
Sudah hampir dua pekan penyakit virus kimia yang belum bisa ditemukan formulanya ini makin membuat suasana Jakarta memanas.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh kubu partai lain yang sengaja melempar bola api untuk memprovokasi korban yang terlihat belum termakan nyanyian laknat setan berwujud manusia itu.
Warga Jakarta terlihat lebih sabar menghadapi virus yang membuat mereka setiap saat harus minum karena tubuh mereka mudah dehidrasi.
Ini benar-benar ujian bagi Amran dan para jajarannya yang terus menerus membantu warga dengan kemampuan mereka. Rumah sakit mulai terdesak karena kamar inap tidak mampu lagi menampung ledakan pasien. Para tenaga medis mulai kelelahan menangani pasien.
Karena mereka ingat pesan ibu negara untuk para tenaga medis agar menolong pasien karena Allah maka Allah akan memberikan kekuatan kalian. "Ingatlah Allah di saat kalian ingin menyerah maka dalam sekejap kalian akan mendapatkan kekuatan.
Begitu pula dengan saudara kita yang non-muslim untuk ingat Tuhan mereka saat bekerja karena itu sangat membantu," ucap Nabilla saat mengunjungi hampir semua rumah sakit di Jakarta yang mereka datangi di pukul 2 hingga 4 pagi karena pagi harinya mereka kembali beraktivitas di istana.
Walaupun begitu, Amran meminta para aparat keamanan baik polri maupun TNI agar tetap siap mengamankan kota dan menangkap para netizen yang melakukan ujaran kebencian.
Walaupun mereka selalu mengunakan akun palsu, namun tetap saja tertangkap oleh cyber crime terbesar di Indonesia milik tuan Rusli yang sekarang dikelola cucunya Nathan.
Warga juga tidak tinggal diam, kalau ada yang berani memfitnah Amran akan langsung diamankan. Itupun tidak dengan kekerasan namun mereka dibina dengan nasehat agar otak mereka kembali bersih.
Seperti yang dilakukan oleh salah satu perkampungan yang sekarang sudah tidak lagi di katakan kumuh karena rumah mereka semuanya sudah dipugar dan dibangun ulang hingga tidak ada lagi kesan rumah kumuh.
Pak RW mengamankan beberapa pemuda yang dibayar mahal oleh tim partai lain untuk menghasut warga agar melakukan demo di istana karena adanya virus yang makin meresahkan masyarakat Jakarta dan sekitarnya.
"Sekarang saya mau tanya pada kalian, sebutkan satu saja kesalahan atau kekurangan presiden kita saat ini selama beliau memimpin negeri ini?" tanya pak RW yang sekaligus imam mesjid di kampung tersebut.
"Yah wabah ini," ucap mereka jujur.
"Apakah bapak presiden sengaja membunuh rakyatnya?" tanya pak RW.
"Memang tidak sih pak, tapi wabah ini makin merajalela dan itu sangat meresahkan warga masyarakat Jakarta."
"Ok baik. Terus kamu punya kontribusi apa untuk negara ini terutama memberikan solusi untuk menolong para korban?" tanya pak RW membuat semuanya terdiam.
__ADS_1
"Itu pak anu...anu...begini lho pak. Jika presiden Amran diganti sama presiden yang lebih kompeten, mungkin masalah ini akan segera berakhir."
"Emangnya kamu tahu siapa yang pantas menggantikan presiden Amran?" selidik pak RW.
"Itu pak. Capres yang nanti untuk periode berikutnya."
"Emangnya dia punya obat penawar atau sejenis serum yang akan mengobati para pasien di rumah sakit?"
Lagi-lagi mereka tak bisa bergeming dicecar pertanyaan oleh pak RW.
"Selama ini bapak presiden Amran sudah memberikan kesempatan bangsa Indonesia untuk bangkit dari penindasan perekonomian hingga beliau mampu menekan angka kemiskinan di negeri ini bahkan sudah terhapus.Tidak ada lagi pengangguran dan negara ini aman damai.
Mengapa hanya datangnya wabah ini saja, presiden Amran harus dihakimi massa karena ia tidak bisa menanggulangi wabah ini secepatnya? Dia itu manusia punya keterbatasan. Kalau malaikat pasti kita langsung bisa disembuhkan," nasehat pak RW bijak.
"Lagi pula kita sebagai warga negara yang baik, harusnya mendukung beliau untuk hadapi bersama-sama wabah ini dan mendoakan beliau agar beliau bisa mengerahkan orang-orang pintar untuk menemukan solusi ini.
Jangan hanya di masa enaknya kalian puji-puji beliau giliran susah begini beliau di hujat, terus keadilan buat beliau di mana? Kalau rakyatnya saja sudah berani menghina dan memakinya bagaimana dengan negara lain?
Mau beliau ditertawakan bangsa lain karena tidak mampu mengatasi wabah ini?" cecar pak RW membuat mereka terdiam.
