Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
115. Kisah Sebenarnya


__ADS_3

Sedari awal, rencana Daffa yang ingin melamar Bunga saat keluarga itu pulang liburan, harus kandas disaat ia baru berjuang untuk merebut hati calon mertua. Daffa yang tidak tahu apapun tentang sepak terjang ayahnya saat dirinya masih terlalu kecil karena diboyong ibunya keluar negri, saat mengetahui ayahnya ditangkap karena ketahuan oleh negara atas keterlibatannya dengan sejumlah sindikat mafia. Ibunya Daffa yang merupakan istri pertama dari Gavin Bramantyo tidak ingin kasus suaminya akan berimbas pada putra satu-satunya itu.


Sebenarnya Daffa bukan anak kandungnya dari Gavin Bramantyo. Di saat itu istrinya polisi Gavin, yaitu nyonya Nayla sedang mengandung bayi pertamanya, setelah lima tahun menantikan kehadiran momongan yang tak kunjung datang, sementara polisi Gavin sudah memiliki dua orang wanita simpanan yang juga tidak memiliki anak dari Gavin.


Polisi Gavin slalu mengancam istrinya untuk diceraikannya jika Nayla tidak bisa memberikannya keturunan. Saat melahirkan bayinya ternyata bayi itu meninggal dunia. Sementara ada wanita lain yang sedang ketakutan untuk melindungi bayinya dari seseorang.


Gadis ini meminta dokter untuk menukarkan bayinya yaitu Daffa dengan bayinya nyonya Nayla yang sudah meninggal. Pertukaran itu dilakukan secara diam-diam karena kondisi istrinya Gavin dalam keadaan tidak sadarkan diri pasca melahirkan putra pertamanya. Dokter yang tidak tega dengan permintaan gadis muda itu dan juga iba pada nasib Nayla yang merupakan sahabatnya Nayla sendiri, akhirnya melakukannya untuk menyelamatkan pernikahan Nayla. Jadilah, Daffa bukan anak kandungnya Gavin maupun Nayla.


Kembali pada Daffa dan Bimo yang sedang pamit pada keluarga besarnya Bunga. Sementara, Bunga tidak ingin menunjukkan wajahnya pada sang kekasih. Melihat wajah Daffa yang terlihat muram, membuat Cintami merasa curiga. Apa lagi melihat sikap dingin ibunya Nabilla makin membuat Cintami merasakan ada sesuatu yang tidak beres saat ini.


"Terimakasih anak muda. Kapan-kapan berkunjunglah ke perusahaanku!" pesan Amran pada Daffa yang hanya mengangguk dengan sikap hormat seorang perwira.


"Siap Tuan!" ujar Daffa.


Daffa dan Bimo menaiki helikopter. Daffa yang mengambil alih sebagai co-pilot untuk menerbangkan helikopternya.


Pria ini sengaja melakukannya karena ingin melakukan sesuatu saat membawa helikopter itu sebelum menuju ke daratan untuk melihat helikopter mereka yang rusak.


Helikopter itu mulai meninggalkan landasan pacu di atas Gladak kapal pesiar mewah itu. Mendengar helikopter mulai mengudara, Bunga segera berdiri. Ia tersenyum saat sang kekasih sengaja menghampirinya, di mana bunga berdiri di sisi lain bagian kapal pesiar itu. Daffa memberikan flying kiss atau kiss bye untuk Bunga.


"Baby. Good bye...!" ucap Daffa yang tidak terdengar oleh bunga namun terbaca jelas dari gerakan bibir Daffa padanya.


"See you again, Daffa!"


Bunga memberikan kode heart finger ala Korea pada sang kekasih. Daffa tersenyum bahagia lalu menerbangkan helikopternya menuju daratan bersamaan dengan kapal pesiar itu yang melanjutkan lagi pelayarannya.


Walaupun peringatan keras dari Nabilla untuknya, tidak menyurutkan nyalinya untuk mendapatkan gadisnya. bagi Daffa, Bunga harus ia perjuangkan, bagaimana caranya nanti, walaupun ia harus mati untuk membuktikan cintanya pada Bunga karena kisah cinta mereka tidak harus terpengaruhi oleh masalalu perbuatan keji orangtuanya Daffa.


