Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
267. Perdebatan Yang Alot


__ADS_3

Presiden seakan tarik ulur dengan pemberian ijin untuk Amran dengan melakukan negosiasi dengan mafia ini.


"Beberapa persen pajak untuk negara dari hasil minyak bumi milikmu?" tanya sang presiden.


"Saya tidak bisa memberikan berapa persen untuk negara kalau hasilnya sendiri belum kelihatan. Ini saja belum ada kalkulasi pengeluaran untuk pembangunan kawasan kilang minyak itu. Bagaimana mau bahas tentang besarnya pajak untuk negara ini?" tutur Amran yang tidak mau menyebutkan angka keuntungan dari hasil buminya nanti untuk negara.


"Apakah kamu benar-benar tidak mau melibatkan negara untuk turun tangan membantumu mengelola pengelolaan minyak bumi itu?" tanya presiden masih merayu Amran.


"Nanti saja kalau dibutuhkan tenaga SDM dan itupun ada perjanjian tertulis yang terikat hukum internasional," ucap Amran dengan aturan mainnya sendiri.


"Apakah kamu memiliki pengetahuan maupun pengalaman untuk membangun proyek kilang minyak itu?" sinis presiden.


"Untuk urusan bisnis saya jagonya. Untuk tenaga ahli, saya sudah memiliki jaringan internasional yang akan membantu proyek itu karena menantu saya punya kilang minyak terbesar di Amerika begitu juga besan saya yang merupakan raja Bahrain yang juga akan mengirimkan tenaga ahli mereka yang mengajarkan SDM yang kita punya untuk belajar dalam pengelolaan proses memasak minyak mentahnya. Saya sudah memikirkan setiap tahap pengelolaannya," tutur Amran.


"Apa yang membuat anda keberatan bapak presiden untuk memberikan ijin kepada kami?" tanya Nabilla yang sudah mulai gerah dengan gaya bicara presiden yang terlihat sedang mempermainkan mereka.


"Bukan keberatan, nyonya Nabilla. Hanya saja, selama ini apapun yang menjadi sumber bumi yang terdapat di lahan siapapun selama milik warga negara Indonesia harus dikelola oleh negara dan kalian hanya menerima berapa persen untuk kelangsungan hidup kalian. Itu aturannya," ucap bapak presiden makin membuat Amran dan Nabilla murka.


"Itu aturan yang sangat menyesatkan bagi kami pribadi. Aturan undang-undang itu sebagian besar adalah undang-undang yang diadopsi dari jaman kolonial Belanda yang selama ini memeras hasil bumi Indonesia untuk memperkaya negaranya, jelas itu terbukti dan fakta. Saya maklumi bagian sejarah itu karena kebodohan bangsa yang tidak bisa apa-apa melawan penjajah.


Tapi sekarang rakyat sudah mulai pintar seiring dengan perkembangan teknologi yang merubah semua pandangan rakyat Indonesia yang tidak ingin lagi mental mereka dijajah oleh negaranya sendiri," ucap Amran.

__ADS_1


"Apakah anda masih mau berdebat dengan kami untuk mengulur waktu? Apakah perlu obrolan kita ini di viral kan saja ke media untuk mendapatkan penilaian rakyat Indonesia dan di lihat oleh dunia karena presidennya sedang memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan upeti yang lebih besar demi membiayai politik bobrok yang hanya memperkaya diri bagi pejabat yang berhasil memanipulasi data sebagai bentuk korupsi?" sarkas Nabilla penuh ancaman.


"Apakah anda sedang mengancam saya, nyonya Nabila?" presiden menyeringai licik dengan senyum samar hampir tak terlihat.


"Bukan mengancam anda bapak presiden. Ini lebih tepatnya memberikan anda pilihan. Jangan memanfaatkan wewenang anda sebagai presiden untuk memeras konglomerat seperti kami. Jika anda terlalu lama memberikan ijin, baiklah saya akan mengundang media untuk mencari jalan tengah tentang masalah perijinan ini," ucap Nabilla.


"Santai saja nyonya Nabilla. Tidak usah tegang seperti itu. Saya bicara sebagai kepala negara karena memikirkan nasib rakyat Indonesia jika milik kalian itu diserahkan kepada negara untuk dikelola oleh negara demi kepentingan negara ini juga, bukan?" ucap persiden dengan jiwa santainya membuat Amran menarik nafas dalam sambil beristighfar.


"Astaghfirullah halaziiim. Benar juga perkataan Mulia raja Farouk, lebih baik aku sendiri yang harus menjadi presiden negera ini daripada menjadikan orang lain presiden yang akan menghancurkan negara ini karena memiliki ambisi terselubung.


Bisa-bisa negara ini berubah menjadi negara monarki jika milikku yang berharga diserahkan ke manusia serakah ini. Wajahnya terlihat lembut dengan senyum mengundang simpatik tapi dia tidak lebih dari musang berbulu domba," batin Amran menahan geram.


