
Memasuki usia kandungan sembilan bulan, Nabilla diminta oleh dokter Marion untuk melakukan operasi sesar. Namun Nabilla tidak terima begitu saja saran dari dokter Marion. Ia ingin merasakan bagaimana sakitnya seorang ibu yang melahirkan.
Ditambah lagi tekadnya yang masih punya banyak PR untuk mengetahui permainan baru Dito yang sudah ia jaring dengan mudah melalui aplikasi miliknya yang memaparkan setiap laporan keberadaan pria pengkhianat itu membuat Nabilla ingin segera pulih pasca melahirkan.
Nabilla yang sudah berada di rumah sakit di kamar VVIP menjadi pasien terhormat di rumah sakit itu. Tuan Rusli yang ingin mengambil hati putrinya, hingga memberikan apa saja yang dibutuhkan Nabilla untuk memenuhi ambisi Bu mil itu dalam menjaring sindikat yang ditemui Dito. Jadilah kamar VVIP itu penuh dengan komputer dengan beragam software yang dibutuhkan Nabilla. Ibu hamil ini memang tidak mau diam. Otaknya terus bekerja walaupun perutnya terkadang merasakan kontraksi hebat dan sesekali ia harus meringis kesakitan.
"Mas. Pinggangku seperti mau patah," desis Nabilla pada Amran yang mengusap pinggang Nabilla dengan lembut.
"Berbaringlah sayang! biar aku mendoakanmu agar bayi kembar kita akan segera lahir dan kamu tidak merasakan sakit lagi," hibur Amran.
Amran yang belum batal wudhunya selepas sholat tahajud, mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Dua surah sekaligus dibacakannya dengan Tartil dengan suara yang begitu indah, hingga ketiga janin di dalam perut istrinya mulai tenang.
Amran melantunkan surah Yusuf dan Mariam. Walaupun kontraksi terus berdatangan meregangkan otot-otot pada jalur lahir Nabilla untuk mempermudah proses persalinannya nanti makin membuat Nabilla kesakitan, namun bacaan Amran yang menghafal kedua surah itu membuatnya mampu melewati rasa sakit itu menjadi nikmat. Benar sabda Rasulullah. Bahwa Al-Qur'an adalah obat bagi manusia jika diyakini mukjizat nya insya Allah sesakit apapun yang kita rasakan akan terurai asalkan kita yakin tentang mukjizat Alquran itu sendiri.
"Mas."
"Iya sayang."
"Sepertinya sudah waktunya aku ingin melahirkan. Tolong panggilkan dokter Marion!" pinta Nabilla sambil melatih pernafasannya agar mudah melahirkan secara normal.
Amran memencet tombol nurse call dan tim dokter spesialis kandungan sigap menghampiri Nabilla.
"Apakah kontraksinya sudah datang berulang kali?" tanya dokter Marion.
"Iya dokter. Rasanya ada cairan yang sudah merembes dibawah sana," ucap Nabilla.
"Baik. Permisi ya nona. Biar aku lihat dulu pembukaannya," ucap dokter Marion.
"Ketubannya nona Nabilla sudah pecah. Kita harus segera mempersiapkan persalinan," ucap dokter Marion yang langsung membawa Nabilla ke ruang bersalin tidak jauh dari kamar inapnya.
Di ruang tunggu sudah ada dokter Rusli dan keluarga Amran. Sementara dokter Mariska ikut menemani Nabilla dan Amran di dalam sana.
__ADS_1
"Apakah kamu bisa melahirkan ketiganya Nabilla?" tanya Amran sekali lagi.
"Insya Allah mas. Aku bisa melewati semua ini," ucap Nabilla dengan wajahnya mulai pucat karena darah sudah mengalir deras padahal persalinan belum berlangsung karena menunggu instruksi dari dokter Marion.
Semenit kemudian, dokter Marion meminta Nabilla untuk mengejan. Bayi pertamanya telah lahir dengan selamat yang berjenis kelamin laki-laki, diikuti yang ke dua adalah bayi perempuan dengan selisih waktu lima menit.
Sekarang tinggal bayi yang ketiga, tubuh Nabilla mulai melemah. Hampir saja ia memejamkan matanya namun ditepuk oleh dokter Mariska dengan sedikit membentak.
"Nabilla! buka matamu sayang! Jangan tidur!" titah dokter Mariska.
"Tolong pasang oksigen pada nona Nabilla!" titah dokter Marion pada susternya setelah memotong tali pusar pada kedua bayi kembar tiga Nabilla.
"Dokter Marion. Apakah ada masalah?" tanya dokter Mariska.
"Dia kehilangan banyak darah. Itulah sebabnya pasien mulai melemah. Persediaan darah untuk golongan darah AB hanya satu kantong. Jika minta di bank darah butuh waktu," ucap dokter Marion.
"Tunggu sebentar. Suamiku golongan darahnya sama dengan Nabilla. Aku keluar sebentar," ucap dokter Mariska lalu menemui suaminya.
