Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
304. Bergetar Hatiku


__ADS_3

Pagi itu, Dinar sudah berada di ruang ICU dengan penampilan formal layaknya seorang wanita pengusaha nan berkelas, tentunya kecantikannya tidak perlu dipertanyakan lagi.


Tidak perlu melakukan penyamaran menjadi wanita elite karena Dinar bukan berasal dari rakyat kelas menengah. Lahir dari keluarga kaya dengan kedua Opa mantan mafia yang nama keduanya sudah masyhur di dunia.


Siapa lagi kalau bukan Wira dan Amran dan sekarang jejak itu di pegang oleh seorang ayah keren nan tampan yaitu Arsen pengusaha muda yang terkenal sholeh dengan ibu yang memiliki kecantikan paripurna dan pemberani.


Dinar beruntung memiliki semua itu dan untuk urusan cinta kasih kelurga jangan ditanyakan lagi. Apapun yang dibutuhkannya selalu terpenuhi. Tinggal sekarang menjejaki dunia dewasa ia butuh penyambung kasih sayang itu pastinya dari seorang pria yang harus lebih hebat dari ayah maupun kedua opanya.


"Assalamualaikum Evren. Bagaimana kabarmu pagi ini?" tanya Dinar sambil mengenakan lip bam pada bibir Evren yang nampak kering.


"Bangunlah...! Apakah kamu tidak bosan berbaring setelah hampir satu pekan di atas ranjang ini? Oh iya, aku mau ke perusahaanmu. Aku ingin membuat perhitungan dengan keluarga tirimu. Mereka akan mendapatkan ganjaran mereka masing-masing.


Aku datang menenuinu hanya minta ijin padamu. Aku mohon doa dan dukunganmu...!" pinta Dinar kini menggenggam jari jemari Evren seakan sedang memberi kekuatan kepada pria malang itu.


"Berilah respon padaku bahwa kau merestui langkahku agar bisa masuk ke perusahaanmu. Sedikit saja. Tolonglah Vren...!" harap Dinar dengan senyuman terbaiknya jika Evren bisa melihatnya pasti meleleh juga menatap wajah bidadari di hadapannya saat ini.


Mungkin rasanya sia-sia Dinar mengajak pasien koma dengan berkomunikasi namun ia sangat yakin akan kekuatan doanya yang ia haturkan di setiap sujudnya yang khusus ia datangi Robby-nya di sepertiga malam hanya untuk Evren.


Doanya yang mampu menggetarkan Arsy Allah bahwa permohonannya akan dikabulkan Allah entah itu kapan tapi dia tidak pernah putus asa atas Rahmat Allah akan doanya itu.


"Baiklah. Aku yakin kamu mendengarkan perkataanku dan merestui. Sekarang aku pergi dulu ya ke perusahaan induk milikmu," ucap Dinar seraya berdiri hendak mengambil tas miliknya namun satu jarinya berhasil digenggam oleh Evren membuat tubuh jenjang yang tadi sempat berbalik kemudian menoleh ke jarinya yang di genggam oleh Evren.


Sontak wajah cantik itu sumringah melihat perubahan Evren yang membuatnya hampir menubruk tubuh atletisnya Evren jika tidak mengingat mereka bukan muhrim.


"Evren. Hai ...! Buka matamu...!" pinta Dinar mendekati lagi brangkar Evren dengan senyumnya.


Mata elang itu mulai mengerjapkan matanya secara perlahan untuk menerima cahaya di sekitar ruang ICU itu. Setelah pandangannya sempurna menatap visual bidadari di depannya Evren terpaku sesaat meresapi kecantikan Dinar seakan sedang mengalirkan aura penyembuhan jiwanya dengan senyum magis Dinar karena pancaran sinar kebahagiaan dari wajah cantik Dinar.


"Apakah aku sudah mati? Hingga bertemu dengan bidadari?" tanya Evren saking kagumnya pada Dinar.


"Pastinya kamu masih berada di lintasan planet bumi tepatnya di Istambul Turki di rumah sakit internasional Istambul," jawab Dinar tetap dengan senyum binarnya.


"Jangan panggil dulu dokter! Aku hanya ingin melihatmu sebentar tanpa tergantikan oleh wajah yang lain!" cegat Evren saat Dinar hendak menekan tombol nurse call disisi tubuhnya.