"Jangan karena nilai rupiah kalian jual iman dan harga diri kalian untuk mengkhianati presiden Amran.
Jika presiden Amran tahu kalian sengaja memfitnahnya, pasti presiden akan memberikan uang pada kalian sepuluh kali lipat dibandingkan kubu politik sebelah yang bisanya cuap-cuap seperti ikan kehabisan air," timpal pak RW.
"Maaf pak. Kami janji tidak akan terhasut lagi dan menerima bayaran lagi dari tuan Galih."
"Baiklah. Sekarang kalian ambil wudhu kita sholat isya berjamaah setelah itu kalian harus sholat taubat dan doakan pemimpin kita agar beliau sabar menghadapi musibah ini," ucap pak RW memaafkan sepuluh orang anak muda labil yang gampang diajak oleh kubu politik yang saat ini sedang memanfaatkan situasi.
Sementara Amran mengundang para wartawan untuk meminta tolong pada mereka agar membantu mengamankan negara ini agar tidak menyebarkan berita hoax.
"Musuh terbesar pers saat ini, khususnya daring, adalah para "buzzer" yang saya anggap tidak bertanggung jawab.
__ADS_1
Maka daripada itu, saya berharap, pers tidak terbawa pada suasana yang kontroversial dan menjurus ke konflik sosial.
“Pers Indonesia secara khusus dalam dinamika politik kebangsaan saat ini penting menjalankan fungsi checks and balances sebagaimana menjadi DNA media massa sepanjang sejarah di negeri manapun," ucap Amran tegas dan terlihat menyimpan kesedihan mendalam di pelupuk matanya hingga warga Net begitu terenyuh melihat sikap bapak presiden mereka yang tidak lagi mengumbar senyum di manapun beliau berada.
"Maafkan saya jika saya dan jajaran saya belum menemukan solusi akan wabah ini. Jujur keluarga saya juga sudah mulai merasakan dampak dari wabah ini dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Saya mohon doa kalian semua rakyatku di manapun kalian berada.
Maaf belum bisa menjadi pemimpin yang layak untuk kalian," ucap Amran dengan suara bergetar membuat rakyatnya menangis Bombay di rumah-rumah mereka.
"Ya Allah. Pemimpin mana lagi yang begitu jujur dan rendah hati seperti ini. Rasanya jadi ingin peluk," ujar ibu-ibu yang sangat sayang pada presiden Amran.
Nabilla yang berada di sebelah suaminya tampak mengusap punggung kekar itu agar tetap sabar dan tenang menghadapi situasi seperti ini.
"Saya mohon kepada kalian lakukan apapun yang kalian bisa dalam menjaga kesehatan. Dan mari kita sama-sama memohon pertolongan Allah untuk mengusir wabah di kota besar ini agar tidak terjangkit di kota-kota lainnya.
Jangan mudah terpancing dengan rumor yang akan memecah belah bangsa kita...!" pinta Amran di terakhir kalimatnya lalu pamit dari hadapan pers dengan wajah datar menyimpan banyak luka.
"Semoga Allah selalu melindungi anda presiden."
"Semoga anda selalu sehat bapak!" pekik wartawan menangis haru melihat presiden mereka yang hanya mengangguk lesu.
Di kediaman Amran, cucunya dari putranya Adam dua orang terkena sakit yang sama akibat wabah itu. Keduanya dirawat di rumah sakit milik nenek uyut mereka. Beruntungnya El membawa pergi anak dan istrinya ke Bahrain karena ketiganya merupakan pewaris tahta kerajaan Bahrain.
Sementara itu, baby Ghaida yang lebih dulu menemukan serum untuk wabah itu. Ia berteriak histeris sehingga membuat kelurganya panik menghampiri kamar dari gadis kecil 6 tahun ini.
"Mommy, daddy. Aku sudah menemukan serum nya," pekik Ghaida seraya menunjukkan data statistik antara penderita dan orang sehat.
"Mana, Ghaida? Mommy tidak mengerti," omel Nada.
"Tunggu mommy sayang. Ghaida saja belum menjelaskan bagaimana kita bisa menemukan formulanya," senyum Ghaida mengembang membuat kedua orangtuanya gemas dan penasaran.
"Cepat katakan...!" desak Nada melihat putrinya seakan mengerjainya.
__ADS_1
"Banyak istighfar mommy. Jangan marah-marah! Daddy itu masih muda lho. Banyak yang naksir daddy," ledek Ghaida membuat Ghaishan menggelengkan kepalanya dengan cepat kalau dirinya tidak seperti yang dituduhkan putrinya.
"Dasar bocah...! Dia tidak tahu kalau ucapannya adalah hukuman untukku. Bisa-bisa aku tidak dapat jatah malam ini dan tidur di sofa," kesal Ghaishan membatin.