Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
296. Tertangkap


__ADS_3

Sesuai petunjuk putrinya, Nada beserta saudaranya yang mendapatkan tugas dari bos mereka masing-masing untuk menumpas kejahatan yang dilakukan oleh sebagian oknum pejabat publik yang ada di negara Itali.


Mereka sedang mendatangi pulau Kirrin saat ini. Presiden juga sudah mengetahui misi dari putra-putrinya Amran itu.


Apa lagi mengetahui jika Nada adalah salah satu agen rahasia yang tidak lain menantu tuan Luciano sendiri yang membuat dirinya merasa bangga pada agen rahasia FBI itu. Dan beliau juga baru mengetahui jika tuan Luciano adalah besan dari presiden Indonesia.


"Kita harus menyergap mereka bersamaan!" ucap Nada pada keempat saudaranya.


"Tapi, bos-bos mereka tidak ada di negara ini," ucap Adam.


"Bos mereka sebentar lagi akan di deportasi oleh negara yang mereka bakal datangi," ucap Nada menceritakan rencana presiden pada pejabatnya yang terlibat dalam kasus peretasan itu.


"Keren..!" puji Adam seraya kokang pistolnya dengan sikap waspada begitu mereka memasuki markas penjahat.


Melihat kedatangan kedua agen rahasia itu dengan serbuan mereka yang mendadak membuat anak buahnya Alejandro terperangah.


"Angkat tangan semuanya!" bentak Adam ke arah para penjahat yang mencoba menembak Adam yang lebih sigap menembak kaki sang penjahat itu membuat ia memekik kesakitan.


"Augghtt!" pekik penjahat itu segera mengangkat tangannya dengan menahan sakit pada kakinya.


Sementara Cintami, Bunga dan El, sudah merangsak masuk ke dalam ruang kerja markas terselubung itu. Tidak pelak kedatangan mereka membuat huru-hara di dalam markas menjadi ajang pelepasan tembakan antara kedua kubu itu.


Gerakan Nada yang begitu cepat saat menghabisi musuhnya dengan membuat mereka dibekuk dengan mudah tanpa banyak perlawanan. Nada juga tidak ingin membuat para penjahat itu sampai terluka, terlebih lagi pada para staf yang keseharian mereka hanya menghabiskan waktu mereka di markas itu tanpa bertemu keluarga setiap hari..


"Jangan lagi ada yang berani bergerak..! Tempat ini sudah kami kepung. Kalian akan menerima hukuman kalian sesuai dengan tingkat kejahatan yang kalian lakukan," teriak Bunga dengan mengarahkan pistolnya ke arah penjahat yang tidak bisa menghancurkan alat bukti kejahatan mereka sesuai perintah tuan Alejandro.


"Siapa kalian?" tanya salah satu penanggung jawab markas itu.


"Agen rahasia FBI dan CIA," jawab Adam seraya menunjukkan lencana miliknya pada semuanya yang diikuti oleh Cintami.


Sementara Nada, Bunga dan El Rumi tidak ingin menunjukkan lencana mereka. Semua anak buahnya Alejandro tidak lagi berontak. Mereka pasrah pada penangkapan itu.


"Kami mohon atas sikap kooperatif kalian. Jangan lagi melawan hukum kalau kalian tidak ingin menerima hukuman yang lebih berat dari negara ini," ucap El-Rummi.


Akhirnya, semua penjahat itu di gelandang ke kantor polisi. Mereka diangkut dengan puluhan speed boat ke kantor polisi yang dibantu oleh polisi setempat. Usai membongkar kejahatan para pejabat di pulau Kirrin itu, kini ke-lima anaknya Amran dan Nabilla sedang memburu para pejabat korup yang terlibat itu sedang kabur ke luar negeri.


Salah satunya tuan Alejandro yang merupakan salah satu jenderal bintang tiga dari pangkalan angkatan laut di Italia itu. Saat ini beliau sedang belanja dengan kelurganya di salah satu pusat perbelanjaan di kota Paris Perancis.


"Hubby. Aku mau beli berlian ini," pinta istrinya tuan Alejandro yaitu nyonya Cole.


"Ambil saja apa yang kamu inginkan sayang..!" titah tuan Alejandro mesra pada istrinya.


Nyonya Cole begitu bahagia mendapatkan hadiah dari suaminya. Iapun lalu ke kasir untuk membayar seperangkat berlian itu. Namun sayangnya kartunya di tolak oleh pihak kasir.


