Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
46. Saling Ancam


__ADS_3

Wajah polisi Gavin cukup pias mendengar ancaman Nabilla. Tapi jiwa seorang perwira dan kepemimpinannya tidak akan mudah begitu saja menyerah pada wanita bercadar ini." Tutup mulutmu bodohmu itu, nyonya! Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu itu, hmm? kamu belum tahu siapa aku? aku bisa membuat hidupmu berada dalam neraka jika aku mau.


Kamu kira aku takut dengan ancaman recehmu itu? siapa kau hingga aku harus tunduk dan patuh atas perintahmu yang harus membebaskan suamimu yang jelas-jelas adalah pengkhianat negara," ucap Gavin sambil mendekati tubuh Nabilla yang duduk di sofa.


"Ucapanmu adalah cermin dari kebobrokan jiwamu yang berlindung dibalik seragam pengayom masyarakat itu. Yang kapan saja jabatanmu itu bisa dicopot karena usainya masa jabatanmu atau skandalmu. Aaa ! ya.. ! bicara tentang skandal, kenapa aku hanya berani mengancammu saja, pak Gavin Bramantyo? bukankah skandal itu harus diungkapkan dihadapan publik? dengan begitu, jabatan di mana tempatmu berlindung dari kejahatanmu selama ini, akan aku sebarkan ke media.


Jangan terlalu percaya diri pak Gavin. jika hukum tidak bisa menyelesaikan masalah oknum polisi korup seperti anda, media yang akan bertindak untuk menjatuhkan kekuasaan mu dalam sekejap. Bagaimana? adil bukan? Penegakan hukum yang anda bina untuk melindungi masyarakat hanya bisa menangkap penjahat kecil yang sekelas curanmor, jika penjahat kelas kakap seperti anda cukup media yang akan mengungkapkannya dengan begitu akan cepat selesai. Kita lihat saja, apakah seorang Gavin Bramantyo masih gagah berani membasmi tikus-tikus berdasi, seperti anda?" sarkas Nabilla.


Pak Gavin tidak lagi segarang tadi, kini bahu tegap dan tatapan sangar menatap tajam mata Nabilla , kini berangsur mulai menurun karena ancaman Nabilla padanya terdengar tidak main-main.


"Baiklah. Aku akan mencoba untuk membebaskan suamimu dari jeratan hukum. Tapi kasus yang terjadi padanya bukan kasus ringan dan biasa karena ini menyangkut negara dan....-"


"Oh no....! tidak seperti itu pak Gavin. Anda tahu betul kasus suami saya hanya dijebak dalam permainan sindikat mafia dan oknum polisi dan pejabat korup yang kompak untuk menjatuhkan suamiku demi kepentingan membangun bisnis raksasa dari beberapa mafia yang butuh dukungan kalian untuk memperkuat jaringan bisnisnya yang saat ini dikuasai suamiku karena beliau adalah pemegang saham terbesar dari anak perusahaan yang mereka bangun.


Dengan cara menjebak dan menangkap suamiku atas tuduhan palsu yang disandangnya saat ini sebagai pengkhianat negara, maka bisnis mereka akan dengan mudah mengambil alih pasar saham suamiku yang akan jatuh harga sahamnya di bursa saham saat ini karena skandal yang kalian ciptakan. Silahkan saja kalau kalian punya nyali untuk menjatuhkan bisnis suamiku. Bukan tidak mungkin aku akan menyeret anda dan jajaran oknum polisi lainnya ke mahkamah internasional!" ancam Nabilla.


Mata pak Gavin melebar mendengar penuturan Nabilla secara terperinci bahkan sangat empiris. Bukti empiris adalah informasi yang membenarkan suatu kepercayaan dalam kebenaran atau kebohongan suatu klaim empiris. 

__ADS_1


"Tidak perlu tahu bagaimana saya mengetahuinya pak Gavin. Karena rahasia pengkhianat negara sebenarnya adalah anda sendiri dan beberapa nama oknum lainnya yang ada dalam tubuh polri sudah ada di dalam genggaman saya. Ini hanya masalah waktu saja. Jika saya mau, saya tidak perlu berkompromi dengan anda terlebih dahulu. Cukup mendatangi presiden, selesai urusannya. Mudah bukan. Saking mudahnya untuk membasmi kejahatan kalian semudah saya mengedipkan mata," ucap Nabilla sambil tersenyum sinis.


"Cih..! Mana mungkin orang sepertimu, presiden mau menerimamu dan bersedia mendengarkan omong kosong dari mulutmu itu," cibir Gavin.


