Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
91. Masih Bisa Tersenyum


__ADS_3

Hampir dua ratus meter lagi, langkah Amran hampir mencapai pintu gerbang rumah sakit. Tubuh Amran yang terlihat kelelahan dengan dengkul gemetar melewati banjir dengan melawan arus deras hampir membuat mereka hanyut karena jalan menuju rumah sakit itu agak menanjak. Inilah perjuangan Amran yang sangat berat selama mendampingi istrinya. Pahanya seolah mati rasa namun semangatnya masih membara demi keluarga kecilnya. Bagi keduanya ini adalah kiamat kecil di mana uang dan kehebatan tidak bisa menolong mereka kecuali hati dan jiwa mereka berpusat kepada Allah, pemilik hidup mereka.


Berjalan di tengah hujan deras di sertai angin kencang dilanda banjir sambil menggendong Nabilla yang sedang hamil bayi kembar, tentu tidaklah mudah melakukan itu jika tidak diimbangi tubuh atletis nan kekar milik suami seperti Amran. Walaupun sudah terlihat dekat dari jarak pandangnya, namun terasa masih lama karena melangkah ditengah banjir yang cukup tinggi mulai menurun hingga lutut orang dewasa karena jalanan itu lumayan mendaki.


"Sayang. Kita sudah hampir tiba, bertahanlah!" teriak Amran ditengah derunya hujan yang enggan untuk berhenti. Ini benar-benar ujian untuk Amran sebagai seorang suami.


"Tuan. Biarkan saya lebih dulu mencapai pintu gerbang untuk memanggil petugas rumah sakit membawa brangkar atau kursi roda untuk nona Nabilla," ijin pak Jamil pada Amran yang sudah tertatih-tatih dengan nafas tersengal.


"Iya pak Jamil. Lakukanlah sesuatu untuk menolong istriku!" pinta Amran menahan hawa dingin dengan lengan kebas namun ia tidak menyerah untuk tetap stabil menggendong wanitanya.


Nabilla terus saja mengejan karena saking sakitnya ia menahan dirinya yang tidak mampu lagi untuk mengeluarkan bayinya yang tidak sabar melihat dunia.


Tubuhnya juga lebih menggigil saat ini karena menahan sakit sekaligus hawa dingin menusuk tulangnya. Tidak lama muncul para petugas medis yang langsung menjemput Amran dengan brangkar ketika mengetahui siapa Amran dan Nabilla dari pak Jamil.


"Silahkan baringkan nona, tuan!" pinta dokter Marion yang mengenakan mantel hujan di temani dua perawat pria yang akan mendorong brangkar itu sementara, dokter Marion duduk di samping brangkar sambil memeriksa denyut jantung dan nadi Nabilla menunju gedung rumah sakit mewah itu.


Amran seperti masih belum tenang melihat kondisi istrinya yang sudah masuk di dalam kamar bersalin. Suster menggunting gamis yang dipakai Nabilla karena gadis ini sudah kedinginan. Ruang di dalam kamar bersalin itu cukup dingin hingga diturunkan temperaturnya. Bibir Nabilla tampak membiru dengan kulit tangan berkeriput karena cukup lama berjalan di tengah hujan deras dan terendam banjir. Dokter memastikan keadaan Nabilla agar tetap hangat dengan menyalakan mesin penghangat kasur yang ditiduri Nabilla sebelum mereka membantu gadis ini untuk melahirkan bayi kembarnya.


Suster yang cemas dengan keadaan Amran yang masih basah kuyup berdiri setia di samping istrinya dengan menahan tubuhnya yang menggigil kedinginan.


"Tuan. Sebaiknya anda ganti baju dulu agar tidak masuk angin!" pinta suster Nia pada Amran.

__ADS_1


"Saya tidak apa suster. Nanti saja setelah memastikan anak dan istri saya selamat," tolak Amran.


Tubuh Nabilla yang terlihat polos dengan kulit sebening kristal mahal menyita perhatian suster dan tim dokter itu menatap iri. Kecantikan gadis ini yang tak ada duanya membuat mereka hanya bisa berangan jika punya tubuh dan wajah secantik Nabilla. Di tambah lagi pria tampan yang sangat beruntung memiliki Nabilla yang hampir sempurna itu tidak kalah memikatnya dengan sejuta pesona yang dimiliki Amran.


