Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
261. Biar Kami Yang Menangani!


__ADS_3

Nabilla yang begitu peka dengan perasaan suaminya hanya dengan melihat raut wajah Amran, langsung tahu kegelisahan suaminya.


Ia menunggu suaminya menyelesaikan makan malamnya terlebih dahulu karena saat ini sedang makan bersama para besan mereka.


Tidak dengan anak dan menantunya yang meninggalkan meja makan terlebih dahulu setelah pamit pada yang lebih tua.


Adam yang mengkoordinir keadaan saat mengetahui keadaan perusahaan ayah mereka yang saat ini ada dibawah naungannya juga sedang terbakar.


"Kita tidak usah melibatkan mommy dan Daddy karena ada kelurga yang lain di sini. Biar ini menjadi urusan kita yang muda-muda," ucap Adam pada saudara dan ketiga iparnya yaitu Arsen, Daffa dan Ghaishan.


"Masalahnya kita tidak begitu mengenali wajah penjahat yang tidak tahu malu itu, yang bernama Dito dan anaknya Alif," ucap El-Rummi.


"Bukankah kita memiliki fotonya? Apa sulitnya mengenali mereka melalui fotonya saja," ucap Bunga.


"Itu hanya sketsa wajah mereka dengan usia mereka yang sudah bertambah tua sekarang," ujar El-Rummi.


"Tenanglah, tidak perlu mengenali wajah mereka dengan wujud asli mereka. Kita punya kaca mata yang bisa membaca identitas," ucap Nada.


"Benar juga, kenapa kita memusingkan wujud mereka jika teknologi sekarang bisa membaca DNA mereka melalui alat-alat canggih yang dibuat mommy," ucap Arsen.


"Sebaiknya kita bergerak cepat sebelum perusahaan kita habis di lalap api karena suasana Jakarta sedang lengang karena penduduknya pada mudik lebaran," ucap Daffa.


"Benar juga. Ayo kita berangkat..!" ucap Ghaishan yang akan bertindak sebagai co-pilot helikopter bersama dengan Daffa. Karena keduanya lebih mahir membawa helikopter ketimbang yang lainnya.


Tanpa pamit kepada kelurga besar mereka, kedelapan orang itu sudah menaiki dua helikopter yang langsung melejit ke Jakarta. Yang tidak didampingi oleh pasangan hanya Adam dan El.


Makanya keduanya berada di pesawatnya Ghaishan yang bersama dengan Nada. Sementara pasangan Daffa dan Bunga bersama dengan Arsen dan Cintami.


"Apakah mereka sedang ada panggilan tugas negara?" tanya Raja Farouk yang sudah mengetahui seluk beluk profesi lain keluarga ini yang merupakan agen rahasia negara selain pengusaha.

__ADS_1


"Benar yang mulia," ucap Amran yang terlihat masih gusar karena ingin membunuh Dito sendiri dengan tangannya, kini sedang mencoba mengendalikan perasaannya agar tidak terbaca oleh para besannya.


Sementara Nabilla sibuk ngobrol dengan ketiga besannya yang ditemani ketiga iparnya yaitu Celia, Lea dan Lira. Sementara Nadin sedang menjaga baby kembar dengan keponakannya Kirana.


"Apakah misi anak-anakmu saat menyerang musuh pernah gagal, Nabilla?" tanya nyonya Cyra.


"Alhamdulillah. Walaupun mereka harus pulang dengan wajah lelah dan pernah mengalami luka ringan, namun mereka belum pernah gagal dalam misi mereka," ujar Nabilla.


"Bagaimana kamu bisa melahirkan anak-anak begitu jenius, tangguh dan Sholih? Dan sekarang menurunkan pada cucu-cucu kami bahkan calon cucu untuk ratu Hanifa dan Raja Faruk? Tanya nyonya Rosella sambil tersenyum bangga mendapatkan besan sehebat Nabilla.


"Mungkin, seumur hidup kita, jika berpegang teguh pada tali Allah dan teguh dalam meneladani akhlak Rasulullah dengan tidak meninggalkan Sunahnya, insya Allah, Allah. Akan menganugerahkan kehidupan yang luar biasa melalui anak dan cucu kita.


Itu hanya asumsi ku saja. Dan kembali lagi pada pola asuh dengan asupan makanan yang bernilai gizi tinggi," imbuh Nabilla sambil tersenyum bahagia membayangkan bagaimana anak-anaknya tumbuh menjadi manusia hebat terutama Nada dan cucunya yang mendapatkan kekuatan supranatural dari Allah SWT.


