Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
195. Mencekam


__ADS_3

Meninggalkan sejenak perjodohan Adam yang masih menjalani proses ta'aruf dengan Nadia, kini kita beralih pada si cantik Nada dan si tampan Ghaishan.


Saat ini Nada dan Ghaishan berniat berangkat ke bank untuk menyimpan surat-surat penting yaitu surat obligasi yang berkaitan dengan perusahaan milik mereka yang ada di Amerika saat ini.


Seperti biasa, Nada selalu membawa perlengkapannya seperti, peralatan dokter, pistol dan benda-benda canggih lainnya yang tidak begitu terlihat menonjol oleh orang lain seperti aksesoris yang dikenakan oleh gadis cantik ini.


"Apakah kamu sudah siap?" tanya Ghaishan saat mematut lagi penampilannya di kaca.


"Sudah sayang ...!" ucap Nada menghampiri suaminya dan menggandeng lengan kokoh itu menuruni anak tangga menuju lantai satu.


"Aku yang bawa mobil!" pinta Nada ketika sudah berada di depan rumah mereka.


"Tidak. Aku saja. Kalau kamu yang bawa, mobil ini tidak berjalan tapi terbang( ngebut)," tolak Ghaishan.


"Kenapa kamu jadi pelit sekali!" bibir Nada terlihat manyun dan langsung dikecup oleh Ghaishan.


"Sudah. Aku tidak mau lagi memoles bibirku dengan lipstik. Bibirku makin bengkak karena disedot terus sama kamu," omel Nada.


"Justru aku tidak suka kamu pakai lipstik, sayang. Itulah sebabnya aku hapus dengan bibirku," ujar Ghaishan.


"Dandanan ku tidak begitu mencolok, kenapa kamu selalu saja protes?" gerutu Nada.


Ocehan Nada sama sekali tidak digubris oleh pria iseng ini. Justru itu yang ia sangat suka pada Nada. Jika gadis ini tidak ngomel, rumahnya seakan sangat sepi. Mungkin belum adanya momongan ditengah mereka membuat Ghaishan selalu punya cara untuk menggoda istrinya.


"Sayang. Kapan kita pulang ke Indonesia?" tanya Nada yang sudah kangen dengan masakan Indonesia.


"Kalau mau pulang itu, kita harus bawa hasil yang membanggakan. Kalau hanya pulang saja untuk apa?" ucap Ghaishan.


"Maksud kamu apa?" tanya Nada ketus.


"Setidaknya kamu itu hamil dulu. Itu hasilnya. Oleh-olehnya yaitu anak, itu yang aku inginkan. Nanti aku tidak bisa pamer pada iparku Daffa dan Arsen yang sudah punya kembar empat dan dua," imbuh Ghaishan.


"Aku sih siap saja hamil. Tapi, kalau belum dikasih juga sama Allah, mau bagaimana lagi. Siapa tahu kita pulang ke Indonesia dapat berkah dari orangtuaku dan aku bisa hamil, bagaimana? Mau ya sayang?" mohon Nada.


"Tidak. Aku harus berhasil hamilin kamu setelah itu kita akan pulang," kekeh Ghaishan hanya membuat Nada makin cemberut.


Tiba di Bank, Nada langsung turun duluan dan Ghaishan sedang mencari tempat parkir. Langkah Nada yang anggun dengan hijab hitam yang ia kenakan nampak sangat cantik hingga menarik perhatian beberapa nasabah yang lumayan ramai di tempat itu.

__ADS_1


Seorang pria tampan nampak tidak berkedip menatap Nada dari ujung kaki hingga kepala dan itu sangat membuatnya terpikat. Pria ini mengikuti langkah Nada yang sedang mencari tempat duduk dan mulai beraksi untuk mendekati istri dari Ghaishan ini.


Baru saja ia ingin menghampiri, tiba-tiba saja Ghaishan sudah datang dan duduk disebelah Nada sambil merengkuh pundak Nada seraya menghadiahi kecupannya pada sang istri.


"Cepat sekali kamu ke sini? Emang tempat parkirnya dekat?" tanya Nada.


"Aku parkir di tempat khusus untuk direktur utama Bank ini sayang, saat ia keluarkan mobilnya tadi. Jadi kesempatan aku untuk gunakan tempatnya itu agar bisa parkir mobil kita.


Lagi pula aku tidak rela ada yang nekat menggoda istriku atau sekedar menatapnya penuh kekaguman seperti pria yang berdiri di angka sembilan itu!"


bisik Ghaishan membuat Nada yang ingin menengok namun pipinya sudah ditahan oleh suaminya.


"Jangan melihatnya sayang karena aku lebih tampan darinya," ujar Ghaishan.


"Aiss...! kau selalu saja cemburu pada siapapun dan apapun..!" gerutu Nada.


"Sayang. Sepertinya kita harus mengantri panjang banget di sini, bagaimana kalau kita makan siang dulu?" ajak Ghaishan.


"Nanti saja kalau sudah giliran kita. Lagian aku bawa roti. Kamu mau?" tanya Nada.


"Roti tidak kenyang. Ayolah kita keluar dulu....!" rengek Ghaishan membuat Nada harus mengikuti kemauan suaminya.


