Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
268. Tamu Terhormat


__ADS_3

Amran kesal bukan kepalang usai bertemu dengan sang presiden dan kini sudah berada di mobilnya bersama sang istri meninggalkan istana negara.


"Apa kamu tidak merasa aneh dengan sikap presiden itu? Kita ini hanya minta ijin saja bukan mau meminta dia membiayai proyek kita. Kenapa lagaknya seakan dia yang punya wilayah mengatasnamakan rakyat untuk kepentingan mereka," gerutu Amran sambil menyetir mobilnya.


"Dia sedang menahan diri karena terlalu gembira menerima berita besar ini untuk ia bagikan bersama elit politik di kubunya," ucap Nabilla.


"Apa maksudnya?" tanya Amran tidak mengerti.


"Jika dia menceritakan jika kita punya sumber energi bumi, maka besar kemungkinan dia akan mengumpulkan lebih banyak orang berpengaruh di negeri ini untuk menekan kita agar kilang minyak milik kita itu di kembalikan kepada negara dengan setulus hatimu," tutur Nabilla membuat Amran seketika membanting stir mobilnya untuk menepikan mobilnya.


"Apa dia kira aku dengan semudah itu untuk menyerahkan milik kita kepadanya. Jika dia ingin ngajak perang denganku, ayo...! Aku akan meladeninya. Sampai matipun aku tidak akan memberikan apa yang menjadi hak kita dan keturunan kita jatuh kepada negara," geram Amran meremas stir mobilnya dengan amarah berapi-api.


"Mereka tidak akan bisa melakukannya sayang. Mereka tidak akan berani menyentuh wilayah terlarang itu kecuali orang-orang yang kita ijinkan untuk mendatangi tempat itu," hibur Nabilla.


"Itu sudah pasti baby. Aku tidak rela milik kakekku akan menjadi milik bersama untuk kepentingan golongan tertentu yang akan menguras penghasilan bumi untuk memperkaya diri mereka dengan dalih mereka sudah bekerja keras untuk bangsa ini. Kilang minyak itu untuk rakyat Indonesia untuk anak negeri. Aku ingin membayar semua hutang luar negeri dengan begitu kita bisa mengusir para penanam modal asing yang sudah menjajah sektor perdagangan negara ini secara tidak langsung," ucap Amran dengan pemikiran sederhananya dan sangat mulia.


"Maksudmu, kamu tidak ingin ada barang impor masuk ke Indonesia?" tanya Nabilla.


"Kalau kita punya persediaan hasil bumi yang berlimpah. Memiliki SDM yang berkualitas dengan bisa mengelola industri apa saja yang mampu bersaing dengan orang-orang hebat di luar negeri, untuk apa kita butuh milik orang lain lagi, jika kita bisa menghasilkan sendiri. Kau tahu, orang luar itu kadang baik dengan kita hanya terbatas kalangan kepala negara, tapi tidak sedikit dari mereka mencemooh gaya kita yang kampungan," ucap Amran.


"Maksudnya apa?" tanya Nabilla.


"Lihatlah gaya anak muda sekarang bahkan juga mak-mak seperti kamu, lebih terlihat heboh jika mereka bisa memamerkan kemewahan yang mereka miliki dengan barang-barang branded luar negeri.


Bukankah secara tidak langsung sedang menghina anak negeri yang ingin menciptakan barang yang sama berkualitas tinggi tapi tidak di lirik sama sekali orang-orang borju itu," ucap Amran dengan ketelitiannya mengamati para ibu muda dan anak muda yang selalu saja mengidolakan artis luar negeri yang tidak memberikan manfaat apapun pada mereka selain hanya hiburan semata kecuali mereka yang mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan diri dengan minat dan bakat yang mereka miliki.


"Baiklah sayang. Jika kita memiliki pemikiran yang idealis untuk memberi kontribusi yang optimal untuk rakyat Indonesia, biar kita saja yang memimpin negara ini daripada menyerahkan negara yang sudah diperjuangkan para pahlawan dengan nyawa dan harta mereka harus berada di tangan yang tidak tepat," ucap Nabilla mendukung suaminya yang ingin maju dalam capres periode berikutnya.


"Di lihat dari segi skill dan personaliti jelas saja presiden itu tidak masuk dalam kriteria apapun. Hanya faktor keberuntungan yang sedang ia nikmati saat ini yang tidak sadar dirinya di jadikan boneka para konglomerat yang sudah mendukungnya," umpat Amran lagi.