"Tidak boleh..! Kita bukan muhrim yang bebas saling menatap satu sama lain, ok?!" timpal Dinar yang langsung mengontrol dirinya walaupun hatinya diliputi kebahagiaan saat ini.


Tombol nurse call berhasil dipencet Dinar dan Dokter yang stay 24 jam di ruang ICU itu segera memeriksa keadaan Evren.


"Masya Allah tuan Evren. Kami tidak menyangka anda siuman secepat ini," ucap dokter Jasmine begitu lega melihat kondisi pasiennya.

__ADS_1


"Itu karena aku merasakan keberadaan hawa bidadari di sini di sekitarku, dokter," lirih Evren yang masih bisa becanda di tengah sakitnya.


Dinar yang sudah mampu menguasai emosinya tersipu malu hingga ia membalikan tubuhnya menyembunyikan raut wajahnya yang memerah saat ini.


"Kendalikan dirimu Dinar!" bujuk Dinar pada dirinya sendiri.


"Semuanya tampak membaik, tuan Evren. Sesaat lagi kami akan pindahkan anda ke ruang inap sesuai kelas yang anda inginkan," ucap dokter Jasmine.


"Terimakasih dokter. Tapi aku ingin bicara berdua dengan gadis itu sebentar!" pinta Evren.


"Baiklah. Saya mengerti. Kalau begitu saya tinggal dulu!" ucap dokter Jasmine mengajak susternya keluar dari bilik ICU itu.


"Hei...! Apakah kamu tidak bisa mendekati aku seperti tadi?" pinta Evren melihat Dinar yang langsung menjaga jarak dengan dirinya.


"Kita bukan muhrim," ucap Dinar salah tingkah sendiri saat ditatap oleh mata elang Evren seakan menembus jantungnya yang siap terbelah.


Evren tersenyum gemas melihat wajah cantik Dinar yang tidak seberani tadi menatap dan berani menggenggam tangannya saat memberinya kekuatan di kala matanya terpejam.


"A....itu....aku...aku hanya...itu...!" Dinar kehilangan kata-katanya. Ia sangat malu karena perbuatannya diketahui oleh Evren yang sebenarnya sudah sadar saat Dinar berani menyentuh bibirnya seakan ujung jari lembut Dinar memberinya sengatan magis yang mampu menggetarkan hatinya hingga tubuhnya dialiri arus darah yang mengalir panas memompa ke jantungnya.


Di tambah lagi Dinar berani menggenggam satu tangan kekarnya hingga ia bisa merasakan dinginnya tangan Dinar yang menawarkan kesejukan di hatinya. Pokoknya kehadiran Dinar sebagai obat pelengkap dalam masa penyembuhannya.


"Duduklah disampingku, Dinar..! Aku tidak mengigit mu kok. Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu. Bukankah kamu ingin membantuku mengusut kasus ku bukan?" selidik Evren yang mengira Dinar adalah seorang polisi.


"Kita bisa bahas itu nanti. Tapi, aku yakin kamu adalah seorang polisi wanita dan kamu....-"


"Bukan. Profesiku adalah pengacara," potong Dinar.


"Nah itu malah lebih bagus. Aku butuh pengacara dalam membantu kasus aku saat ini. Aku ingin tahu siapa yang sudah membuat konspirasi dengan menyusun skenario dramatis atas kematianku," ucap Evren.


"Itu yang mau aku cari tahu kebenarannya," ucap Dinar.


"Aku hanya ingin mencaritahu siapa orang yang tega membunuhku padahal selama ini hidupku sudah baik-baik saja dan tidak pelit pada orang lain," ucap Evren.


"Semuanya akan terungkap pada waktunya. Yakinlah ...! tidak ada kejahatan di dunia ini yang tidak terungkap dan tentu saja atas ijin Allah. Mungkin Allah masih melindungi aib manusia yang dilakukan secara personal agar manusia itu bertobat," ucap Dinar.


"Contohnya apa Dinar kalau Allah sabar menyembunyikan aib hambaNya yang menzalimi dirinya sendiri?" tanya Evren.


"Dosa zina yang selalu diperbuat oleh hambaNya namun ia dengan mudahnya menceritakan kepada temannya yang kemudian akan terbongkar di kemudian hari. Padahal Allah sudah menutupi aibnya agar dia bertobat atas dosanya itu," papar Dinar.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan pembunuhan? Bukankah dilakukan oleh satu orang?" tanya Evren.


