Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
211. Musuh Lama


__ADS_3

Nabilla yang sudah menyelidiki kasus pembunuhan Hanadiah di mana gadis itu di lemparkan di jalanan setelah mereka menusuknya kini sudah menemukan siapa pemilik mobil itu.


Bukan hanya itu saja, ponsel gadis itu yang menjadi penunjuk penting di mana merekam jejak tempat mana saja yang sudah ia datangi.


Hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari keberadaan suaminya yang saat itu ditahan di kantor polisi dan dilepaskan begitu saja karena mempunyai alibi di mana dirinya berada di tempat kasino saat penusukan istrinya itu terjadi.


Ketiga bidadarinya Amran ini sudah berganti busana mereka dengan penyamaran yang begitu sempurna. Sebenarnya suami-suami mereka keberatan dengan penampilan mereka karena mereka harus masuk ke tempat kasino dengan suami mereka masing-masing.


Sementara El dan Ghaishan mengikuti pergerakan ketiga pasangan di dalam sana yang menyamar agar bisa mengunjungi tempat kasino bukan sebagai pemain judi tapi ingin mencari tahu keberadaan Lucky, suami dari almarhum Hanadia.


Di dalam kasino itu, ketiga bidadari itu mengenakan topi dengan menutup wajah mereka dengan cadar berbahan jaring yang sangat tipis yang masih bisa terlihat wajah mereka yang samar.


Mereka duduk di meja bar sambil memperhatikan beberapa orang yang sedang main kasino tentunya semuanya memiliki uang yang sangat banyak untuk bisa bertarung di arena judi tersebut.


Tidak lama masuklah seorang pria dengan digandeng dua orang wanita cantik dengan baju yang setengah terbuka hingga menampakkan sebagian aset mereka yang menggiurkan mata kaum adam.


"Target sudah ditemukan...! tapi, jangan buru-buru menyergapnya karena dia mau bermain judi!" titah Nabilla.


"Dilihat dari gelagatnya, dia bukanlah seorang penjudi yang hebat. Dia hanya ingin menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang," ucap Bunga.


"Sepertinya begitu. Kita harus tahu motifnya kenapa Hanadia bisa mati terbunuh. Setelah itu kita baru eksekusi dia!" titah Nabilla kepada kedua putrinya.


"Pasti dia punya orang yang berpengaruh di tempat Kasino ini. Tidak mungkin dia bisa bermain judi dengan taruhan uang yang tidak sedikit jumlahnya," ucap Cintami.


"Itu sudah pasti sayang. Tapi lihatlah...! Dia saat ini sedang menahan amarahnya karena kalah bertarung!" ucap Arsen.


"Terus. Apa yang harus kita lakukan untuk menangkapnya?" tanya Cintami.


"Sebentar lagi dia akan keluar. Kami akan keluar duluan. Aku akan mendekatinya," ucap Bunga.


"Sayang. Apakah kamu ingin merayunya?" tanya Daffa panik melihat gelagat istrinya yang ingin bersandiwara di depan Lucky


"Yang jelas aku ingin membunuhnya..! Aku minta ijin suamiku...!" ucap Nada berjalan lebih dulu ketika Lucky hendak bergerak untuk beranjak keluar dari tempat duduknya.


"UPS ..! sorry...!" ucap Bunga sambil membawa gelas wine yang tidak diminum sama mereka. Tapi untuk action semata.


"Hei ..ja...-" umpat Lucky terhenti saat melihat wajah Bunga yang sangat cantik menatap wajahnya dengan setengah memelas.


"Maafkan saya tuan karena sudah membuat jas anda basah," ucap Bunga pura-pura mengibas tumpahan wine di jas mahal milik Lucky yang sengaja di lakukannya.


"Sudahlah. Ini tidak apa...! Apakah nona tidak apa-apa?" tanya Lucky mulai menggoda Bunga yang tidak ingin di sentuh oleh Lucky.


"Saya tidak ingin di sentuh di tempat umum tuan! Walaupun saya ini baru berkunjung di tempat ini, tapi saya wanita baik-baik," ucap Bunga mulai mengeluarkan bisanya.

__ADS_1


"Oh sorry! Aku pikir kau bagian dari kedua wanita cantik ini," ucap Lucky yang pura-pura menyesal.


"Setiap wanita memang harus menjaga kecantikannya. Tapi, kalau cantik itu kelihatannya murahan, sepertinya nilainya sudah mulai berkurang," ucap Bunga membuat dua wanita yang menggandeng lengan Lucky sontak ingin menghajar Bunga yang telah merendahkan pekerjaan mereka.


"Hei... brengsek...! Kau bilang apa barusan?" tanya perempuan itu yang hendak menampar Bunga namun dicegah oleh Lucky.


"Murahan...! Tapi aku sedang tidak menyindir kalian kok. Aku hanya menjaga diriku dari jangkauan tangan pria iseng yang menganggap wanita itu sama murahnya di mata pria," balas Bunga.


"Tapi kau...!"


"Sudah hentikan! Berhenti mengikuti ku. Aku ingin bersama dengan wanita ini. Pergilah dari hadapanku!" usir Lucky pada kedua wanita tadi yang telah mendampinginya masuk ke Kasino.


"Dasar wanita sialan..!" maki kedua wanitanya lucky.


