Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
49. Panas Dingin


__ADS_3

Sidang perdana terkait kasus pengkhianatan Amran, dimana tersangka melakukan dugaan peretasan dokumen milik negara yang diperjualbelikan oleh Amran untuk kepentingan pribadi siap digelar sesaat lagi.


Semua peserta sudah hadir menempati setiap kursi kosong dan agenda sidang terbuka untuk umum. Jelas saja hal ini yang ditunggu para wartawan untuk meliput jalannya sidang yang belum apa-apa sudah menggambarkan raut ketegangan diantara para peserta sidang.


Amran yang di kawal ketat oleh beberapa orang anggota polisi dengan tangan yang masih terborgol. Amran terlihat sangat tampan dengan kemeja putih dan celana hitam yang dipakainya pagi itu.


Agenda sidang di bacakan oleh pembawa acara agar ketua hakim mahkamah agung memasuki ruang sidang dengan timnya. Amran yang melihat wajah ibunya yang duduk bersebelahan dengan istri dan neneknya Aisyah, tertegun dengan tatapan sendunya. Sebelum hakim masuk ke ruangan itu, Amran menghampiri ibunya lalu bersimpuh dibawah kaki sang ibu.


Sontak saja perhatian para wartawan teralihkan pada sang ibu yang membelai lembut rambut sang putra dengan penuh kasih.


"Ummi...! Maafkan Amran ummi!" ucap Amran dengan suara tercekat karena air matanya tidak mampu lagi menahan gejolak jiwanya saat tubuh kekarnya dengan wajah datar penuh keangkuhan itu luruh bersimpuh menyesali perbuatannya pada sang ibu bagai masa kecil dulu.


"Nak, kamu sudah pulang, hmm?" kata-kata penuh kasih itu terucap dari bibir manis nyonya Ambar yang merasa putranya sudah lama bermain jauh dari nya dan sekarang baru ingat rumah untuk kembali dan dialah rumah itu.


Rumah di mana Amran selalu mendatanginya dengan segala rengekan manja setiap kali mengadu sesuatu pada sang ibu, layaknya seorang bocah ingusan yang selalu mencuri perhatian ibunya.


"Ummi..! Amran minta ridho ummi." Permintaan tulus dan pasrah seorang Amran mampu melelehkan jiwa keibuannya nyonya Ambar yang sedikitpun tidak pernah dendam pada sang putra yang sudah banyak menyakiti hatinya sejak beranjak dewasa.


"Insyaallah. Ummi selalu ridho padamu, nak. Semoga Allah memudahkan semua urusanmu karena ummi yakin kamu tidak bersalah. Kamu adalah putramu yang tetap manis dihadapan ummi, hmm," ucap nyonya Ambar menggetarkan Arsy Allah diatas sana karena ridho seorang ibu mampu membuat semesta menangis.


Seberapa besar kesalahan seorang anak pada ibunya, hati seorang ibu seluas samudera untuk memaafkan anaknya. Bahkan seorang ibu mau menjadi tameng untuk anak-anaknya walaupun anaknya sudah dewasa, bagi orangtua, anaknya itu seperti bayinya yang tetap ia sayang dan doakan.


Hanya anak-anak bodoh yang mendatangi dukun untuk cepat kaya dan mudah mendapatkan rejeki, padahal ibunya sendiri adalah sumber rejekinya jika ia berlaku lembut pada ibunya saat mendapati ibunya yang mulai renta. Kulitnya yang mulai keriput dan matanya rabun karena usianya. Betapa kita melupakan jasa seorang ibu saat sudah mendapatkan pasangan hidup. Menyatakan cinta beribu kali pada sang kekasih, tapi satu kalipun tak terdengar oleh ibu kita tentang cinta anaknya pada dirinya karena gengsi atau enggan. Kecuali kehilangan ibu baru cinta itu tersampaikan dalam penyesalan.


Setelah melewati drama penuh haru itu, Amran kembali ke tempat duduknya disebelah pengacaranya yang direkomendasikan oleh tuan Rusli sendiri sebagai pengacara terbaik di negara ini. Yaitu tuan Mohamad Sunan Raja Hasibuan.


Tidak lama kemudian, hakim agung masuk ke ruang sidang dan pemandangan itu menarik perhatian Amran dan keluarganya. Bagaimana tidak, hakim agung itu tidak lain adalah ayah kandungnya Amran sendiri. Putra dari Kakek Abdullah Al-Ghifari.


