
Wira menyikut pinggang Reno agar perhatian Reno teralihkan ke adik mereka Nadin yang saat itu sedang berada dalam pelukan Arland. Melihat pemandangan tak biasa itu membuat Reno naik pitam. Reno segera menghampiri keduanya dan menarik tangan adiknya yang sedang memeluk Nadin.
"Apa-apaan kalian? jaga jarak kalian karena kalian bukan muhrim!" ketus Reno.
Arland gugup tak tahu harus mengucapkan apa. Nadin menatapnya dengan penuh permohonan agar Arland segera menyampaikan niatnya.
"Arland. Please! apply me now! or we will forever harbor feelings( Arland ku mohon lamar aku sekarang! atau kita akan terus memendam perasaan)" lirih Nadin.
Arland menjatuhkan tubuhnya sambil berlutut! Reno, Wira! ijinkan aku menikahi Nadin..!" pinta Arland gugup.
"Apaaa...? kamu kira aku akan menerima kamu menjadi adik iparku, sorry! kau terlalu tua untuk adikku" Sangkal Reno.
"Yang menikah denganku adalah Nadin. Dia yang akan menua bersamaku bukan kalian," protes Arland.
"Cih..! sok romantis. Menua bersama. Jijik aku," ucap Reno.
"Jangan harap aku akan merestui hubungan kalian. Ayo kita pulang Nadin!" ucap Reno sambil menarik tangan Nadin.
"Tunggu Reno!" cegah Amran.
"Ada apa Amran?" tanya Reno.
"Jika kamu menolak untuk menikahkan adikmu Nadin dengan Arland maka lupakan saja niatmu untuk menikahi adikku Celia karena Celia lebih pantas menjadi cucumu," sergah Amran.
"Berengsek loe! emang aku setua itu apa? bukankah usia kita sama, hah?"
"Kenapa kamu menolak Arland menikahi Nadin karena usia? apakah kamu juga ingin aku memberikan alasan yang sama?" balas Amran.
"Jadi gara-gara bajingan ini kamu ingin menolakku, Amran ?"
"Orang yang kau sebut Bajingan itu punya nama. Dia adalah saudaraku. Jika kamu menyentuh dan menghinanya, aku juga tidak segan melakukan itu padaku!" ancam Amran.
"Alhamdullilah. Akhirnya aku punya bos yang berguna juga untukku. Tidak sia-sia aku setia padanya. Ayo, bos terus tekan si Reno! aku mendukungmu!" sorak Arland dalam hati melihat pertengkaran dua sahabatnya ini.
__ADS_1
Kakek Abdullah akhirnya menengahi Reno dan Amran." Ada apa ini? sekarang malah kalian yang bertengkar? tidak cukup kalian buat kakek pusing?" bentak kakek Abdullah.
"Reno dan Wira menolak lamaran Arland untuk menikahi adiknya Nadin," ucap Amran.
"Benar begitu Reno, Wira?" tanya kakek Abdullah.
"Iya kakek. Itu karena Arland tidak pantas untuk adikku," ujar Reno.
"Apakah karena Arland hanya asisten cucuku Amran dan tidak memiliki perusahaan sama seperti kalian? apakah kalian takut adikmu hidup melarat hingga menghalanginya untuk menikahi adikmu?" sarkas kakek Abdullah langsung pada intinya membuat Reno dan Wira terhenyak.
"Bukan begitu kakek. Arland terlalu tua untuk adikku," ucap Reno.
"Kalau begitu, kalian pulang saja. Aku juga tidak mau menikahi cucuku Celia karena Celia lebih pantas jadi cucumu," tolak kakek Abdullah membuat Reno kalang kabut.
"Kenapa kakek dan cucu sama saja ucapannya?" gerutu Reno kesal.
"Emang kamu lupa kalau kami ini satu cetakan? makanya kalau mau masuk keluarga ini siap tuh kuping karena setiap saat ada ledakan maha dahsyat," ledek Amran.
"Masih mau menolak lamaran Arland atau gimana?" tanya kakek lagi.
"Ok. Minggu depan keluarga kakek akan datang melamar secara resmi adikmu, Nadin. Dan Minggu berikutnya, kamu bawa keluargamu melamar cucuku Celia!" pinta kakek Abdullah pada Reno dan Wira.
"Kakek." Panggil Wira.
"Kalau tidak keberatan, aku juga ingin melamar cucu kakek yang satunya lagi," ucap Wira sambil melirik Lira dan Lea Devan begitu takut kalau Wira akan menyebutkan nama Lea. Karena ia sudah mengincar gadis imut itu sejak adegan melo tadi. Sementara baik Lira, Lea, Celia dan Nabilla saling menatap satu sama lain.
