
Tidak ingin membahayakan balita malang itu, Bunga mengalah dan meletakkan senjatanya di bawah kakinya sambil mengangkat kedua tangannya. Sang ibu menangis histeris karena takut putrinya akan dibawa kabur oleh penjahat.
Pintu kereta terbuka, penjahat masuk dengan membawa balita itu bersamanya.
"Tolong. Jangan bawa putriku...!" pinta wanita itu menangis kencang.
Sebelum pintu kereta itu di tutup, tubuh bocah itu di lempar keluar seperti barang dan Bunga langsung menangkap gadis kecil itu sambil memeluknya erat. Sang ibu merebut putrinya dari gendongannya Bunga sambil meraung keras.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan perjalanan anda, nyonya!" Ucap Bunga segera meninggalkan stasiun dan menghubungi timnya.
"Cegat penjahat itu di stasiun berikutnya, Nada...!" titah Bunga kembali ke mobilnya menuju stasiun berikutnya walaupun ia tidak tahu stasiun mana penjahat itu akan turun.
Namun Ghaishan yang masih memonitor keberadaan penjahat di dalam kereta yang dinaiki kedua penjahat itu yang sedang menuju ruang masinis kereta.
Beberapa sekuriti yang ada di dalam kereta tersebut dilumpuhkan oleh kedua penjahat itu dengan pistol kedap suara.
"Jalan terus dan jangan hentikan kereta ini...!" titah penjahat sambil menodongkan pistolnya ke masinis kereta.
Sang masinis terlihat tidak mengindahkan perintah penjahat. Ia mencari cara agar kereta ini berhenti di stasiun berikutnya untuk menyelamatkan para penumpang.
"Kau ingin selamatkan nyawamu? Atau penumpangmu? Pilih salah satunya...!" titah penjahat mengarahkan pistolnya ke dagu masinis yang mendongakkan wajahnya ke atas sambil memegang kemudi kereta.
"Keretanya tidak berhenti. Penjahat mengambil alih keretanya. Selamatkan penumpang kereta itu...!" pekik Ghaishan pada timnya.
Nada langsung panik. Walaupun ia punya kekuatan, tapi menghentikan kereta bawah tanah dengan ruang sempit akan membahayakan nyawanya juga.
"Apa yang harus kita lakukan? Polisi setempat akan turun tangan dan negara ini akan kacau," cemas Nada memikirkan jalan terbaik untuk menyelamatkan kereta itu.
Kereta terus melaju di tengah malam sepi. Jam kerja di jepang memang berlaku sampai 24 jam hingga manusia tidak ada yang mengenal kata istirahat karena masyarakat Jepang yang terkenal gila kerja atau work a holic. Karena ada tiga aturan jam kerja yang berlaku di sana ditambah waktu lembur.
"Cari titik berakhirnya kereta itu.....! Aku akan menunggu di sana, baby!" pinta Nada yang ingin mengorbankan jiwanya untuk menyelamatkan para penumpang.
"Tapi sayang, itu sangat berbahaya karena yang kamu tahan itu adalah tubuh kereta bukan mobil," protes Ghaishan.
"Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan penumpang kereta itu. Doakan saja. Semoga aku baik-baik saja," ucap Nada.
__ADS_1
"Sayang. Hati-hati...! Aku dan anak-anak sangat mencintaimu. Mereka menunggu kita pulang ke Amerika," ucap Ghaishan menahan beban hatinya.
"Aku minta ridhomu suamiku!" pinta Nada dengan suara tercekat.
"Aku meridhoimu, sayang demi keamanan dunia ini dari para sampah dunia," ucap Ghaishan dari seberang telepon.
Nada meminta yang lain untuk meringkus para mafia yang tersisa. Sementara dirinya sendiri saat ini sedang menghentikan kereta yang disandera oleh penjahat. Rupanya, di kereta itu sudah ada beberapa orang anak buahnya mafia yang menyamar menjadi penumpang.
Saat penumpang lain ingin menghubungi pihak keamanan dan kelurga mereka, ponsel penumpang sudah terlebih dahulu diamankan oleh anak buahnya penjahat itu.
"Serahkan ponsel kalian semuanya, cepat!" teriak penjahat itu sambil membuka ranselnya untuk menampung ponsel penumpang.
Karena takut di tembak, mereka dengan suka rela menyerahkan ponsel mereka. Ada juga yang berusaha lawan namun penjahat tidak segan memukul dan menendang mereka hingga pingsan.
"Mau melawan lagi? atau aku tembak kalian semua!" ancam sang penjahat.
