
El-Rummi akhirnya menolong juga wanita muda itu untuk mencari putranya yang hilang diantara kerumunan para pembeli jajanan pasar itu. Setibanya di tempat yang cukup jauh El rummi mengeluarkan pistolnya lalu mengarahkan ke perut wanita itu.
"Katakan siapa yang telah menyuruhmu!" ancam El-Rummi membuat wanita muda itu tercekat.
"Tuan. Kenapa anda malah ingin membunuh saya?" ujar wanita itu masih mau bersandiwara.
"Veronika Zumarnis..! Mantan agen KGB yang saat ini sedang menjadi pembunuh bayaran. Usia 28 tahun dan sekarang sedang mencoba peruntungan di dunia modeling. Bukankah begitu nyonya?" tanya El-Rummi menarik pelan pelatuk pistol hingga berbunyi itu membuat Veronika gugup. El bisa mengetahui siapa wanita itu melalui kacamata yang dikenalkannya barusan.
Kaca mata yang dikenakan El itu bisa membaca data orang yang diajak bicara melalui panas tubuh orang itu.
"Sial...! Bagaimana pria ini bisa mengetahui identitasku," batin Veronika tidak bisa berkutik karena El sudah siap menembaknya.
"Aku agen FBI. Aku berhak membunuhmu karena kamu adalah ancaman internasional. Aku bisa membuatmu deportasi dari negaraku. Sekarang katakan! Siapa yang telah menyuruhmu membututi kami?" Kini pistol El menancap lebih dalam lagi ke perut wanita itu.
Sementara itu Tamara yang sedang menunggu kue pesanannya di kemas dalam dus, kini sedang melakukan panggilan telepon dengan Syakira.
Tiba-tiba ada yang menyenggol bahunya dan hampir membuat ponselnya terjatuh.
"Innalilahi," sentak Tamara.
Belum sempat ia membenarkan pijakannya untuk berdiri sempurna, pria itu pura-pura menanyakan istrinya.
"Maaf nona! Apakah anda melihat istri saya yang sedang mencari anak kami?" tanya pria itu.
Tamara terdiam sesaat lalu menyebutkan ciri-ciri wanita yang mengajak El mencari anak kecil.
"Istrimu bersama suamiku mencari anak kalian. Coba saja hubungi ponsel istrimu. Kenapa menanyakan pada saya?" ucap Tamara yang mulai curiga dengan pria yang ada dihadapannya bisa bicara bahasa arab dengannya.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan pria ini. Bagaimana dia tahu kalau aku adalah orang Arab padahal banyak wanita di sini mengenakan cadar yang sama denganku dan belum tentu orang arab," batin Tamara sengaja mundur dan berdiri lebih dekat dengan penjual kue.
"Tolong saya...!" pinta Tamara setengah berbisik pada tukang kue itu dengan bahasa Indonesia seadanya terdengar cadel pada penjual kue itu yang mengerti Tamara sedang berada di dalam bahaya.
"Pergilah dari sini, Tuan! Wanita ini tidak mau di ganggu oleh anda," ucap ibu tukang kue itu mengusir paksa pria berjaket mirip brandal itu.
__ADS_1
"Tapi suaminya membawa istriku.. Dia pasti...-"
"Kau ingin aku memanggilmu dengan sebutan maling agar massa menghajar kamu disini, hah?!" ancam ibu si penjual kue membuat pria berandalan itu segera hengkang dari tempat itu. Tamara memeluk ibu si penjual kue dengan perasaan lega.
"Alhamdulillah. Terimakasih bu," ucap Tamara tidak banyak kata.
"Sama-sama non," balas ibu tukang kue itu lalu memberikan 4 dus kue pesanannya Tamara dengan keresek merah.
Tamara membayarkan jumlah yang cukup besar melebihi harga kue itu yang hanya berkisar satu juta.
"Non. Ini banyak sekali," ucap ibu sang penjual kue bertepatan dengan kedatangan El yang tampak terlihat tenang.
"Ambil saja Bu! Itu rejekinya ibu dari Allah. Kami hanya diminta untuk menyerahkannya pada ibu," ucap El seraya menjinjing dua kresek kue itu.
"Barakallahu fiqum. Terimakasih nak," ucap sang tukang kue menangis haru.
"Mulai besok sampai dengan terakhir Ramadhan, ibu cukup menyiapkan kue itu untuk kami saja. Nanti anak buahku yang akan mengambilnya dan untuk bayarannya setelah kuenya di ambil," ucap El Rumi.
Keduanya berlalu pergi meninggalkan tempat kuliner itu. Tamara tahu kalau saat ini El sedang menghadapi masalah besar dengan penjahat. Tapi, dia ingin bersikap biasa saja agar suaminya tidak begitu memikirkan keselamatannya.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya El-Rummi yang melihat Tamara hanya diam seakan merenungi sesuatu.
