kesedihannya dan berharap Nabilla bisa cepat move on karena tugas mereka ingin menemukan senjata kimia itu.
"Apakah kamu masih berminat untuk mencari tahu keberadaan senjata kimia yang disimpan kakek?" tanya Amran.
"Sebenarnya, aku tidak lagi ingin mencarinya karena tidak membawa manfaat apapun untuk kita. Tapi, kita harus memindahkannya ke tempat yang lebih aman agar tidak ditemukan oleh siapapun yang masih mengincar senjata kimia itu agar dunia ini tetap aman," imbuh Nabilla.
"Apakah tidak ada formula penawar senjata kimia itu, baby?" tanya Amran.
"Insya Allah pasti ada. Kita harus meminta petunjuk dari Allah. Tanpa petunjukNya, maka akan terasa sia-sia saat kita belajar untuk mengetahui formulanya," ucap Nabilla.
"Iya sayang. Aku mau senjata kimia itu harus dimusnahkan sebelum jatuh ditangannya orang-orang yang ingin menghancurkan dunia ini," pinta Amran.
"Tapi untuk sementara ini, kita tidak perlu fokus pada senjata kimia itu. Kita harus fokus pada keluarga besar kita, terutama anak-anak kita sendiri. Aku sangat kuatir dengan keselamatan mereka," ujar Nabilla.
"Sayang. Itu tugasku melindungi kalian. Kami sudah mengerahkan anak buah kami untuk selalu mengawasi keamanan keluarga besar kita agar mereka tidak dijadikan penjahat sebagai sandera untuk menjadi nilai tukar dengan senjata kimia itu," balas Amran.
"Ternyata sulit sekali menemukan sahabat sejati. Jika saja kakeknya Dito tidak membocorkan rahasia senjata kimia itu pada Dito, mungkin Dito tidak punya ambisi untuk mengatur siasat menemukan senjata kimia itu," ucap Nabilla.
"Apa jangan-jangan dia sudah mengetahui tempat penyimpanan senjata kimia itu dengan membuat jebakan untukku agar aku mendekam di penjara. Dengan begitu dia akan ke markas dengan bebas dan meminta anak buahnya Kenzie maupun Nadim untuk menyerang markas kita?" tebak Amran dengan asumsinya.
"Bisa jadi seperti dugaanmu mas," ujar Nabilla.
__ADS_1
Visual Cintami saat Dewasa