
Malam mulai merambah naik memperlihatkan gelapnya, namun langit tidak mampu menampakkan bintang karena tergantikan oleh butiran curah salju yang menumpuk di setiap sisi di Istanbul Turki.
Permadani putih itu menghiasi bumi atas kuasaNya. Wajah-wajah ceria itu nampak berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati hangatnya perapian untuk menghangatkan tubuh mereka di kala dingin menembus tulang. Jika kedua pasangan pengantin baru saling membelit tubuh pasangannya, tidak dengan ketiga jomblo yang menjadikan bantal empuk untuk bisa di peluk saat ini.
Makanan berlimpah dan beberapa buah segar di sajikan di depan mereka dilengkapi minuman coklat panas yang sangat di gemari kelurga itu. Canda tawa mereka memenuhi ruangan itu. Suasana villa yang setiap harinya terasa sepi kini nampak hangat dan riuh karena gelak tawa yang diciptakan oleh mereka karena celetukan-celetukan yang berbau humoris.
Puas tertawa dengan lelucon konyol mereka, kini bahasan mereka merambah ke hal yang lebih serius.
"Apakah kalian sudah menemukan siapa yang telah menyerang kita tadi pagi, El?" tanya Bunga yang saat ini duduk dalam pangkuan suaminya yang memeluk perutnya dari belakang.
"Ada jaringan mafia di balik bukit ini terkait pembangunan proyek pipa gas ilegal dari sumber minyak bumi yang ada di pegunungan 200 mil dari tempat ini. Rupanya mereka mengetahui sumber bumi ini namun tidak terendus oleh pemerintah karena berada di wilayah tanah milik keluarganya," sahut El.
"Apakah kita harus mengusut kasus mereka?" tanya Cintami.
"Tidak perlu. Ini bukan wewenang kita. Lagi pula kita tidak diperintahkan untuk membongkar kejahatan mereka. Jadi, kita tidak punya pelindung hukum untuk bisa membekuk mafia itu. Biarkan saja seperti ini.
Otoritas negara ini tidak mau cari tahu atau pura-pura menutup mata karena ikut mendapatkan kecipratan rejeki dari bisnis ilegal ini dan itu pastinya oknum pejabat terkait yang sengaja melindungi bisnis ilegal itu. Jadi, untuk apa kita ikut campur urusan dalam negeri mereka," timpal Adam mengambil keputusan bijak.
"Baiklah. Selama mereka tidak menyentuh kita lagi, kita juga pura-pura tidak tahu hal ini. Jangan sampai identitas kalian sebagai agen rahasia terbongkar di sini," ucap Arsen.
"Baiklah. Lupakan saja dan kita bebas menikmati liburan di sini. Jarang sekali kita bertemu dan melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti kita masih kecil dulu," ujar Nada.
"Tapi, kita harus tetap waspada dengan keadaan sekitarnya. Siapa tahu mereka masih iseng meneror kita," ujar Daffa.
"Sepertinya mereka tidak lagi meneror kita saat mereka melihat kita merupakan bagian dari pemilik villa ini. Karena beberapa jam kita di sini, semuanya terlihat aman-aman saja," ucap Cintami.
"Sepertinya orang itu punya koneksi langsung dengan keluarga kakek Salim. Itulah sebabnya mereka tidak ingin lagi menyakiti kita," ucap Adam.
__ADS_1
"Apakah jangan-jangan, tempat kita meluncur tadi untuk bermain ski adalah tempat di mana pipa gas itu di tanam?" Nada memiliki asumsi sendiri.
"Apakah kita harus memeriksanya untuk sekedar mengetahuinya?" tanya El.
"Tunggu...! jangan sampai ada yang mendengar obrolan kita dan merekamnya. Takutnya ada mata-mata orang dalam di sini. Waspada itu penting dan jangan terlalu percaya pada orang yang baru kita kenal," desis Bunga.
"Untuk apa kamu takut, Bunga? bukankah saat ini kita sedang bicara dengan bahasa kita sendiri. Siapa yang akan mengerti bahasa kita?" timpal Arsen.
"Kalau tidak direkam, mereka tidak akan mengerti. Bagaimana kalau direkam? bukankah ada aplikasi ponsel yang bisa menerjemahkan setiap bahasa asing dengan bahasa mereka?" ucap Bunga.
"Astaghfirullah. Kenapa aku sampai melewatkan hal itu," ucap Arsen.
"Baiklah. Sekarang sudah larut malam. Besok kita lanjutkan bermain ski. Masih banyak yang perlu kita lakukan di sini dari pada menelusuri kejahatan orang lain," ucap Adam.