"Ayolah. Jangan bahas dia lagi..! Malah bikin tambah dosa," ucap Nabilla.

__ADS_1


"Astaghfirullah halaziiim. Kenapa aku jadi terbawa oleh nafsu setan untuk mengurangi pahalaku," ucap Amran.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka pulang ke mansion.


...--------------...


Persiapan operasi sesar pada Syakira yang saat ini sudah berada di rumah sakit milik dokter Mariska, sebentar lagi akan dilakukan oleh tim dokter terpilih khususnya dokter spesialis kandungan.


Adam menatap wajah cantik istrinya yang terlihat antusias untuk melahirkan keturunan mereka.


"Seperti apa ya wajah mereka? Aku tidak sabar ingin melihatnya," ucap Syakira sambil mengelus lembut perut besarnya.


"Yang jelas perpaduan antara wajah kita dengan bola mata abu kehijauan yang kamu miliki. Dan jauh dari semua itu, aku ingin mereka lahir sehat dan selamat bersama ibu mereka yang sangat cantik ini," ucap Adam mengecup bibir mungil istrinya.


"Permisi tuan..! kami akan membawa nona Syakira ke kamar operasi dan tuan boleh mendampingi istrinya tuan selama operasi sesar berlangsung," ucap dokter Galuh.


"Silahkan dokter!"


Di dalam kamar operasi, Adam melantunkan ayat suci Alquran yaitu surah Maryam dan surah Yusuf agar proses persalinan Syakira berjalan dengan baik.


"Tuan. Ada tamu dari kepolisian setempat," ucap pak Ifan sebagai kepala pelayan di kediaman itu.


"Ada kepentingan apa mendatangi mansionku?" geram Amran.


"Ada surat perintah pengeledahan mansion atas sesuatu yang tuan sembunyikan milik negara," ucap kepala pelayan itu.


"Milik negara apa sih?!" kesal Amran bingung sendiri.


"Sebaiknya tuan dan nyonya pulang karena saya tidak bisa menghadapi mereka sendiri," gugup ifan.


"Katakan kepada mereka jangan menyentuh barang-barangku atau mereka akan berhadapan denganku..! Sergah Amran seraya berdiri. Semua keluarganya ikut berdiri.

__ADS_1


"Ayo kita hadapi bersama mereka, daddy!" ucap El-Rummi yang ikut geram dengan fitnah keji dari oknum pejabat yang mereka belum tahu dalangnya.


"Kenapa malah melakukan penggeledahan malam hari? Apa maksudnya? Emang kita bandar narkoba?" geram Daffa yang merasa tidak masuk akal dengan semua ini.


"sebaiknya kita cepat pulang sebelum mereka bertindak sewenang-wenang pada para pelayan kita," ucap Bunga.


"Lebih baik Cintami di sini saja. Nanti akan di temani mama Lira karena Celia dan Nadin sedang menunggu si kembar. Kabari mommy begitu Syakira melahirkan," ucap Nabilla.


"Baiklah. Kita pulang sekarang...!" ucap Bunga tidak sabaran.


Dalam waktu lima menit, kelurga itu sudah berada di mansion karena karena menggunakan helikopter. Amran turun dari mobilnya diikuti istri dan anak juga menantunya.


"Ada apa ini?" tanya Amran kepada komandan Brimob itu.


"Selamat malam tuan Amran. Kami datang ke sini atas perintah dari bapak presiden jika anda telah menyembunyikan senjata kimia milik negara yang telah di curi oleh mendiang kakekmu," ucap komandan Brimob Aditya Pratama membuat wajah Amran kelam.


"Bagaimana fitnah keji itu kalian layangkan pada almarhum kakekku yang paling Sholeh, hah?" bentak Amran tidak peduli dia berhadapan dengan pejabat siapa saat ini.


"Kami hanya menjalankan perintah, tuan Amran,"ucap komandan Brimob itu.


"Ayo geledah rumah ini ....!" titah bapak Aditya membuat Daffa naik pitam.


"Hentikan omong kosong ini!" bentak Daffa.


"Kau juga di tangkap dan di non aktifkan dalam tugasmu sebagai angkatan udara karena sudah bekerja sama dengan penjahat itu," ucap brimob Aditya.


"Itu bukan wewenangmu dan kamu tidak punya hak atas profesiku dalam kesatuan ku," ucap Daffa.


"Tangkap mereka semua dan tembak di tempat jika melawan .!" titah komandan Aditya.


Duarr....

__ADS_1


Bersambung...



__ADS_2