
Tidak puas hanya menebak saja, Tamara mendatangi ruang kerja ayahnya untuk menanyakan tentang siapa El-Rummi pada ayahnya.
Gadis ini memiliki trik sendiri untuk bisa memancing ayahnya bicara. Pintu itu diketuk beberapa kali hingga terdengar suara bariton ayahnya dari dalam menyuruhnya masuk.
"Ayah. Apakah aku boleh menganggu ayah?" tanya Tamara saat berdiri di depan pintu.
"Sini sayang! Apakah ada yang kamu butuhkan dari ayah?" tanya raja Farouk sambil menutup laptopnya.
"Ayah. Kemarin sore sempat terjadi baku tembak antara El dan para penjahatnya yang ingin menghalangi mobil kami untuk mencapai istana," ucap Tamara membuat raja Farouk tersentak.
"Apa ..? Ada penjahat yang berani menganggu kalian? Bagaimana bisa El begitu ceroboh melindungi kamu? Sehingga bisa ketahuan oleh penjahat?" tanya raja Farouk risau.
"Mungkin dia bagian dari penjahat itu ayah," ucap Tamara sengaja memancing ayahnya.
"Tidak mungkin sayang. Dia adalah salah satu agen rahasia FBI yang ayah sengaja memintanya untuk menjadi pengawal rahasiamu," ucap Raja Farouk membuat Tamara terhenyak.
"Jadi, dia agen rahasia FBI dan pura-pura menjadi temanku? Kenapa ayah tidak mengatakannya dari awal?" omel Tamara segera beranjak dari ruang kerja ayahnya karena merasa dibohongi oleh semua orang termasuk El.
"Tamara..! Dengar dulu penjelasan ayah!" pinta raja Farouk yang sudah keceplosan ngomong tentang indentitas El-Rummi pada putrinya.
Tamara sudah terlanjur kecewa. Ia merasa El bukan teman yang baik apalagi menjadi calon suami karena berani membohonginya. Setiba di kamarnya, Tamara membenamkan wajahnya di atas bantal. Meraung sendiri di kamarnya sambil memukul-mukul bantalnya.
"Kamu jahat. Aku tidak mau lagi menganggap kamu ada," teriak Tamara dalam bantalnya.
Drettttttt....
Ponsel Tamara berdering. Tamara enggan untuk mengangkatnya karena sibuk mengemas air mata dipipinya. Ponsel itu kembali berdering. Kali ini untuk ketiga kalinya deringan ponselnya itu membuat Tamara harus mengangkatnya. Tapi, melihat nama El yang tertera di layar ponselnya, Tamara malah mendiamkannya. Ia tidak ingin menerima panggilan itu. Namun El tidak berkecil hati, ia justru mengirim pesan untuk Tamara.
"Jika telepon dariku tidak kamu angkat, mana mungkin Kamu menghapus pesan dariku? Pasti kamu akan membacanya," ujar El menarik sudut bibirnya.
__ADS_1
"Aku minta maaf kalau aku salah padamu. Aku ingin berkata jujur padamu. Bolehkah aku menghubungi kamu, Tamara? ada yang ingin aku sampaikan kepadamu," tulis El-Rummi.
"Sudah telat. Keburu basi. Aku sudah tidak butuh," gumam Tamara langsung menghapus pesan El dan tidak ingin membalasnya.
"Apakah kamu tidak ingin menenuiku untuk terakhir kalinya? Aku siap mengundurkan diri dan kembali ke negaraku karena kedua orangtuaku meminta aku pulang ke Indonesia karena sebentar lagi mau puasa ramadhan," tulis El.
Untuk pesan kedua dari El, Tamara tidak mau membacanya. Dan sialnya lagi gadis itu malah menghapus pesan penting itu.
"Aku tidak akan memaafkanmu, El. Pantas saja kamu tidak berani menyatakan cintamu padaku karena kamu hanya bertugas sebagai pengawal rahasia untukku bukan sebagai mahasiswa.
Aduh..! Kenapa aku mudah sekali tertipu oleh sikap baiknya. Sudahlah. Dia memang tidak menyukaiku. Jadi, untuk apa aku harus berusaha mendapatkan cintanya. Indonesia kurang apa untuk mendapatkan seorang wanita cantik," pasrah Tamara.
...----------------...