"Maaf nyonya. Apakah anda masih memiliki kartu yang lain?" tanya kasir itu.

__ADS_1


"Emangnya kenapa dengan kartu aku itu?" tanya nyonya Cole masih terlihat tenang walaupun jantungnya mulai berdetak kencang.


"Kartu ini di blokir," ucap kasir.


"Tunggu sebentar dulu ya!" ucap nyonya Cole menghampiri suaminya yang asyik chating dengan selingkuhannya.


"Alejandro. Kenapa kartu ini tidak bisa di gunakan?" tanya nyonya Cole seraya menyerahkan kartu ajaib itu pada Alejandro yang langsung menyimpan ponselnya di kantong celananya.


"Kenapa tidak bisa digunakan?" tanya Alejandro.


"Katanya di blokir. Apakah kamu punya kartu yang lain?" tanya nyonya Cole.


"Ada. Tapi biar saya saja yang ke kasir." Tuan Alejandro memberikan kartu yang lain pada kasir namun tetap saja tertolak.


"Maaf tuan. Ini juga tidak bisa. Apakah ada lagi kartu yang lain?" tanya kasir counter berlian itu.


"Baiklah. Kalau begitu kami tidak bisa ambil barangnya, nona. Maaf. Lain kali kami akan datang lagi," ucap tuan Alejandro yang langsung menarik tangan istrinya agar meninggalkan counter berlian itu.


"Baik tuan. Terimakasih atas kunjungannya," ucap kasir.


"Kenapa tidak jadi beli?" tanya nyonya Cole kesal.


"Kartu milikku bermasalah sayang. Tolong bersabarlah...! Aku mau mencari tahu dulu ke bank sentralnya," ucap Alejandro. Nyonya Cole mengalah.


Ia akhirnya memutuskan untuk makan di restoran karena masih punya uang tunai yang cukup banyak di dompetnya.


"Maaf tuan Alejandro. Bukankah anda sudah dianggap mati oleh negara? Itulah sebabnya kami blokir kartu anda," ucap tuan Fargo.


"Mati...? Saya sehat seperti ini dan sedang bicara denganmu kenapa malah saya dianggap mati?" tanya Alejandro geram.


"Negaramu sendiri yang mengumumkan kematian kamu dan keluargamu. Dan ada juga beberapa pejabat lainnya yang diumumkan sudah meninggal dunia dan presiden negaramu yang meminta saya untuk blokir black card anda tuan," ucap tuan Fargo.


"Sialan...! Ada apa dengan presiden itu?" geram tuan Alejandro yang tidak terima penghinaan itu.


Ia memutuskan untuk pulang ke hotel karena kepalanya tiba-tiba pening akibat terpacunya adrenalin dengan kemarahan yang menggunung di dadanya.


Setibanya di hotel ia menyaksikan televisi untuk melihat berita tentang dirinya dan ternyata benar saja kalau dia di kabarkan meninggal dunia karena pesawat jetnya jatuh di tengah hutan dan tidak bisa selamat. Demikian isi berita itu.


"Sialan..! Kenapa mereka tega merekayasa kematianku?" geram tuan Alejandro sambil membanting remote televisi itu di lantai.


Nyonya Cole yang ikut menyaksikan berita kematian itu sangat syok dan tidak bisa bicara apapun. Belum saja amarah tuan Alejandro mereda, ada panggilan telepon kamar yang masuk dari pihak resepsionis hotel untuk menagih tagihan kamar yang sudah melewati batas hari penginapan tuan Alejandro di hotel itu.


"Maaf tuan Alejandro. Kami ingin mengingatkan kalau tuan harus melakukan pembayaran lagi untuk selanjutnya karena uang deposit anda yang ada di kami sudah habis," ucap resepsionis hotel.


Tuan Alejandro makin merasa sesak dan memutuskan untuk pulang ke negaranya." Saya cek out hari ini, nona," ucap tuan Alejandro lirih.

__ADS_1


"Ok. Terimakasih tuan," ucap resepsionis hotel memutuskan sambungan teleponnya dengan tuan Alejandro yang terlihat frustasi.


"Ayo kita segera kembali ke Itali. Negara ini sudah tidak lagi bisa kita tempati karena keadaan kita tidak diterima oleh negara ini dengan kartu kita yang di blokir," ucap tuan Alejandro dan nyonya Cole hanya mengangguk sedih.