"Benar juga katamu pak. Orang sepertiku kurang pamor bahkan tidak punya pamor untuk tampil secara eksklusif merebut perhatian presiden hanya untuk mendengarkan omonganku. Tapi, bagaimana kalau aku datang tidak dengan tangan kosong. Aku membawa banyak fakta dari semua bukti kejahatan kalian secara akurat yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan presiden.


Bagaimana kalau saya katakan saya adalah bagian dari polisi dunia yang bisa mengetahui pergerakan terselubung kejahatan para mafia yang menyusup dalam tubuh dari beberapa negara untuk merayu dan membujuk orang-orang seperti bapak dengan jabatan yang kalian punya demi memperlancarkan aksi kejahatan mereka. Tidakkah kalian sadar mereka sedang memanfaatkan jabatan kalian yang sudah kalian ucapkan dibawah sumpah?


Ditambah lagi, jabatan yang kalian punya tidak menjanjikan harta yang berlimpah karena ketentuan gaji kalian berdasarkan golongan jabatan struktural. Mana mungkin bisa memiliki gaya hidup kelas atas yang setara dengan konglomerat dengan gaji yang sedikit, kecuali dengan cara korupsi bukan?" bisik Nabilla dengan satu tangannya mengarah ke polisi Gavin yang sudah mengendur keberaniannya dihadapan Nabilla.


Saat ini dirinya benar-benar ditelanjangi bulat-bulat oleh Nabilla. Ia harus sedikit melonggarkan dasinya yang serasa mencekik lehernya sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Hawa yang tercipta di ruangan itu makin memanas dengan keberanian Nabilla yang teruji kejeniusannya mampu membaca satu persatu rekam jejak kejahatan polisi Gavin dengan beberapa nama yang sengaja di sebutkan Nabilla.


"Baiklah. Aku akan segera memproses kebebasan suami anda dan membersihkan nama baiknya," ucap polisi Gavin.


"Alhamdulillah. Saya tunggu kabar baiknya pak Gavin, maksim dalam waktu 72 jam terhitung dari detik ini. Jika milikku tidak anda kembalikan sesuai kesepakatan kita dan masih berusaha membawanya ke meja hijau, bukan tidak mungkin rekam jejak kejahatan yang terstruktur kalian akan saya beberkan ke pengadilan disertai bukti otentik!" ancam Nabilla.


"Aku berjanji nyonya," ucap pak Gavin sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Terimakasih pak Gavin. Satu hal lagi, tidak perlu repot-repot mencaritahu siapa aku, karena jejak data pribadiku tidak bisa anda temukan melalui ahli IT yang anda miliki. Dan terakhir, percakapan kita ini sudah saya rekam secara langsung dan orang-orang kepercayaan saya sedang menyimak percakapan kita. Permisi, assalamualaikum!" ucap Nabilla lalu membuka pintu ruang kerja polisi Gavin yang langsung jatuh terduduk dengan pikiran semrawut memenuhi otaknya.


"Astaga. Mimpi apa saya semalam. Ingin menjebak malah terjebak dengan kelakuan istrinya Amran itu," gumam polisi Gavin.


Ia mencoba menghubungi seseorang namun mengingat lagi ancaman Nabilla yang mengatakan setiap alat komunikasi yang ia punya telah disadap oleh gadis itu. Ia mengurungkan niatnya karena takut akan ketahuan Nabilla.


"Gadis itu Cenayang atau memang ia hebat?" batin Gavin.


"Hmmm..! Dari mana wanita aneh itu datang? Bagaimana mungkin ia bisa tahu semua jaringan gerakan bawah tanah mafia manapun ia tahu semuanya? Apakah malaikat sedang meminjamkan peran mereka pada wanita itu hingga ia memiliki radar untuk mengetahui seluk beluk setiap sudut dunia ini?" tanya polisi Gavin dalam renungannya.


Drettttttt....


Ponsel polisi Gavin berdering. Ia melihat nomor panggilan masuk yang tidak dikenal. Gavin menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya.


"Hallo,..!"


"Assalamualaikum Tuan Gavin, saya istrinya Amran. Saya hanya mau peringatkan lagi anda untuk membebaskan suami saya dan saya berjanji tidak akan menyentuh ranah pribadi anda. Tapi, jika anda mencoba berkhianat, saya yang akan lebih dulu melemparkan anda ke neraka karena dosa anda sudah terlalu banyak," ucap Nabilla setengah bercanda namun syarat dengan ancaman.

__ADS_1


Gavin mematikan ponselnya tanpa menanggapi perkataan Nabilla." Sial...! wanita itu sudah membuktikan perkataannya dengan nomor kontak rahasia saya yang tidak pernah saya berikan untuk kalangan umum, namun ia bisa melacaknya dengan mudah," geram Gavin melempar ponselnya ke dinding hingga berantakan.


__ADS_2