"Di mana wilayah yang akan kalian bangun kilang minyak itu?" tanya presiden mulai penasaran.


"Lupakan saja perizinannya, tuan presiden. Saya tidak akan memberitahukan kepada anda di mana lokasi penemuan titik minyak bumi itu berada sebelum anda mengijinkan kami untuk membangun kilang minyak itu," ucap Amran sekaligus bergegas berdiri untuk pamit.


"Lho...! Kenapa bisa begitu tuan Amran? kenapa anda tiba-tiba berubah pikiran?" canda presiden sambil nyengir kuda dengan tetap memperlihatkan wibawanya.


"Karenak ekuasaan anda hanya bertahan satu tahun lagi. Itu berarti kesempatan saya untuk mencalonkan presiden terbuka luas untuk beradu politik dengan kandidat di elit politik ini yang sedang marak. Jika saya bisa mewujudkan niat baik saya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, kenapa harus berdebat dengan anda yang tidak akan menemukan solusinya," ucap Amran dengan kalimat menohok.


"Yakin bisa memenangkan sebagai calon presiden di periode berikutnya?" tanya presiden dengan kalimat meremehkan kemampuan Amran.

__ADS_1


"Jika permainan politik penuh dengan intrik untuk bisa membeli hati rakyat saat musim kampanye dengan sejuta janji dan penuh rayuan basa-basi sebagai bentuk pencitraan, tidak dengan apa yang saya akan lakukan untuk rakyat Indonesia dengan memberikan kehidupan yang jauh lebih layak bagi mereka. Dengan begitu saya bisa memenangkan hati mereka agar bisa memilih saya," ucap Amran.


"Jangan bersikap takabur seperti itu....! Orang kaya dan orang pintar di negara ini sangat banyak dan tidak sedikit para dermawan yang memikirkan kepentingan rakyat. Mereka terlihat tidak bisa berbuat apa-apa jika elit politik sudah bicara karena mereka tidak punya pengalaman untuk menarik minat masyarakat.


Jadi yang punya pengaruh besar di negara ini yang akan bertahan untuk meraup suara terbanyak dengan sedikit permainan kecil untuk menjatuhkan lawannya," ucap presiden Menjatuhkanmu mental Amran yang mudah sekali emosi karena otak mafianya yang lebih dominan untuk menyelesaikan segala sesuatu segera tuntas tanpa berbelit-belit seperti yang mereka alami saat ini.


"Memang negeri ini sedang dipermainkan oleh elit politik. Tapi jangan lupa kalian bermain untuk saling sikat dan mencekik namun masih bisa tertawa dengan candaan yang membosankan untuk diperlihatkan kepada publik bahwa hubungan kalian sedang baik-baik saja.


Tapi, apakah kalian tidak sadar banyak sekali rekam jejak kalian yang sudah berbuat onar dengan saling mendukung dalam memperkuat kubu politik hingga membungkam mulut para pejuang negara ini yang sudah muak dengan permainan politik yang tidak sehat yang kalian suguhkan kepada kami yang hanya menonton dagelan kocak yang kalian mainkan," ucap Nabilla.


"Itu hanya persepsi anda nyonya Nabilla.. Mana mungkin anda bisa bicara seperti itu jika fakta tidak membuktikan apa yang menjadi kecemasan anda di dunia politik negri ini," balas tuan presiden dengan gayanya yang sok bijak untuk menekan perasaan gelisah nya pada Nabila yang terkenal jenius itu.


"Apakah bapak presiden ingin saya mengungkapkan bagaimana carut-marut politik yang selama ini sedang kalian mainkan? Mau dari mana bapak presiden?


Mau dari awal saat anda yang tiba-tiba hadir di kancah politik dengan menggeser semua orang-orang yang lebih dulu bermain cukup alot di dunia politik namun nasib baik belum berpihak kepadanya hingga akhirnya ia hanya bisa bercuap-cuap di media untuk mencurahkan kegundahan hatinya yang merasa dicurangi oleh teman-temannya yang awalnya mendukung dirinya sepenuh hati lalu pindah ke lain hati karena dinilai lebih menjanjikan untuk mendukung program kerjanya jika dia berkuasa, bagaimana? Mau diperlihatkan kepada rakyat Indonesia lebih dulu?" tantang Nabilla terlihat serius membuat presiden mati kutu juga saat ini.


Duarr....


"Sialaaannn...aku lupa kalau dia adalah agen rahasia FBI yang sangat diandalkan dan di manjakan oleh elit politik di negara adikuasa itu," batin presiden sedikit gemetar mendengar ancaman Nabilla padanya.


"Ayo sayang kita pulang!" ajak Amran yang sudah jengah berhadapan dengan presiden tersebut.

__ADS_1


__ADS_2