...----------------...


Tiba di tanah air, tuan Alejandro langsung disergap oleh pihak kepolisian di negaranya. Para awak media memenuhi bandara untuk mengabadikan momen penangkapan tuan Alejandro.


"Ada apa ini? Kenapa saya malah ditangkap?" tanya tuan Alejandro saat turun dari tangga pesawat. Ia pura-pura tidak tahu karena merasa dirinya dilindungi oleh pejabat lainnya di negara tersebut.


"Masih ingat dengan pulau Kirrin, tuan Alejandro?" tanya detektif Wells.


"Ada masalah apa dengan pulau itu?" tanya Alejandro.


"Karena kami telah menemukan bukti kejahatan anda yang ada di tempat itu," ucap detektif Wells.


"Tidak mungkin. Ini fitnah. Saya telah di fitnah. Bukti kejahatan apa? Saya tidak mengerti?" protes tuan Alejandro.


"Mencuri uang para bangkir dunia di Bank central dunia," ucap detektif Wells lalu menggiring tuan Alejandro ke pesawat milik agen FBI karena dirinya akan di adili di Amerika.


"Tidak. Lepaskan aku...! Aku tidak bersalah," pekik tuan Alejandro membuat istrinya ketakutan.


"Baby. Tolong hubungi wakil presiden. Minta dia mengusut masalahku!" pinta tuan Alejandro pada istrinya yang hanya bisa menangis.


"Iya sayang," ucap nyonya Cole segera menghubungi wakil presiden yang saat ini sedang berada di luar negeri karena sedang melakukan perjalanan ke negara Indonesia.


Di Jakarta, Amran yang sedang menjamu tamunya yang merupakan para presiden dan juga wakil presiden dari negara Asia dan Eropa saat ini terlihat sangat ceria. Makan malam yang hangat di istana negara Indonesia itu.


"Tuan Amran. Apa rahasiamu yang sudah membuat negaramu yang kamu pimpin saat ini makin maju dan berhasil mengejar negara maju lainnya seperti Amerika dan Jerman, apa rahasianya?" tanya perdana menteri India.


"Tentu saja saya menempatkan diri saya menjadi pelayan rakyat saya dengan kemampuan saya miliki. Memanfaatkan sumber alam untuk kelangsungan hidup rakyatku.


Jadi tidak ada satu rupiah yang saya curi dari rakyat saya dan begitu pula dengan para menteri saya yang memiliki visi misi yang sama dengan saya untuk mensejahterakan rakyatnya bukan rakyat mensejahterakan pemimpinnya," ucap Amran bijak.


"Kami dengar anda memiliki kilang minyak pribadi dan hasilnya anda bagikan kepada rakyat anda, apakah anda tidak merasa bangkrut?" tanya presiden Rusia.


"Dalam agamaku yang aku yakini, tidak ada satu orangpun yang Allah buat hambaNya miskin karena dia berbagi. Tidak ada. Yang ada dia makin kaya dan Allah makin melimpahkan kekayaan untuknya dan sampai saat ini hampir semua perusahaan saya dan juga para menteri saya yang menerapkan sistem dalam berbagi ini, makin bertambah kaya bahkan kami sendiri bingung untuk menghabiskan uang kami karena tidak pernah berkurang setiap kali kami berbagi," ucap Amran sambil tersenyum sumringah.


"Oh, jadi itu rahasianya itu yang membuat negaramu sangat makmur sampai sekarang ini?" tanya perdana menteri Inggris.


"Tentu saja. Jika kita tidak berani mencuri uang rakyat, maka di dalam diri kita tidak ada timbul jiwa serakah. Apa bila sekalinya kita korupsi, sepanjang kita memegang jabatan akan terus menerus merasa haus akan kekayaan dengan mencuri dan mencuri sehingga Tuhan memperlihatkan aib kita pada dunia," ucap Amran membuat wajah wakil presiden Italia terlihat sangat pucat karena dirinya berada di dalam tuduhan Amran.


"Bagaimana tuan Stronger? Bukankah perkataan saya benar?" sarkas Amran pada wakil presiden Italia itu yang mengangguk dengan gugup.


Deggggg....

__ADS_1


"Sialan. Kenapa justru saya yang harus menerima sindiran darinya..? Apakah tuan Amran mengetahui aib aku yang satu itu?" tanya tuan Stranger membatin.


__ADS_2