Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
154. Ada Penyusup


__ADS_3

Dua mobil berhenti di depan halaman mansion kakek Salim. Pria senja ini sedari tadi sedang menunggu kedatangan cucu dan cicitnya hingga betah duduk di teras sambil menggoyangkan kursi malasnya.


Bunyi pintu mobil tertutup dengan suara teriakan cucu dan cicitnya membuat kakek Salim yang sempat termenung tiba-tiba terkesiap. Ucapan salam itu disambut oleh kakek salim disertai doa keselamatan yang sama untuk keturunannya itu.


"Kakek...! kenalkan ini namanya Cinta dan Adam," ucap Nabilla memperkenalkan kedua anaknya yang belum bertemu dengan kakek Salim usai mencium tangan kakeknya.


"Selamat datang lagi kesayangan kakek!" ucap kakek Salim dengan suara bergetar.


Cinta mengecup pipi kakek uyutnya dan memujinya penuh rasa hormat." Ternyata kakek uyutku sangat tampan!" puji Cintami.


"Wah...! wajahmu persis seperti ibumu, nak," ucap kakek Salim memuji kecantikan Cintami karena wajahnya mewarisi wajah Nabilla.


"Dan Adam. Kamu juga sangat tampan. Apakah kamu sudah menikah?" tanya kakek Salim.


"Belum puas mainnya kakek. Tidak pingin terikat dulu dengan pernikahan," ucap Adam dengan wajah datarnya namun tetap bersikap ramah pada kakek uyutnya.


"Wah, ...! sudah nyampe? ini Cinta dan Adam? dan ini suaminya Cintami?" tanya Mariam yang langsung memeluk Cintami dan mengacak rambut Adam.


"Ayo kita ke dalam. Di luar sangat dingin!" ajak Mariam.


Keluarga Amran masuk ke dalam rumah besar itu karena salju di luar mulai turun lagi. Kakek Salim mencegah Nabilla masuk karena ada yang ingin ia tanyakan kepada cucunya itu.


"Sayang ..!"


"Iya kakek..!"


"Apakah kamu tahu di mana keberadaan pamanmu Mohammad Ridwan Amir?" tanya Kakek Salim penuh kerinduan.


"Paman sudah meninggal kakek saat pertama kali bertemu dengan calon suami Nabilla," ucap Nabilla sendu.


"Apaaa.....?" jadi putraku juga sudah meninggal?" tanya Kakek Salim terlihat sangat terpukul.


"Iya kakek. Penyakit jantung yang dideritanya tidak bisa membuatnya bertahan. Ia meninggal tanpa memiliki seorang anak hingga mengadopsi Nabilla menjadi putrinya," ucap Nabilla mengisahkan lagi kenangan indahnya bersama sang paman.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun. Kedua anakku lebih duluan pulang kepangkuan illahi. Sementara aku adalah seorang ayah yang payah tidak bisa memperjuangkan cintaku kepada keluarga kecilku.

__ADS_1


"Oh iya, bagaimana dengan ayahmu? mengapa kamu malah di asuh oleh pamanmu?" tanya kakek Salim.


"Kisah cinta kakek dan ayah tidak jauh berbeda. Sama-sama dikendalikan oleh kedua orangtuanya. Tapi, Nabilla tidak lagi mempersalahkan itu kakek semuanya punya hikmah tersendiri. Aku bertemu ayahku tidak disengaja sama halnya aku bertemu lagi dengan kakek saat ini. Kakek. Jangan dulu tinggalkan Nabilla yah! Nabilla belum puas bermanja dengan kakek," rengek Nabilla manja.


"Insya Allah nak."


Di dalam sana keluarga besar berkumpul bersama dan sibuk menyiapkan makan siang. Segaf yang kembali berlayar tidak bisa bertemu dengan sepupunya. Ditengah jamuan makan siang itu, kakek meminta pasangan itu dan yang lainnya untuk bermain ski di puncak bukit dekat dengan villanya. Tentu saja di sambut baik oleh cicit-cicitnya.


Nabilla dan Amran tidak ikut karena ingin lebih banyak meluangkan waktu mereka dengan kakek Salim yang tidak bisa ikut ke villa itu karena medannya yang sulit di jangkau di usia tuanya yang rentan sakit.


"Bagaimana kalau kita berangkat ke villa dengan helikopter. Kita loncat dari atas helikopter dengan sudah mengenakan perlengkapan untuk bermain ski?" tawar Bunga.


"Wah...! itu sangat keren karena akan memicu adrenalin kita di sana nantinya," timpal Adam.


"Ok. Siapa takut. Aku sudah lama tidak bermain ski. Harusnya kita main di hutan Rusia sana tapi karena sedang melakukan misi jadi, tidak membawa persiapan apapun," celetuk Cinta membuat wajah Nada kembali muram.


Melihat Nada yang sedih, El menyikut Cinta agar tidak membahas negara itu lagi." Ok. Kapan kita berangkat? aku sudah tidak sabar merasakan ketegangan bermain ski dari puncak gunung yang bersalju," ucap Daffa.


