
Amran menemui tubuh ibunya yang sudah terbujur kaku dengan senyum bahagia tergambar jelas di wajah keriput itu. Wajah penuh bijaksana yang menyimpan luka hatinya karena cinta yang tak pernah ia raih dari pria yang ia cintai.
Amran menjatuhkan tubuhnya disisi Ibunya menangis sesenggukan menatap wajah wanita yang melahirkan dirinya.
"Ummi. Maafkan Amran ummi! Kalau seumur hidup ummi, Amran selalu menyakiti ummi. Terimakasih sudah menghadirkan aku di dunia ini dengan susah payah. Amran berjanji akan menjadi pemimpin yang adil untuk negeri ini agar ummi tidak pernah menyesal melahirkan Amran ke dunia ini. Selamat jalan ummi. Kembalilah kepada Robb-mu..! Dengan KeridhaaNya." Amran mencium kening ibunya diikuti saudara Celia yang sedari tadi tidak berhenti menangis.
Anak, cucu dan cicit serta mantan suami mengantarkan jenasah ummi Ambar ke pembaringan yang terakhir. Duka yang dirasakan keluarga besar presiden baru Indonesia itu menjadi duka bersama bangsa Indonesia yang turut merasakan kehilangan Amran akan kepergian Ibunda tercinta.
Di hari yang sama Amran dilantik menjadi presiden dan di hari itu sang ibu berpulang untuk selamanya. Sebagai ibu dari seorang presiden, tentu saja perlakuan negara pada jenasah sang ibu di kawal ketat hingga ke tempat pemakaman terakhir. Nabilla yang ikut terpukul atas kehilangan ibu mertuanya, kini harus tegar menghadapi ujian pertama mereka.
Tiga hari masa berkabung kelurga besar Amran, tidak menyurutkan semangat Amran yang kembali lagi pada niat awalnya sebagai penguasa negeri itu.
"Apa kamu yakin kita harus mulai kerja di istana?" tanya Nabilla.
"Istana negara adalah kantor baru kita. Kita tetap tinggal di sini, di rumah kita," ucap Amran.
"Terserah padamu sayang. Kita yang melayani negara, bukan negara yang melayani kita. Jika kita sibuk mengurus negara ini, kita akan melupakan kesedihan kita walaupun itu sangatlah sulit," hibur Nabilla sambil mengusap punggung suaminya.
"Aku baru tahu rasanya kehilangan ibu itu seperti apa. Sepertinya separuh jiwaku dikubur bersama jasad ummi," ucap Amran sambil mengusap air mata kepedihannya.
"Antara anak dan orangtuanya, suami dan istri yang saling mencintai, jika kehilangan, jiwanya juga ikut pergi dan itulah yang membuat kita begitu lama menerima kehilangan menjadi sebuah takdir," imbuh Nabilla.
__ADS_1
"Aku kangen ummi Nabilla. Selama ini aku terlalu sibuk memikirkan negara, hingga aku lupa memikirkan ibuku yang mulai merasa ditinggalkan. Rasanya sangat sakit, Nabilla," Amran kembali meraung mengenang Ibunya membuat Nabilla juga ikut menangis.
"Ummi pasti sangat bangga padamu, hubby. Karena kata Syakira, saat kamu dilantik menjadi presiden, ummi sedang melakukan sholat Dhuha. Beliau meninggal dalam keadaan bersujud kepada Allah," ucap Nabilla berdasarkan kesaksian Syakira yang pertama kali menemukan nenek dari suaminya itu meninggal dunia di dalam kamarnya saat Syakira mengantarkan kue untuk ummi Ambar.
"Aku harap kamu tetap mengawasi anak-anak dan cucu kita. Jangan terlalu percaya pada para pengawal di rumah ini. Karena kesibukan kita, mungkin akan jarang ketemu dengan cucu-cucu kita yang lucu-lucu," ujar Amran.
"Iya sayang. Tiga hari lagi Nada dan Ghaishan kembali ke Amerika membawa si kembar karena si kembar tidak bisa jauh dengan molly junior," ucap Nabilla.
"Tidak apa sayang. Karena tempat mereka ada di negara itu. Apa lagi molly lebih senang tinggal di daerah dingin karena habitatnya seperti itu. Oh iya, apakah kamu sudah menyelidiki kandidat menteri kabinet yang akan membantu aku?" tanya Amran.