"A...iya. Aku ingin cepat pulang karena sebentar lagi kita akan buka puasa," ucap Tamara menyembunyikan kegundahannya.
"Baiklah."
El mempercepat laju kendaraannya sambil memperhatikan jalanan yang mulai tampak sepi menjelang magrib.
"Rasanya aku sudah salah telah mengajak istriku keluar rumah di bulan puasa ini," sesal El-Rummi.
Ditempat yang berbeda, mobil Adam di ikuti terus menerus oleh penjahat. Adam melirik Syakira yang nampak menikmati pemandangan di luar sana di mana banyak pedagang musiman menjajakan dagangannya yang masih tersisa.
Sebentar lagi mereka akan memasuki komplek perumahan elite milik Amran. Namun sedari tadi dua mobil penjahat membututi mobilnya. Jika tidak memikirkan kehamilan Syakira, Adam ingin menghajar para penjahat itu.
__ADS_1
"Sayang. Pasang seat belt milikmu. Aku ingin ngebut supaya cepat sampai rumah," ucap Adam memberi alasan.
"Ok." Syakira menuruti permintaan suaminya. Uniknya ketika mobil Adam datang dari arah kiri dan motor El datang dari arah kanan memasuki komplek perumahan elite itu membuat Adam bernafas lega.
Ia membunyikan klakson mobil agar El berhenti di depan gerbang perumahan itu. Adam menepikan mobilnya lalu turun menghampiri El dan Tamara.
"Tamara. Apakah kamu bisa pulang dengan Syakira? Maksudku kamu tolong bawa mobilku dan pulang dengan Syakira. Aku ada urusan dengan El sebentar. Ada yang ingin kami beli," pinta Adam santun.
"Baik kak." Tamara turun secepatnya dan masuk ke mobil Adam.
Walaupun dia tahu kalau dua pria tampan ini ingin menghajar penjahat yang masih membuntuti mereka, namun mengingat Syakira sedang hamil, iapun memilih bungkam.
"Hati-hati sayang. Aku tidak akan lama," ucap El menutup pintu mobil itu dan Tamara meninggalkan El dan Adam yang keluar lagi mencari sang penjahat.
"Mereka mau ke mana?" tanya Syakira pada Tamara yang penasaran dengan kepergian El dan suaminya.
"Itu urusan laki-laki. Sebaiknya kita tidak usah ikut campur," balas Tamara.
"Apakah mereka ingin menghajar penjahat?" tanya Syakira yang juga tahu ada yang tidak beres saat dirinya memperhatikan dua mobil penjahat yang langsung berhenti ketika mobil mereka berhenti.
"Apakah kamu juga tahu?" tanya Tamara.
"Aisss...! Kita ini mengenal kedua pria tampan itu sebagai pengawal pribadi kita bukan? Jadi, urusan menghajar penjahat pasti tidak asing lagi bagiku," timpal Syakira.
"Syukurlah kalau kita berdua sudah tahu apa yang sedang dilakukan oleh suami-suami kita saat ini. Sebaiknya kita berdoa saja agar mereka segera kembali dan bisa buka puasa bersama dengan kita," ucap Tamara sambil menyetir. Sebentar lagi mereka akan tiba di mansion sang mertua.
Jika tadi, para mobil penjahat mengikuti mobil Adam dan motor El, kini gantian Adam dan El mengejar mereka. Jalanan yang cukup sepi itu memudahkan Adam dan El untuk menembaki mobil para penjahat dengan pistol yang memiliki alat peredam suara sehingga tidak menganggu orang lain.
Tidak lama kemudian, saling tembak menembak terjadi di jalanan itu. Adam menembak ban mobil penjahat yang langsung kempes seketika.
Sementara di dalam mobil itu tidak kalah garangnya menembak ke arah Adam dan El-Rummi. Ketika mencapai jalan di pertigaan itu, El sengaja memancing satu mobil lagi yang sedang mengejar mereka sambil menembaki mereka.
Tepat di jalan yang berbetuk leter T, El mengambil jalur yang berlawanan arah dan di ikuti oleh mobil belakang mereka yang langsung di sambut oleh kontainer bermuatan barang logistik menyambar mobil penjahat itu dan menyeretnya sejauh mungkin. El berhenti sesaat melihat mobil naas itu.
__ADS_1
"Selamat bertemu dengan malaikat maut...!" ucap El menyeringai puas.
"Ayo El, kita pulang. Misi sudah selesai," ucap Adam yang tidak ingin meladeni satu mobil penjahat lagi yang tidak lagi mengikuti mereka karena syok melihat mobil naas rekan mereka di tabrak oleh kontainer.