
Pekik kegirangan El menyita perhatian keluarganya yang ada di dalam pesawat jet pribadi itu. Bunga mendekati adik bungsunya itu ingin mengetahui apa yang terjadi pada adiknya.
El menceritakan tentang keunggulan jam tangan buatannya yang saat ini sedang dimainkan oleh Tamara dengan mengandalkan intuisinya.
"Apa yang terjadi El? Mengapa kamu sangat girang?" tanya Bunga sambil memperhatikan ponsel El.
"Aku sudah menemukan lokasi penyekapan princess Tamara melalui jam tangan yang aku hadiahkan padanya," ucap El-Rummi.
"Benarkah...? Hebat dong. Berarti kita tidak usah susah payah untuk mencarinya," timpal Bunga antusias.
"Apakah kamu bisa membalas padanya dengan memberikan tanda-tanda bahwa kamu mengetahui keberadaannya saat ini?" tanya Bunga.
"Bagaimana caranya, kak?" tanya El tidak mengerti.
"Lakukan seperti kita mengirim kode Morse. Dengan begitu dia merasa kamu merespon pesan yang dia kirim kepadamu," ucap Bunga.
"A..iya benar. Kakakku benar-benar jenius," puji El-Rummi.
El-Rummi melakukannya dengan menekan angka pada ponselnya untuk mengirim pesan pada Tamara dan berharap Tamara mengerti karena gadis itu sangat jenius.
"Aku tahu keberadaanmu saat ini. Gunakan jam tangan ini untuk menghubungi aku," tulis El dengan kode Morse itu.
Tamara yang ada di pembaringannya menatap langit-langit kamar di mana cahaya jam tangan itu mengarah ke atas plafon kamar itu nampak berkedip namun membentuk angka yang terdapat di jam tangannya itu.
"Kenapa angka itu berganti-ganti dan berulang memperlihatkan sinarnya?" tanya Tamara sedang berpikir keras dengan jam tangan yang dianggap sangat ajaib itu.
Yang awalnya berbaring lalu duduk. Ia tidak mau gegabah dengan menarik kesimpulan ada jin yang sedang mengerjainya karena dirinya sedang berada di ruang bawah tanah seorang diri.
"Di kuburan nanti aku akan sendirian ditemani amalku? Kenapa aku harus takut? Bukankah ada Allah yang selalu menjaga aku?" hibur Tamara untuk menjauhkan rasa takut dalam hatinya.
Sesaat kemudian, dia baru menyadari kalau kiriman sinar kedap-kedip itu berupa tanda kode Morse.
"Masya Allah. Itukan kode Morse. Apakah El sedang berkomunikasi denganku?" tanya Tamara mulai mengartikan setiap angka yang tampak di atas langit-langit kamarnya dengan menemukan satu baris kalimat.
__ADS_1
"El sudah mengetahui keberadaanku. Dan dia sedang menjemputku saat ini? Masya Allah. Bagaimana caranya dia bisa mengirim aku pesan lewat jam ini?" lirih Tamara sangat girang hingga ia memekik menyebut asma Allah.
"Bagaimana cara aku membalasnya kalau aku sudah membaca pesannya. Apa yang harus aku lakukan dengan jam tangan ini?" lagi-lagi Tamara mengetuk-ngetuk bibirnya sendiri dengan ujung jarinya sambil berfikir menatap jam tangan yang ada dalam genggamannya saat ini.
"Di sini ada jarum penunjuk angka. Berarti kalau El mengirim angka sebagai kode, berarti aku juga bisa membalasnya dengan angka. Kita coba saja, ok? Ya Allah tolong bantu aku..!" gumam Tamara yang sudah hilang rasa ngantuknya.
Tamara melakukannya dengan ilmu coba-coba. Jika berhasil berarti ia bisa memanfaatkan jam ini sebagai alat komunikasinya dengan El-Rummi.
"Aku sudah membaca pesanmu dan aku mengerti. Semoga kamu memahami balasan pesan dariku," balas Tamara.
Dan lagi-lagi El bersorak kegirangan karena Tamara sudah menangkap pesannya dan tahu cara membalasnya dengan memanfaatkan angka sebagai huruf yang mereka buat sendiri seperti tulisan stenografi. Singkat dan mudah dipahami.
"Bagaimana keadaanmu saat ini? Jangan takut...! Ingat ada Allah bersamamu saat ini. Dan aku akan menemanimu," balas El.
Tamara menceritakan keadaannya membuat El-Rummi sangat syok. Pasalnya seorang putri raja yang selalu dimanjakan dengan kemewahan kini berakhir menyedihkan di dalam ruang bawah tanah yang pengap. Air matanya ikut meleleh membayangkan princess Tamara saat ini dalam kesulitan.
"Jangan terlalu mengkuatirkan aku! Dengan cara ini, aku tahu bagaimana kehidupan orang susah yang menemukan makan sedapatnya dengan hidup seadanya yang mereka miliki.
Dalam keadaan seperti ini aku mulai banyak bersyukur dan berniat untuk selalu berbagi pada orang yang membutuhkan. Roti gandum yang sangat keras adalah makanan terenak yang saat ini mengendap di dalam perutku," tulis Tamara sambil berlinang air mata.
