
Panggilan Reno pada Celia yang sedang berjalan cepat menuju parkiran motornya, membuat Celia tidak begitu menggubrisnya. Hati Celia yang sedari tadi sudah terlalu sakit mendengar ocehan Reno yang tidak jelas padanya membuat Celia menumpuk kesabarannya agar tidak meledakkan amarahnya di hadapan Reno karena ia tidak ingin memancing orang lain menyaksikan pertengkaran mereka. Saat sudah lebih dekat dengan Celia yang sibuk memakai jaket dan helmnya, Reno akhirnya bisa bernafas lega.
"Celia. Aku mohon maaf atas sikapku yang sudah memperlakukanmu dengan sangat kasar. Seharusnya aku ....-"
"Aku sudah memaafkanmu, pergilah! Untuk apa meminta maaf padaku? bukankah hobimu memang senang merendahkan orang lain? lagian orang waras sepertiku harus memaklumi orang gila sepertimu. Setahuku, lelaki bertampang sepertimu lebih terlihat cool dan tak mudah tersulut emosi saat melihat barang-barangnya rusak karena itu tidak menjadi masalah baginya.
Karena uang bisa menggantikan apapun namun penghinaan yang kamu berikan hari ini tidak terhapus begitu saja dengan cuma mengucapkan kata maaf.
Belajarlah untuk menghargai orang lain! Jika hanya spionmu saja yang rusak kamu sudah mengamuk seperti orang gila, bagaimana dengan satu rumahmu di bom? cih kelihatan sekali kerenya kamu. Memalukan..!!!" pukas Celia lalu menyalakan stater motornya.
"Tunggu Celia! ini aku kembalikan black card milikmu. Sekali lagi aku minta maaf Celia. Insya Allah, lain kali aku akan menjaga lisanku," ucap Reno penuh sesal.
"Terimakasih banyak!" Celia mengambil black card miliknya dari tangan Reno dan memasukkannya lagi ke dalam tas.
Ia segera menjalankan motornya sambil mengucapkan salam kepada Reno. Pria tampan ini sangat malu pada Celia yang masih bisa tenang menghadapi sikap arogansinya, apa lagi masih sempat mengucapkan salam kepadanya.
Yah, Celia adalah gadis yang berpenampilan sederhana dengan tutur kata yang lembut pada orang yang berlaku baik padanya. Namun tutur kata yang dilontarkannya pada Reno hari ini terdengar tenang namun menusuk sampai ke palung hatinya terdalam.
"Maafkan aku Celia! hari ini aku belajar banyak hal darimu. Ternyata kamu cantik juga saat aku melihatmu di kantor polisi tadi," gumam Reno bermonolog sambil tersenyum. Ia kembali ke mobilnya dan menunda niatnya untuk mengunjungi Amran.
Beberapa hari kemudian, setelah memastikan kandungannya sudah aman untuk beraktivitas, nenek Anisa dan ibu mertuanya Nabilla, nyonya Ambar menjemput Nabilla dari rumah sakit untuk tinggal bersama mereka di rumahnya kakek Abdullah karena tidak ada Amran.
Tidak ada yang berani bersuara membahas kasus Amran di depan Nabilla. Ketiga orang itu begitu takut membuat Nabilla tertekan sementara Nabilla sendiri begitu tenang dan ia yakin bisa membebaskan suaminya dari jeratan hukum.
Sebenarnya, tuan Rusli ingin sekali Nabilla tinggal di rumahnya agar dirinya dan Nabilla bisa membahas banyak hal untuk membantu Amran. Namun hal itu urung dilakukan karena menyadari bahwa Nabilla belum mengetahui sepenuhnya hubungan mereka yang merupakan ayah dan anak ditambah lagi diperkuat tes DNA yang dilakukan diam-diam oleh dokter Mariska kalau Nabilla benar-benar putri kandung suaminya.
Dokter Mariska menyambut gembira Nabilla sebagai putri sambungnya mengingat, dari dulu ia ingin sekali memiliki seorang putri.
"Kakek. Nabilla ingin bertemu dengan mas Amran," pinta Nabilla menjelang mereka makan malam.
"Tapi nak, kondisimu belum memungkinkan kamu harus berkunjung ke kantor polisi," balas nenek Anisa.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, nenek. Aku siap menghadapi ujian ini bersama mas Amran. Suamiku membutuhkan aku. Tolonglah kakek, aku sangat merindukannya," pinta Nabilla sambil memelas.
"Baiklah. Besok kakek yang akan mengantarkanmu bertemu dengan Amran," ucap kakek Abdullah.
"Terimakasih kakek!" Nabilla menyelesaikan makan malamnya dan kini beralih menuju kamarnya dibantu nenek Anisa dan Celia..
...----------------...