"Aku bukan pecundang seperti ayahku dan aku tidak sepertinya," batin Daffa yang sempat membaca artikel tentang ayahnya yang dikirim Nabilla sebelum ia menaiki pesawat.


Kisah Gavin sengaja dikaburkan atau ditutup oleh negara agar bisa memulihkan citra kepolisian yang saat itu sangat diragukan oleh masyarakat tentang kiprah mereka dalam menegakkan hukum maupun keadilan di negara tercinta ini. Gavin meninggal dunia setelah bertahan dua tahun di rumah kedua orangtuanya karena perceraiannya dengan istrinya Nayla.


Nabilla menunaikan sholat Dhuha di kamarnya. Ia merenungkan lagi tindakannya yang cukup keras pada Daffa untuk menjauhi putrinya.


"Aku tidak mungkin menegur Bunga saat ini karena masih dalam suasana liburan. Tunggu semuanya usai hingga mental Bunga harus dipersiapkan sebelum ia terlena dalam kubangan cinta yang hanya menjanjikan fatamorgana," lirih Nabilla.

__ADS_1


Amran yang sedang berbaring melihat wajah murung istrinya sakan sedang memikirkan sesuatu. Ia turun dari tempat tidur menghampiri Nabilla yang menatap nanar pada ponsel namun tidak jelas apa yang ia tonton.


"Ada apa denganmu, cantik, hmm?" tanya Amran setengah berbisik pada Nabilla.


"Tidak apa," jawab Nabilla lalu bangkit berdiri dan naik ke atas tempat tidur lalu duduk menghadap ke jendela untuk melihat laut lepas.


"Sayang." Tangan kekar Amran menyusup ke dalam baju Nabila membuka pengait kaca mata dada hanya ingin melemaskan otot-otot jari-jemarinya dengan benda kenyal milik istri yang menjadi alat terapinya selama 20 tahun hidup bersama, walaupun seharusnya usia pernikahan mereka sudah memasuki 22 tahun. Hanya kesalahpahaman yang pernah membuat mereka sempat terpisah.


"Masss...!" rintih Nabilla merasakan ciuman panas Amran yang sudah memberikan stempel di leher jenjangnya dan juga punggung mulusnya sambil kedua tangannya makin meremas keras dada sekang di depan sana.


"Ssssttt....!" desis Nabilla makin menggema mengusai ruangan kabin kapal saat tubuh mereka sudah berhadapan dan sesapan mulut suami berpindah dibawah sana, menggali nikmat pada kelopak mawar merekah, mengisap habis lelehan madu dari tubuh sang istri lalu naik lagi hendak meresapi kenikmatan bibir kenyal nan padat menjadi candunya.


"Kamu perlu rileksasi sayang. Jangan pernah memikirkan sesuatu selama ada aku yang menjadi solusimu setelah mendapatkan kenikmatan surgawi ini," untaian kata-kata indah Amran terdengar fulgar membakar habis tubuh Nabilla yang merasakan hantaman kenikmatan benda pusaka milik suaminya yang membuatnya terus melenguh dan mengerang.


"Hubby.... Honey....ohhh...!" ungkapan erotis terdengar syahdu dikupingnya Amran dari bidadarinya yang maha sempurna bagi ayah lima anak ini.


Keduanya bertempur seru di arena kasur empuk itu dengan seprei yang sudah tak beraturan lagi. Percintaan panas yang tercipta pagi itu bukan hanya milik mereka sendiri, tapi keempat pasangan lain yang sedang menyanyikan lagu yang sama berjudul kenikmatan di kamar mereka masing-masing.


Sementara itu, Daffa sudah kembali ke pangkalan udara untuk mengembalikan lagi helikopter yang berhasil mereka perbaiki. Pria tampan ini tidak sabar untuk menghubungi Bunga walaupun awalnya dia sedikit ragu apakah ditengah laut sana, sinyal ponsel masih bisa menangkap panggilan telepon mereka. Bunga yang baru mengucapkan salam usai shalat Dhuha langsung menyambar ponselnya. Ia melihat panggilan vc dari Daffa lalu segera menggeser tombol kamera itu untuk saling melihat wajah mereka.


