
El-Rummi menerima panggilan dari asisten pribadi istrinya yaitu Ghena. Rasanya ia begitu enggan untuk bicara dengan wanita bermuka dua itu, namun juga penasaran apa yang akan disampaikan wanita munafik itu.
"Ada apa?" tanya El datar.
"Maaf tuan. Saya di minta oleh kerajaan untuk mendampingi princess Tamara di manapun beliau berada. Apakah saya boleh ke Indonesia besok?" tanya Ghena.
"Di rumahku tidak kekurangan pelayan hingga menghadirkan kamu jauh dari Bahrain ke Indonesia. Aku tidak mengijinkan kamu mendekati istriku!" tolak El-Rummi.
"Tapi tuan. Saya diperintahkan raja Farouk...-"
"Apapun yang berhubungan dengan istri saya, hanya saya yang memutuskan siapa yang boleh dan tidak boleh mendekati istri saya karena saya adalah suaminya princess kamu, apa kamu mengerti?" tekan El-Rummi yang masih dibantah oleh Ghena.
"Tapi tuan, hanya saya yang sudah tahu apa yang diinginkan dan tidak diinginkan princess Tamara. Kalau pelayan baru lagi itu akan membuat ....-"
"Masih belum puas ingin membunuhnya? Dengan siapa lagi kamu ingin menjadi spionase untuk mereka? Kau ingin aku membeberkan siapa kau sebenarnya di hadapan dunia? Apa perlu aku buka aibmu sebagai anak haram dari...-"
Klekk ...
Telepon ditutup secara sepihak oleh Ghena. Ghena tidak sanggup mendengar ucapan El-Rummi yang akan menelanjangi hidupnya. Iapun akhirnya mengalah dan harus menguburkan mimpinya untuk menjadi pewaris tahta kerajaan Bahrain.
Terlepas dia anak sah atau bukan namun ambisinya untuk menjadi pemimpin negara itu yang membuatnya melakukan apa saja agar bisa menyingkirkan princess Tamara.
"Bagaimana El-Rummi bisa mengetahui rahasia hidupku bahkan kerajaan sendiri tidak mengetahuinya? aku sudah berusaha membujuk kedua orangtuanya Tamara untuk mengirim aku ke Jakarta supaya aku bisa memanfaatkan pelayan pria tampan itu untuk menjadi kaki tanganku untuk memata-matai Tamara dan sekaligus membunuhnya," gusar Ghena yang tujuannya tak kesampaian.
Ditambah lagi El sudah mengetahui rencananya dan itu akan membuat ia bisa tertangkap kapan saja. Hanya butuh bukti kejahatannya saja yang akan membawa dirinya ke tiang gantungan.
"Tidak...! Aku tidak ingin mati sia-sia sebelum tujuanku tercapai untuk melenyapkan Tamara. Kenapa hidupnya selalu saja mujur?" maki Ghena.
Ingin rasanya El-Rummi melenyapkan Ghena namun ia tidak punya cukup bukti untuk menyeret wanita itu ke tiang gantungan karena Ghena juga lawan yang tangguh.
"Kenapa aku jadi kangen pingin ketemu istriku? Tidak....tidak... tidak..! Ini lagi puasa. Pikiranku tidak boleh liar. Walaupun sudah halal yang namanya bulan ramadhan tetap saja haram untuk disentuh saat siang hari. Nasib pengantin baru menikah menjelang ramadhan, yah beginilah ujiannya," keluh El meneruskan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sebelum pukul 4 sore, El Rumi sudah meninggalkan perusahaannya karena ingin mengajak Tamara jalan-jalan keliling kota Jakarta. El berencana membawa motor saja agar tidak terjebak macet saat menjelang buka puasa.
Sementara Tamara dan Syakira membantu Nabilla membuat hidangan buka puasa. Kedua menantu Nabilla ini tampak ceria dan sangat akrab. Nabilla yang melihat kekompakan kedua menantunya itu, sangat bahagia.
"Mommy. Aku mau makan!" pinta Nada yang menggunakan bahasa inggris agar kedua iparnya itu paham apa yang sedang ia inginkan.
__ADS_1
"Biar aku yang menyiapkan untukmu Nada!" ucap Tamara antusias membuat Nada dan ibunya mencegah gadis itu secara kompak.
"Jangan....!"
Tamara mendelik kan matanya. Nabilla dan Nada saling menatap karena begitu segan membiarkan seorang putri Raja melayani kelurga suaminya." Emang kenapa, Nada?" tanya Tamara yang sudah tahu, kelurga ini terlalu memperlakukannya sangat istimewa.
"Kamu bantu mommy saja sayang. Biar Nada menyiapkan makanannya sendiri. Dia tidak puasa dan kita puasa, jadi...-"
"Aku juga ingin berguna di rumah ini mommy. Tolong jangan memperlakukan aku karena statusku sebagai princess. Aku ingin mommy memperlakukan aku sama seperti Syakira, Nada, kak Bunga dan kak Cintami," pinta Tamara memotong ucapan Nabilla dengan wajah sendu.
Nada menggaruk kepalanya sendiri. Bingung juga berurusan dengan ipar yang datang dari kalangan bukan orang biasa.
"Tolong, jangan tersinggung sayang! Kita punya pelayan di sini dan Nada sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri karena dia adalah agen FBI," jelas Nabilla agar Tamara mengerti.
