Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
67. Harus Tertunda


__ADS_3

Nabilla sibuk mengurusi ketiga bayinya yang sudah ia mandikan, berpakaian dan disusuinya. Ia dibantu oleh ibu mertuanya, ummi Ambar. Ketiganya sudah rapi pagi itu. Amran mendorong stroller baby menuju taman belakang. Ia menjemur ketiga bayinya dan diapun sendiri berolahraga sambil sesekali menggoda ketiga bayinya yang sudah berusia hampir tiga bulan.


Adam paling senang kalau sudah ada ayahnya. Putranya tidak henti-hentinya menatap ayahnya sambil tertawa geli jika sudah digoda Amran. Si daddy suka menggendongnya terlebih dahulu daripada kedua putrinya yang terlihat kalem.


Melihat pemandangan diluar sana, Nabilla berdecak kagum pada sang putra. Ummi. Baby Adam hanya mau tersenyum atau tertawa jika bersama dengan Daddy-nya. Sementara dengan kita selalu saja memasang wajah datar," ujar Nabilla.


"Bukankah Amran juga sama kamu begitu? datar dan ketus. Iyakan?" tekan ummi Ambar.


" Itu dulu ummi, tapi sekarang sudah saya jinakkan ummi. Jadi dia anteng dalam pengawasanku," celetuk Nabilla sambil terkekeh.


"Alhamdullilah. Semoga langgeng ya, sayang," ucap ummi Ambar.


"Aamiin. Insya Allah ummi, Nabilla sudah baca doa jurus jitu anti pelakor," timpal Nabilla sambil berdendang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.


"Itulah hebatnya kamu Nabilla, ilmu apapun kamu pelajari jadi kamu bisa menguasai semua ilmu," balas ummi Ambar.


"Ada kok ummi, ilmu yang Nabilla tidak pelajari," ucap Nabilla.


"Apa sayang?"


"Ilmu pelet, santet dan sihir," canda Nabilla makin membuat umminya terkekeh.


"Kalau para istri belajar salah satunya ilmu itu, dijamin pelakor tidak akan tebar pesona di dunia ini dan rumah tangga ummi tidak akan hancur oleh pihak ketiga," celetuk ummi Ambar.


"Ummi. Apakah ummi tak berniat lagi untuk berumahtangga? apakah ummi masih mengharapkan Abi Recky?" tanya Nabilla.


"Nabilla, cinta ummi...-" ucapan ummi Ambar menggantung di udara kala melihat ibu mertuanya datang tergesa-gesa menghampiri mereka.


"Ambar, Nabilla. Apakah kalian sudah dengar kalau Recky sudah mengajukan gugatan cerainya pada Arumi?" tanya nenek Anisa.


"Apaaa....?" pekik keduanya kompak.

__ADS_1


"Kenapa kaget? Harusnya ucapin Alhamdulillah karena mata hati putraku sudah terbuka sekarang. Ambar. Apakah kamu masih mau rujuk dengan putranya mami?" tanya nenek Anisa.


Nyonya Ambar tidak langsung menjawab karena ia tidak tahu bagaimana cara ia menyikapi berita perceraian sang mantan.


"Entahlah mami. Ambar tidak tahu. Maaf, Ambar mau ke kamar dulu," ucap ummi Ambar berjalan cepat menuju kamarnya.


"Apakah nenek terlalu semangat mendesaknya hingga ia tersinggung Nabilla?" tanya nenek Anisa.


"Nenek. Jika perceraian antara Abi dan mama Arumi itu terjadi dua atau tiga tahun pernikahan mereka, Nabilla yakin ummi Ambar mungkin mau rujuk dengan Abi. Ini sudah tua disuruh rujuk, hati ummi Ambar sudah jadi agar-agar. Sudah mengeras sulit ditembus. Sudah terlalu sakit dan sudah tua, nggak seru lagi untuk memadu kasih," ucap Nabilla apa adanya.


"Tua itu hanya urusan usia saja, Nabilla. Lagian ummi Ambar itu masih cantik dan segar jadi tidak ada urusannya dengan usia," ucap nenek Anisa.


"Iya sih nenek, masalahnya umminya masih cinta nggak sama Abi?" balas Nabilla.


"Iya juga sih." Nenek Anisa hanya bisa mendesah dengan tatapan Melo.


"Nenek. Berarti acara lamaran adik aku ke Lea nggak bisa terlaksana dong? dan pernikahan Reno dan Celia juga ya?" sesal Nabilla.


