Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
222. Bunuh Diri


__ADS_3

Bus yang ditumpangi oleh Nabilla berhenti di pinggir landasan bandara. Semuanya turun dengan posisi tangan mereka menggenggam senjata dengan membentuk formasi dalam posisi akan siap menembak musuh.


Hujan benar-benar sudah berhenti. Rasa dingin dari hawa udara di landasan bandara terasa menusuk kulit mereka namun terhalang oleh mantel tebal yang dikenakan oleh keluarga itu.


Posisi pesawat jet milik Fredrick sudah masuk ke area parkir pesawat dan pintu pesawat itu di geser oleh co-pilot secara otomatis agar tangga bisa bergeser dekat dengan pintu pesawat.


Amran dan kedua putranya dengan sigap naik ke atas tangga pesawat untuk menyergap penjahat yang berani kabur dari mereka sebelum mereka mendengar alasan pembunuhan terhadap Syakira dan Adam terjadi.


Begitu berada di dalam pesawat, sang penjahat keluar dari kamarnya dengan mengenakan piyama tidur tanpa membawa senjata.


"Letakkan tanganmu diatas kepala, cepat!" teriak Adam sambil mengarahkan pistolnya ke Frederick yang hanya menyeringai licik. Fredrick menuruti perintah Adam.


Adam memeriksa keadaan Frederick yang memang tidak ditemukan senjata tajam. Namun perubahan raut wajahnya yang tidak terlihat baik-baik saja membuat Amran menarik tubuh putranya untuk menjauhi Fredrick.


"Adam..! Jauhi dia..!" titah Amran.


"Daddy. Aku mau tahu alasannya dia...-"


"Kau tidak akan pernah mendapatkan informasi apapun dariku karena aku...uhuk...uhuk... darah segar menyembur dari mulutnya Frederick membuat Amran dan kedua putranya mundur.


"Sial. Dia telah melakukan bunuh diri dengan meminum racun," gerutu Adam.


Nabilla menyerobot masuk lalu memberikan suntikan obat penawar racun ke leher Fredrick agar racun tidak masuk ke dalam jantungnya.


"Aku tidak akan mengijinkan kamu pergi dari dunia ini sebelum kami mendapatkan informasi valid darimu, Fredrick," seringai Nabilla membuat Fredrick merasa nafasnya kembali teratur dengan obat penawar racun itu.


"Biarkan aku mati..! Aku tidak mau disiksa oleh mereka jika aku hidup," pinta Frederick pada Nabilla karena dirinya yang gagal melakukan bunuh diri.


"Aku yang akan menyiksamu. Katakan siapa yang telah menyuruhmu menembak Syakira dan putraku Adam! " titah Nabilla penuh intimidasi.

__ADS_1


"Tidak tahu," ucap Frederick tenang dengan sesekali terbatuk.


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan bunuh wanitamu dan setelah itu bayimu yang baru lahir satu pekan lalu!" ancam Nabilla membuat Fredrick terhenyak.


"Jangan sentuh mereka...!" jawabnya dengan nafas tersengal.


"Kalau begitu beritahu kami, siapa yang menyuruhmu untuk membunuh Syakira dan Adam!" desak Amran.


"Dia adalah senator AS yang akan memenangkan calon presiden yang akan datang. Dengan mengusai kekayaan Syakira yang sudah dilimpahkan ke negara akan di ambil alih oleh pengusaha itu dengan merubah wasiatnya Syakira. Jika Syakira mati, maka putramu Adam harus mati,". Ucap Fredrick masih merasakan sakit di tenggorokannya.


"Katakan dengan jelas nama orang itu karena kami tidak butuh kedudukan atau jabatan apapun yang berkaitan dengan dunia politik. Kami hanya butuh oknumnya. Sebutkan siapa namanya?"


Dorrrr.....


Seorang wanita yang juga pembunuh bayaran yang menyamar sebagai pramugari di pesawat Frederick melepaskan tembakannya tepat di kening Fredrick yang belum sempat menjawab nama pelaku utamanya.


Bunga dengan cekatan menembak perempuan itu tepat di dadanya. Sama seperti Fredrick, perempuan itu sudah meminum racun lebih dulu sebelum menembak Frederick.


Setidaknya mereka sudah tahu siapa orang yang telah menyuruh Fredrick membunuh Adam dan Syakira. Mereka harus menyelidiki otak dari pembunuhan ini.


"Sampai jumpa nanti senator! Aku akan membuat perhitungan denganmu. Kau hanya inginkan jabatan calon presiden tapi dengan memanfaatkan kekayaan orang lain demi mencapai ambisimu," geram Nabilla sambil mengeratkan mantelnya berjalan menuju mobilnya di mana Reno dan Arland sudah menjemput kelurganya.