"Insya Allah saya masih kuat dokter," ujar Nabilla sambil tersenyum pada Amran yang melihat wajah istrinya membuat waktunya berhenti sesaat.
"Nabilla. Aku sangat mencintaimu, sayang. Aku lebih membutuhkanmu daripada anak-anak kita. Tetaplah bersamaku! kita sudah sejauh ini melangkah bersama. Apakah kamu ingin berhenti di sini? dunia masih membutuhkanmu sayang.
Jika aku bisa menghidupi segelintir kebutuhan hidup orang lain. Tapi, dunia sedang menantikan kehadiranmu untuk memberikan mereka kenyamanan. Dengan kenyamanan, orang bisa melakukan aktifitas apapun untuk bertahan hidup," support Amran.
Nabilla hanya mengangguk. Di pelupuk matanya sudah hadir seorang wanita yang wajahnya sama dengannya. Wajah yang tidak pernah ia kenal karena bukan wajah itu yang membesarkan dirinya selama ini.
"Siapa dia? apakah itu aku? apakah aku akan menghadapi kematianku?" tanya Nabilla bermonolog dalam diamnya menatap tajam wajah cantik yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri yang juga melahirkan dirinya dalam keadaan payah hingga sebulan kemudian, Hilda meninggal dunia karena kerinduan pada suaminya yang tak kunjung datang.
Bayinya yang ia beri nama Nabilla ia serahkan pada kakak kandungnya karena kakaknya dinyatakan mandul oleh dokter. Jadi Nabilla dibesarkan oleh paman dan bibinya.
Atas permintaan Hilda, akte kelahiran Nabilla di buat atas nama kedua orangtua angkatnya agar Nabilla tidak diburu oleh kedua orangtuanya tuan Rusli yang sedang mencari keberadaannya saat itu. Hilda hanya ingin melindungi putrinya.
__ADS_1
Hilda yang hanya dinikahi sirih oleh tuan Rusli tidak punya kekuatan hukum hingga ia tidak bisa mendaftarkan nama suaminya di akte kelahiran Nabilla karena tidak punya buku nikah sebagai persyaratan pembuatan akte kelahiran.
Beberapa menit kemudian, kontraksi kembali terjadi, Nabilla mengumpulkan kekuatannya yang tersisa dengan peluh yang sudah membanjiri sekujur tubuhnya.
"Bismillah. Allahuakbar!" pekik Nabilla sambil mengejan sekuat tenaga hingga akhirnya, putri ketiganya lahir dengan selamat.
Kelahiran ketiganya tidak memiliki kemiripan wajah. Putra pertamanya sangat mirip dengan Amran, putri keduanya mendominasi wajah Nabilla dan wajah putri ketiganya perpaduan wajah Amran dan Nabilla.
Kelahiran putri ketiganya menguras tenaga dan darahnya hingga Nabilla akhirnya pingsan." Nabilla..! Nabilla...!" panggil Amran histeris.
Dokter Marion memeriksa keadaan Nabilla. Amran di minta untuk fokus pada ketiga bayinya untuk diazankanya.
"Nona Nabilla dalam keadaan kritis, Tuan. Dia telah kehilangan banyak darah. Sebentar lagi nona Nabilla akan mendapatkan kantong darah tambahan dari tuan Rusli. Tolong jangan panik. Istri anda orang yang hebat. Dia pasti bisa melewati masa kritisnya," ucap dokter Marion menghibur Amran.
Sementara Nabilla sedang menemui ibunya Hilda dalam mimpinya." Nabilla. Putriku. Selamat sayang. Kamu telah menjadi seorang ibu, sayang!" ucap Hilda sambil mengecup punggung tangan putrinya.
"Siapa kamu Nyonya? kenapa wajah kita sangat mirip?" tanya Nabilla.
"Aku adalah ibu kandungmu yang telah melahirkanmu!" ucap Hilda menceritakan semua kepada putrinya tentang dirinya dan juga kedua orangtua angkatnya Hilda.
"Apakah ayahku masih hidup?" tanya Nabilla.
"Ayahmu masih hidup Nabilla. Ia sangat dekat denganmu. Tolong jangan menolaknya karena ia juga sangat menderita seperti ibu," ucap Hilda.
"Jika dia dekat denganku saat ini. Siapa namanya Bu?" tanya Nabilla.
"Sesaat lagi kamu akan mengetahuinya. Dia adalah pria yang hebat. Kehebatannya sudah menurunkannya padamu. Kamu tidak sendiri di dunia ini. Terimalah ibu sambungmu karena dua tulus mencintaimu. Sekarang kembalilah kepada keluarga kecilmu.
Mereka sedang menunggumu. Titip salam sayangku pada suamiku. Katakan padanya kalau aku sangat mencintainya. Aku sudah memaafkannya. Kamu bisa mencari tahu tentang diriku hanya padanya," ucap Hilda lalu mengecup kening putrinya dan langsung menghilang.
......
__ADS_1
Mohon vote dan like, cinta please!"