"Siapa yang kak Wira mau diantara kalian berdua?" tanya Celia pada kedua adiknya.
"Emang siapa dia kak Celia?" tanya Lira bingung.
"Sahabat akrab kak Amran," jawab Celia.
"Siapa Wira...?" tanya kakek Abdullah.
__ADS_1
"Lira kakek," sahut Wira.
Duaaarrr....
Lira hampir tersedak liurnya sendiri. Ia tidak menyangka namanya disebut oleh Wira. Pasalnya ia sendiri sudah punya kekasih.
Kakek melihat ke arah Lira. Jantung Lira makin berdebar tak karuan. Apa yang harus ia jawab dengan pria yang belum ia kenal dan berani sekali melamarnya.
"Lira. Bagaimana sayang? apakah kamu mau dengan Wira, duda beranak satu ini?" tanya kakek.
"Apa? dia seorang duda...? astaga..! mimpi apa aku semalam," batin Lira mendadak panik.
"Maaf kakek. Lira sudah punya pacar," ucap Lira yang memiliki kekasih tinggal di luar negeri sedang menempuh pendidikan hukum.
"Wira. Kamu dengar sendiri kalau cucuku Lira sudah memiliki kekasih. Maaf. Untuk urusan hati, kakek tidak bisa membantumu," ucap kakek bijak membuat Wira sangat kecewa.
Devan yang tadi berniat ingin mendekati Lea, akhirnya mengurungkan niatnya karena takut jawaban gadis itu sama dengan kakaknya Lira yang sudah punya kekasih. Usia Lira 19 tahun dan usia Lea 18 tahun.
Merasa sudah tidak ada pembicaraan lagi, keluarga itu pulang ke rumah mereka masing-masing. Dalam sekejap rumah itu tampak sepi. Lira dan Lea di minta kakek untuk menginap. Keduanya dengan senang hati menginap.
Celia dan Nabilla begitu girang dapat saudara baru. Nenek Ambar meminta pelayannya untuk merapikan kamar yang bersebelahan dengan kamar Celia. Keduanya tidak di tempatkan di kamar tamu karena mereka adalah keluarga inti.
Sementara itu, Nabilla dan Amran kembali ke kamar mereka untuk melihat sang bayi yang di jaga oleh Baby sitter mereka. Dua orang baby sitter itu meninggalkan kamar bayinya dan kembali ke tempat mereka. Amran menggendong Adam dan nyonya Ambar menggendong bunga. Nabilla yang lebih dulu mengambil cinta untuk disusuinya terlebih dahulu.
Di kediaman Tuan Recky telah terjadi perang mulut antara tuan Recky dan Arumi. Wajah ibu dua anak ini sudah tidak lagi lembut seperti biasanya. Di dalam kamar itu sudah ramai dengan barang-barang yang hancur berantakan tak karuan.
"Jadi selama ini kamu bertahan hidup denganku hanya untuk menunggu harta Karun keluargaku?" tanya tuan Recky.
"Iya. Karena aku sudah muak hidup dalam keterbatasan karena kamu terlalu jujur menjadi hakim yang tidak mau menerima suap dari para mafia, pejabat dan konglomerat itu," pukas Arumi.
"Untuk apa aku mengorbankan integritas ku sebagai mahkamah agung yang bekerja dibawah sumpah bukan hanya pada negara ini, tapi juga kepada Allah," teriak Recky yang tidak ingin menodai jabatannya dengan duniawi.
"Baik. Kamu terlalu ideal untuk negara mu. Tapi aku juga wanita yang ingin memiliki segalanya. Bahkan kau hanya mengajak aku dan anak-anak berlibur di negara tetangga tidak pernah ke Eropa maupun Amerika karena uangmu tidak mampu memuaskan aku. Kalau hidupku terus berada di bawah sumpahmu itu, ayo kita bercerai saja!" ancam Arumi.
__ADS_1
"Setuju sekali Arumi. Aku akan mengabulkan permintaanmu dalam waktu dekat ini. Aku sudah tertipu dengan wajah polos dan ucapan lembut yang selalu kau tebarkan selama ini menjadi istri ideal. Dengan melepaskan diriku darimu, aku bisa kembali kepada cintaku Cut Sarah Ummu Ambarwati," desis tuan Recky membuat Arumi tercengang dengan mulut terbuka
"Hahhh...?"