Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
285. Memburu Musuh Negara


__ADS_3

Wabah berlalu, masyarakat kota Jakarta yang terpapar virus sembuh dari penyakit mereka. Sementara udara kota Jakarta terbebas dari polusi walaupun belum begitu signifikan karena saat ini putra kembar Daffa sedang menciptakan alat canggih untuk di pasang di setiap atap gedung maupun atap rumah warga untuk menangkal polusi udara dengan menghisap udara polusi itu terlebih dahulu lalu menyaringnya kembali dalam mesin untuk di sebarkan kembali udara bersih itu ke bumi. Dan itu baru konsep yang mereka inginkan.


Tinggal enam bulan lagi akan diadakan pemilu. Tentu saja rakyat Indonesia sangat berharap kalau Amran dan Nabilla kembali menduduki tahta kepresidenan untuk periode kedua sebagaimana yang diinginkan oleh rakyat Indonesia yang mengharapkan keduanya kembali maju sebagai capres.


Amran tetap mengembalikan itu kepada masyarakat dan selebihnya atas izin Allah SWT. Jadi tidak maksa, jika tidak terpilih memang itu adalah jalan terbaik yang Allah tetapkan untuk sepasang suami istri hebat ini.


Amran menyarankan kepada masyarakat Indonesia agar tidak melakukan ujaran kebencian pada lawan politiknya. Biarkan keduanya bersaing secara sehat, jujur, adil dan amanah.


Jika Amran sedang mengurus negaranya diakhir-akhir masa jabatannya, tidak dengan anak-anaknya yang siap menyerang sarang musuh yang pernah mengirim virus senjata kimia biologis itu yang bertempat di salah satu negara Asia yaitu Jepang.


Amran sudah menghubungi negara terkait untuk memberikan akses masuk agar bisa menangkap atau menghabisi para mafia politik itu secara langsung.


Kedatangan kelima anaknya beserta dua orang menantunya di negara tersebut dengan tetap melakukan penyamaran.


Mereka menginap disebuah hotel mewah yang dekat dengan lokasi para gangster itu untuk bisa melakukan pelacakan dan mempelajari gerak-gerik para pelaku dalam keseharian mereka.


Kecerdasan Ghaishan yang mampu meretas cctv di setiap ruangan milik para pelaku itu yang ada di kediamannya hingga mampu mendengar langsung percakapan para mafia.


Rupanya pengiriman virus itu dilakukan oleh beberapa mafia yang merupakan musuh lama Nabilla dan Amran. Terutama Nabilla yang pernah menghancurkan bisnis mereka bahkan memindahkan semua uang milik mereka ke badan amal ke sejumlah negara miskin di dunia beberapa tahun yang lalu saat kasus penjebakan Amran.


"Diantara organisasi mafia itu, sepertinya usia mereka tidak jauh dari mommy dan Daddy," ucap Ghaishan yang sedang mengotak-atik laptopnya sambil bicara dengan saudara istrinya dan iparnya Daffa.


"Mungkin saja mommy mengenal mereka," sahut Adam.


"Apa sebaiknya kita memperlihatkan wajah mereka pada mommy?" tanya El.


"Sebaiknya begitu karena ada kemungkinan ini dendam lama," ujar Daffa yang mengetahui kiprah mendiang ayah angkatnya yang pernah bekerjasama dengan para mafia internasional.


"Baiklah. Kita kirim identitas mereka ke mommy yang lebih paham siapa mereka," imbuh Ghaishan.


Dalam beberapa menit data pelaku diterima oleh Nabilla yang sedang meneliti wajah pelaku. Walaupun usia pelaku tidak muda lagi namun ia sangat mengenal siapa pelaku tersebut.

__ADS_1


"Nadim..? Bukan pria ini yang pernah menembak aku? kenapa semua identitasnya berubah. Bukankah dia juga sudah dihukum mati?" tanya Nabilla yang merasa permainan hukum di negaranya dulu masih tebang pilih.


"Basmi mereka semuanya karena mereka adalah pengkhianat negara. Para pengkhianat diharamkan untuk hidup dimuka bumi ini..!" titah Amran sebagai kepala negara.


"Baik daddy. Mereka sudah berani membunuh rakyat Indonesia, berarti mereka siap menerima pembalasan rakyat Indonesia melalui kita," ucap Nada.


"Jagalah Allah..! Semoga Allah menjaga kalian semua.. aamiin..!" ucap Nabilla yang seperti biasa menasehati anak dan menantunya dengan kalimat simpel yang bermakna dalam saat menjalankan misi kemanusiaan.


...----------------...