Sementara di Jakarta, Nabilla dan Amran sibuk mempersiapkan belanja untuk stok bulan ramadhan yang akan mereka bagikan untuk orang-orang yang hendak berbuka puasa.
"Sayang. Kamu sedang hamil, jadi kamu tidak usah puasa ya! apa lagi kamu hamil kembar 3. Aku kuatir anak-anak kita kelaparan kalau kamu ikutan puasa," nasehat Adam pada Syakira yang sedang memilih beberapa mukena di konter baju muslim.
"Kata mommy, beliau tetap puasa saat mengandung kalian bertiga," bantah Syakira.
"Kalau mommy memang sudah terlatih dari kecil menjalani puasa ramadhan. Tidak dengan kamu yang baru mau merasakan ibadah saum Ramadhan itu dalam keadaan hamil lagi," ucap Adam.
"Tolong kasih aku kesempatan untuk memulainya. Jika aku kalah, aku akan buka puasa," ucap Syakira.
"Ya Allah Syakira. Aku benar-benar kagum pada kamu sayang. Semoga kamu mendapatkan banyak berkah di bulan Ramadhan nanti," ucap Adam begitu bahagia melihat semangat istrinya.
"Tapi, apakah kita tidak bisa bercinta disiang hari?" tanya Syakira yang memiliki libido tinggi untuk urusan ranjang.
"Tidak bisa sayang. Itu yang akan membatalkan puasa selain makan dan minum. Jadi tunggu saat habis buka puasa hingga menjelang imsak," jelas Adam.
__ADS_1
"Sepertinya semua yang enak dan nikmat benar-benar diharamkan saat menjalani ibadah puasa. Pantas pahalanya sangat besar kelipatannya karena ujiannya cukup berat dan sangsinya juga tak kalah menakutkan," sahut Syakira yang sudah banyak tahu tentang puasa ramadhan dari ibu mertuanya, Nabilla.
Di kampus, Tamara masih melanjutkan aktivitasnya sebagai mahasiswa pasca sarjana. Karena sebentar lagi mau masuk puasa ramadhan, kampus mereka akan libur selama sebulan penuh. Sudah beberapa hari ini, Tamara tidak lagi melihat El-Rummi.
"Jelas saja dia sudah tidak kuliah lagi, bukankah dia hanya mahasiswa palsu?" gerutu Tamara.
Walaupun bibirnya merutuki El, namun tidak dengan hatinya yang sangat merindukan pria tampan itu. Iapun menahan dirinya untuk tidak bertanya pada siapapun karena gengsinya.
Usai menghadiri mata kuliah terakhirnya itu, Tamara keluar dari kelasnya dan langsung di sambut oleh kedua bodyguardnya. Rupanya diam-diam El mengikuti gadis itu untuk pamit kepada Tamara secara langsung.
"Assalamualaikum princess Tamara!" sapa El terlihat formal.
Tamara menghentikan langkahnya dan meminta bodyguard untuk memberikan mereka waktu.
"Waalaikumuslam." Tamara berjalan menuju tempat yang cukup teduh untuk bisa ngobrol dengan El-Rummi.
"Aku minta maaf karena merahasiakan identitasku. Aku juga mau pamit karena tugasku sudah usai mengawalmu," ucap El yang sebenarnya belum tuntas tugas itu karena belum menemukan pelaku sebenarnya.
"Baiklah. Terimakasih. Hati-hati ..! semoga selamat sampai tujuan!" ucap Tamara datar.
"Ok. Kalau begitu aku pamit mau langsung ke bandara," ucap El yang hanya diangguki oleh Tamara.
Tamara melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan El yang hanya menatap mobil gadis itu meninggalkan dirinya.
"Mengapa dia menjadi dingin padaku? Apakah aku begitu mengecewakannya?" El hanya bisa menarik nafas dalam.
Ia menaiki kendaraannya dan meninggalkan kampus itu langsung menuju bandara di mana pesawat jet pribadi ayahnya sudah datang menjemputnya dengan mobil yang ia bawa saat ini untuk kembali ke Indonesia.
Tanpa El duga, mobil yang di naiki Tamara sudah dipasang bom oleh penjahat dibagian bawah mobilnya saat kedua bodyguardnya menjemput gadis itu di kelasnya dan sang sopir ijin ke toilet.
__ADS_1