Keduanya bergegas berdiri hendak melangkah ke luar, namun tiba-tiba terdengar teriakan beberapa orang yang menyergap para nasabah dan staf bank membuat langkah Nada dan Ghaishan terhenti. Semua orang berteriak panik namun penjahat itu menembak ke atas sebagai bentuk peringatan pada nasabah untuk tidak meninggalkan tempat itu.


"Jangan bergerak...!" teriak mereka dengan senjata mengarahkan pada tiga orang nasabah yang berhasil dijadikan sandera oleh mereka.


Jumlah mereka sekitar sepuluh orang. Tiga orang maju untuk menghadang beberapa teller yang berusaha menghubungi polisi dengan menekan tombol otomatis penghubung ke kantor polisi, namun gerakan tangannya sudah ketahuan oleh penjahat.


"Angkat tangan kalian semua atau akan aku tembak!" teriak penjahat itu sambil melepaskan tembakannya.


Dorrr ...


Satu orang staff langsung tertembak karena berusaha menekan tombol panggilan polisi. Semua orang nampak pucat sambil mengangkat kedua tangan mereka termasuk Nada dan Ghaishan.


Pasangan ini tetap waspada dan berusaha mencari solusi. Bagi Nada hal seperti itu bukan persoalan berat baginya dan sedikitpun ia tidak menunjukkan rasa takut sama sekali pada para perampok itu.


"Tetap bersamaku, baby dan jangan berjauhan denganku dan tundukkan wajahmu agar mereka tidak mengincarmu!" titah Ghaishan pada Nada seakan sedang menantang maut.

__ADS_1


"Hei ...! Kau di sana..! Jangan saling berinteraksi!" teriak penjahat itu mengarah ke Ghaishan dengan pistolnya membuat Nada memikirkan untuk mengambil pistol yang ada di kakinya saat penjahat itu melepaskan tembakannya yang ternyata mengarah ke orang lain yang ada di belakang mereka.


Dorrr....


Brakkkk....


Salah satu nasabah bank yang berjenis kelamin wanita itu langsung ambruk dengan dahi tertembus peluru mengundang teriakan dari sesama mereka karena syok.


Aaaaakkkk....


"Diammmm ...!" bentak penjahat itu menembak ke segala arah membuat para nasabah langsung bungkam dengan tangan masih terangkat.


Situasi makin rumit saat penjahat itu sudah berdiri makin dekat dengan Ghaishan dan Nada. Jika mereka hanya berdua saja di tempat itu, mungkin Nada dan Ghaishan akan melawan para penjahat itu. Masalahnya banyak nasabah dengan berbagai usia yang berada di ruangan itu membuat Nada dan Ghaishan sulit bertindak. Mereka tidak ingin mengambil resiko ada lagi yang jadi korban di tempat itu.


"Mommy ...! Aku mau pipis...!" pinta anak kecil berusia 7 tahun itu membuat Nada yang menyaksikan adegan itu ikut menangis karena wajah bocah itu terlihat memerah.


"Kamu mau pipis! pipis saja di sini!" seringai iblis seorang penjahat membuat bocah itu langsung pipis di celananya karena ketakutan.


"Baby ..!" ibu dari anak itu hanya bisa menangis.


"Akkkkk....perutku...!" pekik seorang wanita hamil yang merasa kontraksi membuat suasana makin mencekam.


Pria yang berdiri dekat dengan Nada menghardik ibu hamil itu untuk tidak mengeluh sakit. Mereka sedang menunggu teman-temannya yang mengambil uang di brangkas besar milik bank yang ada di dalam sana.


"Akkkkk....tolong aku...! Aku mau melahirkan...hiks ..hiks ..hiks ..


Wanita hamil yang saat ini sedang merasakan kontraksi kembali berteriak karena darah sudah mengalir deras merambah ke betisnya. Nada tidak bisa tinggal diam lagi melihat penderitaan wanita itu yang merintih kesakitan yang sangat luar biasa. Nada berdiri dan berteriak kepada penjahat itu.


"Hei...kau ..! Apakah kamu tidak melihat wanita hamil ini sangat kesakitan? Apakah kamu tidak punya ibu, istri ataupun saudara perempuan hingga hatimu hanya dikuasai oleh uang, hah?" bentak Nada sengit.


"Baiklah. Kalau begitu biarkan aku mengakhiri rasa sakit wanita ini agar tidak menganggu-mu , nona," ucap penjahat itu kembali mengarahkan pistolnya ke perut wanita hamil itu.


"Kasihan sekali ibumu dulu melahirkan kau dari tempat yang sama seperti yang di alami wanita ini. Jika aku jadi ibumu ku kutuk kau jadi kesetan atau ku bunuh saja supaya kamu tidak tumbuh besar dan jadi penjahat gila seperti itu!" teriak Nada untuk mencegah penjahat itu agar tidak menembak wanita hamil itu.


"Apakah kamu mau yang menggantikan nyawanya wanita hamil itu, nona? Sepertinya kau sangat cantik. Bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu agar aku bisa membebaskan wanita hamil itu dari sini. Dengan begitu dia bisa melahirkan di rumah sakit?" ucap penjahat itu sambil mendekati Nada untuk ia sentuh.


Ghaishan tidak rela istrinya di sentuh oleh tangan kotor penjahat itu dan ia nekat untuk menyerang penjahat itu namun ....?

__ADS_1


Bersambung ya say 🙏


Vote dan likenya cinta please!


__ADS_2