
"Tabrak mereka....!" titah jendral Kingston pada pilot sambil menodongkan pistolnya pada Morris.
Co-pilot tidak ingin mati sia-sia walaupun saat ini jendral Kingston menodongkan pistolnya ke kepalanya. Ia tetap menghentikan laju pesawatnya hampir menabrak mobil milik Amran yang dikendarai oleh menantunya Arsen.
Jarak antara badan pesawat jet itu dengan mobil itu hanya 10 meter. Pintu pesawat di buka dan tangga pesawat yang sedang turun perlahan hingga menapaki aspal bandara.
Jendral Kingston menggiring tubuh Yuri sambil menodongkan pistolnya pada leher Yuri yang mengangkat kedua tangannya berdiri di pintu pesawat.
"Pindahkan mobil itu sialan itu atau pemuda ini akan saya tembak mati!" titah jendral Kingston pada Cintami dan Nabilla yang tidak terpengaruh sedikitpun.
"Tembak saja! Dia tidak berarti apapun untuk kami!" ancam Cintami membuat Yuri tersentak.
"Baik. Kalau begitu aku akan menembaknya di hadapan kalian!" ancam jendral Kingston tidak main-main.
"Apa susahnya melenyapkan satu orang dihadapanmu saat ini, dengan demikian kami akan membunuhmu juga untuk menyelamatkan dunia ini dari iblis sepertimu," remeh Nabilla untuk mengulur waktu agar mereka bisa mencari celah untuk menembak jendral Kingston.
Cintami memperhatikan wajah Yuri yang hanya bisa menatap matanya Cintami saja karena wajahnya Cintami yang tertutup cadar sama seperti ibunya, Nabilla. Bahkan Bunga dan Nada mengenakan pakaian yang sama dengan Nabilla untuk menutupi kecantikan mereka agar tidak mudah dikenali.
"Siapa kalian?" tanya jendral Kingston geram.
"Anggota FBI," ucap Nabilla.
"Jadi kalian adalah agen rahasia FBI? dan yang sedang menyamar sebagai wanita muslimah?" ledek Kingston.
"Yah, kami datang untuk menangkapmu," ucap Nabilla.
"Aku tidak semudah itu ditangkap oleh kalian," angkuh Kingston.
"Memang kami tidak menangkapmu, jendral Kingston, tapi akan menghabisimu hari ini juga," ucap Cintami sedikit memiringkan kepalanya.
Melihat tingkah Cintami seperti sedang memberinya kode, Yuri pun mengerti dan mengikuti isyarat Cintami dengan ikut memiringkan kepalanya.
Saat kepala Yuri di miringkan kesamping kiri, Nabilla melepaskan tembakannya tepat di jakun jendral Kingston. Jendral Kingston merasa tercekik dengan matanya melotot merah dan genggamannya pada kerah kemeja Yuri terlepas.
__ADS_1
Jendral itu akhirnya jatuh kebelakang dan Yuri turun dari tangga itu berlari ke arah Cintami. Polisi setempat datang untuk menangkap Nabilla dan Cintami namun langkah mereka sudah di hadang oleh Adam dan Bunga.
Keduanya menunjukkan lencana mereka masing-masing pada polisi setempat siapa mereka sebenarnya.
"Dia adalah penjahat besar negara ini dan ini sudah menjadi urusan internasional karena kejahatannya sudah melibatkan banyak mahasiswa dari berbagai negara," ucap Adam dengan lantang pada kepolisian itu.
Kepala kepolisian itu masih berdebat dengan Adam dan Bunga hingga datang dua mobil yang merupakan anggota KGB dan juga badan intelijen Rusia.
"Lepaskan mereka...! karena mereka, kasus yang selama ini sulit terungkap oleh negara ini namun bisa diberantas oleh agen CIA dan FBI," ucap badan intelijen Rusia divisi kriminal.
"Baik." kepala polisi itu akhirnya mengalah. Dan meninggalkan tempat itu. Sementara anak buahnya sudah mengevakuasi jenazah jendral Kingston ke dalam kantong mayat.
Sementara Yuri langsung di amankan oleh anggota KGB untuk memulangkan Yuri ke negara asalnya.
"Terimakasih Cinta. Aku lega kamu sudah membebaskan semua mahasiswa yang ditawan oleh dosen Vadim," ucap Yuri sebelum masuk ke dalam mobil milik KGB.
"Sama-sama saudaraku. Semoga selalu sukses dan terimakasih atas bantuanmu dalam misiku," ucap Cintami.
Tidak lama turunlah seorang pemuda tampan dari mobil dinas KGB. Pemuda itu tidak lain adalah Dillon yang terkejut melihat wajah Adam lalu melihat ke arah Bunga." Aku sudah curiga kalau kelurga kalian bukan orang biasa," ucap Dillon sambil mencari seorang gadis lagi yang belum mau menunjukkan wajahnya pada Dillon. Saat ini jantung Nada tidak bisa lagi mengatur detakannya karena bertemu lagi dengan prianya.