"Sudah sayang. Dalam hal ini semua kandidat diseleksi berdasarkan prestasi dan profilnya tanpa melihat agama dan ras mereka. Dan semua mereka tidak memegang lebih dari dua jabatan, kecuali profesi mereka sebagai dosen yang sangat dibutuhkan di negara ini," ucap Nabilla segera menyerahkan 4 menteri koordinator dan 30 nama calon menteri pada Amran yang membaca secara teliti latar belakang kehidupan para menteri terpilih.
Semua calon menteri dan wakilnya di panggil ke istana sebelum dilantik. Mereka harus melewati beberapa tahap tes sebelum di lantik. Terlihat Rina bahagia dari masing-masing calon yang tidak menyangka mereka akan terpilih menjadi menteri untuk mendampingi Amran. Mereka duduk bersama di ruang rapat istana di mana saat ini Amran sudah duduk bersama mereka.
"Siap miskin bersamaku?" tanya Amran membuat beberapa diantara mereka terlihat bingung.
"Maaf bapak presiden? Apa maksudnya anda melontarkan pertanyaan itu pada kami?"
"Kalian tidak akan bisa mengumpulkan pundi-pundi dari jabatan yang sebentar lagi akan saya lantik. Justru harta yang kalian punya akan saya untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Bukankah kamu punya tambang batu bara, tuan Raihan?" tembak Amran membuat jantung tuan Raihan seperti mau copot.
Deggggg...
__ADS_1
"Jika tidak bersedia hartanya dikuras oleh negara, maka silahkan tinggalkan ruangan ini karena saya tidak suka bekerja dengan menteri yang pelit," tegas Amran.
"Tapi tuan presiden, apa yang kami miliki apa yang bapak punya seperti kilang minyak itu, mama mungkin kami mengorbankan harta kami demi negara ini?" protes yang lainnya.
"Begini saudara-saudaraku. Aku berani menjamin, jika harta yang kalian keluarkan di jalan Allah cukup dengan dua setengah persen setiap bulannya, maka harta kalian akan lebih melimpah dari apa yang kalian belanjakan untuk kepentingan umat dan itu berlaku untuk saudaraku yang beragama lain.
Aku bersumpah atas nama Tuhanku. Jika ini janji manusia mungkin saya tidak akan berani berkata seperti itu pada kalian. Tapi ini janji Tuhan sendiri karena Allah tidak akan pernah ingkar janji," ucap Amran penuh penekanan pada kalimatnya.
"Apakah tidak bisa dibuktikan dulu selama tiga bulan ke depan seperti janji anda bapak presiden?" ragu yang lain.
"Saya yakin dan saya siap jika harta saya diambil untuk kepentingan umat," ucap tuan Abdillah seraya berdiri.
" Saya juga." Tuan Fadil ikut berdiri. Dan semua siap mengikuti saran yang disampaikan oleh Amran yang selalu membuktikan perkataannya.
"Saya juga ingin kaya seperti tuan presiden Amran yang selama ini saya teliti jalan hidup anda penuh dengan berkah bahkan tidak pernah habis dan miskin setiap kali anda berbagi dengan sesama sebelum bapak menjadi penguasa negeri ini," ujar tuan Hanafi.
"Bagus. Aku senang berkerja dengan orang-orang yang menyerahkan hidupnya kepada Allah. Seperti yang dilakukan oleh para sahabat rasulullah yaitu Ustman bin Affan dan Abdurahman bin Auf yang kekayaannya sampai saat ini tidak pernah habis di makan usia padahal keduanya sudah meninggal berabad-abad lamanya," tutur Amran dan yang lainnya baru yakin atas apa yang dinyatakan oleh Amran karena terbukti kebenarannya.
"Ingatlah. Kemerdekaan negara ini diraih dengan harta, darah dan doa. Kenapa kita sebagai generasi penerus tidak bisa melakukan hal yang sama seperti para pejuang kita yang bukan hanya membela negara ini dengan ilmu mereka tapi juga harta mereka," lanjut Amran.
Semuanya tepuk tangan atas semangat yang Amran kobarkan kepada mereka. Mereka begitu antusias dalam mengembangkan tugas mereka sebagai menteri terpilih oleh Amran sendiri.
__ADS_1