
Tembakan membabi-buta dari pihak musuh di luar sana membuat Amran dan Nabilla harus menjauhi pintu besi anti peluru itu. Amran masih bisa bernafas lega pengamanan markasnya sudah diperhitungkan oleh kakek hingga musuh tidak bisa menjebolkan pintu markas yang terbuat dari baja itu dengan peluru.
Baru saja Nabilla ingin menghubungi keluarganya, tiba-tiba terdengar huru-hara dari luar sana, di mana mobil patroli polisi dengan suara sirine memekakkan telinga, membuat para penjahat langsung kabur ketakutan ditangkap oleh polisi.
Amran memang memiliki beberapa mobil polisi yang biasa digunakan jika ia sedang memasuki tol. Rupanya mobil itu berguna juga memukul mundur para penjahat yang mengawasi tempat itu.
"Siall...! Mengapa tiba-tiba ada polisi?" seru Alif yang merupakan otaknya penjahat itu.
Mendengar di luar sudah tidak ada lagi yang menembak, Nabilla segera memeriksa keadaan di luar dan ternyata yang datang adalah Bunga dan suaminya serta Nada dan Ghaishan.
Hanya kedua pasangan itu yang menggunakan mobil polisi untuk mengusir para penjahat.
"Cih....apa hanya itu keberanian kalian? Lagaknya sok paling hebat, tapi dengar sirine mobil polisi saja langsung kabur. Maksudnya apa...?" geram Bunga turun dari mobilnya.
"Maksudnya mereka, kalau mereka tidak mau berurusan dengan aparatur negara. Karena sekali saja mereka sakiti satu prajurit negara, maka seratus peleton polisi akan turun menghancurkan mereka," jawab Daffa.
"Terus, mereka tidak tahu, kalau mereka sekarang sedang berhadapan dengan siapa?" kesal Bunga.
"Mana mereka tahu kalau kalian adalah agen rahasia? Bukankah semua identitas kalian dirahasiakan? Mereka hanya mengenal daddy sebagai mafia yang berurusan dengan sesama mafia," ucap Daffa.
"Benar juga. Ayo kita jemput mommy dan daddy..!" ucap Bunga.
Amran dan Nabilla keluar dengan perasaan lega. Bunga dan Nada memeluk ibu mereka. Begitu pula Daffa dan Ghaishan memeluk Amran.
"Apakah mommy dan Daddy baik-baik saja?" tanya Nada.
"Iya sayang. Ayo..! Kita harus pulang karena sebentar lagi mau sahur," ucap Nabilla segera masuk ke dalam mobilnya di ikuti oleh Amran.
"Apakah itu senjata kimianya Dady?" tanya Ghaishan.
__ADS_1
"Iya nak," Ucap Amran memangku koper itu. Sementara Nabilla yang membawa mobilnya.
Ghaishan dan Daffa mengawal mobil mertua mereka hingga tiba di mansion. Sirine polisi tetap dinyalakan agar tidak ada yang berani menghalangi jalan mereka.
Sementara itu, mobil para penjahat yang sempat menyingkir merasa keanehan pada dua mobil polisi tadi yang tidak mengejar mereka. Rasa curiga mereka mulai terbesit dipikiran mereka saat ini.
"Apakah ada oknum polisi yang bekerjasama dengan Amran yang ingin mendapatkan keuntungan dari Amran, jika Amran berhasil menjual senjata kimia itu pada negara lain?" tanya Alif dengan pikiran bodohnya.
"Bos. Sekarang apa yang harus kita lakukan untuk merebut benda yang bos inginkan itu?" tanya anak buahnya Alif.
"Tunggu saja instruksi dariku selanjutnya. Aku akan menghubungi ayahku yang masih di luar negeri. Sebentar lagi dia akan pulang karena ingin lebaran di kampung," ucap Alif lalu kembali ke kediamannya.
"Tetap awasi kelurga itu...!Tunggu sampai mereka lengah..! Dan culik menantu atau cucu mereka untuk dijadikan sandera kita agar benda itu datang pada kita dengan mudah tanpa harus mengeluarkan energi dan darah," lanjut Alif.
"Baik bos."
"Kita tunggu saja Amran, Nabilla ...! Dulu kalian bisa menipuku dengan menukar kunci milikku yang asli dengan yang palsu, tapi aku akan menukar nyawa kalian dengan senjata kimia itu," gumam Alif penuh ambisi.
Suasana di dalam mansion itu terasa lebih hangat karena semuanya sudah siap di meja makan untuk menyantap makan sahur mereka. Adam harus menyuapi Syakira yang nampak manja ingin disuapi olehnya.
Ibu mil ini sangat kuat menjalani puasanya yang hampir satu bulan ini tanpa ada keluhan. Adam sangat suka dengan sifat manja istrinya. Tamara yang melihat keromantisan kakak iparnya hanya bisa mengulum senyum.