"Mau aku antar pulang, nona?" tawar Lucky.


"Tentu saja, asalkan aku tidak menyusahkan anda, tuan," ucap Bunga semanis mungkin membuat Daffa ingin menghancurkan wajah Lucky kalau tidak ingat misi mereka menggali informasi tentang kematian Hanadiah.


"Sepertinya wanita ini bisa aku jual kepada bos besar menggantikan perempuan kampung yang telah menghancurkan rencanaku," batin Lucky yang memaki istrinya Hanadiah.


Lucky berjalan berdampingan bersama dengan Bunga menuju tempat parkir mobilnya.


"Ayo. Kita ikuti mereka!" titah Nabilla yang sudah tidak sabar lagi ingin membasmi para penjahat.


"Yang penting kamu harus tetap hati-hati karena kamu sudah menjadi seorang Oma sekarang," ucap Amran ketika mereka sudah berada di dalam mobil siap mengikuti mobilnya Lucky yang membawa Bunga pergi entah ke mana.


"Kita mau ke mana, tuan?" tanya Bunga pura-pura polos.


"Nanti kamu akan segera tahu nona," sahut Lucky dengan niat jahatnya.


"Tapi, kamu tidak akan macam-macam denganku-kan?" Bunga pura-pura takut.


"Cih... Dasar perempuan yang membosankan...! Cantik sih ...! Tapi, dia harus menjadi ladang emasku walaupun wanita ini bisa aku tiduri terlebih dahulu sebelum dilemparkan kepada bos besar. Tidak seperti Hanadiah yang tidak ingin aku sentuh demi mendapatkan uang yang banyak.


Tapi, sepertinya dia sudah tidak perawan. Tapi kelihatannya tetap terhormat jika dilihat dari penampilannya serba tertutup dengan mantel tebalnya itu," batin Lucky penuh kelicikan.


"Ngomong-ngomong, siapa namamu, cantik?" tanya Lucky.


"Barbie," jawab Bunga asal.


"Namamu cocok dengan wajahmu yang sangat cantik!" puji Lucky.


Mobil mewah Lucky memasuki sebuah apartemen mewah. Bunga melihat apartemen itu sekilas di mana mobil langsung naik ke lantai yang di tuju.

__ADS_1


"Apakah kamu tinggal di sini?" tanya Bunga.


"Tidak. Tapi, aku ingin bertemu dengan temanku sebentar. Nanti kita balik ke apartemen milikku," ucap Lucky begitu mobilnya sudah berhenti. Ia segera mengirim pesan ke bos besarnya.


"Bos. Aku bawa bareng bagus untukmu, bos. Kali ini tidak akan membuat anda kecewa lagi," tulis Lucky.


"Jangan sampai kamu bawa polisi yang yang pura-pura menjadi wanita idiot," balas bos besar itu.


"Ayo kita turun dulu untuk menemui temanku dulu!" pinta Lucky membukakan pintu untuk Bunga.


"Baiklah." Bunga berjalan di sebelah Lucky dengan sikap waspada.


Sementara rombongan yang lain sudah siap di tempat mereka masing-masing untuk menyerang penjahat dengan pistol siap di tangan mereka.


Bel pintu di tekan oleh Lucky. Tidak lama kemudian, pintu dibuka oleh anak buahnya si bos besar. Saat melihat keadaan di sekitarnya di mana banyak anak buah sang bos besar berjaga di setiap ruangan itu.


"Selamat malam bos!" sapa Lucky pada bos besar itu. Bos besar itu membalikkan tubuhnya yang sedang menerima telepon dari seseorang membuat Bunga seketika terhenyak.


"Alinskie...!" gumam Bunga yang langsung membalikkan tubuhnya dengan perasaan gugup.


Pasalnya Alinskie adalah adik iparnya sendiri dan itu berarti dia adalah adik kandungnya Daffa.


"Ya Allah. Ujian apa ini? Mengapa pria ini bisa bebas begitu saja? Bukankah seharusnya dia berada di penjara di negara Turki sana?" batin Bunga.


Belum saja dia berpikir, tiba-tiba, Luky menarik lengannya lalu mendorong dengan cepat ke tubuh Alinskie. Sebelum tubuh Bunga membentur dada tuan Alinskie, namun Bunga dengan sigap mengeluarkan pistolnya dan langsung mengarahkan pistolnya itu ke dada Alinskie.


"Apa kabar tuan Alinskie..!" tanya Bunga membuat mata Alinskie melebar.


"Kau....!"


"Senang kita bisa berjumpa lagi di sini? Ternyata penjara tidak cukup membuat kamu jera," ucap Bunga.


"Kenapa kamu membawa wanita ini, Lucky?!" bentak Alinskie dengan dada naik turun karena bertemu lagi dengan musuh lamanya.


"Emang dia siapa bos?" tanya Lucky tidak mengerti.


Dia adalah agen rahasia FBI, Lucky..!" bentak Alinskie membuat semua anak buahnya Alinskie mengarahkan senjata mereka ke Bunga.


"Kalian mau menembak aku? Atau aku yang lebih dulu menembak bos kalian ini?!" ancam Bunga seraya mendorong tubuh Alinskie hingga mentok ke dinding.


Bersambung..!


......................

__ADS_1


Mohon tonton iklannya ya say!


__ADS_2