
Seperti biasa, Nabilla seperti pengawas bagi semua anggota keluarganya. Ia mengutamakan nalurinya yang begitu peka terhadap sesuatu. Saat ini ia sedang berada di perusahaan suaminya untuk membawa makan siang agar mereka bisa makan bersama jika suaminya sudah kelar dengan pekerjaannya.
Nabilla mengandalkan ibu mertua dan nenek Anisa untuk mengawasi baby sitter mengurus bayi kembar tiganya setelah menyiapkan stok ASI sekitar sepuluh botol untuk bayinya.
Nabilla tidak hanya makan siang bersama suaminya. Ia juga ingin mengajak Amran untuk ke butik khusus busana muslim pakaian syar'i langganannya sebagai pendamping mempelai wanita yaitu adik iparnya Celia.
Amran begitu senang dengan perhatian kecilnya Nabilla. Dan lebih senang lagi kalau Nabilla yang memasak sendiri makan siang itu untuk nya karena tangan ajaib istrinya yang membuat makanan sederhana saja menjadi mewah di lidahnya. Pasti bumbunya tidak jauh dengan cinta dan kasih sayangnya.
Saat sudah menyelesaikan makan siang mereka, Nabilla dan Amran ke tempat butik yang di maksud Nabilla. Amran memang ingin memanjakan ratunya di sela-sela kesibukannya.
"Sayang. Aku ingin melihatmu sekali lagi mengenakan gaun pengantin tanpa hijab. Gaun pengantin yang berleher rendah hingga menampakkan kedua bukit cantik itu," ucap Amran saat keduanya sudah berada di mobil dan Nabilla tidak lagi memakai cadar.
"Maksud mas Amran, gaun ala barat?" tanya Nabilla memastikan keinginan suaminya.
"Iya sayang. Aku ingin kamu memakai itu usai resepsi pernikahan Celia saat ada di dalam kamar," pinta Amran.
"Baiklah. Seperti yang kamu inginkan hubby," sahut Nabilla dengan suara manja nan mendayu.
Entah mengapa Nabilla selalu membuat Amran setiap saat jatuh cinta pada ibu bayi kembar 3 itu.
Ada kekuatan magic dari pesona seorang Nabilla. Bukan hanya kecantikannya saja yang menguar dari aura fisik sempurna Nabilla, namun suara ******* dengan rayuan maut menggoda imannya dan akan berakhir dengan imun jiwanya dari bisa wanita di sampingnya itu.
"Huftt....! Baby. Kenapa kau selalu membangkitkan marcopolo yang sedang tenang. Ini bukan tempatnya sayang," ucap Amran yang hanya mendengar suara menggoda istrinya.
"Aku bersikap biasa saja, hubby. Masnya saja yang terlalu nanggepinnya berlebihan," sahut Nabilla diiringi cekikikan.
Saat melewati jalan yang sedikit lengang, Nabilla melihat dari arah berlawanan di mana mobil Nadin sedang di ikuti oleh dua mobil lainnya yang mendampingi mobil gadis itu dengan tetap menjaga jarak dengan stabil.
"Bukankah itu mobil Nadin?" batin Nabilla karena matanya sempat melihat ke arah samping.
"Ada apa Nabilla?" tanya Amran yang masih menyetir.
"Apakah Arland memberikan pengawasan pada Nadin untuk mengikuti mobil Nadin?" tanya Nabilla.
"Tidak. Arland dan Reno ada janji dengan Nadin dan Celia bertemu di butik untuk fitting baju pengantin," ucap Amran sambil melihat Nabilla yang sedang memperhatikan GPS di mana mobil Nadin tidak begitu jauh dengan mereka.
"Mas. Tolong putar balik karena Nadin dan Celia dalam bahaya!" pinta Nabilla.
"Apa maksudmu, baby?"
"Mobil Nadin sedang di ikuti dan Nadin tidak menuju ke butik. Ini arah yang berbeda," ucap Nabilla panik.
"Apaaaa....?" pekik Amran dengan jantung yang sudah mau copot.
"Iya sayang. Sebentar aku coba hubungi Celia kalau Celia mungkin bersama dengan Nadin saat ini," ucap Nabilla.
