Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
99. Aksi kejar-kejaran


__ADS_3

Saat semuanya sudah kembali berdiri, Nabilla dan ketiga adik iparnya sudah berpakaian muslimah seperti biasanya. Wira dan Devan turun dari mobil mereka menghampiri mobil polisi yang sedang menghadang mereka.


Nabilla sudah siap dengan pistolnya. Sementara Lea dan Celia memegang pistol mereka hanya untuk berjaga-jaga.


"Selamat malam tuan-tuan!" ucap polisi itu pada Wira dan Devan.


"Selamat malam!" balas Wira.


"Apakah kalian turis asing?" tanya dua orang polisi itu.


"Iya pak. Kami adalah turis," jawab Devan.


"Boleh lihat paspor kalian?" pinta polisi itu.


"Tunggu..!" cegah Nabilla saat Wira ingin mengambil paspor miliknya dari balik jaketnya.


"Kalian dari kepolisian mana? tolong tunjukkan lencana kalian!" tantang Nabilla.


Dua polisi itu itu meneguk salivanya gugup dan saling bertatapan saat di tanya lencana mereka oleh Nabilla. Wira mulai siap-siap mengambil pistolnya karena melihat gelagat Nabilla yang mencurigai kedua polisi yang ingin memeriksa identitas mereka.


"Hei..! apa maksudmu nona? kami ini adalah polisi di negara ini. Apa urusanmu menanyakan lencana kami, hah? kamu hanya turis asing di sini," teriak polisi itu dengan wajah garang.


"Kami tidak mau terkecoh dengan penampilan kalian. Bisa jadi kalian adalah penipu hanya dengan bermodalkan seragam itu," tukas Nabilla.


"Ada apa Nabila?" tanya Wira.


"Sepertinya mereka polisi gadungan. Dari dialeg yang mereka gunakan adalah bahasa Norwegia. Sementara bahasa resmi di Austria adalah Jerman," ujar Nabilla dalam bahasa Indonesia.


Kedua polisi itu tetap mengambil lencana mereka. Dengan penuh percaya dirinya mereka menunjukkan lencana mereka pada Nabilla. Nabilla memerintahkan kunang-kunangnya untuk memeriksa identitas dua orang mafia ini dengan membaca wajah mereka dan tuan Rusli langsung memeriksa kebenaran identitas polisi itu. Polisi itu sempat termangu melihat kunang-kunang di atas kepala. Hal itu di manfaatkan tuan Rusli untuk memeriksa data polisi itu.


"Nabilla. Mereka adalah polisi gadungan," seru tuan Rusli pada putrinya yang belum melepaskan alat penghubung begitu juga Wira dan Devan dengan cepat menodong pistol mereka dan berpura-pura mengambil paspor mereka dari balik jaket.


"Ini paspor kami tuan-tuan!" ucap kedua pria tampan itu dengan mengarahkan pistol mereka langsung ke kening kedua polisi gadungan tersebut yang tampak tidak siap dengan kejutan yang diberikan Wira, Devan dan Nabilla.


"Siapa kalian?" tanya Devan sambil mengatur tarikan pistolnya untuk memindahkan peluru siap membocorkan kepala kedua polisi gadungan itu.


"Jangan tembak kami tuan!" mohon salah satu polisi yang awalnya terlihat seperti polisi sungguhan dengan wajah garang.


"Nabilla. Mereka adalah polisi gadungan yang sering menahan mobil Van untuk memeras turis asing," lanjut tuan Rusli.

__ADS_1


Devan mengeluarkan dua tali tis untuk memborgol tangan kedua polisi tadi. lalu dibawa ke mobil polisi gadungan itu masing-masing. Nabilla menghubungi kepolisian setempat untuk melaporkan kedua polisi gadungan itu untuk menjemput keduanya di lokasi kejadian saat itu. Perjalanan kembali di lanjutkan. Kini mereka tetap harus waspada pada siapapun sekalipun itu adalah polisi lokal yang bisa saja ada sindikat mafia memanfaatkan polisi lokal untuk menghadang mereka.


"Kamu tidak apa sayang?" tanya Wira saat melihat wajah istrinya terlihat sangat pucat.


