
6 BULAN KEMUDIAN
Adam sudah berada di Jakarta dan mulai lagi dengan aktivitasnya sebagai pengusaha. Adam tidak ingin lagi memikirkan Syakira. Ia hanya berdoa untuk kebaikan Syakira karena hati Adam tidak condong lagi pada gadis itu.
Begitu pula dengan Syakira yang lebih tekun belajar Islam di salah satu mesjid yang ada di kotanya. Kadang ia juga suka membuka artikel di salah website untuk mengetahui seluk beluk tentang Islam. Ia juga sedang membaca tentang sejarah Islam dan kisah-kisah tentang nabi terutama Rasulullah. Namun gadis ini belum juga berniat mengucapkan dua kalimat syahadat. Yang pertama kali ia belajar adalah ilmu tentang tauhid. Ia ingin memantapkan hatinya dulu tentang tauhid dan baru bersyahadat.
Sementara El-Rummi yang saat ini sedang mengajar di sebuah kampus terkenal yang ada di Jogja sedang melakukan pendekatan dengan seorang gadis yang bernama Paradista putri Wardani, yang tidak lain adalah mahasiswanya sendiri. Gadis ini biasa disapa dengan Dista. Saat ini, keduanya sedang makan malam di suatu tempat lesehan yang ada di kota pelajar itu.
Menurut pikiran Dista jika El-Rummi adalah seorang dosen yang hanya mengandalkan gajinya untuk menghidupi dirinya. Jadi, ia selalu meminta El untuk makan di lesehan saja bukan di restoran ataupun cafe yang lebih mahal harga menu makanan di sana.
"Kenapa kamu selalu mau makan di sini Dista? padahal kita bisa makan di tempat yang lebih nyaman daripada di sini. Dan satu lagi. Kapan aku bisa berkenalan dengan kedua orangtuamu?" tanya El-Rummi.
"Mengapa kamu ingin sekali bertemu dengan kedua orangtuaku, El? Padahal kita ini baru saja kenal satu bulan yang lalu," ucap Dista.
"Karena aku tidak mau pacaran dengan kamu. Aku ingin langsung melamar kamu dan kita menikah," tegas El tanpa basa-basi.
"Apaa...? menikah? Kenapa harus secepat itu, El? Aku sendiri belum bicara apapun tentang kamu kepada kedua orangtuaku. Di tambah lagi kamu tidak pernah menyatakan perasaan suka kamu padaku," ucap Dista.
"Apakah itu sangat penting buat kamu, Dista?" tanya El yang tidak begitu jago merayu wanita tapi pintar memilih wanita cantik dan cerdas.
"Tentu saja itu penting. Wanita butuh kepastian. Wanita butuh pengakuan dari seorang kekasih pada dirinya bahwa dia miliknya. Apakah kamu tidak bisa mengucapkan perasaan cinta kamu padaku?" tanya Dista sambil merajuk.
"I love you, Dista..!" ucap El dengan wajah datar membuat Dista makin sewot.
"Segitu doang?!" heran Dista yang merasa sikap El yang terlalu kaku dalam memulai hubungan cinta dengannya.
"Lalu, aku harus bagaimana bersikap pada kamu?" tanya El-Rummi sambil menghela nafas jengah.
"Yah...! Ungkapkan perasaan kamu dengan kata-kata yang romantis. Bukan sekaku seperti kerupuk yang baru habis digoreng," gerutu Dista.
"Emangnya kamu mau aku bersikap romantis disaat kamu belum aku halalkan? Kenapa wanita selalu saja dengar omong kosong dari pria perayu yang hanya ingin mendapatkan tujuannya. Aku tahu wanita itu paling senang dengar kebohongan. Di puji cantik sedikit aja langsung klepek-klepek.
Terus di minta cowoknya untuk membuktikan cintanya, mau lagi di cium dan dipeluk, itu saja mereka sudah membuat wanita berada di atas awan. Tapi yang sebenarnya wanita itu sangat rugi karena yang tertinggal padanya hanya status gadis tapi sudah tidak perawan," sarkas El-Rummi.