"Sayang...! gendong..!" manja Bunga pada suaminya membuat Nada memutar bola matanya malas.
"Cih...! dasar pengantin baru sontoloyo..!" umpat Nada dalam hati.
"Kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu lakukan tadi, gadis nakal!" geram El sambil menyeringai puas.
"Ya Allah. Ada apa dengan ponselku? kenapa semuanya bisa terhapus begitu saja. Apakah aku salah tekan? apakah ponselnya eror? mana aku tidak menghafal nomor kontaknya Affan lagi ," gerutu Elif gusar.
Ia akhirnya memilih untuk tidur karena tidak bisa mengutak-atik ponselnya. Sementara di tempat yang berbeda, kekasih Elif melaporkan kepada bosnya tentang keberadaan cicit-cicitnya kakek Salim.
"Maaf tuan Gibran! Sepertinya rombongan itu tidak memiliki maksud tertentu dengan aktifitas kita di bukit ini. Mereka merupakan keturunan dari tuan Salim yang saat ini sedang berlibur," ucap Affan setelah mendapatkan informasi dari kekasihnya Elif saat rombongan cicit kakek Salim baru tiba di villa.
"Kau kira mereka itu bocah biasa? Apakah kamu tidak lihat bagaimana cara mereka melumpuhkan anggota kita hingga banyak yang tewas dan terjebak dalam jebakan yang mereka buat? jika mereka tidak jenius tidak mungkin mereka bisa lolos begitu saja dari anggota kita yang tadi pagi menyerang mereka," ucap mafia itu dengan wajah kelam.
__ADS_1
"Mereka itu keturunan orang kaya bos. Wajar saja kalau mereka sudah terlatih secara mental dan fisik untuk menghadapi musuh," timpal Affan berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari kekasihnya, Elif.
"Kembali ke tempatmu! aku mau istirahat," ucap sang mafia.
Sang mafia mencerna ucapan Affan yang ada benarnya. Jika keturunan orang kaya seperti keluarga mafia yang sama dengan dirinya harus bisa menguasai ilmu beladiri dan jenis persenjataan apapun.
*
*
Tiga hari berada di villa kakek Salim, kelurga ini memutuskan untuk kembali ke kota Istanbul dan siap pulang ke Jakarta. Mereka memetik buah apel merah yang cukup banyak buat Nabilla dan Amran sebagai oleh-oleh. Mereka hanya bisa menikmati buah yang ada di situ namun tidak bisa di bawa pulang ke Jakarta karena dilarang oleh setiap penerbangan luar negeri membawa buah ke negara asalnya.
Setibanya di kota Istanbul dalam perjalanan menuju mansionnya kakek Salim, lagi-lagi Daffa mendapatkan telepon dari ayahnya tuan Darwish yang masih bertahan di Turki setelah menyelesaikan proses hukumnya nyonya Cyra.
"Ada apa papa?" tanya Daffa yang ingin membiasakan dirinya memanggil tuan Darwish dengan sebutan papa setelah mengetahui Darwish itu ayah kandungnya.
Darwish yang mendengar panggilan sakral itu merasa terharu bercampur takjub. Iapun mengesampingkan dulu rasa bangganya itu karena ada hal yang lebih penting daripada itu saat ini.
"Daffa. Ibumu saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Keadaannya sangat kacau dan ia mengalami depresi berat usai menyelesaikan proses hukumnya. Ia tidak mampu menanggung beban mental yang saat ini ia hadapi.
Apakah kamu mau melihat keadaannya Daffa? siapa tahu hadirnya kamu bisa membantunya untuk kembali kuat," pinta tuan Darwish terdengar putus asa.
Daffa tidak segera menjawabnya. Pikirannya menerawang jauh dengan tatapan mata menembus setiap butir salju yang masih turun saat ini. Ruang dadanya seakan penuh sesak saat mengetahui wanita yang telah melahirkannya itu dalam keadaan depresi berat.
Bunga yang melihat suaminya hanya termenung, hanya bisa menghela nafas berat. Ia sudah tahu apa yang saat ini suaminya pikirkan karena ia juga ikut mendengarkan percakapan ayah dan anak itu.
"Temuin mamamu sebelum kamu dibuat menyesal oleh waktu yang tak akan kembali berulang. Hargai setiap momen yang Allah berikan saat ini. Jangan mengikuti egomu yang keras kepala itu karena akan membuatmu sesal kemudian!" ujar Bunga mendesak suaminya untuk menemui nyonya Cyra.
__ADS_1
.....
Vote dan likenya Cinta please!