"Tidak apa kak," jawab Lira sekenanya.


"Kamu itu seorang pengacara yang rawan dengan tindakan kriminal yang akan dilakukan oleh para penjahat di luar sana. Berlatihlah mulai menghadapi mereka mulai dari saat ini," nasehat kakek Abdullah pada cucu ketiganya itu.


"Iya kakek," sahut Lira.


Akhirnya perjalanan mereka kembali mulus, , Celia dan tuan Rusli yang sedari tadi fokus memperhatikan setiap gerakan para anggotanya mafia yang sedang baku tembak dengan Reno, Amran dan Arland bersama dengan anak buahnya ketiga pria tampan itu.


Nabilla menghampiri ayahnya untuk melihat keadaan suaminya di markasnya Dito. Sejauh ini mereka masih menangani anak buahnya Dito yang sudah banyak terkapar di dalam markas sana. Tiga pasukan dari pihak Amran sudah mengepung tempat itu. Hanya saja mereka belum dapat menangkap tubuh Dito hidup-hidup.


"Reno. Dito berada di arah pukul 7 dari tempatmu berdiri," ucap Amran saat melihat wajah Dito yang sedang mengambil ponselnya di berangkas itu.


Reno menengok ke arah yang dimaksud Amran. "Tahan tembakanmu Amran! Dia sedang mengambil sesuatu di dalam berangkas itu. Kita harus tahu apa password sandi untuk membuka berangkas sebesar lemari itu," untuk Arland yang sedang merekam gerakan tangan Dito yang menyebutkan nama putranya lalu menempelkan ibu jarinya untuk membuka berangkas itu.


"Alif," sebut Dito seraya menempelkan jempolnya di pintu berangkas itu yang ternyata banyak uang tunai yang berlimpah jumlahnya di dalam sana ditambah emas batangan yang tersusun rapi. Sepertinya itu adalah hasil rampokan mereka di bank konvensional di negara manapun yang dilakukan oleh kompolotan mafia Dito cs.


Di saat Dito memasukkan uang dan arsip kejahatan mereka di dalam tas ranselnya, Amran melepaskan tembakannya pada lengan Dito yang sedang mengambil uang itu. Dito terperangah lalu meraih tasnya berlari ke arah gudang di mana mobilnya tersimpan di sana.


"Sial..! Dia telah menjebak kita. Cepat keluar dari sini sebelum jeruji besi ini turun dan mengurung kita di dalam sini!" titah Amran pada kedua temannya.


Ketiganya berlari sambil mendorong kulkas untuk menahan jeruji besi yang makin turun perlahan untuk mengurung mereka namun mereka tidak mampu menandingi kecepatan langkah mereka dengan kecepatan pintu jeruji yang terbuat dari baja yang makin turun tinggal seratus meter lagi menutupi tempat itu.


Ketiganya cepat menggulingkan tubuh mereka untuk bisa bebas dari pintu baja itu yang sedikit lagi tertutup dan kini hanya tersisa seratus cm.


"Huff...!" ketiganya menghembuskan nafas lega dan berlari menuju mobil mereka saat berhasil lolos dari kurungan itu.


"Kita kehilangan Dito. Pasti dia sudah di jalan utama," ucap Amran yang sudah masuk ke mobil mereka.


"Tenang saja sayang!" aku sedang mengejar mereka," ujar Nabilla dari sebrang sana yang membawa mobil sendiri mengejar Dito.


"Kau....!" sentak Amran yang menggaruk kepalanya dengan kesal mendengar kenekatan istrinya mengikuti mobil Dito.


"Aku dan Lira sedang mengikuti mobil Nabilla, Amran. Sekarang kalian harus menyusul kami mengejar mobil Dito!" titah Wira sambil memberitahukan lokasi mereka saat ini.


"Ok Wira kami menyusul sekarang mengikuti jalan pintas," ucap Arland yang sedang melihat peta di mana GPS ponsel Nabilla sedang bergerak.

__ADS_1


Aplikasi map di ponsel ciptaan Nabilla memberi arah jalan pintas yang lebih cepat dengan jarak mereka saat ini dengan mobil istrinya Amran itu.


