
Kehidupan kembali berjalan normal. Nabilla sudah menggantikan kunci yang dipakai Alif dengan yang palsu. Namun ia tetap menjaga anak ini agar tidak disakiti oleh para penjahat.
Demi keamanan Alif, Amran dan Nabilla sepakat untuk memulangkan mbak Tiar dan Alif ke kampung mereka di Solo. Tentu saja biaya kehidupan mereka terutama pendidikan Alif tetap menjadi tanggung jawabnya Amran.
Walaupun sebenarnya mereka tidak ada sangkut pautnya lagi dengan keluarga Alif, tapi ini semua dilakukan Amran dan Nabilla sebagai bentuk kemanusiaan saja. Nabilla ingin mbak Tiar menyekolahkan Alif di pesantren agar putranya itu dibekali ilmu agama yang mempuni. Mengembalikan basic kehidupan manusia dengan iman islamnya yang ditanam sejak kecil. Bagaimana hasilnya nanti, setidaknya mereka sudah berusaha.
Apalagi melihat Alif yang tidak nyaman sama sekali tinggal di rumah besar milik kakek Abdullah karena ia masih merasa dirinya bukan bagian dari keluarga itu.
Tanpa terasa, kehidupan mereka terus berjalan hingga anak-anak mereka sudah semakin tumbuh besar saat ini. Apalagi keempat gadis lainnya yaitu Nadin, Celia, Lea dan Lira menambah momongan lagi dan semuanya hanya ingin memiliki dua orang anak saja.
Kini usia kembar tiga sudah memasuki usia lima tahun. Walaupun masih duduk di TK besar mereka sudah bisa membaca, menulis, berhitung. Bahkan mereka sudah menguasai alat musik piano dan biola. Mereka menyukai olahraga berenang, bulu tangkis dan mulai belajar ilmu bela diri. Yang paling menonjol diantara ketiganya adalah Bunga.
Gadis ini gemar membaca buku sastra dan biografi orang-orang hebat dan itupun selalu dibawah pantauan Nabilla. Nabilla sengaja melatih kemampuan ketiga anaknya itu agar mengenal dunia luar tentunya yang masih batas normal. Nabilla juga kerap kali menanyakan lagi apa yang mereka baca atau pelajari.
"Apakah disekolahmu ada yang punya hobi yang sama denganmu, Bunga?" tanya Nabilla.
"Ada mommy. Tapi, kelihatannya orangnya terlalu sombong dan aku tidak suka dengannya," ucap Bunga.
"Emangnya apa yang dia lakukan padamu sehingga membuat kamu tidak menyukainya?" tanya Nabilla.
"Ia tampil sok pahlawan di depan anak-anak perempuan yang memanfaatkan dirinya hanya untuk menarik perhatiannya," ucap Bunga.
"Begitukah? apakah kamu tidak menyukainya hanya karena dia memberikan perhatian lebih pada anak perempuan?"
"Lebay aja sih anaknya, mommy. Gadis itu pura-pura jatuh saat dia lewat. Dianya spontan nolongin. Aku bilang, dia itu cuma sandiwara. Apa jawabnya, mommy? dia bilang kalau aku juga ingin diperhatikan juga olehnya. Cih...! menyebalkan. Kalau bisa aku ingin cepat lulus TK dan bisa sekolah di internasional school agar tidak bertemu lagi dengannya," ucap Bunga senewen.
Nabilla hanya mengulum senyumnya. Melihat sikap putrinya, sama seperti dirinya dulu. Tidak terlalu suka dengan cowok yang perhatian tapi cowok yang terlihat cool.
"Bagaimana dengan kamu Cinta? apa yang kamu alami di sekolah?" tanya Nabilla.
__ADS_1
"Biasa saja mommy. Tidak ada yang istimewa. Mommy. Kapan kita bisa liburan bareng lagi sama kak Arsen?" tanya Cintami.
"Kak Arsen masih di pesantren. Sekarang lagi ikut ujian kelulusan sekolah karena sebentar lagi mau masuk SMA," sahut Nabilla.
"Kenapa kamu Cinta? kangen sama kak Arsen?" ledek Adam.
"Emang kenapa kalau aku kangen dengan kak Arsen?" acuh Cintami.
"Kak Arsen jarang kumpul sama kita karena waktu liburannya di pakai untuk kegiatan lain seperti ikut lomba kejuaraan yang berhubungan dengan kegiatan sekolah," ujar Nabilla yang kangen juga dengan putra angkatnya itu.
