
Amran masih menunggu jawaban dari istrinya yang masih berkutat dengan laptop miliknya. Tanpa ingin menjelaskan kepada suaminya terlebih dahulu, justru Nabilla langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Devan.
Devan menjawab panggilan dari Nabilla." Iya mbak? ada apa?" tanya Devan.
"Selamatkan Lea sekarang juga! karena Lea tetap meminum campuran obat itu didalam minumannya. Bawa dia ke rumah sakitnya bunda Mariska. Cepat Devan!" teriak Nabilla terlihat panik.
"Mas Amran! kirim anggotamu ke cafe Batari untuk mengawasi Devan! dan jangan banyak tanya. Lakukan sekarang juga!" pinta Nabilla yang kembali lagi jiwa kepemimpinannya yang tidak bisa dibantah siapapun hingga Amran yang baru mangap ingin bertanya harus urung dilakukan dengan permintaan bernada perintah dari istrinya.
"I..iya sayang!"
Amran mengambil ponselnya dan langsung menghubungi anggotanya tentu saja melalui Arland yang mengerahkan anggota mereka.
Nabilla meretas CCTV cafe. Melihat pergerakan Devan yang sudah mendekati Lea yang terlihat sudah gelisah.
"Lea....?" Devan pura-pura seolah baru bertemu dengan Lea.
"Kak Devan!" sapa Lea yang otaknya kelihatan masih on.
Mirna dan Happy terlihat gugup namun masih mau bersandiwara di depan Lea.
"Si tampan ini siapa Lea?" tanya Happy.
"Ini ... aduh!" Lea meringis memegang kepalanya yang terasa oleng saat ingin menjelaskan siapa Devan pada kedua sahabatnya.
"Lea! biarkan aku yang mengantarkan kamu pulang!" Ucap Devan mendorong tubuh Mirna agar minggir.
"Lea bersama kami. Biar kami yang mengantarkannya pulang!" cegah Mirna.
"Dasar perempuan murahan! kau akan membayar semua ini, bangsat!" maki Devan yang tidak bisa lagi bersandiwara.
"Lepaskan dia! atau pisau ini akan menancap ke perutmu!" ancam Mirna yang sudah mendekatkan pisau ke perutnya Devan.
__ADS_1
Lea yang masih setengah sadar dan mendengarkan Mirna yang sedang mengancam pada Devan, membuat ia mulai mengerti kalau dirinya sedang di jebak oleh sahabatnya sendiri. Kakinya dengan cepat menendang tubuh Mirna sehingga pisau yang dipegang Mirna terlempar. Suasana berubah riuh di mana tamu cafe yang didominasi anak muda ada yang menonton dan ada yang keluar menyelamatkan diri.
Devan sempat menangkap gelas bekas minuman Lea untuk diamankan. Manajer cafe segera memanggil petugas keamanan untuk mengamankan situasi. Setelah menjatuhkan Mirna, kini giliran Happy yang menjadi sasaran amukan Lea yang mengusai ilmu bela diri yang sudah memiliki sabuk hitam ini.
Lea menonjok dagu Happy setelah menendang Mirna hingga tersungkur ke lantai. Happy langsung terjengkang ke belakang. Sekuriti segera mengamankan Mirna dan Happy. Devan mengambil gelas minuman bekas Lea dan memberikannya pada asistennya untuk dijadikan bukti kejahatan Happy dan Mirna.
"Mereka telah menjebak gadis ini dengan obat perangsang ke dalam minuman gadis itu. Amankan mereka pak!" titah Devan pada sekuriti.
Lea jatuh lagi di sofa itu. Devan segera membopong tubuh Lea menuju tempat parkir. Arland yang baru tiba dengan anggotanya menghampiri satpam yang sedang mengamankan kedua sahabatnya Lea setelah nego dengan pemilik cafe dan membayar kerugian cafe padahal hanya piring dan gelas saja yang pecah.
"Ini uang penutup mulut untuk kalian dan jangan libatkan polisi! Biarkan kedua perempuan itu kami yang akan tanganin!" ucap Arland menyerahkan uang seratus juta pada pemilik cafe yang tidak mau tahu urusan Arland dengan tamu cafenya.
Lea merasakan tubuhnya sangat panas dan berusaha untuk membukanya namun Devan Menutup tubuh gadis itu dengan jas miliknya. Mereka segera ke rumah sakit milik dokter Mariska untuk menangani Lea.
"Tenang Lea! kamu aman bersamaku! Tolong jangan melakukan hal-hal bodoh yang merugikan dirimu sendiri! karena aku juga laki-laki normal!" Desis Devan.
Ponsel Devan kembali berdering yang pastinya dari Nabilla." Aku sedang membawa Lea ke rumah sakitnya bunda," ucap Devan yang sudah tahu pertanyaan Nabilla padanya.
"Satu macam aja mbak. Kalau aku ingin menikahi gadis imut ini. Apakah kakak akan ke rumah sakit?" tanya Devan.
"Tentu saja. Kita ketemu di sana," ucap Nabilla mematikan ponselnya.