Semuanya terdiam saling berpelukan satu sama lain walaupun mereka tidak kenal. Ada juga yang bersama dengan teman, kelurga atau kekasihnya yang memilih diam agar nyawa mereka selamat.
Nada yang sudah tiba di salah satu stasiun kereta tersebut mulai melakukan aksinya untuk menunggu kereta yang sedang disandera oleh penjahat itu lewat.
Para calon penumpang yang berdiri menunggu di stasiun itu tercengang melihat bagaimana cepatnya Nada melompat ke arah kereta yang disandera oleh penjahat itu.
"Woww.... kerennn!" pekik mereka yang tidak sempat mengabadikan momen langka itu dengan kamera mereka.
Kunci pintu gerbong berhasil dibuka oleh Nada. Nada melihat tidak ada penumpang di gerbong terakhir itu. Rupanya penjahat mengumpulkan para penumpang dalam dua gerbong untuk mudah di awasi oleh mereka.
Nada menghubungi lagi Ghaishan untuk menanyakan di mana para penumpang disekap oleh penjahat.
"Saya sudah berada di dalam kereta penjahat. Mereka sedang menyekap penumpang. Tolong kirim rekaman CCTV keberadaan para penumpang di gerbong berapa penumpang di sekap?" tanya Nada sambil berjalan menuju gerbong berikutnya dengan hati-hati.
"Iya sayang. Tunggu sebentar..! Nanti aku kabari lagi," ucap Ghaishan seraya mencari keberadaan para penumpang yang dijaga ketat oleh beberapa orang penjahat dengan senjata mengarah ke para penumpang.
"Mereka berada di gerbong dekat dengan masinis kereta api," ucap Ghaishan.
"Terimakasih sayang. Tolong awasi kami...!" pinta Nada segera berlari cepat menuju gerbong yang dimaksud suaminya.
__ADS_1
Pintu gerbong itu di buka dengan cepat oleh Nada hingga memancing empat orang penjahat yang menembak ke arahnya.
Dengan kekuatannya ia melompat ke sana ke mari seperti bajing hingga terlihat seperti bayangan yang melesat cepat menghindari tembakan para penjahat agar mengecoh tatapan lawan yang terperangah mencari keberadaan Nada yang hilang di depan mereka.
Para penumpang dibuat kagum oleh kecepatan Nada yang bisa bergerak bagai kilat melindungi diri.
"Ke mana wanita tadi? Kenapa dia bisa menghilang begitu saja?" tanya salah satu penjahat.
"Sayang. Apakah kamu tidak apa?" tanya Ghaishan yang takut istrinya terkena tembakan.
"Alhamdulillah. Aku tidak terkena tembakan penjahat," ucap Nada yang sudah berdiri di depan penumpang untuk menjadi tameng mereka.
"Syukurlah. Tetap hati-hati...!" nasehat Ghaishan.
"Insya Allah hubby!"
"Bunuh wanita itu, cepat ..!" pekik sesama mereka untuk menghabisi Nada yang langsung membuat tabir dari bayangan gelembung air agar peluru tidak menghujani dirinya dan para penumpang.
Melihat keadaan itu, teriakan para penumpang yang tadi sangat histeris tiba-tiba terdiam seketika menyaksikan bagaimana kekuatan putri bungsunya Amran ini menghalangi serangan penjahat yang saat ini berusaha menembus gelembung itu namun tidak bisa.
"Diam di sini...! Aku akan menolong yang lainnya!" titah Nada pada penumpang itu yang mengangguk semangat dan penuh rasa syukur.
Nada ke gerbong sebelah untuk melakukan hal yang sama pada penumpang. Penjahat nampak kewalahan menyerang Nada yang begitu gesit menghindar tembakan mereka. Nada melumpuhkan kaki lima orang anak buahnya penjahat dengan timah panas.
Baru saja ia ingin membuka pintu ruang masinis kereta api, sang mafia sudah lebih dulu menyandera masinis itu.
"Kamu ingin menyelamatkan masinis ini? Silahkan...!" ancam dua orang mafia itu pada Nada yang sudah lebih dulu mengeluarkan senjata milik Nabilla yaitu berupa sengatan lebah untuk melumpuhkan lawan terlebih dahulu sebelum beraksi.
Namun sayang, aksi Nada sudah ketahuan lebih dulu oleh mafia yang langsung menembak....?"
Dorrr....dorrrr.....
"Tidakkkkk......!" pekik Nada syok.
Bersambung.....
__ADS_1