"Oh begitu. Kasihan kak Arsen. Pasti dia kecapean.
"Ok. Sudah belajarnya. Sekarang masuk ke kamar kalian dan mommy beri waktu setengah jam untuk main ponsel selebihnya tidur dan lakukan ritual seperti biasanya. Jangan lupa bangun untuk sholat subuh berjamaah!" titah Nabilla.
"Ok mommy!" ketiganya sudah merapikan lagi buku pelajarannya dan lainnya lalu kembali ke kamar mereka.
...----------------...
Keesokan paginya, seperti biasa Nabilla mengantarkan ketiga anaknya ke sekolah. Nabilla selalu mendapatkan sindiran sinis dari geng ibu-ibu muda yang berpenampilan nyentrik. Walaupun mereka berhijab namun tidak mencerminkan kepribadian mereka seorang muslimah sejati. Mereka kerap menghina gaya penampilan Nabilla hingga kebawa ke pergaulan anak-anak mereka yang sering menghina ibu dari Adam, Bunga dan Cinta.
"Eh... Cinta! ibu loe sangat jelek ya? sampai nutupin wajahnya begitu?" ledek Fira.
"Kalau mommy aku jelek, masa bisa melahirkan anak-anaknya yang kece seperti kami," balas Cinta begitu elegan.
"Eh... kalau mau ngatain mommy Aku, kamu lihat dulu penampilan ibumu seperti apa? wajah ibumu itu lewat. Jauh banget sama wajah mommy kami. Saking takutnya semua ibu-ibu kalian iri, mommy ku rela menutupi wajahnya yang cantik banget itu dengan cadar. Jadi, kami tidak terpengaruh dengan ledekan kalian yang tidak berbobot itu," umpat Bunga dengan kata-kata menohok.
"Buktikan kalau mommy kamu cantik. Jangan bisanya ngomong doang!" tantang Sendi.
"Tidak ada yang perlu dibuktikan oleh ibuku karena ibuku bukan tukang pamer. Hati-hati lidahmu! jangan pintar memprovokasi seseorang hanya untuk menyenangkan hatimu," ucap Cinta lalu mengajak kakaknya Bunga masuk kelas.
__ADS_1
Memang ketiga anaknya Nabila ini termasuk anak yang jenius. Kejeniusan mereka membuat mereka berpikir kritis melebihi dari orang dewasa. Apa lagi mereka menguasai sepuluh bahasa dan kejeniusan mereka tidak begitu diperlihatkan karena sudah di wanti-wanti oleh ibu mereka.
"Mommy tahu, kalian bertiga itu sangat cerdas. Kecerdasan akan membuat kalian terkenal namun itu bukan suatu hal yang membanggakan karena di luar sana akan banyak orang memanfaatkan kalian dan itu akan menjadi petaka untuk kalian. Apakah kalian mengerti, sayang?" nasehat ibunya itu yang membuat kembar tiga selalu mawas diri.
"Hai Bunga ..!" Sapa Ezra. Cowok sok perhatian yang dibenci Bunga.
Bunga tampak asyik menyusun permainan puzzle di komputer yang ada di ruang komputer.
"Cantik-cantik tuli," ledek Ezra.
"Lagi-lagi Bunga tidak mengindahkan ledekan Ezra. Ia masih saja tenggelam dengan permainannya.
"Jangan terlalu sombong jadi cewek!" umpat Ezra kesal juga melihat sikap cueknya Bunga.
"Aduh...!" pekik Vika pura-pura jatuh karena ada anak cowok yang tidak sengaja menyenggolnya demi untuk mendapatkan perhatian Ezra.
Ezra yang melihat Vika nampak gelisah karena dia sebenarnya ingin mengajak Bunga main, tapi tidak tega melihat Vika jatuh. Bunga hanya melirik Ezra yang masih diam saja berdiri di dekatnya.
"Tumben tuan Superman nggak nolong," ledek Bunga.
"Sepertinya dia tidak apa-apa. Aku mau lihat kamu main game itu. Kelihatannya seru. Kamu bisa menyusun potongan puzzle dari sobekan kertas menjadi sebuah kalimat. Sepertinya itu bukan permainan biasa karena itu sebuah permainan rahasia milik intelijen Amerika," ucap Ezra membuat Bunga merasa Ezra sama istimewanya dengan dirinya.
"Astaga...! kenapa Ezra bisa mengetahui jenis permainan ini?" gugup Bunga lalu mengacak lagi sebuah kata sandi itu.
Vote dan like nya Cinta please!
Visual Bunga saat Dewasa
__ADS_1