Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
227. Curiga


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, sejak tertangkapnya tuan Ferguson dan kini senator itu di adili dan menerima hukumannya dengan menjalani hukumannya di penjara bawah tanah seumur hidupnya.


Hukuman yang menyeramkan untuk seorang politisi. Bukan hanya Ferguson yang menerima hukuman itu, bahkan para mafia pejabat yang menjadi sekutunya harus menerima hukuman mati.


Kini Syakira menjalani kehidupannya dengan tenang di Jakarta sana. Ia juga sudah tidak lagi menerima tawaran untuk menyanyi karena ingin fokus pada keluarganya terutama sang suami.


Namun ia juga harus melakukan meeting dengan karyawannya dengan secara virtual. Terutama ia harus mendengar laporan dari tangan kanannya yaitu pak Abidzar yang saat ini lebih kompeten mengurus perusahaan Syakira.


Bahkan keuntungan yang mereka dapat tiga kali lipat dari biasanya dan itu sangat memuaskan Syakira. Pak Abidzar benar-benar amanah dalam menjalankan perusahaan milik Syakira.


"Nona. Apakah ada yang ingin anda tambahkan atau mungkin anda punya ide lain dalam pemasaran produk kita?" tanya pak Abidzar sebelum mengakhiri rapat.


"Tidak ada pak. Sejauh ini saya sudah puas dengan hasil kerja pak Abidzar. Terimakasih pak. Untuk bonus bapak tahun ini akan saya naikkan 2 kali lipat," ucap Syakira.


"Terimakasih nona. Semoga selalu sehat dan tolong sampaikan salam saya untuk tuan Adam dan yang lainnya," santun pak Abidzar.


"Baik pak. Sampaikan salam ku juga untuk adikku Fitri," balas Syakira.


Keduanya sama-sama memutuskan komunikasi setelah mengucapkan salam. Tidak berapa lama Syakira sudah mengenakan lengerie warna moka untuk menyambut sang suami.


Tepat di saat yang sama keduanya sama-sama membuka pintu. Adam membuka pintu kamar dan Syakira membuka pintu ruang ganti. Siapa yang tidak tergiur dengan pemandangan indah di depan mata membuat sang junior langsung beraksi.


"Sayang...!" panggil Adam sambil menelan salivanya kasar.


"Tampilan ini untukku?" tanya Adam memindai tubuh sang istri yang masih termangu menatapnya.


"Tidak. Ini untuk pacarnya Cherry," ledek Syakira menahan tawa.


"Aisss... Kenapa sainganku dengan pejantan meong itu," gerutu Adam pada Si Greenfield.


"Ya tentu saja untuk kamu. Pake ditanya." Syakira membantu melepaskan dasi dan jas suaminya yang tidak tahan lagi merasakan gundukan padat dada Syakira yang makin berisi dan montok.


Adam merasa tubuh istrinya sudah terlihat berbeda. Bukan masalah tubuh Syakira yang terlihat sintal. Tapi lebih kepada ke arah ciri-ciri wanita hamil.


"Sayang. Apakah haidmu teratur?" tanya Adam karena melewatkan tamu bulanan istrinya.


"Hmm. Aku lupa karena sering telat. Aku tidak memikirkannya lagi," ucap Syakira.

__ADS_1


Adam tersenyum lalu tidak ingin lagi bertanya karena ia sudah tahu jawabannya. Wanita di hadapannya ini selalu menerima serangan darinya setiap saat. Jadi, sudah tidak memperhatikan lagi benih suaminya yang tumbuh subur di rahim istrinya.


Yang saat ini Adam inginkan adalah bercinta dengan istrinya sebagai makanan pembukanya malam ini. Dalam sekejap lengerie moka itu sudah terbang entah ke mana.


Tubuh montok Syakira sudah berada dalam kungkungan tubuh kekar Adam yang siap memasukinya.


"Hmmmp.., baby!" lenguh Syakira menikmati hentakan milik Adam yang selalu memabukkan dirinya.


"Terimakasih sayang. Kamu sudah memberikan hadiah terindah untukku," ucap Adam di sela-sela permainan panas mereka.


Jika Adam memiliki hadiah berupa kehamilan Syakira namun tidak dengan Syakira yang mengira kalau dirinya tampil dengan lengerie seksi malam ini untuk suaminya. Keduanya tidak sepemikiran.


...----------------...


Jika Adam baru mendapatkan calon bayinya dalam rahim Syakira, tidak dengan Nada yang sedari tadi mengeluh sakit karena kontraksi yang terus menerus melilit perutnya membuat ia mengigit lengan Ghaishan untuk menyalurkan rasa sakitnya.