Keesokan harinya, Nabilla mengunjungi suaminya yang ditemani kakek dan pengacara Dito. Kakek yang belum tahu kehebatan cucu menantunya ini hanya berpikir polos tentang Nabilla. Jika bisa memilih, Nabilla ingin menemui sendiri suaminya karena ada banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada suaminya tentang kolega suaminya. Namun kehamilannya yang harus ia jaga dan untuk itu dia butuh orang yang juga mengawasinya.
Detik-detik pertemuan antara keduanya sangat menegangkan. Amran menatap wajah istrinya yang hanya matanya Nabilla yang bisa ia tatap penuh kerinduan.
"Nabilla. Kenapa kamu harus ke sini, baby?" tanya Amran yang hanya bisa mencium istrinya dibalik cadar.
"Apakah tidak boleh aku menemui suamiku?" rajuk Nabilla.
"Bukan seperti itu sayang. Kasihan kamu nya yang bawa tiga bayi kita," keluh Amran.
Sensasi membahagiakan yang dirasakan oleh Amran membuat ia mengecup perut besar istrinya." Tolong jaga ummi kalian untuk Daddy," ucap Amran sambil mengusap perut istrinya.
Dan di saat itu, Nabilla menyelipkan kertas ke tangan suaminya. Amran yang mengerti langsung menggenggam kertas itu." Itu adalah nama-nama orang-orang yang terlibat dalam penangkapanmu," jelas Nabilla sambil mencium pipi suaminya.
"Apakah diantara mereka ada yang selalu berinteraksi dengan perusahaan kita?" bisik Amran.
"Minta kakekmu untuk memecat pengacara Dito!" ucap Nabilla membuat Amran menegang karena Dito sedang memperhatikan mereka berdua.
"Baiklah sayang." Amran juga bingung cara memberitahukan kepada kakeknya untuk memecat pengacara Dito.
"Aku pulang dulu, mas," pamit Nabilla.
"Hati-hati sayang. Aku mencintaimu. Apakah aku akan segera bebas?" tanya Amran sudah tidak kuat berada di sel polisi.
__ADS_1
"Insya Allah," ucap Nabilla tanpa ada keterangan selanjutnya.
"Kakek. Nabilla mau ke toilet dulu," ucap Nabilla.
"Baiklah. Kakek tunggu di mobil. Pengacara Dito, pulanglah! sepertinya Amran tidak suka kamu menjadi pengacaranya," ucap kakek Abdullah yang terlihat curiga pada pengacara Dito bagaimana mata Amran menatapnya penuh kebencian.
Apalagi Amran tidak mau curhat tentang apapun pada Dito tentang kasusnya.
Nabilla bukannya ke toilet, ia malah menemui mabes polri bagian kriminal. Setelah memberitahukan maksudnya pada petugas polisi, Nabilla dipersilahkan masuk menemui orang penting di kepolisian itu.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya pak Gavin.
"Bebaskan suami saya yang bernama Mohammad Amran Abdullah!" pinta Nabilla.
"Maaf...! Apakah anda istrinya tuan Amran?" tanya polisi itu memastikan lagi siapa Nabilla bagi Amran.
"Ya, saya isterinya. Saya minta secara baik-baik kepada anda pak Gavin, bebaskan suami saya dan bersihkan nama baiknya atau perselingkuhan anda akan saya umbar di media atau pada istrimu dulu?" ancam Nabilla sambil memperlihatkan dua orang wanita yang menjadi simpanan polisi Gavin dari ponselnya.
"Kamu kira aku takut dengan ancaman bodohmu itu nona?" Gavin menarik sudut bibirnya dan memandang Nabilla dengan tatapan remeh.
"Bagaimana kalau saya katakan kejahatan anda yang lainnya yang memperjualbelikan barang sitaan polisi dari para mafia perdagangan narkoba dan rokok import yang tidak memiliki merk dagang untuk menghindari pembayaran pajak. Padahal rokok itu memiliki kualitas tinggi yang bisa di jual bebas untuk kalangan tertentu. Apakah anda ingin bukti? apakah aku perlu menyebutkan aset-aset lain milik anda dengan kepemilikan fiktif untuk menutupi kejahatan anda," ucap Nabilla membuat wajah polisi itu pucat dan ketakutan.
"Sial...! siapa kamu sebenarnya, hah?" bentak Gavin untuk menutupi ketegangannya.
"Akulah kematianmu. Jangan coba-coba menghubungi siapapun untuk kamu minta tolong karena aku sudah menyadap jaringan komunikasimu. Begitu pula dengan gerak gerikmu karena anda ada dalam pengawasanku!" Ancam Nabilla.
"Sekalinya bapak bertindak secara gegabah, maka informasi lembaran hitam milikmu akan aku bongkar satu persatu. Bagaimana? mau bebaskan suamiku atau menahannya lebih lama di sini?" lanjut Nabilla dengan ancamannya yang tidak main-main.
.......
Mohon Vote dan like nya, cinta.
__ADS_1