Nabilla mengajak Amran ke rumah sakit. Pria tampan ini menuruti kemauan istrinya." Sayang. Kamu masih berhutang penjelasan padaku," ucap Amran yang sedang menyetir mobil sendiri.
"Aku akan menjelaskan semuanya pada kalian di rumah sakitnya bunda," sahut Nabilla seraya mengecup pipi suaminya.
"Baik ratuku." Amran menambah kecepatan mobilnya bukan karena ingin cepat tiba di rumah sakit, tapi lebih kepada rasa penasarannya pada Nabilla yang mengetahui segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau dirinya sebagai otak mafia.
"Nabilla. Siapa sebenarnya kamu sayang? apakah aku tidak boleh tahu jati dirimu sebenarnya? tidak mungkin kamu hanya jenius kalau tidak diimbangi dengan pengalaman di lapangan," batin Amran yang terlihat frustasi.
Ia sempat berpikir jika Nabilla memiliki hubungan kuat dengan intelijen internasional." Apakah yang aku pikirkan itu benar? bagaimana kalau itu benar?" Amran terhanyut dalam jebakan pikirannya sendiri dengan praduga yang tidak bisa ia temukan jawabannya.
__ADS_1
Di ruang pribadi milik dokter Mariska, sudah duduk Devan, tuan Rusli dan pasangan Amran dan Nabilla. Sementara dokter Mariska sedang mendampingi dokter Vega yang menangani Lea untuk menetralisir obat perangsang.
"Mbak Nabilla. Kenapa Lea bisa meminum minuman yang ada obat itu yang sudah aku tukar gelasnya dengan miliknya Mirna?" tanya Devan bingung.
"Baik aku akan menjelaskan kepada kalian mengapa Lea masih bisa masuk dalam jebakan sahabatnya Mirna dan Happy. Saat kamu membisikkan sesuatu pada Mirna, gadis itu bisa melihat gerakan lenganmu memindahkan gelasnya walaupun ia tidak bisa melihatnya secara utuh.
Kenapa wanita bisa melihat dari sudut kanan dan kirinya walaupun tatapan mata kami wanita fokus ke depan. Itu karena penglihatan mata laki-laki dan perempuan diciptakan Allah berbeda," ucap Nabilla sengaja menjeda kalimatnya.
"Bagaimana bisa begitu, Baby?" tanya Amran.
"Kami para wanita diberi kelebihan oleh Allah dengan daya penglihatan kami melebar jadi kami bisa melihat dari samping kiri kanan. Sementara mata laki-laki diciptakan oleh Allah dengan. penglihatannya sempit yang hanya fokus melihat satu arah ke depan saja. Makanya laki-laki melihat wanita yang lewat di sampingnya harus menengok ke samping dan wanita tidak perlu melakukan itu karena ia bisa melihat samping kiri kanannya sejajar dengan kupingnya.
Itulah mengapa Mirna bisa mengetahui gerakan tangan Devan saat memindahkan gelas minumannya dan menukarnya dengan gelas milik Lea. Saat Devan kembali ke tempat duduknya, Mirna memindahkan lagi gelas itu kembali semula. Makanya Lea masih bisa mereka jebak," jawab Nabilla.
"Bagaimana Mirna bisa mengetahui jika Devan mengetahui rencananya pada Lea?" tanya tuan Rusli.
"Karena ada yang meretas CCTV cafe dan mempelajari situasi. Mirna bisa mengetahui Devan menggagalkan rencananya karena ia terus-menerus berinteraksi dengan seseorang menggunakan saluran penghubung yang terpasang di kupingnya menyerupai anting tindik dan Devan tidak menyadari itu karena rambut Mirna," jawab Nabilla.
"Bagaimana mereka bisa mengenali Devan? apakah mereka sudah tahu siapa Devan dan hubungan kalian berdua sebagai adik dan kakak?" tanya Amran.
"Siapa lagi kalau bukan Dito karena Mirna adalah keponakannya Dito. Dito mengetahui mas Amran memiliki kedua adiknya dari ibu yang berbeda karena dia lebih mengenal keluarga mas Amran yang tidak banyak diketahui oleh orang lain," ucap Nabilla.
"Baik. Kalau itu aku mengerti sayang. Tapi, bagaimana Dito bisa mengetahui antara Devan, kamu dan Lea? itu yang ingin aku tanyakan. Bukankah yang tahu hubungan kalian hanya segelintir orang? siapa lagi yang mengetahui hubungan kalian selain yang hadir di acara pertemuan keluarga kita?" tanya Amran membuat Nabilla baru sadar.
Nabilla menatap wajah Devan. Pria itu bingung dengan tatapan Nabilla padanya hingga tuan Rusli dan Amran ikut menatap wajah Devan yang langsung gugup seakan ia jadi tersangka utama saat ini.
"Siapa saja yang sudah kamu ajak untuk berbagi hubungan kita sebagai saudara kandung dan Lea sebagai adik ipar ku, Devan?" selidik Nabilla.
Degggg ...
Vote dan like nya cinta, please!
__ADS_1