"Kamu memaki sesama kaum kamu. Lantas jenis kelamin kamu apa? Kaum pelangi?" kesal Dista.
"Setidaknya aku masih menghormati wanita terhormat sepertimu yang berasal dari keluarga ningrat," tekan El-Rummi membuat wajah Dista memerah.
"Bagaimana mungkin kamu mengetahui status aku dari keluarga ningrat? Padahal selama ini aku tidak pernah menceritakan apapun tentang latar belakangku padamu dan tidak ada yang tahu siapa aku di kampus kita?" tanya Dista yang selama ini menyamar sebagai wanita biasa agar hidupnya tidak terekspos sebagai seorang putri keraton.
"Apakah kamu lupa aku mengajar kamu itu mata kuliah apa?" El balik bertanya.
__ADS_1
Dista menepuk jidatnya sendiri karena lupa El rumi adalah seorang dosen IT.
"Cih ..! Aku lupa akan hal itu. Tapi, kelurgaku pasti menolakmu karena kamu berasal dari keluarga biasa," ucap Dista putus-putus.
"Sekarang itu, uang yang berkuasa. Bukan lagi gelar bangsawan. Mau bangsawan atau tidak, Allah tetap memperhitungkan amal baik buruk hambaNya ketika ditempatkan di neraka maupun di surga," ucap El Rumi yang tidak suka status sosial seseorang dijadikan tameng untuk menjodohkan orang yang selevel dengan mereka.
"Kalau kamu memang ingin pasang muka tembok, silahkan saja datang memperkenalkan dirimu pada kelurgaku! Tapi, kamu harus bersiap-siap dipermalukan bahkan dihina oleh keluargaku," ucap Dista ketar-ketir.
"Itu tidak masalah bagiku. Aku mau tahu sehebat apa keluargamu itu berani menolakku?" tanya El dengan penuh keangkuhan menuruni sifat Amran.
"Astaga...! Aku saja tidak tega memintamu makan di restoran mahal dengan gajimu sebagai dosen yang tidak seberapa itu, bagaimana mungkin kamu masih bisa bersikap sombong ingin mengenal kelurgaku. Tapi, tidak apalah. Aku juga tidak ingin kehilangan pria tampan ini. Tampan dan jenius, itu yang tidak pernah aku temukan pada pria manapun," batin Dista tersenyum sendiri.
Keduanya menghabiskan makan siang mereka lalu kembali ke kampus sebagai mahasiswa maupun sebagai dosen. Saat ini Dista baru kuliah semester 6. Perbedaan usia keduanya terpaut 3 tahun.
...----------------...
Di perusahaan, Adam sedang mengerjakan sesuatu di laptop miliknya. Amran menghampiri putra sulungnya itu hendak menagih janji.
"Adam."
"Iya daddy."
"Apakah kamu sudah mendapatkan gadis yang sesuai dengan keinginanmu?" tanya Amran.
"Apakah kamu ingin Daddy yang mencarikan untukmu?"
"Terimakasih daddy. Aku takut akan membuat gadis pilihan daddy itu sakit hati. Dia yang tergila-gila padaku, tapi aku yang tidak suka padanya," ujar Adam sembari menutup laptopnya.
"Baiklah. Daddy tunggu sampai dengan akhir tahun ini. Jika kamu tidak dapat juga membawa Dady calon mantu, maka kamu harus menerima perjodohan dari mommy dan daddy," ucap Amran.
"Insya Allah daddy."
"Sekarang sudah malam. Ayo kita pulang..!" titah Amran pada putranya.
"Daddy saja duluan. Aku mau jalan-jalan sebentar, Daddy," ucap Adam.
"Apakah kamu sedang memikirkan Syakira?" tanya Amran.