"Keren sekali Nabilla bisa menciptakan aplikasi map ini mengarahkan jalan terdekat dengan arah mobilnya dengan mobil kita," puji Arland membuat dada Amran kembang kempis saking bangganya pada kehebatan istrinya.


"Bidadari siapa dulu dong," angkuh Amran ditengah ketegangan mereka.


Baru saja berujar seperti itu, mobil penjahat lainnya sudah ikut mengejar mereka." Sial kita diikuti oleh mobil penjahat," ucap Reno yang melihat kaca spion.


"Mereka tidak akan bisa menembak mobil ini karena semua mobil yang kita gunakan adalah anti peluru," ucap Arland yang sudah membeli mobil itu untuk operasional mereka jauh-jauh hari.


"Perhatikan lagi map-nya, Arland! seberapa dekat mobil ini dengan mobil istriku?" tanya Amran terlihat gusar.


Walaupun ia sudah mengetahui kehebatan Nabilla, tetap saja bagi Amran, Nabilla tetap butuh perlindungan darinya. Ia tidak ingin istrinya terluka sedikitpun dalam misi ini.


Saat ini sudah pukul satu malam. Aksi kejar mengejar antara Amran cs dan Dito cs berlangsung mencekam di ruas jalanan yang terbilang cukup sempit untuk memuat mobil di jalur berlawanan arah, di mana Nabilla yang tidak ingin kehilangan mobil Dito sering berpapasan dengan mobil pengendara lokal di satu jalur arus bolak-balik.


Mobil Dito sudah lebih jauh di ikuti mobil Nabilla. Rupanya masih ada mobil penjahat yang masuk ke sela antara mobil Nabilla dan mobil yang dibawa oleh Wira. Mobil Wira mendapatkan tembakan dari arah mobil penjahat namun, Wira tidak peduli dengan tembakan itu karena yakin mobil mereka tidak tertembus peluru dari senjata milik penjahat.


Wira menambah kecepatannya untuk menabrak mobil penjahat yang menghalanginya mengejar mobil Nabilla. Nabilla harus mencari celah untuk menyalip mobil pengendara lokal. Hampir saja gadis ini bertabrakan dengan truk dan kontainer pengangkut barang.


"Sayang. Kencangkan sabuk pengamanmu, aku akan menabrak mobil di depan kita!" titah Wira sambil menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan mencapai 200km/jam membuat Lira harus memejamkan matanya sambil membaca doa untuk keselamatan mereka.


Mobil penjahat itu tidak bisa lagi berkutik karena kecepatan mobil mereka tidak bisa menjauhi mobil Wira yang berjarak seratus meter lagi untuk mencapai mobil mereka yang akan siap di tabrak oleh mobil Wira. Jika mobil mereka berpindah ke kiri maka akan melawan arus. Jika ke kanan maka akan masuk ke jurang dan terguling ke arah pantai di mana akan di sambut bebatuan terjal di bawah sana.


Brakkkkkkk......


Yang dikuatirkan penjahat akhirnya terjadi juga, mobil mereka terjun bebas masuk ke dalam jurang.


"Sekarang kita susul mobil Nabilla, sayang," ucap Wira.


Baru saja Wira menyingkirkan satu mobil di depannya, mereka harus mendapatkan kabar yang tidak enak.


Sementara itu, Nabilla melepaskan alat canggihnya yang lain yang berupa drone yang membawa tangki kimia untuk di tembakkan ke atas atap mobil Dito yang juga anti peluru untuk membuat besi body mobil itu meleleh. Lelehan kimia itu memang khusus untuk melumerkan besi baja seperti mobil yang dikendarai oleh Dito saat ini.


"Aku memang tidak bisa menyaingi kecepatan mobilmu yang super hebat itu, bajingan. Tapi senjata ciptaan ku bisa melakukannya, Dito. Apakah kepalamu cukup kuat mendapatkan tetesan cairan kimia itu, Dito," gumam Nabilla sambil tersenyum


......


Vote dan like nya cinta, please!

__ADS_1


__ADS_2