
Malam itu, keadaan di luar mercusuar terjadi badai laut. Hujan deras makin menambah kondisi alam yang terasa mencekam. Keadaan itu tidak membuat kedelapan cucunya Amran dan Nabilla itu bergidik. Mereka malah berdoa untuk keselamatan bumi ditengah derasnya hujan.
Bagi mereka hujan adalah berkah dan doa ditengah hujan deras adalah salah satu waktu mustajabnya doa yang langsung diterima Allah. Itu yang selalu ditekankan oleh kedua orangtua mereka.
Selain ilmu pengetahuan umum yang mereka kenyam, tidak lupa orangytua selalu membimbing ilmu agama yang tidak cukup untuk sekedar mengetahuinya saja. Karena tanpa mengamalkan ilmu agama, terkesan hanya sebagai ilmu untuk menambah wawasan semata karena tidak membawa seseorang ke surganya Allah.
Usai memanjatkan doa, mereka kembali melanjutkan menonton. Banyak makanan dan minuman yang terhampar di hadapan mereka yang segera mereka eksekusi. Tinggal setengah jam lagi film itu selesai.
Karena merasa penasaran dengan kondisi alam di luar sana, Raffi yang berada di paling pinggir dekat dengan jendela, iseng membuka tirai jendela untuk mengintip keadaan di luar sana.
Sekilas ia begitu kaget ada dua speed boat berada di tengah laut sedang mengangkut beberapa peti yang entah apa isinya. Raffi bergumam pada saudaranya seraya menutup tirai.
"Matikan lampunya!" seru Raffi.
"Ada apa Raffi?" tanya Hanan.
"Matikan lampunya dulu! Setelah itu kalian baru bisa melihat aktifitas di laut sana," sahut Raffi.
Hanin segera mematikan lampu. Mereka segera mengambil masing-masing teropong untuk melihat apa yang terjadi di laut sana.
"Kenapa mereka mengangkut peti di tengah gelombang tinggi? Apa yang sedang mereka sembunyikan? Mencurigakan," gumam Raffa.
"Jangan-jangan, peti itu berisi barang haram. Mereka pasti menyimpan barang itu di pulau ini. Kita harus menyelidikinya..!" ajak Ghazali yang tidak takut apapun.
"Aiss kau ini. Kita ini sedang menikmati liburan. Kenapa kamu malah mengajak petualangan?" kesal Audrey.
"Jangan bilang kamu penakut kak Audrey karena ketiga ibu kita adalah agen rahasia," kesal Ghaida.
"Astaga bocah...! Sok sekali kalian. Walaupun kalian punya kekuatan tapi berurusan dengan orang dewasa itu sangat rumit," timpal Dinar.
"Sudah. Jangan berisik. Benar kata Ghazali. Kita harus menyelidiki mereka. Lagi pula ini pulaunya opa Luciano. Mereka tidak berhak menyembunyikan hasil kejahatannya mereka di pulau ini karena bisa jadi mereka akan memfitnah opa Luciano,"ucap Hanin.
"Baiklah. Besok kita akan ke sana. Siapkan semua bawaan kalian untuk dibawa ke sana!" ucap Raffi.
"Baiklah. Lebih baik kita tidur. Sepertinya mereka sudah selesai menurunkan barang mereka di tempat itu dan kembali ke tempat mereka," ucap Raffa yang melihat dua speed boat itu bergerak menjauh dari pulau mereka tempati.
"Apakah di sini ada gua atau pondok kecil untuk mereka bisa bernaung?" tanya Dinar.
__ADS_1
"Kita lihat saja besok! Tidak usah menerka sesuatu yang belum jelas hanya bikin kepala kita pusing," ucap Raffa.
"Aku tidak sabar menunggu besok. Tapi, apakah kita punya pistol untuk menyelidiki mereka?" tanya Ghazali.
"Anak kecil dilarang main pistol benaran!" tekan Hanan.
"he...he...he. Aku cuma becanda kak," ucap Ghaida cengengesan.
Yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala dengan ucapan dua bocah yang begitu semangat menumpas kejahatan.
"Ingat. Jangan ada yang bertindak dibawah perintahku atau liburan kita ini bubar?!" ingat Raffi.
"Baik bos. Kami tidak akan melanggar perintah anda, bos," ucap Ghazali.
"Bagus. Sekarang kita harus tidur. Badai masih bergejolak di luar sana. Jangan ada yang bertindak sendiri jika terjadi sesuatu. Kalian paham?!" ingat Raffi sekali lagi pada saudara sepupunya.
"Ok."
Mereka bergantian menggosok gigi dan berwudhu. Setelah itu masuk ke selimut mereka masing-masing.