"Apakah sangat sakit, sayang?" tanya Ghaishan membuat Nada emosi.


"Mau menggantikan tempatku? Kalau begitu kamu saja yang hamil," kesal Nada yang tidak suka ditanya seperti itu.


Nada mengingat lagi cerita ibunya yang menahan sakit ditengah hujan deras digendong ayahnya melewati banjir.


"Tidak. Aku bisa melewati sakit ini." Air matanya berderai membayangkan sakit yang luar biasa yang dilewati ibunya.


"Kenapa aku jadi cengeng begini? Padahal mommy lebih menderita menahan sakitnya melahirkanku dan El," gumam Nada kembali bersemangat sambil terus beristighfar.


"Panggilkan mommy, sayang. Aku ingin minta maaf sama mommy," pinta Nada.


"Baiklah. Tolong jangan menangis sayang....! Hatiku lebih sakit melihatmu seperti ini," ucap Ghaishan ikutan sedih.


"Hmm!" Nada mengangguk sambil terisak.


Tidak lama, muncul Nabilla menemui putri bungsunya yang terlihat sangat menderita karena terlalu lama menantikan pembukaan yang sedari tadi tidak bertambah.


"Mommy. Peluk Nada mommy...!" pinta Nada manja seperti putri kecilnya Nabilla 20 tahun yang lalu.


"Sayang. Apakah sangat sakit?" tanya Nabilla yang tidak tega melihat wajah putrinya yang sangat menderita.

__ADS_1


"Mommy."


"Hmm!"


"Apa yang mommy lakukan saat mommy melewati hujan badai dengan rasa sakit mendera tubuh mommy?" tanya Nada.


"Berzikir. Perbanyak istighfar dan membaca selawat," sahut Nabilla.


"Aku sudah melakukannya mommy tapi sakitnya membuat kakiku sudah mati rasa," ucap Nada makin terlihat pucat.


"Kalau begitu bersabar dan pasrahkan hidupmu pada Allah. Perjuangan seorang ibu yang melahirkan lebih dari seorang pahlawan yang berjuang di medan perang. Nilai pahalanya lebih besar. Dan kematiannya menjadi sahid di jalan Allah," ucap Nabilla.


"Mommy. Maafkan Nada kalau Nada selalu menyakiti hati mommy. Doakan Nada mommy!" pinta Nada lirih.


"Berbaringlah! Mommy akan mendoakanmu," ucap Nabilla lalu mengambil air dan membacakan doa dalam air itu untuk putrinya.


Nabilla membantu Nada untuk meneguk air yang sudah ia doa. Sisa air itu di usapkan diperut Nada. Di saat itulah Nada sudah tidak tahan lagi karena bayinya sudah mulai mengajaknya untuk keluar.


Nabilla memanggil dokter yang siap membantu menangani persalinan putrinya Nada. Dokter Galuh memeriksa jalur lahir Nada yang sudah siap untuk melahirkan.


"Baik. Kita ke ruang bersalin sekarang!" pinta dokter Galuh meminta susternya untuk mendorong brangkar Nada ke ruang bersalin yang berada di sebelah kamarnya.


Ghaishan masuk menemani istrinya yang sudah siap melahirkan si kembar. Setelah siap mengejan, entah mengapa Nada merasakan kehadiran molly dekat dengannya saat ini.


"Ada apa denganku? Kenapa molly berada di sini?" bingung Nada yang merasa dirinya sedang mengalami delusi.


Setelah beberapa kali mengejan, akhirnya Nada bisa melahirkan bayi pertamanya berjenis kelamin perempuan di ikuti bayi keduanya berjenis kelamin laki-laki. Setelah melahirkan bayi laki-lakinya, tiba-tiba molly hilang dari pandangan Nada.


"Molly...! Batin Nada merasakan ada yang hilang dalam dirinya." Mengapa aku sering sekali memimpikan tentang Molly belakangan ini?" batin Nada.


Ghaishan menatap wajah bayi kembar nya yang sangat mirip dengannya. Keduanya dibersihkan oleh suster dan menunggu ayah mereka mengumandangkan adzan. Sementara itu Nada terlihat kelelahan dan memilih untuk tidur. Ghaishan mengecup bibir istrinya.


"Terimakasih sayang untuk hadiah terindah yang kamu berikan kepadaku setelah kedatanganmu pertama dalam hidupku. Hadirnya belahan jiwa kita menjadi pelengkap kebahagiaan kita," bisik Ghaishan.


......................


Say.. akhir bulan ini kita tamat ya

__ADS_1


__ADS_2