El-Rummi memahami apa yang diinginkan istrinya yang saat ini melepaskan cadarnya karena permintaan El-Rummi.
Baik Daffa, Ghaishan, Adam dan Arsen tidak merasa terganggu sama sekali karena mereka sudah tahu kalau Tamara juga tidak kalah cantiknya dengan istri-istri mereka. Hanya saat akan makan saja Tamara melepaskan cadarnya.
"Mommy. Apakah kita akan membawa benda itu ke villa?" tanya Nada yang ikut sahur bersama keluarganya.
"Iya sayang. Kamu bisa meneliti benda itu lebih lanjut untuk mengetahui penawarnya. Jangan lakukan di dalam rumah ini....!" sergah Nabilla .
__ADS_1
"Aku mengerti mommy. Tapi, apakah benda itu akan tetap aman jika dibawa ke mana-mana?" tanya Nada.
"Jika dia tidak aman, maka benda itu tidak akan mudah di simpan atau di bawa ke mana-mana, mungkin sudah meledak sejak lama. Kamu tahu sendiri kalau benda itu bisa diledakkan jika kode kita memasukkan kode sandinya," ucap Nabilla.
"Bagaimana kita bisa memasukkan formula penawarnya jika kita memasukkan kode sandinya benda itu langsung meledak?" tanya Nada kuatir.
"Kita akan mengganti kode sandi dengan alat picu berupa remote pengendali jarak jauh. Kita akan memasukan benda itu kedalam cairan formula yang kamu buat agar bisa menetralisir kimia berbahaya itu.
Dan di saat itu kita akan mengujinya lagi dengan menekan tombol otomatis berupa remote pengendali jarak jauh untuk mengetahui kekuatan ledakannya sudah berkurang atau tidak meledak lagi sama sekali," tutur Nabilla bagaimana mengantisipasi senjata kimia itu.
"Tapi, apakah aku boleh melihatnya mommy untuk mengetahui jenis senyawa kimia apa saja yang digunakan didalam kandungan senjata kimia berbahaya itu?" pinta Nada yang ingin segera mengakhiri bencana itu.
"Besok pagi saja kita lakukan sayang..! saat penghuni rumah semuanya tidur. Kita akan mengadakan rapat keluarga untuk memutuskan apa yang harus kita lakukan dengan benda ini," ucap Nabilla seraya memperlihatkan foto wujud dari senjata kimia itu melalui ponselnya pada putrinya Nada.
Nada menatapnya penuh kekaguman. Betapa kakek buyutnya yang menyusun senyawa kimia itu memikirkan detailnya hingga terlihat sangat sempurna. Sekarang Nada mengerti, mengapa mereka sangat jenius karena kakek buyutnya juga seorang yang jenius.
"Jika otak kakek mewariskan kejeniusan kakek pada kami, berilah kami kemudahan untuk mengembalikan unsur senyawa kimia berbahaya ini ke alamnya yang akan menjadi ramah lingkungan," batin Nada yang merasa terpanggil untuk menyelamatkan jutaan nyawa manusia jika ia bisa menemukan formulanya.
"Cepatlah habiskan cemilan kalian..! karena sebentar lagi mau imsak..! Titah Cintami pada anak-anaknya dan juga keponakannya yang masih asyik makan kue dan roti.
Sementara Syakira dan Tamara makan kolak pisang dan juga gorengan hangat yang sekarang menjadi makanan kesukaan mereka. Sementara Adam, El, Arsen, Ghaishan dan Daffa sedang mengamati beberapa mobil yang ada di sekitar komplek dari atas balkon lantai dua. Komplek itu saat ini sudah sangat sepi karena banyak penghuni komplek yang pulang kampung atau berlibur ke luar kota maupun negeri.
"Sepertinya mobil-mobil itu dari tadi mondar-mandir di depan rumah kita. Apakah kita bisa mencegah mobil itu?" tanya Ghaishan kesal juga dengan ulah para penjahat.
"Bagaimana mereka bisa masuk ke dalam perumahan ini? Bukankah akses masuk ke komplek ini harus melalui beberapa tahap pemeriksaan jika ada nomor plat mobil yang tidak terdaftar di pos penjagaan?" tanya El.
"Jangan-jangan....? Satpam depan mereka bunuh?" tebak Arsen.
"Sebentar...! jangan cemas seperti itu kak Arsen..!" El-Rummi melihat pos penjagaan melalui ponselnya dengan meretas CCTV di pos penjagaan.
__ADS_1
"Astaga...! Benar...! Mereka telah melumpuhkan semua satpam komplek.
"Ayo kita ke bawah sebelum mereka nekat masuk ke mansion..!" pekik Adam pada yang lainnya.