Nada turun dari mobilnya dan melihat ke arah Dilon yang ikut menatapnya penuh kerinduan." Tidak masalah Adam. Setiap orang memiliki ikatan sumpah untuk menjaga identitasnya. Aku bangga pernah mengenal kalian," ucap Dillon.
Pesawat jet pribadi milik Amran sudah tiba di tempat itu. Baik El, Daffa dan Arsen memarkirkan mobil mereka dipinggir bandara.
"Bicaralah dengannya sayang! ayah beri waktu untuk kalian sepuluh menit!" ucap Amran pada Nada yang terlihat gugup sambil mengangguk.
Keluarganya yang lain sudah bersalaman pada Dillon karena harus kembali ke negara Turki untuk menemui kakek Salim. Apalagi urusan Daffa dan kedua orangtuanya belum tuntas saat ini.
"Maafkan aku karena tidak bisa datang ke acara ulang tahun kakak kembar tiga mu," ucap Dillon penuh sesal.
"Sudahlah. Lupakan saja. Semuanya sudah berlalu. Tidak usah bahas yang sudah tidak enak dicicip," pukas Nada tersenyum kecut.
"Kamu nampak cantik dengan gaun ini. Aku malah senang lihat kamu berpenampilan seperti ini, jadi tidak ada yang bisa mengenalimu kecuali aku," ucap Dillon.
__ADS_1
"Terimakasih. Oh iya, bagaimana kabarnya Molly? aku sangat merindukannya," ucap nada terdengar parau.
"Apakah kamu hanya merindukan Molly saja?" tanya Dillon sambil cengengesan terdengar garing dikupingnya Nada.
"Kau sedih karena aku bohong padamu?" tanya Nada.
"No. Aku sedih karena waktu terlalu cepat memisahkan kita. Tradisi dan keyakinan yang tidak bisa membuat kita mengenal lebih jauh. Semuanya berakhir hanya sampai di sini dan kita harus melanjutkan hidup kita sesuai apa yang kita inginkan," ucap Dillon mencoba tegar.
"Kesempatanku sudah habis untuk bicara denganmu. Selamat tinggal dan titip salamku untuk Molly. Katakan aku sangat mencintainya," ucap Nada sambil berurai air mata.
"Nada. Boleh aku melihat wajahmu sebelum kamu pergi?" pinta Dillon.
"Tidak usah. Lebih baik aku tidak meninggalkan kesan apapun padamu agar hati kita tidak begitu sakit. Semoga kamu bahagia dan menemukan gadis yang sepadan denganmu," ucap Nada lalu membalikkan tubuhnya berlari ke arah pesawat yang sudah menunggunya.
"Aku mencintaimu Nada. Doakan aku agar aku mendapatkan hidayah dari Tuhan yang kamu yakini itu!" teriak Dillon membuat Nada menghentikan langkahnya.
"Jangan karena diriku kamu ingin mengenal Allah Tuhanku. Tapi karena kamu mencintaiNya dengan kesungguhanmu," ucap Nada.
"Bukankah doa yang dipanjatkan oleh kamu dan keluargamu yang sholih itu lebih cepat tertembus dilangit yang ketujuh? itu yang aku baca di website tentang agamamu," ucap Dillon.
"Insya Allah. Semoga Allah menuntunmu ke jalan yang Dia ridhoi... aamiin. Selamat tinggal Dillon..!" ucap Nada meneruskan langkahnya di mana ayahnya Amran sudah menunggunya di ujung anak tangga pesawat.
"Ayo sayang. Kita kembali ke Istanbul Turki...!" Amran merangkul pundak putrinya lalu melambaikan tangannya ke Dillon yang memberikan hormat pada kelurga itu.
Pesawat mulai mundur perlahan menuju ke landasan pacu lalu terbang meninggalkan kota Moskow Rusia itu dengan Dillon yang menatap tubuh pesawat itu menghilang dibalik awan.
Nada membekap mulutnya menahan tangisnya. Hatinya sangat sakit saat ini. Ayahnya Amran mengerti perasaan putrinya. Walau bagaimanapun, dia juga pernah merasakan muda. Nabilla menahan tangisnya melihat keadaan putri bungsunya itu yang sedang melawan gejolak jiwanya saat ini.
"Jangan mengucapkan apapun untuk menasehati Nada saat ini. Jika berhubungan dengan urusan hati, dia tidak akan mendengarkanmu!" ucap Arsen pada istrinya.
"Kamu pernah berada diposisinya, jangan libatkan dirimu menjadi sok pahlawan di hadapan Nada karena dia tidak menerima nasehat apapun darimu!" tegas Daffa membuat Bunga melipat kedua bibirnya sambil menarik nafas dalam.
Pramugari datang membawakan menu pilihan yang mungkin dibutuhkan kelurga Amran saat ini. Mereka memesan menu sesuai yang mereka inginkan.
__ADS_1
....
Like dan vote nya say please!"