"Hati-hati nak...! di sana banyak tebing yang curam. Pemandangan di sana hanya terlihat pohon cemara yang sangat indah. Perlengkapan logistik sudah kakek minta anak buah kakek untuk membawanya ke sana untuk kebutuhan kalian selama menginap di sana nanti.


Jadi kalian tidak perlu membawa apapun kecuali perbekalan dan persenjataan yang mungkin kalian butuhkan selama meluncur menuju villa kakek," ucap kakek Salim.


"Iya Tante Mariam. Terimakasih banyak. Maafkan kami Tante karena sudah merepotkan Tante selama kami di sini," ucap El.


"Tidak ada yang merepotkan ko El. Justru Tante sangat senang bisa bertemu dengan kalian semua. Tampan, cantik dan ganteng. Jeniusnya itu lho yang buat Tante sangat kagum memiliki kalian sebagai keponakannya Tante," ucap Mariam.


Pelayan sudah membersihkan lagi meja makan dan kelurga itu beristirahat di kamar mereka masing-masing yang sudah dirapikan oleh pelayan. Nabilla ingin mengetahui pekerjaan yang sebenarnya digeluti kakek uyutnya dulu kerjanya apa hingga memiliki beberapa aset berharga di beberapa tempat di negara Turki.


"Kakek uyutmu dulu seorang bangkir. Dia ingin menikahkan kakek dengan putri sahabatnya agar bisnis mereka menjadi suatu kerajaan besar. Kakek tidak mau menjadi bagian dari bisnis itu hingga akhirnya perusahaannya di kelola oleh sepupunya kakek," ucap kakek Salim yang tidak menyebutkan secara spesifik tentang bisnis milik kedua orangtuanya itu.


"Uyutmu itu sangat jenius. Ia menguasai 18 bahasa di dunia. Dan ia mampu menciptakan senjata kimia pembunuh massal yang saat itu di curi oleh sahabatnya dan di jual ke negara lain. Sampai saat ini bom pemusnah masal itu tidak ditemukan lagi keberadaannya," ucap kakek Salim membuat Nabilla tersentak.


"Apakah jangan-jangan bom berupa senjata kimia itu yang pernah dibeli oleh kakek Abdullah?" batin Nabilla.


"Kakek. Nabilla pamit untuk rehat dulu ya kakek," ucap Nabilla lalu mencium pipi kakeknya.

__ADS_1


"Baiklah sayang."


Keesokan harinya, rombongan keluarga Amran sudah berangkat menaiki dua helikopter untuk membawa mereka ke atas puncak bukit dekat dengan villanya kakek Salim.


Co-pilot yang ingin menurunkan mereka di atas bukit karena sulit untuk mendarat karena angin terlalu kencang.


"Kalian harus melompat dari atas sini! helikopter ini tidak bisa mendarat karena akan di dorong oleh angin," ucap sang co-pilot.


"Baiklah. Kami akan lompat dari sini. Kami sudah terlatih," ucap Daffa yang lompat lebih dulu melompat ke bawah salju di saat pintu helikopter di geser.


Yang lainnya menyusul melompat mengikuti Daffa yang sudah meluncur dibawah sana. Helikopter itu meninggalkan keluarga itu kembali ke pangkalan helikopter.


Daffa dan Bunga. Cintami dan Arsen sudah lebih dulu meluncur agak jauh dari yang lainnya yaitu Adam dan si kembar yang paling belakangan mendarat lalu meluncur dengan indah sambil memegang kedua tongkat ski sebagai penopang.


Satu sama lain teriak kegirangan. Euforia yang mereka rasakan meluncur mengikuti lekukan jalanan bukit. Sekitar setengah jam mereka menikmati permainan ski di atas salju, tiba-tiba ada motor ski yang tersambung dengan paralayang terbang di atas mereka yang tadinya hanya muncul sedikit orang tapi, tiba-tiba menjadi banyak.


Awalnya rombongan keluarga Amran itu mengira mereka juga akan melakukan permainan ski, tapi hujan peluru yang tiba-tiba menghampiri mereka membuat mereka sigap menghindarinya.


"Oh sh*et....!" umpat mereka kompak.


"Masuklah ke dalam hutan..!" teriak Arsen pada rombongannya.


"Kita berpencar. Jangan semuanya masuk ke dalam hutan! Kita harus membalas mereka!" ucap Bunga pada saudaranya melalui alat penghubung.


"Wah...!" petualangan lagi nih," ucap El semangat untuk membalas musuh yang tiba-tiba menganggu kesenangan mereka.


"Siapa mereka..? kenapa kita diserang..?" tanya Nada sambil melihat ke atas motor musuh yang masih terbang menggunakan paralayang.


Adam dan Daffa memancing musuh itu lebih dekat dengan mereka lalu keduanya masuk ke dalam pohon cemara membuat paralayang itu tersangkut di pohon cemara lalu langsung sobek. Dan motor mereka meledak di atas pohon cemara.


Adam dan Daffa terkekeh bisa menjebak musuh. Sekarang giliran Cinta dan Nada yang beraksi untuk menjebak musuh.


Bersambung ya say.. Nantikan aksi berikutnya!


.......

__ADS_1


.....


Vote dan likenya cinta please..!


__ADS_2