Malam tiba, saat semua penjahat sedang terlelap tidur, Nada mulai melakukan aksinya terlebih dahulu karena kemampuannya yang bisa masuk ke kediaman itu dengan terbang tanpa bisa di deteksi oleh kamera inframerah di kediaman tersebut.


Istri dari Ghaishan ini membuat gas beracun yang disebarkan ke dalam setiap kamar penghuni kediaman para mafia.


Ada sekitar 10 titik lokasi berbeda yang mereka datangi untuk menghabisi para mafia itu. Tapi mereka mendatangi satu persatu tempat itu karena tidak mau terpisah satu sama lain.


Daffa dan Bunga. Ghaishan dan El. Adam dan Cintami. Sedangkan Nada bekerja sendiri untuk melumpuhkan lawan terlebih dahulu sebelum melakukan penyerangan.


"Mereka sudah terkepung oleh gas beracun. Serang mereka sekarang!" titah Nada melalui alat penghubung.


"Sudah. Internet sudah di non aktifkan, begitu juga seluruh CCTV," ucap Nada sambil menutup mulut dan hidungnya dengan masker khusus agar tidak tercium gas beracun ciptaannya sendiri.


Tidak lama kemudian terdengar batuk-batuk dan teriakan dengan sesak nafas melingkupi seluruh penghuni rumah termasuk penjaga dan pelayan.


Nadim yang mulai merasakan dadanya terasa terbakar langsung tahu kalau saat ini rumahnya sedang dikepung oleh musuh. Ia segera bangun meraih masker dan pistol yang ada di laci nakas. Mencoba melihat cctv namun sudah kabur gambarnya. Meraih ponsel untuk menghubungi seseorang, namun internet lumpuh.


"Sial....! Siapa yang telah melakukan ini? Apakah itu perbuatan wanita ja**g Nabilla? Ah mana mungkin dia? Dia sekarang pasti sudah peot dan sering encok untuk membalas dendam kepadaku," tebak Nadim menyeringai licik.


Tidak ingin mati sia-sia, Nadim segera kabur dari rumahnya menuju pintu rahasia agar bisa kabur. Namun sayang, bertepatan dengan kabur dirinya, pintu kamarnya sudah dijebol terlebih dahulu oleh Adam.


Dor....dor....dor.... Brakkkk..

__ADS_1


Pintu terbuka dan Adam melihat Nadim yang ingin kabur ke atas atap dengan helikopter miliknya.


"Angkat tangan...!" pekik Adam namun tembakan bertubi-tubi didapatkan dari Nadim ke ayahnya.


Adam kembali melindungi diri dari balik dinding kamar. Nadim berhasil masuk ke lift.


"Nada. Apakah kamu di atas atap?" tanya Adam.


"Tidak kak. Aku sedang berantem dengan anak buahnya Nadim," sahut Nada.


"Nadim ingin kabur dengan helikopternya, Nada," ucap Adam.


"Biarkan saja dia kabur, kak Adam!" santai Nada.


"Lho, kok biarkan dia kabur?" heran Adam tidak mengerti.


"Karena helikopternya sudah aku letakkan bom," ucap Nada sambil menangkis tendangan musuhnya.


"Baiklah. Segera lumpuhkan semua lawan dan kita lanjutkan ke tempat lainnya..!" titah Adam pada timnya.


"Baik kak."


Nadim merasa bangga karena bisa kabur dari kejaran musuhnya. Namun sayang, Nada yang sudah pintar kalau Nadim akan melewati laut lepas menuju ke kapal pesiar miliknya. Tidak lama kemudian, Nadim mendengar bunyi BIP di dalam helikopter miliknya.


"Ini suara apa?" tanya Nadim pada dirinya sendiri sambil mencari-cari sumber bunyi yang dia pikir adalah mesin helikopter.


Tepat di atas laut lepas, helikopternya sudah meledak. Nadim berakhir dengan kematian yang dia inginkan. Sementara ditempat lain, Bunga sedang mengejar geng mafia lain yang ingin kabur melalui kereta bawah tanah.


Beberapa orang mafia itu berdesakan dengan para penumpang yang menuruni tangga eskalator agar bisa sampai ke kereta yang sebentar lagi akan berhenti.


Sedikit lagi Bunga sudah lebih dekat dengan dua orang penjahat yang hendak masuk ke pintu kereta yang saat ini siap terbuka, namun sayangnya, penjahat itu lebih cerdik dengan menarik seorang balita tiga tahun dari genggaman tangan ibunya untuk dijadikan sandera.

__ADS_1


"Jangan mendekat! Atau anak ini aku tembak!" ancam penjahat itu membuat Bunga tercekat.


Teriakan para penumpang tidak terelakkan karena melihat sekelompok orang bersenjata berada di stasiun kereta api bawah tanah.


__ADS_2