Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
79. Tidak Bisa Berkutik


__ADS_3

Tuan Stuart tidak bisa menerima begitu saja saat Nabilla ingin menyebutkan namanya. Ia spontan berdiri dan meminta para pengawal presiden untuk mengamankan Nabilla.


"Apa yang kamu tuduhkan itu tidak benar agen dua. Apakah kamu mengira aku pelakunya, hah?" sergah tuan Stuart membuat Nabilla tetap tenang di tempatnya untuk mengendalikan dirinya agar tidak terpancing karena berada dalam lingkaran musuh.


"Aku tidak menyebutkan nama anda tuan Stuart. Mengapa anda terlihat gusar seperti itu?" tanya Nabilla menatap wajah tuan Stuart dengan tatapan membunuh.


Amran masih bisa menahan dirinya. Dia tidak akan bertindak jika belum ada yang menyentuh istrinya. Tuan presiden lebih mempercayai Nabilla dari pada para staffnya karena ini adalah ajang pertarungan dunia politik. Kadang bawahan presiden lebih bergerak leluasa jika ia adalah tokoh berpengaruh.


"Silahkan duduk tuan Stuart! kendalikan dirimu!" titah tuan presiden.


Paspampres mendekati tuan Stuart agar pria ini tidak unjuk gigi. Nabilla yang sudah tahu suasana ini akan berakhir ricuh memilih jalan aman karena tuan presiden dalam keadaan terancam. Walaupun begitu tuan presiden ingin Nabilla mengungkapkan keterlibatan oknum pejabatnya agar kasus ini segera berakhir malam ini juga dan para pengkhianat yang masih duduk tenang di kursinya akan segera diamankan.


"Nona. Bisa anda mengurai lebih terperinci bagaimana permainan kotor mereka bisa tidak terendus oleh FBI sekalipun?" Pinta tuan presiden.


Nabilla menatap wajah satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya. Lalu meminta pendapat suaminya apakah ia diperbolehkan mengungkapkan kejahatan oknum pejabat yang terlibat saat ini. Amran hanya memberi isyarat dengan matanya untuk mendukung wanitanya demi kebenaran walaupun nyawa mereka menjadi taruhannya.


"Aku ingin sekali mengungkapkan semuanya tuan presiden. Tapi, ijinkan aku untuk mengamankan orang-orang yang terlibat terlebih dahulu sebelum ada yang berusaha menyakiti anda!" pinta Nabilla.


"Permintaanmu di kabulkan nona! silahkan lakukan apapun yang kamu inginkan agen dua!" titah tuan presiden.


"Kumpulkan semua persenjataan kalian! siapapun yang ada di sini! lakukan secara satu persatu! bergerak mulai dari arah kanan saya!" pinta Nabilla yang sudah berdiri sedikit menjauh dari meja makan.


Satu persatu para ajudan presiden maupun menteri dan siapapun memiliki wewenang untuk membawa senjata di dalam ruang presiden mulai melepaskan persenjataan jenis apapun dari tubuh mereka sambil Nabilla mengarahkan tablet miliknya berupa alat sensor. Dan tak lupa pula, Nabilla memblokir semua akses agar mereka tidak bisa membuka ponsel mereka dengan cara menggantikan sandi mereka secara acak. Bagi pejabat yang tidak bermasalah, tetap merasa tenang namun juga tegang.


"Masih ada pisau dibawah kakimu, tuan!" tegur Nabilla pada seorang pria pengawal menteri yang saat ini sedang membalikkan tubuhnya hendak kembali ke tempatnya berdiri.


"Sial ..!" umpat pria itu sambil menundukkan tubuhnya hendak mencabut pisau dari kakinya dan gerakannya sengaja dibuat terlalu lama karena ingin menyerang Nabilla.


Dengan kecepatan luar biasa pria itu ingin memutarkan tubuhnya menyerang Nabilla namun satu piring melayang dijidat pria itu dari Amran.


"Thanks hubby!" ucap Nabilla sambil menarik nafas lega.

__ADS_1


Pria itu langsung mengerang kesakitan karena jidatnya berdarah. Nabilla menyuruh ajudan presiden mengamankan pria itu.


"Jangan pernah menyentuh wanitaku, bodoh! Lanjutkan Baby!" pinta Amran yang marah pada pria itu dan bicara lagi pada istrinya.


Presiden nampak diam tidak bisa mengeluarkan perintah karena dia sendiri belum tahu mana lawan dan mana orang yang masih menjaga kesetiaan padanya saat ini.


"Hubby. Mr. M ! bisa minta tolong?" tanya Nabilla.


"Silahkan!"


"Kosongkan semua peluru dari senjata ini!" titah Nabilla.


Amran dan Mr. M melakukan apa yang di minta oleh Nabilla dengan sangat cepat karena keduanya sudah terlatih untuk mengosongkan peluru dari pistol dan senjata.


Nabilla menyerahkan tabletnya untuk menunjukkan siapa saja yang menjadi dalang pencurian benda berharga milik negara ini. Dan orang-orang yang terlibat dalam pencurian tersebut.


"Tuan presiden. Diantara mereka sudah menyusun rencana mereka untuk membobol museum penyimpan barang berharga milik negara bukan hanya mendapatkan keuntungan saja tapi, dengan cara menghilangkan barang itu maka kredibilitas anda sebagai penguasa nomor satu di negara ini akan dipertanyakan dunia. Otomatis para pendukung anda mulai ragu dengan kinerja anda saat anda tidak bisa mengusut kasus ini," ucap Nabilla sambil memperhatikan wajah-wajah pucat diantara orang-orang yang terlibat.