"Di dalam rumah ini semuanya diperlakukan seperti seorang putri. Aku juga diperlakukan sangat istimewa oleh mommy. Jadi bukan karena kamu seorang princess tapi karena kamu menantu dari keluarga hebat ini.
Belajarlah untuk meneliti. Jangan cepat tersinggung jika sesuatu tidak membuatmu nyaman," nasehat Syakira.
"Maafkan aku mommy! Aku sudah salah paham!" ucap Tamara.
"Iya sayang. Tidak apa. Semua orang melalui proses adaptasi yang tidak mudah di lingkungannya yang baru. Banyak hal yang harus dipelajari. Jika kita tahu ilmunya, semuanya akan menjadi mudah," balas Nabilla bijak.
Tidak lama Adam datang bersama keponakan kembarnya Raffa dan Raffi yang ingin buka puasa di rumah Oma dan opanya.
"Sayang. Ayo kita jalan-jalan! Ini sudah sore. Kamu ingin melihat suasana Ramadhan di Jakartakan?" ajak El-Rummi membuat Syakira menatap suaminya.
"Aku mau juga!" pinta Syakira.
"Kami naik motor," balas El-Rummi.
"Baiklah. Kita naik mobil dan tidak usah terlalu jauh karena akan terjebak macet," ucap Adam.
Beberapa menit kemudian, kedua pasangan ini sudah meninggalkan mansion langsung membaur dengan pengendara lain. Tamara begitu senang menjadi orang bebas saat ini.
El-Rummi memberitahu nama tempat-tempat yang sedang mereka lalui agar Tamara bisa paham. Tanpa di sadari keduanya, ada penjahat yang sedang mengintai kedua pasangan ini yaitu mobil Adam yang bersama Syakira dan motor El bersama Tamara.
"Buatlah mereka seperti kecelakaan...! Lakukan dengan hati-hati agar tidak memancing keributan di jalanan. Lenyapkan keturunan Amran dan Nabilla beserta istri mereka....!" titah bos penjahat yang ada di ujung telepon sana.
__ADS_1
"Tapi bos, bukankah kita butuh sandera untuk bisa mendapatkan benda yang bos inginkan?" bantah sang anak buah.
"Benar juga katamu. Aku hampir lupa akan tujuanku. Baiklah. Kalau begitu cukup bunuh kedua putranya Amran. Dan culik kedua istri Abang ade itu!" titah bos penjahat.
"Baik bos. Kami akan menyebar karena arah tujuan mereka terpisah," ucap anak buahnya melalui alat penghubung.
Misi siap dilaksanakan. Mereka tidak sabar untuk mengeksekusi target secepatnya. Banyak sekali pembunuh bayaran yang tersebar di kota itu hanya untuk melenyapkan keluarganya Amran.
Ada yang mengikuti kendaraan mereka. Ada yang menyamar jadi apa saja. Mulai dari tukang jualan, tukang sapu, pengemis dan pengendara motor yang menyamar jadi ojol.
"Apakah aku boleh membeli makanan itu El? Kelihatannya enak-enak," pinta Tamara.
"Jangan sayang...! Kita buka puasa dengan makanan yang kalian buat bersama tadi dengan mommy. Mommy akan marah kalau kita membawa jajanan dari luar," cegah El-Rummi.
"Berarti, aku hanya diajak jalan-jalan saja?" gerutu Tamara.
"Hmm! sambil menunggu azan magrib," ucap El-Rummi.
"Begini saja. Kita borong makanan para penjual itu dan kita berikan ke mesjid-mesjid untuk orang berbuka puasa, bagaimana?" Tamara memberikan ide cemerlangnya membuat El-Rummi paham dengan niat baik istrinya ini.
"Tapi, mommy dan Daddy sudah melakukan itu sayang. Mengirimkan makanan ke mesjid-mesjid dan panti asuhan," timpal El-Rummi.
"Itu pahala untuk mommy dan Daddy. Untuk pahala kita, kita yang melakukannya sendiri. Aku ingin berbagi karena aku senang berbagi. Ayolah...!
Jangan menghalangi amalku di bulan penuh berkah ini..! pinta Tamara mendesak suaminya untuk berhenti di pusat kuliner yang menawarkan banyak kue-kue dan juga kolak.
El memarkirkan motornya. Keduanya menghampiri pedagang yang jualannya agak sepi.
"Jika kamu mau menolong orang, carilah pedagang yang jualannya tidak didatangi banyak orang. Dengan begitu kita bisa melihat senyum bahagia di wajah mereka," pinta El yang selalu di ajarkan kedua orangtuanya agar selalu peka melihat keadaan di sekitar pasar yang di temukan di mana saja.
"Tuan. Tolong aku...! putraku hilang. Tolong bantu aku mencarinya!" pinta seorang ibu muda yang terlihat sangat sedih membuat El menjadi bingung.
"Tolonglah ibu ini, El. Aku akan menunggumu di tempat ini sambil memilih kue yang akan aku beli," pinta Tamara tulus.
"Tapi sayang, aku tidak bisa membiarkan kamu sendirian di sini!" tolak El-Rummi.
"Tidak apa. Mana mungkin ada yang mau menyakiti aku di keramaian seperti ini," tegas Tamara.
__ADS_1
"Tuan. Tolonglah aku....!" rengek wanita itu setengah memaksa El-Rummi yang sangat bimbang.