Semuanya kompak baca doa tidur lalu tidur. Dua bocah tidur di tengah diapit oleh sepupunya yang lain. Tidak lama sudah terdengar dengkuran halus mereka di tengah malam itu.
Pagi cerah. Anak-anak sudah bersiap untuk melakukan penyelidikan di tempat yang semalam mereka lihat. Masing-masing membawa perbekalan mereka masing-masing. Mereka memutuskan untuk sarapan di atas speed boat sambil menikmati pemandangan di sekitarnya.
"Jangan lupa peralatan yang dibutuhkan saat kita nanti melakukan penyelidikan...!" ucap Raffi mengingatkan lagi pada saudaranya yang lain.
"Tidak ada yang tertinggal. Semuanya sudah dimasukkan ke dalam ransel," ucap Hanan.
"Baik. Kita berangkat sekarang!" ucap mereka seraya masuk ke dalam lift.
Beruntunglah, mercusuar itu sudah di renovasi oleh tuan Luciano. Di dalamnya sudah di buat seperti penginapan kecil yang dilengkapi dengan lift agar mudah naik ke atas puncak menara mercusuar.
Tiba di atas pelabuhan kecil, mereka masuk ke speed boat sambil mengatur posisi duduk karena mereka ingin sarapan bersama di atas perahu. Yang mengemudikan speed boat adalah Hanin. Yang lain menikmati sarapan.
"Kira-kira, di sebelah mana para penjahat itu menurunkan barang mereka?" tanya Hanin.
"Entah. Semalam agak gelap jadi tidak terlihat jelas tempat mereka menurunkan banyak peti," ucap Raffi.
__ADS_1
"Sebaiknya kita berkeliling dulu supaya tidak dicurigai oleh penjahat yang mungkin saat ini sedang mengintip aktivitas kita," ujar Audrey.
"Iya benar katamu," ucap Raffi.
Mereka terus melewati beberapa tempat yang ada di pulau itu namun tidak ditemukan tempat seperti rumah, gudang atau gua untuk menyembunyikan barang haram milik penjahat itu.
"Kira-kira isinya apa ya, peti-peti itu?" tanya Dinar penasaran.
"Mungkin saja senjata atau narkoba. Perdagangan yang di lakukan oleh mafia yang cepat laku hanya dua jenis barang itu," ucap Ghazali dengan sok tahunya.
Mereka tidak tahu saja, opa Amran juga merupakan mafia penjual senjata dan permata untuk menolong orang-orang susah.
"Bagaimana ini? Kita sudah berkeliling satu jam lebih tapi tidak melihat tanda-tanda aktivitas di sini selain terlihat menyeramkan," ucap Audrey dengan tubuh meremang.
"Kamu nggak cocok jadi agen CIA kalau mental penakut seperti itu,"semprot Hanan.
"Sebaiknya kita berkunjung satu persatu tempat itu. Kalau hanya melewati saja, kita tidak bisa temukan tempat persembunyian mereka," ucap Dinar.
"Kenapa kita tidak gunakan drone saja untuk melihat keadaan di pesisir pulau ini?" ucap Ghaida memberikan ide cemerlangnya.
"Hebat putrinya tuan Ghaishan. Ayo keluarkan drone milik kita!" titah Raffi pada adiknya Raffa.
Drone yang mereka bawa adalah hasil rancangan Ghaishan yang bisa melacak sesuatu yang tersembunyi di balik semak, air, tebing sekalipun bisa terlacak dengan alat sonar yang mampu membaca gerakan manusia atau alat-alat yang tersimpan di balik bukit.
Drone di terbangkan oleh Raffi. Mereka membuka laptop untuk melihat hasil rekaman video dari drone yang mereka terbangkan.
"Kenapa di balik bukit ini ada danau?" tanya Ghazali karena di peta pulaunya tidak tertulis ada danau.
"Apakah di bawah danau itu ada aktivitas penjahat?" tanya Hanin yang sudah bergantian dengan Hanan memegang stir speed boat.
"Bagaimana ceritanya di balik danau ada aktivitas penjahat?" ragu Dinar.
"Sekarang jaman sudah canggih. Mungkin saja mereka sedang membangun menara pemancar satelit di sini dengan membuat danau di atasnya," ucap Ghazali dengan asumsinya yang cukup masuk akal.
"Nggak rugi jalan sama kamu Ghazali. Kamu bisa mengetahui segala sesuatu yang memungkinkan ada aktivitas ilegal di pulau ini," puji Raffi.
"Makanya jangan meragukan usia kami kalau otak kami lebih canggih daripada orang dewasa," angkuh Ghazali.
__ADS_1
"Sombongnya opa Amran sudah menular di cucunya ini," sinis Dinar yang kenal betul opa Amran.