"Mengapa pasangan ini begitu serasi. Si pria bagaikan seorang pangeran dengan wajah datar terlihat tegang tidak mengurangi porsi pahatan itu," batin dokter Yolanda begitu mengagumi sosok Amran.


"Pantas pria tampan ini tidak akan lagi memandang kanan kiri karena satu tatapannya hanya pada bidadari sempurna ini," batin dokter Vanesa.


Setelah memberikan aba-aba pada Nabilla untuk mengejan, gadis ini berhasil melahirkan putranya yang disusul dua menit kemudian putrinya. Amran mengucapkan puji syukur dengan tangis yang tidak bisa ia tahan sambil membenamkan bibirnya ke kening dan bibir Nabilla yang membiru membuat wajah para medis yang ada diruang itu tercengang bercampur haru.


"Kapan punya suami sesempurna ini," batin dokter Marion sambil menggunting plasenta bayi kembar Nabilla.


Suara tangis bayi kembar itu mampu memecahkan sepi dan menghentikan hujan di luar sana yang mulai mereda menyisakan gerimis halus. Keluarga besar kakek Abdullah yang memang sebelumnya sudah menginap di rumah sakit itu menantikan kelahiran para cucu mereka yang sudah melahirkan semua dan terakhir hanyalah Nabilla. Celia dan Lea melahirkan bayi laki-laki dan Lira bayi perempuan. Jadi jumlah semuanya ada enam cicit untuk kakek Abdullah.


"Iya sayang. Kamu seperti biasa tetap tampil hebat dihadapanku. Terimakasih sudah melahirkan anak-anakku," ucap Amran terlihat mulai merasa kedinginan lagi.


"Mas. Aku sudah lega saat ini. Sekarang, gantilah bajumu. Jangan sampai kamu masuk angin dan demam. Kamu harus menjaga aku dan lima bayi kita," ucap Nabilla.


"Baiklah. Aku mau ke kamar inap kamu dan mengganti baju di sana. Alhamdullilah kita sudah mengantar koper duluan ke sini jadi hanya bawa diri saja," ucap Amran.


"Tunggu saja di kamar inap VVIP nona Nabilla Tuan karena kami juga akan memindahkan nona Nabilla dan bayi kembarnya ke kamar inap," ucap dokter Marion.

__ADS_1


"Terimakasih dokter. Aku titip mereka dokter!"


Sayang jangan terlalu lama jauh dariku. Aku menunggumu di kamar. Aku masih berhutang cium denganmu," bisik Amran.


"Iya Baby," balas Nabilla mengecup bibir suaminya sesaat.


Selang waktu setengah jam Amran dan Nabilla serta bayi kembarnya sudah berkumpul bersama. Amran menunaikan sholat subuh lalu kembali menemui istrinya yang terlihat terlelap dan juga bayi mereka. Ia juga ikut tidur sebelah istrinya walaupun ada tempat tidur untuknya sendiri. Baginya selimut hangatnya adalah Nabilla.


Keesokan paginya, keluarga itu saling mengunjungi satu sama lain. Tuan Rusli yang mendapatkan tiga cucu sekaligus begitu pula dengan nyonya Irene yang mendapatkan tiga cucu yang sama. Bagi ketiga pria tampan yang baru menjadi ayah sangat gemas menatap bayi dalam gendongan mereka. Reno, Arland dan Devan yang menatap bayi mereka hingga tidak peduli lagi dengan istri-istri mereka.


"Yah ..! aku tidak laku lagi deh," omel Celia melihat suaminya menatap takjub bayi mereka.


"Sayang. Jangan cemburu dong! nanti aku suapin kamu makan. Aku masih takjub aja melihat hasil enak-enakan kita setampan ini," ucap Reno frontal membuat semburat merah di wajah Celia.


"Hussst! kak Reno kalau ngomong jangan asal apa," omel Celia.


Reno terkekeh melihat wajah istrinya memerah." Jadi pingin buat lagi. Habis hasil bibit kita sangat tampan dan yang kedua nanti pasti sangat cantik," celetuk Reno.


"Dihh...yang dibawah sini aja masih terasa ngilu terus mau di masukin lagi sama monster besar punya kak Reno?" gerutu Celia membuat milik Reno terangsang.


"Cih...! Ternyata dia lebih frontal dariku," ledek Reno berdecih.

__ADS_1


......


Vote dan like nya cinta please!


__ADS_2