Wajah Amran berubah masam melihat wajah pria yang selama ini tidak pernah diakuinya sebagai ayah hingga Amran memilih menggantikan nama belakangnya langsung pada kakeknya Abdullah.


"Yang mulia hakim bapak Recky Agust Gunawan Abdullah untuk memulai membuka sidang!" ucap pembawa acara sidang.


Sebagai seorang hakim, Recky mengutamakan loyalitasnya sebagai hakim agung yang profesional dalam menangani kasus setiap terdakwa tanpa tebang pilih sekalipun itu adalah keluarganya sendiri karena ia berada dibawah sumpah jabatan.


Atmosfir ketegangan makin menjadi, bahkan Amran menahan tekanan pergolakan jiwanya yang membuatnya tidak ingin menatap sang ayah. Sifat keras kepala keduanya terlihat jelas oleh kedua orangtuanya Amran dan juga Arland. Hanya Nabilla saja yang belum begitu kenal dengan ayah mertuanya itu karena Nabilla tahu hubungan keluarga suaminya tidak begitu harmonis.


"Sidang hari ini saya buka," ucap hakim Recky lalu mengetuk palu untuk melaksanakan sidang.

__ADS_1


Pengacara mulai membacakan pembelaannya pada Amran sesuai tuduhan yang dilontarkan oleh jaksa penuntut umum dengan bukti-bukti yang sudah berada di tangan mereka.


Dari pihak Amran, Nabilla dan Arland sebagai saksinya. Sementara itu dari pihak negara polisi Gavin dan beberapa orang lainnya yang akan menjadi saksi.


Saat mengetahui jika Nabilla sendiri menjadi saksi untuk suaminya, polisi Gavin sudah tidak merasa nyaman lagi di kursi yang ia duduk. Kekalahan sudah tergambar jelas di pelupuk matanya.


"Saudara Tuan Amran. Anda telah melakukan pengkhianatan pada negara dengan tuduhan peretasan dokumen negara yang anda jual ke mata-mata pada negara yang dituju, apakah itu benar?" tanya jaksa penuntut umum.


"Itu tidak benar yang mulia karena klien saya tidak punya kepentingan apapun hingga tega mengkhianati negaranya sendiri," ucap Sunan.


"Tapi nomor ID milik tersangka sendiri yang telah di identifikasi oleh kepolisian dan itu dapat dibuktikan oleh pihak kepolisian," ucap jaksa.


"Yang mulia. Polisi terlalu terburu-buru melakukan penangkapan hanya pengakuan seseorang yang ingin menghancurkan nama baik klien saya karena persaingan bisnis mereka," ucap Sunan.


"Apakah bapak Gavin bisa menjelaskan bagaimana anda mengetahui tersangka Amran melakukan peretasan berdasarkan bukti ID?" tanya hakim.


Gavin memberikan keterangannya dengan memaparkan sejumlah bukti kejahatan Amran dan tentu saja semuanya sudah direkayasa.


"Apakah anda bisa hadirkan pelapor sebagai saksi yang telah menuduh saudara Amran?" tanya hakim.


Kenzy maju ke depan sebagai saksi dan mulai melakukan sumpah. Setelah itu memberikan keterangan pada yang mulia.


"Karena saya pernah bekerja dengan tersangka, yang mulia," ujar Kenzy.


"Bagaimana kalau pelakunya itu adalah anda sendiri? bukankah Anda mengetahui nomor ID tersangka?" cecar Sunan.


"Keberatan yang mulia, pengacara Sunan terlalu menekan saksi," ucap pengacara Limbong sebagai pengacara kepolisian.


"Keberatan di tolak," ucap yang mulia.


"Yang mulia saya akan menghadirkan saksi utama yang akan menjelaskan bagaimana tuan Kenzy dan komplotannya sengaja menyeret nama klien saya sebagai pengkhianat negara," ucap Sunan.


"Silahkan hadirkan saksi!" ucap hakim.


"Kepada saudara Nabilla untuk maju dan mengambil sumpah!" ucap pengacara Sunan.


"Apakah anda mampu membuktikan bahwa tersangka saudara Amran bukan pelaku penghianatan itu?" tanya pengacara Limbong.

__ADS_1


"Apakah saya boleh memberikan kesaksian saya dengan bukti yang akurat, yang mulia?" tanya Nabilla.


"Silahkan saudara Nabilla!" Ucap hakim.


Nabilla mengeluarkan flashdisk miliknya dan meminta petugas untuk menayangkan ke layar monitor. Baik polisi Gavin, Kenzy, jaksa Penuntut umum Ardilla begitu gugup karena lawan mereka saat ini adalah Macan betina yang tak terkalahkan.