Bunga mengucapkan salam kepada Daffa sambil melambaikan tangannya. Daffa tertegun melihat wajah Bunga yang terlihat lebih bercahaya dengan mukena yang masih melekat di kepala gadis itu.


"Hei...! apakah kamu sudah tiba di Jakarta?" tanya Bunga dan Daffa mengangguk.


"Apakah kamu ingin menyusulku?" tanya Bunga lagi.


"Negara mana yang kalian akan tuju?" tanya Daffa.


"Korea Selatan dulu," ujar Bunga.


"Baiklah. Aku akan berangkat ke Incheon airport dan menghubungi kamu saat sudah tiba di sana," ucap Daffa.


Saat sedang ngobrol dengan Daffa, ponsel lain milik Bunga berdering. Panggilan dari markas besar FBI membuat ia menatap horor ke ponsel itu karena akan menghalangi dirinya bertemu dengan kekasih. Bunga sengaja mengabaikan panggilan itu dan kembali fokus pada Daffa. Ia mencari cara untuk menghindari bertemu dengan Daffa karena misinya.


"Tidak usah menyusulku karena kami hanya singgah sebentar dan akan melanjutkan lagi perjalanan ke Eropa. Nanti saja kita ketemu di Jakarta," ucap Bunga.

__ADS_1


"Berapa lama kalian berlayar?" tanya Daffa.


"Satu bulan, tepatnya untuk berada lagi di Jakarta," ujar Bunga.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggumu di sini," ucap Daffa.


"Tunggu Daffa..!" cegah Bunga.


"Ada apa, Baby?" tanya Daffa.


"Aku ingin mengundangmu untuk datang saat peluncuran produk baru makeup dari perusahaanku. Kita bertemu di momen itu saja. Dan aku harap kamu mau melamar aku di depan awak media. Kalau bisa kita akan menikah bareng dengan saudara kembarku Cintami," ucap Bunga membuat Daffa tersentak.


"Bunga. Cinta kita tak semudah yang kamu bayangkan. Ada juga aku akan menculikmu untuk menikahi mu di tempat lain. Banyak sekali hambatan yang akan kita lewati, Bunga. Tapi, aku tidak mau menjadi pria pengecut yang merebutmu dari kedua orangtuamu.


Kamu adalah wanita terhormat dari keluarga baik-baik, tidak denganku seorang anak penghianat negara. Tapi, apa salahku? apakah Tuhan juga ikut menghukumku atas kesalahan ayahku? apakah itu adil untukku yang saat ini sedang mengabdi kepada negaraku sepenuh jiwa ragaku?" batin Daffa kacau.


"Daffa. Daffa.... Daffa!" teriak Bunga membuyarkan lamunan Daffa.


"A...iya baby!" Daffa kembali tersenyum.


"Apakah kamu siap melakukannya?" tegas Bunga.


"Rasanya aku tidak bisa melakukan itu sebelum meminta pada cinta


pertamamu, pada pria pemilikmu yang sebenarnya. Daddymu. Tanpa restunya, aku tidak bisa mengumbar hubungan kita pada media yang akan mengundang amarah keluargamu. Mungkin setelah melamarmu pada daddy mu, aku baru berani apa yang kamu pinta, baby," jelas Daffa.


Bunga merasa tersanjung. Tidak terpikirkan olehnya tentang hal yang sangat sensitif itu. Padahal itu adalah nilai sakralnya saat seorang kekasih meminta dirinya pada ayah tercintanya.


"Aku yakin, ayahku pasti akan menerima kamu, Daffa," yakin Bunga.


"Tapi, rasanya itu mungkin sulit, Bunga karena ayahku yang telah menyebabkan ayahmu hampir dijebloskan ke penjara dan karena itulah, mommy mu tidak rela kamu menjadi milikku," batin Daffa sambil menarik nafas panjang lalu pamit pada Bunga.


"Sayang. Kamu sangat cantik dengan mukena itu. Aku ingin bertemu denganmu dalam berhijab. Walaupun belum untuk Istiqomah, tapi setidaknya aku mau kamu melakukannya untukku! aku pamit ya!" pinta Daffa.


"Insya Allah. Sampai jumpa lagi, Daffa. Assalamualaikum..!" balas Bunga.

__ADS_1


........


Vote dan like nya Cinta!"


__ADS_2