"Apakah kalian sudah menemukan pelakunya?" tanya Reno pada Amran yang terlihat masih belum puas menumpas pelakunya.


"Kami harus melakukan perburuan lagi karena belum mencapai target yang diharapkan," ucap Amran terdengar ambigu oleh Reno dan Arland.


"Apa yang terjadi?" tanya Arland yang saat ini sedang menyetir mobil.


"Semuanya kacau karena pelaku telah bunuh diri dan dibunuh. banyak sekali pembunuh bayaran dari yang amatiran hingga profesional membaur dalam kehidupan kita hingga kita tidak menyadari maut terus membayangi kehidupan kita dengan penyamaran mereka yang bisa menjadi siapa saja," ucap Amran.

__ADS_1


"Berarti kita harus selalu waspada agar kita tidak terkecoh dengan penampilan orang lain," timpal Reno.


"Yah. Seperti itulah. Sekarang aku ingin melihat keadaan putriku Cintami. Di rumah sakit mana putriku di bawa oleh Arsen?" tanya Amran sendu.


"Di rumah sakit eyang Mariska. Keadaannya sudah lebih baik. Putrimu seorang wanita yang kuat. Mereka tidak akan menyerah begitu saja pada maut. Kami turut bangga atas keturunanmu yang semuanya jempol," puji Arland.


"Terimakasih atas pujiannya Arland. Tapi, aku sama sekali tidak merasa tersanjung. Kalau aku bisa memilih, aku ingin mengakhiri semua petualangan anak-anakku bermain dengan nyawa mereka yang sangat berharga untukku.


Aku merindukan kehidupan normal seperti kalian. Tidak harus setiap saat merasakan jantungku ikut berhenti bila mendengar mereka sedang melakukan misi berbahaya," keluh Amran yang hanya bertiga saja dengan dua sahabatnya itu karena istri dan anaknya bersama dengan Daffa yang mengantar mereka ke rumah sakit.


"Jangan begitu Amran...! Sebagai orangtua kamu tidak boleh lemah seperti itu. Bagaimanapun juga takdir semua anak-anakmu sudah diatur oleh Allah agar mereka bisa menyelamatkan kehidupan orang lain dari para penjahat itu. Jika kamu lemah, mereka akan bingung untuk melangkah," nasehat Reno pada sahabatnya itu.


"Tidak ada orangtua di dunia ini yang ingin anaknya mati duluan sebelum dirinya. Kecuali orang tua yang tidak waras," ucap Amran.


"Tapi, putra-putrimu tidak merasa tertekan selama menjalankan misi mereka. Dan jiwa mafia kamu menurun pada mereka dengan seorang ibu yang sangat kuat dalam membina mental anak-anakmu walaupun diantara mereka sudah berkeluarga," ujar Reno.


Setibanya di rumah sakit dokter Mariska. Rupanya semua kelurga besar sudah berkumpul di ruang tunggu keluarga pasien. Sementara Arsen masih menemani Cintami di dalam kamar inap.


Keluarga Nabilla menunaikan sholat subuh berjamaah terlebih dahulu sebelum menemui Cintami. Usai menunaikan sholat subuh berjamaah, Amran dan Nabilla lebih dulu melihat putri pertama mereka. Dan Adam menemui istrinya yang sedari tadi cemas memikirkan nasib suaminya.


"Sayang. Kamu tidak apa-apa?" tanya Syakira sambil memindai tubuh Adam dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, sayang?" tanya Adam yang merasa bersalah karena tidak memikirkan hal yang paling detail untuk keselamatan istrinya saat mereka sedang bulan madu.


"Aku sudah lebih tenang setelah di tenangkan oleh kedua nenekmu. Mereka sangat menyayangi aku," ucap Syakira sambil tersenyum pada Adam agar suaminya tidak berlebihan mencemaskan dirinya.


"Syukurlah. Sebaiknya kita pulang dan biarkan Cintami diurus oleh suaminya," ucap Adam yang ingin istirahat di rumahnya saja karena hotel tidak cukup aman untuk mereka.


Di rumahnya semua kaca jendela sudah dipasang anti peluru dan memiliki standar keamanan tinggi kecuali Allah mengijinkan mereka mati.

__ADS_1


"Apakah kita akan bercinta lagi?" goda Syakira untuk menghibur suaminya.


"Tentu saja sayang. Kebutuhan itu sebagai penguat imun," ucap Adam memeluk pinggang istrinya posesif.


__ADS_2