"Tentu saja tidak bisa dilacak pencurinya, tuan presiden karena tuan Almero bekerjasama dengan agen dua untuk menjatuhkan anda dan otomatis kekuasaan anda beralih kepadanya dari wakil presiden menjadi orang nomor satu di negara ini," ujar Nabilla dengan gamblang.


"Sialan...! bagaimana mungkin kamu menimpakan tuduhan keji itu kepadaku, hah?" bentak tuan Almero.


"Tuduhan keji katamu...? saya tidak mengada-ada tuan Almero. Anda saat ini sedang ketakutan bukan? karena agen dua suruhan anda itu tidak bisa memulihkan keamanan saat ia mengacak kembali kode tertentu agar pergerakan pencuri tidak bisa dilacak. Pekerjaan dia gagal total dilakukan karena kuncinya ada pada saya. Ada tombol pada sandi tertentu yang tidak bisa dioperasikan olehnya saat menghapus rekam jejak kejahatannya kerena melibatkan skala dunia. Kejahatannya secara otomatis tersimpan dalam dokumen di komputer itu dan langsung terkirim dalam email saya. Apakah masih mau perlu bukti tuan Almero?" tantang Nabilla.


Tuan Almero hanya tersenyum smirk. Ia masih meragukan kemampuan Nabilla yang bisa menyingkap keterlibatannya dalam kasus rumit ini atau sengaja diperumit oleh kaki tangannya.


"Kamu hanya menakuti aku bukan? dengan tipu muslihatmu itu agar bisa menutupi omong kosongmu itu?" tantang tuan Almero.


"Baik. Apakah kamu masih mengatakan aku omong kosong setelah melihat rekaman ini?" ucap Nabilla menyalakan layar monitor dengan memperlihatkan bagaimana permainan tuan Almero dengan beberapa oknum pejabat yang terlibat. Dalam sekejap obrolannya dengan para petinggi pejabat itu sedang berlangsung di kediaman pribadinya.


Flash back

__ADS_1


"Apakah kalian masih ingin aku menduduki posisi orang nomor satu di negara ini?" tanya tuan Almero pada pendukungnya.


"Tentu saja Tuan! posisi kami saat ini tidak sesuai yang kami inginkan. Kami menginginkan jabatan bergengsi yang punya pengaruh besar di negara ini," ujar salah satu menteri.


"Apa yang harus kita lakukan untuk menurunkan pamor presiden dengan cepat tanpa mencelakainya karena itu terlalu beresiko?" tanya tuan Almero.


"Bagaimana dengan benda berharga milik negara yang selama ini ada tiga negara yang mengklaim bahwa itu milik mereka. Jika kita bisa menjual barang berharga dengan nilai fantastis itu, bukan hanya mendapatkan keuntungan besar tapi kita juga bisa menjatuhkan kredibilitas presiden dan anda secara otomatis menggantikan dia," ucap yang lainnya.


"Tapi akses untuk masuk ke museum itu cukup sulit. Kita butuh tenaga ahli bagian eksekutor yaitu pencuri dan ahli IT yang bisa mengacak sinar infra merah itu," saran yang lainnya.


"Aku punya solusinya untuk masalah itu. Dia adalah agen 2 orang FBI yang akan kita libatkan dalam rencana kita ini, tentu saja kedudukannya akan kita gantikan di posisi Mr. M..ha..ha ..ha..!" tawa tuan Almero menggelegar diikuti oleh kroni-kroninya.


Flash back off.


"Bagaimana dengan rekaman ini, tuan Almero? Apakah kamu masih mau menyangkalnya?" sarkas Nabilla.


"Tidak mungkin? bagaimana itu bisa terlihat oleh perempuan ini sedangkan obrolan itu berlangsung di ruang pribadiku tidak memiliki CCTV," gumamnya lirih.


"Negara ini tidak akan memilih anda dengan cuma-cuma untuk duduk di jabatan penting, tuan Almero, jika kediaman anda tidak di beri alat pelacak. Bagaimana tuan-tuan yang terlibat di sini, apakah anda sekalian ingin saya pertontonkan juga pada tuan presiden?" tanya Nabilla.


Belum sempat Nabilla mengambil lagi tablet itu dari tangan presiden, kini pengkhianat siap melukai presiden dan membuat Nabilla sigap meminta Amran untuk melindungi presiden yang langsung bersembunyi dibawah kolong meja makan, sementara dirinya sendiri mengambil pisau pemotong daging stik dan garpu miliknya dan langsung di lemparkan ke arah wakil presiden yang merupakan pengkhianatnya.


Akhirnya pertikaian di dalam ruang makan itu berlangsung seru. Nabilla dan Amran membawa tuan presiden ke ruang kerja presiden menuju ruang rahasia.


"Nabilla kamu tidak apa-apa, sayang? bagaimana dengan mereka di dalam sana?" tanya Amran cemas.


"FBI sudah mengendalikan keadaan atas perintahku," ucap Nabilla yang menekan tombol panggilan pada agen satu tanpa memberitahu Amran.


......


Vote dan like nya Cinta, please!

__ADS_1


__ADS_2