"Tidak daddy. Jangan harapkan gadis itu menjadi menantu daddy!" tolak Adam.
"Bukankah dia sedang belajar Islam?" tanya Amran.
__ADS_1
"Biarkan dia belajar Islam karena Allah. Bukan karena aku, dad," imbuh Adam.
"Ok. Semoga dia jodohmu. Jangan terlalu keras pada perempuan. Dia tidak buruk dan rekam jejak kehidupannya sangat bagus. Dia berusaha mengenal Islam karena kedua niatnya akan terwujud yaitu mendapatkan hidayah dari Allah dan kamu adalah bonus suami yang dia dambakan dari Allah. Sambil menyelam minum air. Bukankah begitu Adam?" tanya Amran terkekeh membuat Adam hanya bisa menarik nafas dalam.
*
*
Karena melamun, Adam tidak fokus menyetir mobil hingga menabrak mobil pengendara lain membuat Adam reflek menginjak rem mendadak.
"Astaghfirullah halaziiim! Ya Allah. Ampunilah aku!" ucap Adam buru-buru turun dari mobilnya menghampiri pemilik mobil yang barusan ia tabrak. Bersamaan dengan itu, sang empunya juga turun dari mobilnya dan itu membuat Adam sangat kaget karena yang punya adalah seorang gadis yang berpakaian syar'i lengkap dengan cadarnya.
Adam mengatur nafasnya sambil menelan salivanya. Ia lalu mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum menanyakan hal yang lebih lanjut pada sang gadis.
"Assalamualaikum ukhti!"
"Waalaikumuslam, tuan!" jawab sang gadis begitu lembut.
"Maafkan aku...! Aku tadi melamun hingga menabrak mobilmu," ucap Adam sambil melihat keadaan mobil sang gadis.
Sang gadis ikut melihat dan dia merasa tidak masalah hanya benturan yang membuat mobilnya kedorong ke depan karena ia juga berhenti mendadak saat melihat seekor anjing yang menyebrang begitu saja didepan mobilnya.
"Tidak apa Tuan! Saya juga salah karena berhenti mendadak," ucap sang gadis.
"Tapi penutup lampunya pecah," ucap Adam mengusap bagian belakang mobil itu.
"Itu sudah lama pecahnya. Hanya saja belum di ganti," ujar gadis itu.
"Kak. Kenapa harus berkata jujur pada dia? Sepertinya pria itu sangat kaya. Kita bisa memanfaatkan dia untuk memperbaiki mobil kakek yang sudah rusak dengan sejumlah uang darinya," ucap sang adik dengan menggunakan bahasa arab.
"Adekk! Kamu memang bisa berbohong kepadanya, tapi hidupmu tidak akan pernah tenang karena Allah akan membuat kamu dikejar oleh rasa bersalah seumur hidup dengan menipu pria ini.
Jangan memanfaatkan kekayaan orang, apalagi kebaikannya. Allah maha melihat akan segala sesuatu dengan kebohonganmu itu," omel sang gadis pada adiknya yang memang sedikit bandel.
Mendengar ucapan sang gadis membuat Adam terkesima. Perkataan yang sangat bijak penuh dengan kejujuran di dalamnya. Adam pun menjadi penasaran dengan gadis ini.
"Baiklah. Sebagai permohonan maaf saya, bagaimana kalau saya mengajak kalian makan malam," ucap Adam.
"Terimakasih banyak untuk tawarannya tuan. Tapi kita bukan muhrim. Assalamualaikum!" pamit sang gadis hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Ya Allah kak. Kapan punya suami kalau di ajak makan malam saja tidak mau," omel sang adik perempuannya ini.
__ADS_1
"Allah yang akan mendatangkan pangeran untuk kakak dan langsung melamar kakak tanpa harus ngedate," timpal sang gadis yang masih terdengar oleh Adam.
"Baiklah. Aku akan mengabulkan permohonanmu itu, nona," batin Adam lalu melanjutkan perjalanannya.