"Kalau itu tidak bisa. Pasti akan tercium juga dengan cara apapun karena menghilangkan nyawa orang lain. Beda dengan zina yang merusak dirinya sendiri. Namun Allah maha baik menutupi aibnya," ucap Dinar agar Evren mengerti.


"Maaf. Pemahaman Ilmu agamaku tidak begitu baik. Aku masih dalam proses belajar. Kelihatannya kamu sangat ahli.. Apakah kamu anak seorang ulama?" tanya Evren.


"Untuk menguasai agama Islam, tidak perlu menjadi seorang putri ulama karena itu adalah kewajiban umat Islam untuk menyelami ilmu agama dalam mengontrol kehidupannya," ucap Dinar.


"Baiklah. Aku hari ini berencana untuk mendatangi perusahaanmu untuk menyelidiki kasus yang terjadi padamu. Untuk itu aku perlu akses ke sana. Apakah ada yang bisa kamu berikan padaku?" tanya Dinar.


"Baiklah. Aku sangat percaya padamu Dinar. Aku akan memberikan semua password untuk bisa memasuki data perusahaan yang dibawah kuasaku termasuk brangkas dan deposit box di bank," ucap Evren yang begitu percaya penuh pada Dinar.


Walaupun Dinar sudah tahu permainan keluarga tirinya Evren tapi dia tidak mau gegabah membuat spekulasi untuk meracuni pikiran Evren hingga ia bisa membuktikan sendiri kebenaran dari penyelidikan secara acak oleh Omanya Nabila agar tidak timbul fitnah.


Dinar hanya menyampaikan beberapa rencananya untuk bisa masuk ke perusahaan Evren selama Evren dianggap menghilang oleh kelurganya.


"Kamu mau menawarkan saham sebesar itu pada perusahaanku? Apakah kamu juga seorang pengusaha?" sentak Evren yang tidak percaya dengan rencana besar Dinar.


"Sudahlah. Kamu jangan terlalu merisaukan bagaimana aku bisa mendapatkan saham sebesar itu saat ini. Yang jelas ikuti saja permainanku, ok!" desak Dinar tidak mau membuka jati dirinya pada Evren karena itu tidak perlu.


"Kamu yakin dengan rencanamu? Bahkan kamu saja mungkin belum menyelesaikan kuliah pengacaramu?" ragu Evren yang belum tahu kalau Dinar menyelesaikan kuliah hukumnya di usia 17 tahun.


"Aku tidak bisa mengumbar sesuatu yang tidak perlu kamu ketahui Evren tapi aku akan buktikan kepadamu, bagaimana kinerjaku nanti tidak akan mengecewakanmu," ucap Dinar meyakinkan Evren.


"Baiklah Dinar. Menyelamatkan nyawaku saja kamu mampu apalagi hanya mengandalkan strategi dengan kemampuan kejeniusan mu pasti kamu sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna.


"Baiklah. Kalau begitu aku pamit. Terimakasih sudah memilihku untuk menyelesaikan tugas ini," ucap Dinar.


"Menjadikan kamu sebagai istriku juga, aku tidak lagi meragukan mu untuk itu," goda Evren terdengar frontal dikuping Dinar yang bersemu merah dan langsung berlari keluar dari ruang ICU itu membuat Evren tergelak.


"Dia sangat menggemaskan," lirih Evren.


Sesampainya di luar, Dinar mengusap dadanya yang naik turun untuk menenangkan dirinya karena jantungnya sudah tidak baik-baik saja. Seperti gadis yang sedang jatuh cinta pada umumnya, Dinar cekikikan sendiri dan itu tertangkap oleh dokter Jasmine.


"Apakah anda baik-baik saja, nona Dinar?" tegur dokter Jasmine yang sudah berdiri di samping Dinar yang reflek terkejut.


"Eh, dokter...!" Dinar tertunduk malu dan berusaha mengendalikan ledakan kebahagiaannya saat ini.


"Ah...iya. Maaf dokter, aku baru saja terima kabar baik dari keluargaku. Permisi dokter. Oh iya, tolong pastikan keamanan untuk tuan Evren jika beliau sudah dipindahkan ke ruang inap VVIP!" gugup Dinar seraya pamit pada dokter Jasmine yang baru selesai melakukan visit ke kamar pasien.

__ADS_1


Visual Dinar



__ADS_2