"Tamara. Sekarang kamu harus tidur. Dan ingat ada aku dan Allah yang sedang menjagamu. Aku sangat mencintaimu Tamara. Selepas ini, aku akan menikahimu di tanah suci Mekkah Al-Mukarramah," balas El.
"Masya Allah. Alhamdulillah," pekik Tamara begitu bahagianya.
Keduanya menyudahi obrolan karena Tamara sudah mulai mengantuk. Saking lelahnya gadis ini merasa tidur diatas kasur empuk miliknya karena ia melafazkan surah al-mulk agar mati dalam Husnul khatimah.
Terjaga dalam kubur dan terhindar dari siksaan kubur. Itulah manfaat jika muslim menyadari hikmahnya membaca surah al-mulk menjelang tidur.
Sekitar pukul tiga dini hari, Tamara dikagetkan dengan suara bentakan dari seorang penjahat. Beruntunglah, ia sudah menyimpan jam tangan ini di kantong celana panjangnya karena setiap mengenakan abaya, ia tidak lupa mengenakan celana panjangnya untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan seperti saat ini.
"Hei bangun...! Kita pergi dari sini sekarang...!" bentak seorang pria langsung membekap mulutnya Tamara yang sudah ada obat biusnya. Sebisa mungkin Tamara menahan nafasnya beberapa detik agar tidak mencium aroma itu supaya ia tetap dalam keadaan sadar.
Tubuhnya di panggul seperti karung beras. Ia bisa melihat sekitarnya di mana ruang bawah tanah itu ada mobil yang sudah terparkir dan siap meninggalkan tempat ini. Rupanya tubuhnya dibaringkan di dalam bagasi mobil.
__ADS_1
"Ya Allah. Aku mau dibawa ke mana?" tanya Tamara dalam hati penuh dengan ketakutan.
Mobil itu meluncur ke jalanan. Tamara berusaha mengintip dengan mencari lubang yang bisa ia lihat keluar. Dengan menggunakan peralatan mobil yang terdapat di dalam bagasi mobil itu, Tamara membuka lampu sein belakang mobil secara perlahan. Betapa kagetnya Tamara, saat mengetahui mereka sedang melewati gurun batu. Di luar masih terlihat gelap namun tidak lama kemudian terdengar azan subuh.
"Ya Allah. Ini di mana?" gugup Tamara yang langsung mengambil jam tangannya dan mengirim pesan pada El-Rummi.
"Aku di bawa pergi dari tempat sebelumnya dan sekarang aku berada di dalam bagasi mobil. Apakah kamu tahu posisiku di mana saat ini?" tanya Tamara.
"Sepertinya kamu memasuki zona yang sulit terdapat signal internet. Tapi aku tetap bisa mengetahui keberadaanmu. Tolong jaga jam tangan itu jangan sampai ketahuan penjahat ataupun jatuh. Dengan benda itu aku bisa memantau keberadaanmu," tulis El-Rummi.
"Baik."
Tamara menemukan carter.Ia menyimpannya dan berharap bisa berguna. Tamara menyimpan lagi jam tangannya di kantong celana panjangnya.
Tidak lama kemudian mobil itu berhenti. Tamara mendengar pintu mobil itu dibuka. Ia pura-pura tidur agar penjahat itu tidak curiga padanya. Tubuhnya kembali di panggul.
Rupanya pria itu membawanya jauh dari jalan raya di gurun batu itu agar tidak terlihat oleh orang lain. Dan suasana di area gurun batu itu sudah mulai terang. Tidak lama kemudian tubuhnya di baringkan di bawah batu besar oleh penjahat itu.
"Hm..! Aku mau lihat wajah princess ini. Seperti apa ya kecantikannya?" gumam sang penjahat mendekati wajah Tamara dan mengangkat cadarnya Tamara.
"Wow...ini benar-benar seperti bidadari..! Sayang sekali kalau tidak aku manfaatkan. Aku harus menikmati tubuhnya," ucap sang penjahat dengan pikiran mesumnya.
Tamara menahan nafasnya. Dan menunggu apa yang dilakukan pria itu padanya. Saat pria itu hendak melecehkan dirinya, Tamara sudah memasukkan tangannya ke kantong gamisnya untuk mengambil carter.
Secepat kilat ia menyabet pinggang penjahat itu dengan tusukan begitu dalam membuat sang penjahat memekik kesakitan dan menjatuhkan tubuhnya ke sebelah Tamara sebelum penjahat itu berusaha menciumnya.
"Sialan...! Aku jaga tubuhku dari siapapun dan kau ingin menyentuhnya? Dasar manusia rendahan dan menjijikkan...!" umpat Tamara langsung melarikan diri.
Gadis ini langsung berlari menuju mobilnya penjahat karena penjahat itu sendirian membawanya pergi jadi mudah bagi Tamara untuk melawan penjahat itu.
"Dasar j**Ng..!" pekik penjahat itu mengeluarkan pistolnya hendak menembak Tamara.
Tamara lari tak tentu arah dan berharap peluru sang penjahat tidak menembus tubuhnya.
__ADS_1
"Ya Allah. Lindungi aku ..!" pinta Tamara dengan tubuh lemas lagi gemetar.