__ADS_1
"Jangan...!" cegah Amran.
"Kenapa mas?"
"Kedua gadis itu sedang di sandera saat ini," sahut Amran.
"Kalau begitu, cari jalan alternatif agar bisa menghadang mobil Nadin!" pinta Nabilla sambil membuka map di ponselnya untuk bisa melewati jalan tikus.
"Baik."
Amran memasuki jalan perkampungan sebagai jalan pintas agar mereka bisa menghadang mobil Nadin dari depan.
Nabilla mengambil pistol dari dasbor yang biasa di simpan suaminya membuat Amran terhenyak.
"Sayang. Jangan main-main dengan barang itu!" cegah Amran menyetir sambil melirik Nabilla yang sedang memasukkan dua jarinya di lingkaran pelatuk.
"Apakah pelurunya penuh, sayang?" tanya Nabilla mengabaikan permintaan suami.
"Karena pelurunya penuh makanya aku melarangmu memegangnya karena kamu tidak mungkin bisa menggunakannya, iyakan?" tanya Amran yang makin tegang melihat Nabilla seperti pembunuh bayaran yang dikirim oleh agen tertentu.
"Kita lihat saja nanti sayang. Apakah aku bisa menggunakan pistol Sang perancang Gaston Glock ini yang sengaja mendesain pistol ini dengan simpel, mudah digunakan, namun ampuh. Sesuai namanya, Glock 17 dapat memuat 17 butir peluru 9 mm.
Glock 17 merupakan pengganti pistol Walther P38 yang digunakan Nazi. Pada uji kelayakan oleh angkatan bersenjata Austria pada 1982, Glock 17 mampu menembakkan 10.000 peluru dengan hanya macet sekali," ucap Nabilla dengan lugas membuat jantung Amran tidak karuan detakannya antara rasa kagum dan juga gugup.
"Sayang. Apakah kamu juga belajar semua jenis senjata?" tanya Amran yang memang tahu Nabilla kutu buku.
"Iya aku menghafal semua nama mereka dan tahu cara menggunakannya. Apakah kamu ingin melihat aksiku sayang? semoga saja bukan teori saja yang aku kuasai, tapi aku juga ingin sesekali melakukannya saat ini," timpal Nabilla lalu mengusap lembut body pistol itu, makin membuat suaminya frustasi.
"Tapi sayang,...-"
"Berdebatnya nanti saja di kasur, baby! karena Aku ingin menggunakan mainan suamiku ini untuk melumpuhkan lawan. Sekarang fokus dengan tujuan kita dan ikuti instruksiku dariku!" pinta Nabilla saat mobil mereka sudah mendekati mobil Nadin yang saat ini berjalan dengan kecepatan stabil karena tidak ingin memancing penggunaan jalan.
"Berapa jarak antara kita dengan mobilnya Nadin untuk bisa menghadang mobilnya?" tanya Amran.
"Sekitar 300 meter saat ini dan itu ujung jalan ini formasi T. Siap hadang mas, sekarang!" titah Nabilla sambil membuka kaca mobil dengan cekatan saat mobil Amran menghadang mobil Nadin yang saat ini sedang menginjak rem secara mendadak dan otomatis dua mobil belakangnya ikut terhenti dengan menginjak rem yang sama.
Sopir mobil yang di belakang mobil Nadin belum sempat mengusai keterkejutannya, Nabilla langsung mengarahkan pistolnya untuk menembak ban mobil penguntit dan beralih menembak kening sang sopir yang tentu saja menembus kaca mobil penjahat itu.
Nafas Amran mau berhenti karena kemahiran Nabilla yang mampu membidikkan pistolnya ke arah lawan dengan jarak 150 meter dari mobil mereka untuk melumpuhkan lawan.
"Babyyy...!" pekik Amran namun Nabilla hanya mengerlingkan matanya karena sudah bercadar lagi disertai senyuman yang sangat manis dari balik cadarnya.
"Sisanya adalah urusanmu, tuan suami. Sekarang tugasku menyelamatkan kedua iparku," ucap Nabilla yang masih menunggu di dalam mobil sementara Amran sudah turun dari mobilnya karena Amran selalu mengenakan rompi anti peluru yang tertutup kemeja dan jasnya. Ia mengambil pistol dari balik jasnya lalu turun dari mobil sambil menembak penjahat yang ikut turun untuk menyerang mereka.