Walaupun sebenarnya, Ghaishan dan Tamara juga termasuk golongan anak jenius, namun tidak sehebat anak-anaknya Nabilla.


...----------------...


Makanya saat ini, hanya satu helikopter yang mendatangi perusahaan dan sisanya di kediaman Amran karena musuh bisa jadi menyerang mansion utama itu untuk mencari benda yang mereka inginkan.


"Jangan sampai kita dijebak oleh penjahat sialan itu!" ucap Adam saat melihat bagian perusahaannya yang terbakar.


"Iya. Sekarang kita tunggu kabar dari kak Daffa dan kak Bunga karena saat ini mereka sedang berada di mansion," ucap El.


"Ya ampun. Kita fokus pada perusahaan tapi kita lupa pada mansion," ucap Nada.


"Tunggu saja, mereka akan memberikan kita kabar..!" ucap Adam.


"Kak. CCTV semuanya di rusak oleh penjahat, bahkan 6 orang satpam penjaga rumah tidak bisa dihubungi," ucap El.

__ADS_1


"Astaghfirullah..! Mereka menyerang mansion utama. Kita harus ke sana..!" titah Adam kembali lagi ke helikopternya...!" teriak Nada.


Helikopter milik Daffa tidak mendarat di mansion melainkan di kediaman Daffa sendiri karena mansion miliknya tidak jauh dengan kediaman mertuanya. Mereka mengenakan dua motor yang memiliki helm yang biasa digunakan Bunga untuk bisa membaca data baik data manusia maupun lokasi.


Sebagai orang yang sudah memilki kekuatan lebih, kini Nada yang lebih dulu terjun ke mansion kedua orangtuanya dari helikopter tanpa mengenakan pengaman.


Mendengar kedatangan helikopter, para penjahat yang sudah menduduki kediaman Amran seketika tersentak. Tapi sesaat kemudian mereka bingung melihat helikopter itu malah pergi lagi.


"Itu helikopter milik siapa? Kenapa mereka tidak mendarat?" tanya Alif dengan senjata di tangannya.


"Ayo. Apa yang kalian tunggu, kita harus mencari koper yang berisi senjata kimia itu...!" titah Dito dengan wajahnya yang sebelah sudah cacat.


Wajahnya seperti monster yang mengerikan dengan satu mata ditutup kain hitam karena bola matanya rusak akibat cairan kimia yang dulu pernah ditembak oleh Nabilla di atap mobilnya saat melakukan pengejaran padanya.


"Baik bos."


Mereka sedang mencari ruang bawah tanah yang ada di dalam mansion itu tapi tidak ditemukan. Rupanya mansion itu sudah dipugar lagi oleh Amran karena mengikuti gaya bangunan modern usai kakek dan neneknya meninggal setahun sesudahnya.


Itulah sebabnya Dito sudah tidak tahu lagi di mana letak ruang bawah tanah karena perubahan bangunan mansion peninggalan kakek Abdullah yang sering ia datangi sudah tidak seperti dulu.


"Bos. Setiap kamar sudah kami geledah namun tidak menemukan apapun. Walaupun ada berangkas yang kami temukan di kamar itu tapi sulit untuk dibuka," ucap anak buahnya Dito.


"Berangkas...? Baiklah. Tunjukkan kepadaku di mana letak brangkas itu! Mungkin kita bisa menemukan koper senjata kimia itu. Tidak mungkin mereka pergi berlibur membawa koper senjata kimia itu, bukan?" ucap Dito penuh percaya diri.


"Brangkas itu ada di kamar utama, bos."


Alif dan Dito mengikuti anak buahnya ke kamar Amran untuk menggeledah isi brangkas itu. Pintu kamar yang sudah mereka jebol itu di buka. Saat Dito hendak melangkah masuk ke kamar Amran, Nada sudah berdiri di pintu balkon sambil bersedekap dengan tubuh bersandar miring.


Walaupun wajahnya tertutup dengan helm untuk membaca identitas para penjahat itu, namun Alif mampu mengenali Nada dengan sebutan nama yang salah yaitu Bunga karena ia pernah mengetahui dua anak gadis kecil Amran yang tumbuh bersamanya saat dirinya masih tinggal di kediaman itu.

__ADS_1


"Akhirnya kamu datang juga Bunga!" tegur Alif menyeringai mesum menatap tubuh Nada yang terlihat sintal dengan balutan pakaian sedikit ketat.


"Dasar laki-laki idiot...! Kalian merampok di rumah orang yang pernah memberikan kalian makan...!" cibir Nada dengan kata-kata menohok.


__ADS_2