"Soal itu, biar nenek yang urus Nabilla. Kalau orangtuamu mau lamar Lea, kan ada kakek dan nenek yang akan mengurus pernikahan mereka. Nggak perlu libatkan nenek lampir si Arumi itu," ucap nenek Anisa jijik dengan menantunya itu.


"Iya sayang. Benar juga katamu. Kalau begitu, minta adikmu untuk bersabar ya. Jodoh tak akan lari ke mana," timpal nenek Anisa lalu meninggalkan meja makan.


"Nona Nabilla!" panggil pelayan Tiar.


"Ada apa Tiar?" sentak Nabilla lalu mengubah posisi berdirinya menjauhi Tiar.


"Aku ingin bicara dengan nona Nabilla," tutur Tiar sambil meremas rok seragam pelayannya.


"Ok. Silahkan duduk Tiar! ada yang bisa saya bantu?" tanya Nabilla sambil menggenggam pisaunya kuat-kuat untuk membelah buah apel yang ingin dibuatkan salad buah untuk suaminya.


"Saya ingin mengakui kesalahan saya pada keluarga ini, nona. Saya melakukan karena terpaksa. Dulu saya pernah berhubungan dengan tuan Dito semenjak saya bekerja di sini, tujuh tahun yang lalu hingga ia menghamili saya tanpa mau bertanggungjawab.

__ADS_1


Saya melahirkan anak saya dan sekarang berusia lima tahun. Sebelum dia menghilang karena dipecat oleh tuan Abdullah, ia mengambil putra saya. Ia ingin saya bekerja untuknya menjadi mata-mata di rumah ini. Kalau saya berhasil memberikan informasi sedikit apapun padanya, maka dia akan mengembalikan putra saya.


Saya melakukan ini karena saya tidak mau putra saya di asuh oleh dia nona. Saya melakukannya karena terpaksa. Jika nona bisa membebaskan putra saya, saya akan mengabdi pada keluarga ini seumur hidup saya," ucap pelayan Tiar.


"Bagaimana caramu berhubungan dengan Dito?" selidik Nabilla.


"Melalui surat menyurat nona. Setiap kali saya ke pasar, saya akan memberikan surat itu pada pemilik warung tempat langganan saya belanja sayur mayur karena nenek Anisa tidak mau saya belanja di supermarket. Ia ingin saya belanja dipasar basah untuk menolong kaum kecil," ucap Tiar.


"Jadi, penyampaian pesannya secara berantai?" tanya Nabilla.


"Iya nona," jawab Tiar.


"Hmm!" benar dugaanku. Hanya Tiar yang selalu berhubungan dengan orang luar. Mereka menggunakan pesan berantai karena semua ponsel milik pelayan sudah di sadap oleh kakek Abdullah. Jadi apapun isi pesannya akan terekam secara otomatis," batin Nabilla.


"Baiklah. Aku akan mencari tahu keberadaan putramu. Tapi aku tidak bisa janji tentang keselamatannya, tapi suamiku akan berusaha agar putramu tidak terluka. Berikan foto putramu padaku.


Berbelanjalah seperti biasa dan berikan informasi kepada mereka sesuai dengan apa yang aku mau, kamu tinggal menyalin ulang. Buatlah seolah-olah kami belum tahu kalau kamu pelakunya. Sekarang kamu dalam pengawasan kami. Jangan coba-coba mengkhianati kepercayaanku! atau kau yang akan mati ditangan kami atau putramu yang akan dibawa kabur oleh Dito!" ancam Nabilla serius.


"Baik nona. Apakah saya masih bisa bekerja di sini?" tanya Tiar lega.


"Tentu saja Tiar. Terimakasih atas kejujuranmu. Serahkan putramu kepada Allah karena sebaik-baiknya penjaga, hanya penjagaan Allah yang lebih baik karena Allah tidak pernah tidur," imbuh Nabilla.


"Alhamdullilah. Terimakasih nona Nabilla," ucap Tiar.


"Hmm!"


Amran yang ikut mendengarkan percakapan keduanya di atas anak tangga, salut pada istrinya yang nampak tenang mengatasi masalah berat dalam kondisi mereka yang setiap saat terancam.


Dua pekan kemudian, Celia dan Nadin melakukan fitting baju bersama dengan pasangan mereka. Nadin sengaja menjemput Celia di kampusnya karena ingin makan siang bersama sebelum ke butik langganan kelurga Celia yang direkomendasikan ummi Ambar.


Reno dan Arlan yang masih sibuk dengan meeting mereka masing-masing, meminta gadis mereka menunggu di butik. Kesempatan ini di manfaatkan oleh penjahat untuk menguntit mobilnya Nadin.

__ADS_1


....


Vote dan like nya, cinta, please!


__ADS_2