Dua penjahat yang sedang menyeret Nadin dan Celia sambil menyandera keduanya dengan moncong pistol tepat di pelipis mereka.
__ADS_1
"Jangan menembak! atau kedua gadis ini akan kami kirim ke neraka!" titah penjahat yang sedang menodongkan pistolnya ke pelipis Celia.
"Buang pistolmu ke arah depan!" titah penjahat yang bersama Nadin.
Nabilla yang sudah turun diam-diam dari pintu pengemudi yang memang sengaja di buka Amran. Ia tiarap masuk ke kolong mobil. Ketika penjahat menggiring Nadin dan Celia berdiri di depan kap mobil Nadin, mudah bagi Nabilla untuk melepaskan tembakan membidik tulang kering kedua penjahat yang menyandera Nadin dan Celia secara bergantian dalam sepersekian detik. Nadin dan Celia histeris sambil berpelukan saat kedua penjahat itu teriak kesakitan.
"Akkkkkkk...!" pekik kedua penjahat itu spontan meloncat loncat kesakitan hingga pistol mereka terlepas dari tangan mereka.
Nabilla menggulingkan tubuhnya dengan cepat ke depan untuk meraih pistol penjahat sambil berteriak kepada Nadin dan Celia untuk melindungi diri mereka dari dua penjahat lainnya yang ada di samping kanan Nadin.
"Celia, Nadin, tiarappp!" titah Nabilla sambil melempar pistol yang di pegangnya ke arah Amran. Dengan sigap Amran menangkapnya lalu dengan cepat menembak penjahat yang ada di mobil penjahat yang sedang melindungi diri dari tembakan Nabilla dengan pistol milik penjahat yang terluka itu.
Dalam lima menit, Amran berhasil melumpuhkan kedua orang penjahat itu. Ke enam penjahat itu diantaranya dua orang meninggal di tempat karena tembakan Nabilla dan 4 orangnya terluka.
"Kalian tidak apa Celia, Nadin?" tanya Nabilla sambil memeriksa tubuh kedua iparnya itu.
"Tidak kak, mbak!" ujar keduanya kompak.
"Alhamdullilah!" ucap Nabilla sambil memeluk keduanya dengan penuh syukur.
Seperti biasa, Reno dan Arland yang baru tiba di lokasi kejadian setelah mengikuti GPS ponselnya kekasih mereka langsung turun dari mobil menghampiri gadis mereka.
"Kau datang padaku saat ku luka," sindir Nabilla kepada dua pria tampan yang terlihat cemas memeluk kedua wanitanya.
Sementara Amran masih menatap heran istrinya yang sangat menguasai gerak gerik lawan di arena menegangkan Seperti ini. Ia mampu menjatuhkan lawan dengan pistolnya.
"Baby...!"
Amran menarik pinggangnya Nabilla merapatkan ke tubuhnya lalu membuka cadarnya ke atas dan mengecup bibir itu sekilas. Tampaklah wajah cantik Nabilla terpampang nyata di depan Reno dan Arland yang langsung mengalihkan pandangan mereka ke gadisnya masing-masing.
"Cih... dasar berengsek! bisa-bisanya menggoda calon pengantin dengan mencium bibir istrinya di depan kita," umpat Reno kesal.
"Jangan terpengaruh kak Reno! tunggu saja tanggal mainnya, ya ," goda Celia membujuk kekasihnya membuat Reno membelo.
"Hah ..?" Reno menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Apakah kamu adalah salah satu agen rahasia negara, sayang?" tanya Amran tidak sabar lagi ingin tahu siapa istrinya ini yang selalu melakukan hal yang tak terduga padanya.
Deggggg....
"Terimakasih Amran..! kamu sudah melumpuhkan penjahat berengsek ini," ucap Reno.
"Bukan mas Amran kak Reno tapi mbak Nabilla," ujar Nadin.
"Apaaaa...?" pekik Reno dan Arlan secara bersamaan.
__ADS_1
.......
Vote and like, love, please!