"Apakah semuanya sudah siap, ingin diperlihatkan dosa-dosanya selama ini pada negara?" tanya Nabilla melihat satu persatu orang-orang yang terlibat dalam kasus suaminya ada di dalam ruang sidang.


Awalnya sikap para mafia dan oknum pejabat terkait hadir di ruang sidang menarik sudut bibir mereka dengan memandang remeh ocehan Nabila sebagai omong kosong karena jabatan mereka yang masih kuat yang mereka andalkan saat ini.


"Saudara Kenzy. Anda adalah salah satu orang kepercayaan suami saya sebelum anda menapaki dunia Mafia karena tergiur dengan tawaran saudara tiri anda yaitu tuan Nadim yang mengklaim dirinya sebagai ketua mafia.


Tuan Nadim yang ingin mengusai saham terbesar yang dimiliki suamiku hingga merekrut sendiri anak buahnya suamiku yang belakangan ini baru di ketahui mereka adalah saudara satu ayah yang sebelumnya adalah musuh besar karena urusan internal keluarga.


Untuk memuluskan rencananya, tuan Nadim menjalin koneksi dengan beberapa oknum pejabat publik yang kehormatan mereka bisa di beli dengan uang hingga mengabaikan sumpah jabatan sekaligus memanfaatkan jabatannya dengan fasilitas yang negara berikan mereka dengan wewenang yang mereka miliki hanya untuk menindas target utama mereka yaitu suami saya.


Jika suamiku mendekam di penjara atau menerima hukuman mati sebagai penghianat negara, maka bisnis suamiku akan diambil alih oleh tuan Nadim.


Untuk memperluas wilayah bisnisnya dengan mudah, tuan nadim tidak bekerja sendiri dan juga tidak mau rugi banyak. Untuk itu ia menjaring beberapa pejabat terkait untuk memuluskan bisnisnya dengan meminang beberapa pejabat yaitu oknum Kepolisian diantaranya, polisi Gavin , Berlian, Rama, dan ada beberapa lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu tapi sudah terlampir di laporan saya untuk kepentingan peninjauan sidang.


Selanjutnya oknum pejabat pajak bea cukai, oknum keuangan, perdagangan, pertahanan dan keamanan semua oknum yang berhubungan dengan transportasi laut, udara dan darat.


Dari mafia hukum salah satunya adalah bapak jaksa penuntut umum yang sedang berkoar kebenaran dengan tuduhan menohok kepada para terdakwa yang ia tanganin kasus mereka termasuk suami saya untuk menutupi kejahatannya sendiri. Dan para mafia sebenarnya ada di dalam tubuh pemerintah sendiri yang berkedok pejabat publik.


Dan tuan Kenzy dan para sindikat mafia lain yang telah menjual dokumen negara yang merupakan aset bangsa ini dengan memanfaatkan no ID milik suami saya. Bagaimana tuan Kenzy?" sarkas Nabilla yang membasmi semua yang terlibat.


Walaupun Nabilla tidak menyebutkan secara rinci di depan hakim, namun hakim bisa melihat bagaimana Nabilla begitu pintar membuat skema data para mafia kelas kakap dengan oknum pejabat terkait, kini terpampang jelas di layar monitor yang ada di dalam ruang sidang.


Sekarang Amran baru mengerti mengapa kasusnya sengaja tetap di gulirkan di ruang sidang ini karena Nabilla ingin menangkap para penjahat itu dalam satu kali masuk dalam perangkap yang sudah di pasangnya hari ini.


"Hebat kamu sayang. Pantas saja kamu terlihat tenang. Padahal kamu punya niat terselubung," puji Amran.


Baik Reno, Wira, kakek Abdullah dan orang-orang yang selama ini berada di belakang Amran begitu takjub dengan keberanian dan kejeniusan Nabilla.


Sebenarnya sidang yang diadakan hari ini adalah idenya Nabilla yang sudah bekerjasama dengan presiden dan pejabat terkait yang jujur dan amanah dan terpercaya dalam menjalankan tugas mereka.


Gavin mengangkat topinya pada istrinya Amran ini. Ia mengakui kekalahannya yang tidak mampu menandingi kejeniusan Nabilla dalam kejeliannya mengurai satu persatu orang-orang yang terlibat dalam sindikat mafia yang berkedok pejabat seperti dirinya.

__ADS_1


......


Mohon vote dan like nya, cinta.


__ADS_2